TAMU ISTIMEWA

Konon, bila ada kupu-kupu masuk kedalam rumah pertanda akan datang tamu. Tapi ini lain. Ini bukan dongeng dengan gaya bahasa ‘konon’. Kenyataan yang tengah saya alami saat ini. Ya! Saat ini juga. Saat jari saya mengayun menekan tuts-tuts keybord. Saat mata saya menatap ‘penampakan’ tulisan yang tengah saya ketik. Saat mendengar suara air di kamar mandi. Ada sesuatu!

Memang tak ada kupu-kupu yang masuk kedalam rumah. Bahkan sejak kemarin atau mungkin sudah sebulan saya tak melihat makhluk cantik itu. Tak ada pertanda istimewa, selain persiapan layaknya menyambut seorang tamu, untuk menghormatinya. Siapa??? ‘Kupu-kupu’ itu hadir disini. Ya, kupu-kupu cantik itulah yang bertamu kerumah ku. Mesti tanpa dayang, ia tetap laksana putri khayangan. Bahkan saya tak melihat malaikat menyertainya. Subhanalloh!

Tanpa senyum, beliau tetap anggun. Bahkan goretan-goretan wajahnya bagai siluet langit di waktu senja. ‘humairoh’…mungkin. Jika dulu julukan itu untuk ibunda kami. Kini beliau kiranya pantas menyandang gelar itu. Tak ada yang berbeda, seperti pekan kemarin. Hanya saja hati ini yang semakin bergejolak. Hasrat! Semoga bukan syahwat. Tak mengapa ku kira cinta baginya. Ana uhibbuka fillah!

Beliau datang bukan untuk ku. Tapi, saya tetap saja sebagai penyambut bagi beliau yang ‘lembut’. Yang santun dan berakhlak mulia.

Ahhhkk…untuk jiwa-jiwa perindu
Untuk engkau, bagaikan madu

Segala asa
Harap dan Cemas adalah curahan yang pantas
Segala Cinta
Bahagia dan Derita adalah rasa yang ada

Tetapi tidak!
Bagi Sang Pujangga hanya ada pena
Untuk rasa hanya jutaan syair cinta
Bahagia adalah kata indah
Sedang derita tetap bermakna

Disini saya tetap menanti
Setia
Bagai mentari menunggu senja

Ilmu ikhlas, hampir saja saya terima

11:19 [23 Juni 2004]

***Revolusi Hari Ini***

TELEVISI ‘HITAM-PUTIH’

Seolah beiringan, munculnya TV berwarna menjadikan kita kesulitan untuk membedakan mana hitam mana putih. Bahkan kita tak tau persis tentang kelabu.

Keberadaannya adalah tuntutan zaman yang yang terkesan dipaksaakan. Bahkan, tanpanya mungkin peradaban manusia akan mampu mencapai puncak keemasan. Mengapa demikan? Karena sudah tak ada kebaikan sama sekali (dalam TV), bagi siapa pun yang mengeti tentang pendidikan. Kini, ia bukan lagi tempat hiburan yang menyenangkan, akan tepapi menyeramkan. Kriminalitas dan Sex Bebas, semuanya menjadi tanpa batas. Dampak Globalisasi??? Mungkin. Sebab globalisasi tak melulu keuntungan yang melimpah bagi kapitalis. Tetapi juga, luka yang mendalam bagi masyarakat.

“Jika masyarakat tak mampu mengatur TV, maka TV lah yang akan mengatur masyarakat” kirannya teori ini tepat. Sebab dua unsur yang mewakili masyarakat ialah tuntunan dan tontonan. Yang satu adalah panutan, pedoman dan pembimbing dalam kehidupan. Yang satunya adalah hiburan keseharian. Bagaimana jika terbalik? Tak dapat dihindari tentunya. Kemungkinan disfungsional bagi keduanya sangat mungkin terjadi. Apalagi dalam masyarakat yang kebanyakan awam.

Ketika masyarakat menjadikan tontonan sebagai tuntutan, dan sebaliknya. Maka, ini menunjukkan kebodohan sebab akan membawa kepada kehancuran sistemik dan struktural. Dapat anda bayangkan sendiri.

TV adalah ikon Globalisasi paling representatif, saya kira. Sebab padanya keberadaan ruang dan waktu sedapat mungkin di nihil-kan. Tapi Globalisasi bukan berarti tanpa batas. Dengan mudahnya komunikasi dan canggihnya perangkat teknologi informasi justru membuat sekat baru. Sekat virtual yang juga tak dapat di interpretasi dengan konteks ruang dan waktu. Batas artistik ini dapat dengan mudah kita jumpai. Seseorang yang hidup dengan segala kemewahan ‘globalisasi’ tak lagi mengenal saudara terdekatnya, dan ini adalah jurang baru yang dibuat oleh globalisasi. Cukup berbahaya. Jurang ini bisa saja menjatuhkan masyarakat kedalam lembah kenistaan primitif, yaitu : Kesenjangan dan permusuhan. Seseorang duduk menyaksikan situasi negara lain – yang notabene tidak ada kaitannya dengan kehidupan beliau – sementara aktifitas tetangganya tidak ia ketahui. Mereka yang menjadi korban TV ini akan memiliki ego tersendiri. Keterasingan hubungan dengan masyarakat dapat merusak sistem sosial dan struktur masyarakat yang ada.

Siapa yang bisa menyebutkan manfaat TV lebih banyak ketimbang keburukan yang timbul karenanya? Jika ada, maka saya akan memberikan padanya gelar “GILA”

***Revolusi Hari Ini***

KEMAMPUAN DAN PEMBUKTIAN

“Emang kenapa?” saya bertanya pada seseorang. Dia bilang “aku cuma mo ngebuktiin ma ortu ku, bahwa aku juga bisa kaya Kk-ku yang pertama”. Heehh…saya menghela napas. Cuma itukah? Untuk apa? Sebegitu pentingkah? Saya pun mengalaminya kawan. Saya pun ingin menunjukkan, bahkan pada dunia “bahwa saya berharga”, “bahwa saya berarti”. Bagaimana tidak, pelecehan intelektual bagi orang-orang yang berusaha mempertahankan moral. Bukankah semua orang punya standar ideal?

Emosi rasanya tak akan menyelesaikan masalah. Ya, saya yakin itu. Tunjukan! Bahwa kita mampu, untuk tidak terseret pertarungan emosional ini. Ini lebih penting. Sebab, ketidakmampuan dalam hal ini akan meyebabkan kehancuran. Bahkan sebelum kita berhasil membuktikan kemampuan kita pada dunia.

Hidup memang hanya indah jika dijalani. Indah rasanya, meski berjuta cerca kita temui. Sebab, kebahagiaan sejatinya membahagiakan semua. Ya, termasuk ‘sang pencerca’. “Liat aja nanti”, saat ini memang baru ini apologi yang saya pakai. Sebab memang belum terbukti, dan belum saatnya. Mengapa tidak mungkin? (kemungkinan selalu ada bung!) bukankah tiap usaha adalah harta yang paling berharga.

Mari bersama, eksplorasi kemampuan. Eksploitasi diri secara benar, tepat dan sesuai. Jangan berhenti!kita tengah menjalani proses pembuktian tersebut.

Kawan-ku menyiratkan sebuah kaidah bahwa “sesuatu itu tak diambil karena tak mau, bukan tak mampu”. Tapi entah, kesalahan interpretasi atau implementasi. Kebodohan akal atau ketiadaan moral. Banyak yang terjerumus, hanya karena memenangkan emosi ketimbang visi yang ia punyai. Lantas mengapa harus berusaha meraih “sesuatu” itu, jika memang “tak mampu”? Mengapa tak kita buktikan saja, bahwa “sesuatu” yang kita ambil adalah yang kita “mampu” dan “mau”. Bahwa kita mengambil “sesuatu” tersebut, benar-benar karena “mau”, bukan karena tak “mampu” meraih “sesuatu yang lain”.

Perihal yang sejatinya sepele bisa menyita konsentrasi seseorang. Bahkan menjatuhkan seseorang karena konsentrasinya tersita. “Ahkk…” kenapa juga saya meluangkan waktu untuk ini. Padahal ini dapat menyita perhatian saya lebih banyak. Ini bukan pembuktian kawan! Ini hanya penjelasan. Selanjutnya, MARI KITA BUKTIKAN.

16:03 [23 Juni 2004]
Hee..telat nge-BLOG-nya
Afwan surafwan ^-^
***Revolusi Hari Ini***

SANG PENGHANCUR

Batu memang keras, kawan
Terlihat kuat…
Terlihat kokoh, tapi rapuh
Bahkan oleh aliran yang tenang sekalipun
Dan engkau adalah air
Yang tenang,
Yang menghanyutkan.
Dan bila batu itu hanyut
Maka tak dapat perpegang pada apa pun
Kecuali berharap belas-kasih mu

Siapa yang kuat?
Siapa yang tak kan hancur?
Ketenangan adalah sumber kekuatan
Sedang kebekuan adalah yang niscaya akan pecah

Lentur tidak dapat diatur
Lentur berarti teratur
Sinergi sebuah kecerdasan
Yang paham
Yang sadar
Bahwa manusia lemah
Bahwa Dia-lah pemilik kekuatan

17:39 [19 Juli 2004]

Pada akhirnya kebekuan akan mencair dan batu akan melebur menjadi tanah!

***Revolusi Hari Ini***

Pengantar Tidur ku

Dirikanlah sejuta menara “DO’A” di Jakarta
Di Indonesia dan Dunia
Bangunlah!
Sebab mimbar kami tetaplah bumi yang terhampar luas
Seluas sanubari kami yang tetap khusu`
Sambil berucap do’a : “Kehancuran kalian, wahai kuffar”

21:23 [14 Juli 2004]

Ngantuk!
Apa itu ngantuk?
Ngantuk adalah tertunduk
Kelemahan pertahanan kesadaran
Kelemahan penglihatan
Kelemahan pemikiran
Ngantuk adalah kegelapan
Sebab dibaliknya ada harapan tanpa sinar
Ada alam yang kacau-sistemik
Ada bau klenik
Ada pernak-pernik jiwa yang panik

Ngantuk tak dapat di obati
Tak dapat di sembuhkan
Kecuali menyerah padanya
Pasrah dan membiarkan lepas
Berarti terikat dalam dimensi-nya

Setelah itu akan kita dapati
Ngantuk-ngatuk yang lain
Ngantuk yang berikutnya
Dan ngantuk seterusnya….ngantuk

21:56 [14 Juli 2004]

BURUAN CIPOK GUE!

Mari sayang, biar ku sun(suntrungin!) kening mu
Kemari! Biar ku kecup bibir mu, yang (panggilan singkat untuk peyank!)
GILA!!!!!!!!apa-apaan nih! Tontonan bikin ulah lagee. Padahal kebencian saya sama produk IT itu baru mulai mereda. Heeh..dia buat ulah lagi. Penipun terdasyat terhadap generasi, sembari menyatakan: “Inilah realitas remaja kita!, Film hanya menampilkan fenomena yang telah ada”. BRENGSEK! Padahal satu sudut ruang pada waktu tertentu dapat berubah menjadi jutaan (bahkan triliyunan) ruangan – yang terakses – yang terpublikasi sepanjang hari. Mereka bilang ini nyata?! Memang, tetapi inilah yang disebut propaganda. Bagaimana keberpihakan akan sangat menentukan arah ‘pesan’ yang dibawa (dalam hal ini sponsornya adalah kapitalis).

Setelah demam Lions Club dgn AFI-nya sukses, juga AADC. Remaja bertubi-tubi diserang hingga babak belur (tanpa babak penyisihan barang sebentar, apa coba?). Dan targetnya?pelajar, yang belia, yang muda, yang doyan pesta. Masih saya ingat, kilasan sensual ‘putih-abu’ di selasar FISIP UI tadi siang. Baru lulus ko dah kaya tante2 si mba..mba. Mereka yang mengembalikan formulir lebih “dewasa organ reproduksinya” dari pada penampakan para mahasiswa yang urakan. Satu jari buat konspirator kotor, sebagai motor akselerasi kejahilan. Jari tengah tentunya!.

Heeh! Ditengah kepusingan saya membaca NC (edisi membajak ide An Nabhani ttg ideology) saya menyempatkan diri “mengutarakan perasaan” saya ini. Sudah terlalu lama, bagi semangat yang membara berhenti selama 3 hari dan membiarkan diri tetap dalam alienasi-stagnasi. Padahal perjalanan yang telah saya lalui, begitu banyak hikmah tak terjamah karna tak mengikatnya. Cinta, persahabatan, pengorbanan….ahkk indahnya generasi dalam imaji ini. Tapi mimpi-mimpi revolusi selalu membangunkan saya, bangunlah kawan! Sadarkan diri mu! Kemudian goncangkan masyarakat.

BURUAN CIUM GUE ! itu judul Film yang saya maksud. ??? entah! Mungkin setelah ini akan ada judul-judul baru yang lebih berani mempromosikan kebejatan secara signifikan. PERKOSA GUE DUNK ; JADIKAN GUE SELINGKUHAN LOE ; MARI BERZINA, SAYANG… ; BIARIN GUE TELANJANG ; ROMANSA SEORANG PELACUR ; etc. Haaahhaaaa….pinter kan saya? Mampu membaca masa depan. Hee, pasti sutradara yang udah pada mikirin frase-frase judul tsb mukanya langsung merah! Hah! Bagaimana bisa ada yang tau?! Maka akan saya bilang, makanya cuy gaul dunk ma eike. Atau bakalan banyak produser and PH yang gulung tiker (mo di ganti ma permadani katanya!) lantaran pusing mikirn judul pengganti yang ber-sinonim dgn judul mereka yang telah saya bongkar. Kenapa harus diganti??? Biar Boomming tau! Kan ga seru kalau dah da yang tau duluan. Huahaa..kacian dech.

Makian ancur aja neh Indonesia. Hmmm..bentar saya lagi ngedengerin “damai yang hilang”. Syair TOB dech, senandung dari negri jiran. “Kemanusiaan telah lama hilang, kini yang tinggal hanya ketakutan” “musnah kasihsayang dan persaudaraan, tandus akhlaq dan keimanan menyemai persengketaan” “Oooo…hh” Ta ela syurrr..lanjut mang. “Anak-anak kecil menggoncangkan ibunya…….jeritan suara batinnya, tak siapa mendengarnya”. Ini baru mantep. Coba kalo semua remaja bisa connect ma lagu ini, beuh mungkin aja mereka pada mikir (mungkin!). Tapi tetep aja yang nama kapitalis tetep berbisnis. Bahkan school classic-nya bilang “laba atau mati”. Dasar laba-laba!!!

Seperti apa yach Film-nya???ah, saya mah ga akan penasaran ma yang begituan. Klise lah! Paling-paling adik-adik yang melacurkan seragamnya demi sebuah nafsu (birahi dan materi!). Truss, paling juga body-nya pada montoq N nyundut adrenalin saya. Itu sich di kampus juga banyak kang! (saya sedang berbicara dengan para kru bag iklan&promosi).
Kemudian otak saya (jika menontonnya) akan di penuhi fantasi-fantasi keji, dan memandang hina terhadap kawan-kawan saya tanpa integritas pemikiran yang komprehensif. Jadilah saya (yang menontonnya) seorang maniak, ahlu eksploitasi yang kaaffah.

Sekali lagi saya perjelas. Saya membaca resensinya di Korang Tempo, Rabu 28/07/04 dan bukan menontonnya. Bisa GILA saya nanti. Ya, udah dech..ga usah emosi gitu. Liat aja apa yang bisa saya perbuat nanti…. Tungguin yach.

Perang pemikiran tak bisa di lumpuhkan dengan senapan mesin, tetapi laras cerdas dengan amunisi konsep adalah sebuah revolusi.

22:53 [28 Juli 2004]
Next_Revolt
***Revolusi HAri Ini***

Capenya Hidup...

Oi...GILA!
Cape Banget yach hidup!
Hidup cape!!!

Now!!!

Bilamana tak pernah kau lakukkan, tentu engkau tak akan pernah tahu. Meski keberhasilah adalah dambaan, tapi konsekuensi haruslah tetap dijalani. Apa-apa yang selama ini menimpa mu, sejatinya telah di rencanakan. Jadi untuk apa berduka, sedang derita adalah rival yang menjadikan bahagia menjadi ada.

Engkau tahu? Siapa yang tahu? Tak ada! Manusia hanya mencoba memilih takdirnya. Kemudian tawakal adalah sebaik-baik kalimat penutup. Yaah! Tepat jika kau coba untuk memulai. Sebab tak ada akhir tanpa permulaan. Tetaplah berharap. Tetaplah bermohon. Yakinlah! Kuasa mu terbatas, bahkan tiada arti.

Ingin sekali segera ku tumpahkan semua rasa
Ingin sekali segera ku keluarkan segala gelora
Agar tak ada derita

Inilah proses mu. Inilah awal kebangkitan mu. KELAHIRAN KEMBALI!. Setelah suri berkepanjangan, sedang jasad mu dianggap hidup. Maka, membunuhnya adalah tepat. Agar tak ada lagi bayang-bayang setan itu. Atau setidaknya kau bisa terlepas dari jerat hasrat dan syahwat.

Hari ini engkau bagai kepompong. Jadi tutupilah, biarlah sutra penutup mu yang nampak. Meski lembut, ia tetap kuat menjaga mu. Dan selama ‘kandungan’ belum cukup kokoh, jangan coba untuk menangis atau tertawa. Terlalu angkuh, bagi sosok yang baru mengerti hidup untuk sesegera mungkin menertawakan kehidupan, pun menangisinya.

Kupu-kupu. Tak tahu mengapa aku senang dengan analogi ini. Yaah! Engkau akan menjadi makhluk yang indah ini. Sayap mu lebar menaungi. Warna mu indah menyejukkan. Meski awalnya engkau ulat yang menjijikan, inilah hasil ikhtiar mu. Wujud yang baru, atas karunia Sang Pencipta, Alloh SWT.

Engkau dapat terbang, wahai jiwa. Selama ini engkau melayang di dalam kandang yang sesak. Tapi kini bebas. Bebas tanpa batas, kecuali semesta raya dan seluruh ruang yang tercipta. Inginkah? Semua angan indah ini bukan tanpa rasio. Emosi yang tak terkendali dapat mengelabui, sedang kejernihan pikir adalah keselamatan. Ini ‘ijtihad’ ku kawan. Mencoba menatap kecerahan, sebab kini gelap. Mencoba menggapai tatanan, sebab kini tak beraturan.

Aku diajarkan tentang bagaimana melupakannya. Apakah engkau ingin?agar tak ada fantasi-fantasi keji yang kau benci lagi. Maksud ku, melenyapkannya dari imaji mu. Mari mencoba kawan. Sedari tadi aku sedang berusaha mencoba. Mencoba meyakinkan mu, sebelumnya. Untuk kemudian sama-sama mencoba sesuatu. Inilah hidup.

Impian sering kali menjadi stimulan. Bahkan pendobrak! Sang pemimpi adalah seorang yang bervisi. Impian hari ini akan menjadi kenyataan. Pepatah bilang “Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin” , haqoiqul yaum, umniyatul ams. Meski ada yang bilang keinginan sumber penderitaan, tapi teruslah bermimpi kawan. Sebab hanya dengannya kita mampu bertahan. Hidup ini pelik, penuh dengan hal-hal yang tak dapat di duga sebelumnya, pun sesudahnya.

Siapa yang bilang? Engkau belum gagal kawan! Engkau belum kalah, sebab engkau baru hendak bertarung. Ini adalah awal dari sebuah perlawanan. Jika mereka bilang engkau kalah, katakanlah “Mengalah bukan melulu kalah” meski mengalah bukan menang, yang jelas tak ada kekalahan bagi jiwa yang merdeka.

Apa-apa yang kita lakukan saat ini
Adalah manifestasi
Investasi dari proyek yang kita sebut : REVOLUSI

20:51 [27 Juni 2004]

AKHIR YANG BERMULA

Akhirnya…
Segera saja ku mulai
Akhirnya dapat segera terlaksana

Permula yang baik
Mungkin akhir yang baik
Bagaimana dengan “akhirnya…”?
Apakah akhir yang baik ini?
Akankah menjelma menjadi mula?

Semoga….

20:55 [27 Juni 2004]

Aku telah berhasil mengakhirinya, namun sesaat lagi akan memulainya. Tak dapat ku bayangkan, dimana saat ini sedang coba ku hapus semua bayang. Mula seperti apakah?

Mula yang bagaimana?
Sedang engkau tak tahu
Meski ingin segera

Moga keajaiban tercipta!

20:58 [27 Juni 2004]

MARTABAK BASI DI TUDUNG SAJI

Martabak basi di Tudung Saji
Mengingatkan aku akan duka seluruh negeri
Menyadari bahwa aku tak sendiri

Kelaparan bersanding Keserakahan
Kesengsaraan beriring Kemegahan
Kemanusiaan berbalut Kesetanan

Berjuta mereka teriak “kurang!!!”
Berjuta aku mengeluh, merasa “kurang”
Padahal kita sama: “manusia” bukan…?

Aku, Mereka dan Semua
Ketimpangan merajalela
Salah siapa???
Sistem atau yang menciptanya?!
Tudingan penghianatan!
Aku benci realita.

Martabak basi di Tudung Saji
Tetap bertahan dalam imaji
Aku hanya sang penikmat ilusi
Karena materi tak hakiki

Martabak basi di Tudung Saji
Ingin ku buang, “ahkk..” sayang

Mending ku lempar ke atas meja mereka yang tak pernah kenyang,
Biar mereka mati!

10:35 [25 Juni 2004]

LINTAS JAMA’AH : “Hmm…???!”

Lagi rame nih. Tema ini seakan tak henti-hentinya di suarakan oleh kawan-kawan yang sudah rindu akan persatuan. Bagaimana tidak? Friksi antar ‘Gang’ sudah terlalu pekat, mencapai derajat darurat (dalam bhasa Fiqh; untuk menunjukan sesuatu yang urgen). Seperti apa ide ini akan di sosialisasikan? Konsepnya menurut saya belum rampung semua, karena istilah ini masing asing bagi kebanyakan aktifis. Banyak terlalu konsen untuk masalah internal, atau hanya membangun ‘diri’ dengan filosofi katak : “Menginjak kebawah, Menyikut kesamping, Menjilat keatas”.

Memang benar. Saya sependapat dengan para father founding bahwa : “Harokah adalah bagaimana memusatkan diri padanya (egosentrisme-positive) dan membangun tanpa mengihaukan rival dan situasi luar” (Sepakat?). Tapi bukan berarti fanatisme-subjektifitas, atau mengurung sendiri kebenaran dalam kotak organisasi. Semua terlalu mengambil ‘sepenuhnya’ kebijakan kelompok, tanpa menyisakan sedikit pun ranah individual.

Kiranya perlu bagi kita untuk menetapkan konsep egoisme (dalam paradigma mutakhir) yang shohih dan merumuskan kembali konsep toleransi serta kompromi yang terkesan sudah baku ini.

Lebur dalam harokah bukan hancur di dalamnya, hingga tak punya wujud pribadi dan kapasitas ijtihad sendiri. Akan halnya sebuah bangunan, bahwa bata penyusunnya tetaplah ‘ego-ekslusif’ merdeka, dan tetap sebagai bata jika bangunan tersebut runtuh. Mengapa tidak mungkin? Kelemahan pondasi sebuah bangunan (harokah) dapat saja terjadi. Masalahnya, akankah pribadi-pribadi itu tercecer tanpa makna. Jawaban saya : “Dengan atau tanpa Harokah………”

Atau jangan-jangan justru ini akan memecah konsentrasi dan mengundang pertikaian internal ummat? Tidak! Demi Alloh saya tak menghendakinya. Saya selalu berdo’a : “Ya Alloh, jika ini shohih maka kuatkanlah/menangkanlah, tapi jika ini bathil hancurkanlah!” (Saya juga mnucapkannya dalam hati saat menggagas “GLOBAL ALHAMDULILAH” bersama kawan-kawan, sewaktu sekolah dulu). Jika masih saja perpecahan, maka ini menunjukan buntunya akal ummat saat ini. Dangkalnya pemikiran dan jumudnya kefahaman yang ada. STAGNASI.

[Nanti akan engkau lihat, banyak pahlawan yang di hinakan hanya karena ‘remeh’ perjuangan yang tak tampak. Dan akan engkau dapati, betapa sejatinya mereka adalah komprador perjuangan]

“Kami rindu kejayaan….!” “Kami rindu kebangkitan!!!” teriakan itu bersama-sama kawan. Senandungkan dalam hati kita bersama, dengan irama “persatuan” dan ritmik “perjuangan”. Mari bersama suarakan risalah ini, dengan kapasitas masing-masing. Bukankah komposisi adalah keindahan yang sebenarnya?. “Dan setiap unsur adalah harga dari keseluruhan…”
Nikah Lintas Harokah

Kenapa jadi sejauh ini???. Entah penyimpangan konsep, distorsi wacana atau suara hati? Asal benar-benar tulus dan sempurna, maka setiap ide selayaknya kita dukung. Solusi Pragmatis???bisa juga, tergantung motivasinya. Setiap amal memiliki niat, dan niat adalah nyawa bagi amal itu sendiri.

Tapi kreatif juga (sun pipi kanan buat sang penggagas ide), rasanya ini akan mampu menyentuh “pluralitas” kemudian merangkul dan mendekapnya erat (sun pipi kiri buat para propagandis-ideologis). Bak secercah cahaya di tengah kegelapan hati atau kunang-kunang di pintu pekuburan. Meski sedikit mampu menerangi, atau setidaknya stimulus bagi harapan – tentang kejayaan – yang hampir mati.

…….. (to be continue!) rasanya terlalu angkuh dengan ke-ilmuan saya untuk menelanjangi konsep ini sampai bugil (yang tahu dunia steaptease mungkin lebih tau soal telanjang-menelanjangi atau bugil-bugilan). Sadar diri, bahwa mata air yang saya rengkuh tak lebih luas dari semudera kesejukan yang kalian miliki.
GET CONCEP
TO BE A DISCUSS….

i_khidir@yahoo.com

Menjelang Pesta GILA

TERSERAH KALIAN

Apa yang menjadikan lebih baik
Siapa yang memimpin kalian
Bagaimana pun caranya
Atau alasan apapun

Tetapi jangan engkau bai’at
Karena tak seorang pun yang layak
“Ini Demokrasi Bung!”
Jangan bawa Agama padanya

Selamatkan para pezina!
Selamatkan para pejudi!
Selamatkan Indonesia!
Tapi selamatkan diri mu!

Mucikari dan Bandar Judi bukan urusan kami
Lokalisasi bukan wewenang kami
Tapi jangan usik generasi!
Sebab kami belum mati.

12:54 [30 Juni 2004]


TRANSAKSI BATHIL

Ada yang menjual diri:
“Siapa mau membeli provokasi kami?”
Ada propaganda dan tipu daya
“Siapa yang berminat?”
“Bukankah kalian berharap pada kami?”
Percayalah…
Kami "jujur dan bersih"
Kami "teruji dan terbukti"
Kami "reformis"
Kami "legendaris" (Hee.. J)

Ada yang percaya:
“Saya pilih yang ini”
“Dia idola saya”
“Saya mau dia yang mengatur hidup saya”
“Saya ingin mengabdi pada beliau”

Ada yang ragu:
“Ahhkk..dia tidak ideal”
“Saya ingin yang dulu”
“Masa lalu kita indah bukan”
“Andai saja…”
(Nostagia neeh :p)
“Saya pilih mana ya?”

Yang urung membeli:
“Nggak ah, lain kali aja”
“Tidak ada yang sreg”
“Nanti aja kalau ada yang cocok”
(Selamat menanti, Selamat mencari :p)

[30 Juni 2004]

== MEMILIH ataupun GOLPUT, keduanya ADALAH bentuk partisipasi dalam DEMOKRASI ==
Enyahlah!!!

***Revolusi Hari Ini***

SEGENGGAM GUMAM untuk Kritikus Sastra

Pada awalnya saya tidak terlalu tertarik untuk membaca karya sastra. Utopis, kata ku dulu. Bahkan para sastrawan adalah ‘Sang Pemimpi’ sejati, yang tak pernah akan terbangun, bahkan dengan guncangan “bom” sekalipun. Sastrawan adalah mereka yang lari dari realitas, kemudian bersembunyi dibalik ketinggian idealisme. Mereka adalah pengumpat yang tak tau bagaimana harus bertindak. Dan semua keburukan yang ada pada sastrawan-sastrawati melekat dalam perspektif ku.

Tiba-tiba. Saya terdampat di ranah para ‘pemimpi’ tersebut. Atas nama pencerdasan intelektual, saya ‘dijerumuskan’ di Fakultas Sasta untuk menimba ilmu (sekaligus title kesarjanaan yang diagungkan banyak orang). Lambat laun, saya terbiasa dengan gaya mereka. Meskipun saya tetap menyebut program studi kami sebagai “Jurusan Non-Sastra”. Mungkin ide chauvinistic tersebut awalnya lahir dari kebencian terhadap sastra. Saya lebih suka politik dan segala “olah intelektual” lainnya. Tapi, saya sadari tidak. Karena tak hanya make up mereka, tetapi borok dan segala penyimpangan idealisme saya temui disini (kampus).

Saya mulai menyukainya. Karena “olah rasa” juga begitu menarik untuk digeluti. Bahkan disoroti dalam ‘kacamata’ intelektual. Ya, sebatas suka. Dan tidak sampai ‘nagih’ apalagi kecanduan. Sekedarnya saja, dari pada harus membuang waktu percuma tanpa ada input bagi benak saya yang selalu haus ini. Toh, tak akan membuat saya menjadi bodoh.

Tak banyak karya sastra yang saya baca. Tapi saya merasa telah menjadi ‘sastrawan sejati’ (sebenarnya saya belum paham definisi dan konteks istilah ini). Hanya karena satu, “oh tidak!” Segenggam Gumam. Kumpulan esai ini membuat saya open mind terhadap dunia sastra dan kepenulisan (termasuk karya intelektual lainnya). Bagaimana tidak, penulisnya mengajak saya berjalan-jalan mengunjungi situs-situs sastra popular dan fenomenal – saya rasa – yang sebelumnya tidak saya kenal.

Begitulah. Ini buku satu-satunya yang saya baca ulang. Padahal sebelumnya tak pernah satu buku pun (bahkan yang paling saya senangi) yang saya balik-balik kembali setelah selesai membaca penutupnya. Bukan apa-apa, saat itu saya kehabisan bahan bacaan. Dan hanya buku ini yang bersemayam di dalam tas saya. Terpaksa dech saya menggelutinya, ketimbang silau oleh maha karya kapitalisme yang pasti saya jumpai setiap kali melakukan perjalanan. Bahkan sangat terpaksa. Meski akhirnya tidak menyesal.

“Heeh…, so toy” bagai hakim beliau menghukumi karya sastra. Memenjarakan karya intelektual orang lain, hanya karna tak sepaham dengan gaya perjuangannya. Membebaskan dan memuja yang lainnya. Tapi bukan disitu permasalahannya. Setiap orang berhak atas kritik, bahkan ini pun merupakan karya intelektual yang wajib dihargai. Apa bedanya karya sastra, dengan kritikan terhadapnya. Toh keduanya merupakan karya intelektual dibidang sastra. Bahkan terlalu angkuh bagi saya yang nota bene baru mengenal sastra baru-baru ini.

Penghargaan yang besar buat penulisnya. Saya tak bermaksud mencaci bunda Helvi, saya sangat menghormati beliau . Saya hanya ingin meyoroti gaya kritik penulis sebagai senior “lokomotif sastra”. Terhadap hal-hal yang tak sepaham, kiranya penulis terlalu sinis. Mungkin ini juga termasuk sastra, gaya bahasa halus yang sejatinya penuh kebencian sekaligus meremehkan. Bagaimana kebaikan-kebaikan orang lain bisa di nafikan dan men-judge “estetika sastra” milik kita, sedang kita penganut determinisme.

Buat seluruh sastrawan-sastrawati, ini juga karya. Tolong hargai Bung!.

09:43 [22/06/2004]

***Revolusi Hari Ini***

Hee... Kapitalis!

Tawa- tawa Kapitalis
Terdengar disudut-sudut
Pusat aktifitas masyarakat

Tawa-tawa Kapitalis
Melihat aku dikerumunan
Ditengah pergerakan
Mayat-mayat hidup

Tawa-tawa Kapitalis
Menyaksikan jiwa-jiwa
Kaum Proletar
Yang gelisah

Tawa-tawa Kapitalis
Menggema
Di gerbong-gerbong kereta
Di pojok kampus
Di Mall dan pasar tradisional

Tawa-tawa Kapitalis
Menghiasi wajah cerah
Para seleb dan tokoh masyarkat
Menghiasi hati yang mati
Dari para materialis

Tawa-tawa Kapitalis
Menghidupi para anjing
Dan budak kepentingan

Tawa-tawa Kapitalis
Menertawakan aku
Yang hampir hanyut
Terseret arus kefanaan

Tawa-tawa Kapitalis
Menyudutkan para pejuang
Revolusi stagnasi

Tawa-tawa Kapitalis
Menghinakan pemerintahan
Yang bermental korup
Menelanjangi
Budak-budak syahwat
Nafsu dan wanita
Tawa-tawa Kapitalis
Menggiring pergerakan
Para tokoh revolusi
Memasarkan produk
Dari hasil monopoli

Tawa-tawa Kapitalis
Menyesakkan dada
Para pemuda

Tawa-tawa Kapitalis
Di desa dan di kota
Di pematang sawah
Di atap apartemen

Tawa-tawa Kapitalis
Terhibur oleh lelucon
Kedunguan masyarakat

Tawa-tawa Kapitalis
Mengiringi bangkai
Kematian jasad masyarakat

Tawa-tawa Kapitalis
Hampir usai

Tawa-tawa Kapitalis
Tak kan lama

Sampai ku sumbat mulut mereka
Dengan gumpalan keyakinan
Yang hampir lusuh ditelan waktu

Sampai ku bungkam mulut mereka
Dengan harga surga dan neraka
Bukan dengan harta dan tahta
Yang mereka puja.



PILIHAN PERTAMA


Hidup adalah sebuah pilihan
Dan kita diharuskan untuk memilih

Surga, yang pertama
Neraka, yang kedua
Diantarannya adalah jurang yang hampa

Kita harus memilih
Antara pilihan pertama,
Kedua dan diantara keduannya.

Pejuang Kabenaran,
Atau Kebatilan.
Selain itu adalah Pragmatisme

Menjadi Mu`min,
Kafir, atau
Munafik

Jadilah orang yang pertama
Dalam melakukan kebaikan
Dan menyerukan kebenaran

Bersegeralah meraih kemuliaan
Jangan tunggu keajaiban
Atau diam berpangku tangan

***Revolusi Hari Ini***

Anomali Kehidupan

Kami adalah anomali, dari air risalah yang mengalir deras. Aliran itu akan menghancurkan setiap karang dihadapannya, sekeras apapun batu yang menghadang. Perlahan ia akan terkikis oleh terpaan. Kekerasan itu akan hancur dengan kesabaran dan keistiqomahan. Keangkuhan itu akan luluh bersamaan dengan kemuliaan yang hadir. Tak ada yang mampu halangi kami menuju muara kebangkitan. Bendungan tak kan mampu menahan kami untuk tuju samudera.

Kami memang mengalir dari atas, tapi kami lahir dari mata air di dasar tanah. Jalan kami memang berkelok mengikuti wadah yang ada, tapi kami tetap mendobrak apa saja yang ada di depan kami. Kami memang dapat habis oleh panas yang menyengat, tapi uap kami akan membentuk awan dan menurunkan hujan yang lebat. Kami memang dapat beku dalam dingin yang sangat, tapi es kami dapat melindungi siapa pun yang berada di dalamnya. Kamilah kekuatan itu, kamilah anomali itu. Yang dingin dalam beku, yang hangat dalam lahar mendidih.

Kami adalah sumber kehidupan, jika kalian ramah. Kami juga sumber bencana bagi kalian yang rakus. Kami selalu bergerak. Karena diam adalah kematian, meski kami tak pernah mati melainkan mematikan dan menghanyutkan. Siklus kami menjadi ciri kehidupan. Di setiap putaran kami selalu hadir dalam keaadaan lebih bersih. Alam dan hukum yang ada padanya menjadi penyaring kekotoran kami. Kotoran-kotoran dalam tubuh kami niscaya akan tersingkir dengan sendirinya. Karena firah kami adalah bersih, suci dan menyucikan.

Kamilah yang tenang dan menghanyutkan. Kamilah yang deras dan menghidupkan. Kamilah yang ketika kotor mampu membersihkan. Ketika dingin mampu membeku, ketika panas mampu menguap.

Kami anomali dari air yang mengalir. Dan risalah ini akan tegak dengan atau tanpa kami.

***03/01/2004***

“Kebebasan, Persaudaraan dan Persamaan adalah slogan yang samar, sangat rentan untuk disalah gunakan, dan sangat efektif untuk membakar jiwa-pergerakan”


Pribadi yang baik akan – cenderung – memilih sistem yang baik sebagai tempat hidup. Tapi pribadi tetap pribadi dan sistem tetaplah sistem. Kumpulan pribadi yang baik tak lantas membentuk sistem yang baik. Pun sistem yang baik tak menciptakan pribadi yang baik. Dan inilah makna dari kebebasan manusia.
[26 mei 2004]

Menyeru pada akhlak adalah menyeru pada fakta. Dan itu berarti sebuah kebodohan.

***Revolusi Hari Ini***

Mein Kampf

Aku dan Perjuangan

AKU ADALAH FRUSTASI
DARI GERAKAN REVOLUSI
AKU ADALAH MUSUH-MUSUH
DARI TRADISI DAN BIROKRASI
AKULAH KEBAHAGIAAN HAKIKI
YANG TERALIENASI…..
Aku tidak mati,
Meski aku sendiri

AKU BUKANLAH SAMPAH EVOLUSI
YANG DIBUANG BANGSA YAHUDI
AKU BUKAN ANJING SI TUAN
DENGAN TULANG KEPENTINGAN
AKU JUGA BUKAN HAMBA
YANG HINA TANPA HARGA
Aku akan berdiri
Diatas kaki sendiri

AKU ADALAH MEREKA,
YANG MERDEKA DIBALIK PENJARA
AKU BUKAN MEREKA,
ABDI TANGAN-TANGAN TIRANI

AKU ADALAH ENGKAU,
YANG BERJUANG DEMI KEBENARAN
AKU BUKAN ENGKAU,
TUBUH RAKSASA KEDZALIMAN

Wahai zaman……
Nantilah kehadiranku
Seiring dengan kemuliaan
Hidup dan kehidupan

Bogor, 16 Desember 2003

Apakah aku
Orang awam yang tak tahu
Bahwa Sekolah itu candu?
Atau, bahwa kuliah sekarang ini
Adalah pembodohan
Secara sistematis dan terstruktur?

Yang jelas belajar dari segala hal
Adalah sebuah kewajiban
(27 December 2003)


PEMUTUSAN

Kami tak ingin
Gerak kami dihalangi birokrasi
Kami tak ingin
Gerak kami dipengaruhi tradisi

Karnanya kami berlepas diri…..

Bukan karna tak peduli
Atau tak ingin berafiliasi

Akhi,
Konspirasi ada disana-sini
Menjerat setiap tunas generasi
Mereka yang mengaku Robbani
Atau mereka yang jahili

Semua terkontaminasi!

Karnanya kami berlepas diri…..

Akhi, …..(saat ini)
Ironi sudah tak menggugah hati
Orientasi tak lagi dihargai

Mari…..
Lakukan rekonstruksi
Buatlah resolusi
Segera revolusi!!!

[Desember 2003]


“Jika keajaiban tak kunjung menyadarkan, segeralah lakukan perubahan.
Bila ironi tak menggugah hati, lekas mantapkan orientasi.”
[29 OKT 03]

***Revolusi Hari Ini***

BIMBANG yang mengambang

Duhai, aku sedang bimbang. Terombang-ambing oleh kepentingan. Ada sesat yang menjerat hasrat. Ada tipu yang merayu nafsu. Kolaborasi jahanam tertanam hampir sempurna. Mencoba menggandeng ramah jiwa murah, yang tak pernah marah. Memikat kemilau, bak senja yang memancarkan damai. Silau, dan aku hampir terperosok kedalam lembahnya. Musuh yang nyata, tetapi maya.

Gelombang pengaruh mewarnai kalbu. Celupan-celupan pelangi yang mengelabuhi. Menutup hati. Menghijab nurani. Menjadikannya sosok mati yang tak berarti.

Kini, apologi tak lagi mempan untuk membangun diri. Subjektifitas tak lagi mampu tingkatkan kualitas.

Hanya derap pengap, berharap tetap tegap. Tertinggal diantara pelarian benak yang tak kompak. Diri mencari celah sinyal kehidupan, untuk kemudian di belah hingga pecah. Berserakan diantara puing harga diri. Segmen fenomena yang bercecer berantakan. Senyap, selentingan jerit tak beraturan. Tak membuat gendang telinga bergetar, hingga tersadar.

Dihadapan ku, ada banyak pilihan. Tapi aku tak dapat memilih, karena semua harus dipilih. Sedang aku hanya boleh memilih salahsatu. Serakah??? Fitrah setiap insan. Tapi aku tak begitu. Apakah masih disebut serakah, jika kebutuhan belum terpenuhi? Dimana batas kewajaran? Bukankah serakah itu berlebihan?

TERSERAH. Satu kata kanuragan, pemberian dari bagian yang kehilangan. Asal tidak menyerah atau kalah.

[25 Mei 2004]
/Pertarungan Batin Pencari Kebenaran

***Revolusi Hari Ini***

BERSERAH

Hari ini aku resah
Gelisah yang tak pernah menyetuh tingkat parah
Hampir membuat ku marah

Hari ini aku risau
Galau yang hampir membuat ku kacau
Melebihi keadaan sakau

Wahai,
Pencipta semesta raya
Wahai,
Penguasa jagad dunia

Penggenggam waktu Yang Maha Tahu
Penyelimut ruang Yang Maha Benderang

Engkau lebih tahu apa yang akan ku pinta
Engkau lebih paham apa yang pantas ku terima
Engkau lebih mengerti apa yang aku ingini

Terserah,
Karena aku telah berserah diri.

[25 Mei 2004]

PENGADUAN

Wahai..
Yang menjadikan hamba ada
Wahai,
Yang menjadikan hamba dewasa

Berikanlah kekuatan pada hamba
Berikanlah ketabahan pada hamba

Berkali-kali Engkau meyakinkan hamba
Berkali-kali Engkau peringatkan hamba

Dengan berjuta uji dan coba
Dengan banyak sekali masalah melanda

Sampai hamba yakin:
“Engkau Yang Maha Segala”
Engkau, berikan kekuatan sebelum hamba pinta
Engkau, berikan ketabahan sebelum hamba pinta
Sekarang hamba meminta…
Wahai Yang Maha Pemberi (yang tiada terbalas)

[25 Mei 2004]

PERADABAN YG HILANG

Bagdad, Damaskus, Cordoba dan Granada
Ku cinta kalian semua bak seisi dunia

Apa yang pernah ada
Apa yang menjadikan jaya
Kini tiada…

Sebuah kejahatan terbesar dalam sejarah
“Mengubur Peradaban”
Menenggelamkan Khazanah Ilmu,
Menbakarnya,
Menyobeknya…

Bukti kekerdilan mereka adalah penghargaan,
Serta perlaku terhadap buku
Satu juta buku, tak bernilai satu juta karung emas
Bahkan jika kau tambah sebanyak tujuh kali

Kau,
Barbarisme tiada tandingan
Lautan tinta mencoreng dunia
Menjadikan wajah modernitas menjadi hitam
Pekat dalam hitungan bulan
Tapi aliran itu belum berhenti hingga kini

Padahal seorang istri tak lebih berharga dari sebuah buku
Hingga kau lempar semua ke dalam kolam

Perpustakaan tak akan tenggelam

Bahkan lebih menyakitkan dari tiga madu
Tetap saja ketinggian ilmu adalah mencintai buku

Pustakawan terus melaju

[Khazanah Peradaban Dalam Kenangan]
Buitenzorg, 23 Mei 2004

SADAR

Sadari…
Syetan punya banyak amunisi untuk mengikat imaji
Membelenggu, menganggu setiap jiwa yang termangu
Padahal perenungan punya banyak tempat indah untuk singgah
Bagi yang lelah, bagi yang penat, ranah ini wajib dijamah
Tak ada sekat dan tanpa batas.
Apapun dapat kau temukan disini.
Tak perlu kau penuhi benak dengan angan-angan syetan
Sebab tak ada tempat yang tepat, bagi syetan di dalam otak
Di dalam hati, atau dimana pun, kecuali neraka.

Terbukti….
Bahwa dengan menatapnya engkau akan buta.
Bahwa dengan mendengarnya engkau akan tuli.
Fitrah dan ghorizah adalah landasan dari hukum ini.

15/06/2004

***Revolusi Hari Ini***

Anak-anak Israil

Mereka tak sekuat yang kau kira. Mereka tak sekuat kita. Mereka hanyalah laba-laba disudut rumah tua. Kejayaan mereka hanyalah kelalaian kita. Mereka tak mampu berbuat apa-apa, selain makar dan konspirasi. Mereka tak berani bertarung, mereka gunakan tangan kita untuk membunuh, kaki kita untuk menendang dan menginjak-injak kehormatan. Mereka hanya mampu berangan-angan, angan panjang yang tak berujung.

Kalian tahu laba-laba? Rumah siapa yang lebih lemah dari rumahnya? Laba-laba hanya memangsa serangga dalam rumah jaringnya.

Kalian tahu kera? Kesempurnaan fisik tak sesempurna akalnya, pikirannya terlalu kerdil untuk disebut sebagai moyang manusia.

Ya, itulah mereka. Bangsa Yahudi. Bangsa laknat yang amat keji. Bangsa yang setiap langkahnya berlumuran darah ghoyim, bercucuran keringat para proletar. Bangsa yang tersenyum melihat rintihan seorang anak ‘Muhammad Ad Durrah’.

Telah nyata kebencian dari mulut-mulut mereka, dan sesungguhnya (apa yang ada) didalam hati mereka adalah lebih besar. Lihatlah disekeliling kita, disudut mana kita tak melihat Yahudi? Di pojok kota mereka ada. Di gerbang desa mereka ada. Bahkan hutan rimba dan belantara nusantara kita tercinta.

Mereka tak berbuat apa-apa. Hanya anak-anak kita saja yang bodoh. Pemuda kita gembira dengan racun yang mereka berikan setiap hari. Bagaimana kita tidak menjadi binal???sedang setiap hari kita menyaksikan ‘pesona jahiliyah’. Tuntunan anak-anak kita kini, Film box office mereka yang sengaja di buat dengan skenario degradasi moral. Holliwood yang sejatinya ‘Soddom Modern’ menjadi kota suci. Dengan senandung ‘nasyid’ MTV, (‘kurma’) KFC, ‘zam-zam’ Cola, kita telah menjadi mereka. Make Up mereka ada di wajah kita, tawa mereka ada di bibir kita. Mereka hampir menjadikan kita identik dengan mereka, meski ketika dilahirkan kita bernama muslim sedang mereka berbeda.

Mereka tak berbuat apa-apa. Hanya kita saja yang rakus. Menelan apa saja yang mereka sajikan. Memakai apa saja yang mereka rancang. Kita kehilangan jati diri seorang bilal, hamba yang kemuliaannya lebih tinggi dari tuannya. Kita kehilangan keberanian pasukan badar, yang siap mati setiap saat demi tegaknya kebenaran.

Mereka hanya berusaha memalingkan kita, dan kita berpaling. Mereka tidak akan rela sampai kita mengikuti millah-millah mereka setapak demi setapak, selangkah demi selangkah. Dan kita rela mengikuti mereka meski ke dalam lubang biawak sekali pun. Ironis! Umat yang di muliakan dengan amanah Al Qur`an menjadi hina. Bagaimana kita bisa dipalingkan?

Ambivalensi

“Atheis `Amaliy” selalu bicara tentang Ketuhanan
Bahkan sering kali, mempertanyakaan kebenaran.
Dia bilang: “idealisme harus dijunjung tinggi!”
Ya, tinggii…tinggi sekali, sampai dia sendiri tak mampu menjangkaunya
Apatah lagi meraba dan merengkuhnya.

“Revolusioner Imaji” selalu bicara tentang perubahan
Bahkan sering melakukan perlawanan
Dia bilang : “tolak bungkam”
Diam!, Diam tanda tak setuju
Diam berarti tak menerima, “retorika tanpa suara”
Bilamanakah dunia dapat mendengar?

“Liberalist Oral” selalu bicara tentang kemerdekaan
Bahkan pembebasan dari semua ikatan
Dia bilang : “Aturan adalah penyekang kebebasan”
Biarkan kami mengalir, manusia akan menemui samudera
Kealamiahan berarti keselarasan
Lantas membiarkanya hancur dengan sendirinya

AFI : Air Mata Taubat

Ribuan orang berkumpul dalam sebuah ruangan. Tanpa instruksi mereka memakai kostum dan ascesoris yang unik. Harapan tampak di wajah orang-orang ini. Panggung yang tak besar menjadi tak berarti saat sesosok pribadi mengalunkan suaranya. Syahdu meski tak begitu merdu. Sesaat kemudian, jerit tangis mengudara, menguak keheningan. Ada air mata bahagia terlihat disana. Semua menyatu dalam histeria keagungan.

“Subhanalloh” terdengar merdu desah sesal mereka. (???). Semua tertunduk. Bersujud memohon ampun (nah lho!). Sesekali takbir, sesekali tasbih. (apaan seeh?). Seorang memimpin audiens melafadzkan istigfar. Seolah ruangan ini berkata “Mari menuju puncak…”, “mari menuju cahaya”. (?????).
“Kenapa bingung?” Tidak perlu heran, fenomena ini memang sudah menggejala di negeri ‘berjuta bintang’ ini. Manusia memang punya cita-cita, juga cinta. “So what?”
Tapi disini tak ada kompetisi! Tak ada rasa iri. Atas nama cinta, mereka berduyun-duyun menuju tempat itu. Masjid At Tien, di lingkungan TMII. J tempat ini begitu penuh setelah ada acara ini. AFI! “Ya, begitulah saya menyebutnya”. Akademi Fantasi Ilahi.
Semua membuka benak. Sejenak duduk mengikuti perenungan. “Ya, inilah Fantasi”. Air mata bahagia segera meluncur dari wajah penuh dosa. Tapi mereka sadar!. Waktunya untuk belajar menjadi orang sholih, dan menerima cinta Ilahi. AFI pertama, hanya diikuti beberapa orang. Sekarang bahkan tak pernah dibayangkan. Banyak yang datang dari luar kota.
Cita-cita. Ini juga menjadi motif hadirnya seorang dalam majlis ini. Dimana mereka yang yakin akan kehidupan setelah mati. Surga adalah balasan bagi orang-orang bertaqwa, bukan fantasi-utopia. Ini fantasi sejati. Dimana tubuh sudah tak berarti, hanya jiwa yang sedang di adili.
Cinta mendorong mereka untuk selalu merindukan kekasihnya. “Sang Idola” sebenarnya. Yang Maha Mencinta. Alloh yang Maha Pengasih. Alloh tiada pilih kasih. Bukan hanya harta dan tahta, bahkan kebangkitan akan diberikan-Nya.
Semua menjadi pemenang, tiada yang disisihkan. Lalu dimana keuntungan? Inilah kebahagiaan sejati! Kemenangan bukan ‘arena’ untuk saling menjatuhkan. Semua sama rata. Instruktur tak menjadi hakim disini. Semua dinilai oleh “Pihak Penyelenggara” sama rata, kecuali takwa sebagai pembeda. Sang instruktur pun sama ‘rendahnya’ dengan mereka yang tengah mengajukan permohonan untuk mendapatkan gelar “Sang Bintang Kehidupan”.
Desiran waktu berlalu. Tapi tetap syahdu dalam ingatan. Yah, “mengingat” kemudian “menyebut”. “menyebut” berarti “mengingat”, pun sebaliknya. Juri disini tak memberi keangkuhan lewat hadiah yang diberikan. Yang dianugerahkan adalah “ketenangan”, “ketenraman”, “kelezatan” serta “kemanisan iman”.
“Camkan!, hanya dengan mengingat Alloh hati ini menjadi tentram”. Sembah sujud para peserta adalah bukti keseriusan, kesungguhan, dan ketetapan hati untuk ini.
***
Kemudian cahaya itu hadir dalam hati kami. Kesucian adalah harga diri yang paling berarti.
Selamat Datang Idola!
Selamat Datang Cahaya!

***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina