PASIFIS ANARKI (Prologue-1)

Adalah sebuah eksistensi manusia dalam kesehariannya.
Terlepas dari semua konsep Syarikat.

Tiap diri adalah organisasi
Tiap diri adalah haroki

Sebuah penyadaran dan perlawanan terhadap konsep organisasi dan haroki yang mulai mapan dengan segala boroknya.

Kami sadar, bahwa kami merdeka
Kami paham bahwa afiliasi adalah sebuah kesepakan visi, bukan pemberangusan terhadap privasi.
Kami yakin, bahwa hisab dan mizan adalah untuk tiap pribadi (nafsi-nafsi).

Inilah eksistensi kami!
Bahwa kolektif tak akan meleburkan kami dalam persatuan imaji!
Kami adalah para jundi yang tak akan menjadi hamba, selain hamba Alloh.
Otoritas Qiyadah hanya sebatas structural-fungsional, bukan multidimensional atau intervensi personal..

Kami mempertanyakan “risalah bai’ah” semua harokah!
Kami mempertanyakan “Al Wala’ Wal Baro`” Anda semua!
Kami mempertanyakan konsep Imamah tiap Syarikah
Kami mempertanyakan Klaim “Jama’ah” kalian semua…

***
Seorang manusia dilahirkan secara merdeka. Kecuali hutang budi kepada Pencipta dan orangtuanya, maka ia dapat saja berbuat sesuka hatinya. Semua ibarat transaksi jual-beli atau rekonsiliasi pada awalnya. Bahwa relasi-relasi dan afiliasi dibentuk untuk membuat pola yang di kehendaki oleh masing2. Meski manusia lemah, penindasan tak boleh ada. Intervensi atas keinginan dan kemauan harus segera di enyahkan.

Dewasalah manusia! Bukan lantaran usia yang bertambah. Tapi perjalanan waktu yang membuahkan pengalaman menjadikan manusia bertambah bijak.

Disisi lain, manusia tak mampu berbuat apa2. Inilah apa yang kami sebut sebagai pasif. Kami bukan penganut Aqidah Qodariyah! Bukan! Kami tetap berharap untuk menjadi Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Kami juga bukan orang-orang yang apatis atau pesimis! Tidak! Hati-hati kawan… Kalian akan terjebak.
Kami adalah pintu perlintasan kereta atau jembatan. Dan semua Hizbi2 serta haroki adalah keramba bagi ikan2 yang merasa terpelihara. Ikan2 yang merasa dirinya dalam kondisi terbaik karna dipelihara oleh orang yang baik, karna tinggal di kandang yang luas dan indah. Ada kebersamaan disana, ada rasa senasib-sepenggungan. Yang berharap keluasan rahmat Penciptanya kelak di surga, tetapi melupakan harapan untuk keluasan risalah-Nya yang ada di luar kerambanya. Kebanyakan dari mereka tak pernah berharap untuk keluar dari keramba. “Totalitas”, kata mereka. Juga tak mau hanya sekedar melirik apa dan bagaimana kehidupan tetangganya. “Loyalitas!”, kata mereka.

Bersambung...
***Revolusi Hari Ini***

Memoar (Romadlon-Syawal)

I {Jelang Romadhon}

“Kamu belum sanggup mengkaji buku itu. Mafahimnya terlalu tinggi. Kita butuh bimbingan. seorang musrifah”.

Seorang darisah mengkhawatirkan darisah lain (kawannya) karena ditawarkan pemikiran non-syarikat (yang selama ini di anut). Cukup pelik, saya dan kawannya ini memang sedang menjalin hubungan dialektika. Agak janggal memang! Sebab, tak lazim hubungan lintas seksual terjadi diantara seorang revolusioner yang belum punya ikatan ‘resmi’. Tapi awalnya memang hanya rekan bisnis (menurut beliau), atau dalam istilah saya “kawan kerja” dalam sebuah naungan bernama Global Alhamdulillah.

Ahkk..! Kenapa semua harus curiga? Toh kalau saya –atau kami—ingin serius, segera saya ajukan ‘proposal’ khitbah padanya. Masalahnya kami memang hanya sebatas teman “tanpa batas”, imajiner. Ow, kami terjegal kelaziman. Yang menarik, hal itu terjadi ketika kami mulai mengkaji hal-hal yang kontroversial.

Penjara kata mulai membatasi konsepsi kami. Istilah-istilah yang kami gunakan sering kali bertabrakan. Untuknya kami telah sepakat sebelumnya, bahwa maksud dari setiap perbincangan adalah untuk membuka cakrawala berpikir kami, memperdalam pemahaman dan menambah pengetahuan. Hingga semua tetap berjalan, meski ada sedikit ganjalan.

Beginilah, ketika datang pihak ketiga atau keempat dst. yang notabene tidak mengetahui ‘gaya bahasa’ kami. Hampir saja ada fitnah. Untungnya, saya juga sedikit banyak tau dan paham bahasa universal yang digunakan kebanyakan orang. Dan akhirnya setiap ada kendala bahasa, saya harus memutar otak saya untuk mencari analogi yang tepat sebagai komparasi.

Bahasa?! Hmm. Saat ini saya juga tengah mengalami masalah dengan bahasa. Bahasa memang alat satu-satunya alat komunikasi dalam kehidupan. Tetapi bukan bahasa verbal dan konvensional saja! Manusia punya bahasa hati, bahasa tubuh, bahasa cinta dan bahasa-bahasa yang tak terbahasakan.

Kasus yang saya temui adalah tentang sarkasme. Termasuk hiperbol dan metaphor ketika masuk dalam ranah emosional kita. Kenapa kita tidak berusaha untuk saling memahami sih?! Bukan kah awalnya komunikasi (berbahasa) dilakukkan agar kita bisa mengerti maksud orang lain?! Kan mudah… Tinggal bagaimana memilih standarisasi dan klasifikasi pembicaraan dan lawan bicara.

Namun ada yang lebih pelik lagi. Miris, bagi saya yang masih mempercayai OTORITAS PERSONAL. Ketika ada orang atau lawan (ups, kawan!) bicara saya menyandarkan konsep bahasanya pada kelompok tertentu. Tidak jd masalah jika hati dan jiwanya masih merdeka, tp sering kali yang saya jumpai yaitu; ‘menyerahkan’ sepenuhnya paradigma berpikir dan kemampuan analisa pada kelompoknya. Ahkk! Stereotipe. Kadang hal ini justru memudahkan saya untuk memukul rata alias menggeneralisir kawan bicara. Sedikit mudah, sebab saya tak perlu repot2 beradaptasi dengannya.

***
Lihat saya. Selalu bilang : “Kamu merdeka!” “Semua penjajahan itu dusta!” “Tak ada yang mampu memiliki jiwa mu!”, padahal saya sendiri tak tahu apakah saya sudah merdeka? Bahkan definisi “merdeka” bagi saya saja masih belum jelas.

Saya harap, semua lancar dan dapat berjalan terus. Sampai saya berkesempatan untuk menjelaskan apa2 yang patut kita ketahui bersama. Tentang sekat2 pemikiran, kotak2 perasaan dan bahaya laten stagnasi.

Ya Allohh…

II {Romadhon nan Malang}

Konsentrasi ku tak menentu arah. Tak punya ranah. Lelah dan hampir saja menyerah. Dia datang menghampiri… Tapi sedikit yang tahu.

Aku masih saja begitu. Tak mampu benar-benar yakin bahwa diri ini telah siuman dari suri nan panjang. Tapi memang begitulah adanya… Aku tak benar-benar sadar.

Sketsa kemulian tampak samar. Ahkk..rupa ia datang, tapi pada siapa? Mengapa hanya ku lihat wajah-wajah orang lain? Dimana diri ku? Atau memang tak tersedia cermin di semesta raya ini?! Terus menatap, dan berharap… Andai ia datang pada ku.

Ia mungkin marah, atau kesal sekali pada diri ku, tapi ia masih punya banyak diri untuk menaungi, dan menyambutnya hangat. Peluk erat penyalur hasrat. Ia mulai melupa ku, mengabai ku sambil senantiasa menebar cemburu.

Waktunya berpisah! Padahal jumpa saja tak ku rasa. Datangnya bagai angan, hadirnya bagai mimpi. Aku ingin segera bangun! Bangkit kembali menyongsong, menerpa badai pasir-pasir dosa ku. Menerjang, dan menciptanya menjadi baru. Aku ingin ia hadir, aku ingin melahirkannya.

Menanti…

III. {Bulan Kelahiran dan Harapan}

Tertatih. Saya menyadari tentang keberadaan yang sebenarnya. Saya telah melakukan hal yang besar dalam hidup saya.

Kembalikah fitri?! Saya tak merasa sesuatu pun yang baru atau berganti. Saya masih yang dulu. Tidak hanya dalam kepribadian, tapi juga harapan.

Saya masih dengan perjuangan yang dulu, masalah yang dulu dan solusi terdahulu. Semua hampir benar-benar sama, dan mulai menjemukan. Semoga ini suatu yang konstan dan bukan stagnan, sebab saya slalu berharap akan akselerasi dalam setiap kesempatan.

Masih dengan dialektika yang dulu, gelisah yang dulu, rancauan terdahulu. Saya masih mencoba untuk bangkit dan menjadi seorang lelaki penunggang gelombang. Tak ada pasang yang dapat menghantam, tak ada surut yang mampu menghadang.
Saya masih seperti yang kita bicarakan dahulu, masih dengan ingatan akan percakapan dahulu dan perdebatan terdahulu yang belum tertuntaskan akibat banyak hal.

***

Ku lihat pesakitan disana-sini
Ku lihat pembaringan dimana-mana
Di desa dan kota,
di tempat tinggal manusia.
Muncullah mala petaka,
mara bahaya,
dan tragedy ternahas sepanjang sejarah
orang-orang beradab.

Duhai, Patani di semerbak Romadhon nan damai.
Duhai, Fallujah yang selanjutnya
Darah mu segar menyuburkan,
menumbuh kembang tunas-tunas harapan
kemunculan peradaban di masa depan.


***Revolusi Hari Ini***

MENCARI FORMAT BARU KOMUNITAS BUDAYA

Budaya, yang menurut pandangan kami merupakan sesuatu yang bersifat historis senantiasa dinamis dan sinergis dengan aktifitas manusia. Manusia tak berhak mengklaim dirinya berbudaya jika ia hanya ‘diam’ mengikuti arus budaya global yang menyeretnya menjadi artefak di mata sejarah. Manusia harus mampu mengatur hidupnya sendiri. Manusia tidak boleh tidak senantiasa mencipta rasa dan karsa menjadi sebuah maha karya.

Budaya meliputi segala aspek ‘kemanusiaan’ yang ada di muka bumi. Dengan tetap tunduk pada sunnatulloh, maka manusia berusaha mengatur kebebasannya. Kebebasan bertindak dan berkehendak (anugerah terbesar dari Alloh) yang bisa membawa manusia pada dua kemungkinan ; selamat atau sesat. Dalam selamat ada rahmat, dalam sesat ada laknat. Jika kita percaya, maka marilah kita sama-sama merenungkan kembali perjalanan kebudayaan kita.

Apa yang selama ini dilakukan dan diperjuangkan selama ini oleh sebagian dari kita bisa jadi salah jalan. Atau mungkin agak menyimpang dari rel yang seharusnya, yakni lintasan menuju ketinggian peradaban dan keagungan harkat-derajat manusia di mata sesama dan penciptanya. Tapi ketetapan Sang Pencipta (Alloh) tak mungkin meleset! Dia tau apa yang akan Ia perbuat terhadap manusia sebagaimana manusia tahu apa yang akan ia perbuat untuk dirinya. Bedanya, jika ketetapan dan keputusan yang diambil Tuhan pasti baik, sedangkan manusia tidak.

Manusia memiliki kemungkinan dan kecenderungan untuk menjadi buruk!!!

Lembah Kapuk, Malam Senin di peghujung November

***Revolusi Hari Ini***

Perjalanan...

di pesakitan…
Pejuang yang terkapar
Ooh…
dia masih dapat tersenyum
bahkan mampu mengenali
orang yang belum ia kenal sebelumnya

- Ciranjang, Cianjur –
*Mengenang pertemuan pertama dengan seorang ‘kawan lama?’



# WARGA NEGARA
DILARANG KERAS
MEMBANGUN di TANAH NEGARA #



“Pernikahan tanpa cinta adalah pelacuran”


tuhan,
hantu,
hutan!
3 misteri kehidupan


“Akhirnya…aku merasakan sendiri, aksioma ‘mitos’ polusi terpekat. Kami butuh kesejukan!!!”


Sebuah daerah yang ramah, tak hanya terhadap orang asing tetapi juga budayanya…


“Kalau salah…boleh minta lagi J”
Dear, Parhatu Sofiah
Kebahagiaan yang amat sangat
Angin surga yang menjaga
Kebijaksanaan seorang wanita

[12/12/2004]



1
“Dulu disini tetumbuhan,
kini gedung bangunan.
Dulu disini kesejukan,
kini udara kesesakan”

2
Ahkk…
Mengapa dengan sedikit lipstik
kalian terlihat begitu menarik


SURGA NAN TENANG

Hai…
gadis berkaca mata.
Meski terhijab
lentik mu tetap menarik
Meski terbalut
agung mu tetap tampak
- KopdarMaTetehNanCantikJelita –
***Revolusi Hari Ini***

MENTARI YANG TAK TERSINARI

Apa yang terjadi,
Ketika ia menerangi?
Ketika ia menjadi tuli?

Siapa cahaya?
Yang menjadi sebuah asa
Atas semua derita yang melanda.

Mentari kini murung,
terkungkung,
terkotak dalam sebuah perangkap hasrat
untuk bahagia,
untuk merdeka,
dan meraih semua…
apa adanya.

Wahai, engkau nan berjasa
Engkau nan senantiasa menderita
duka mu menopang bahagia orang lain.
Itu cukup bagi semesta.
Dan lebih dari cukup untuk menghidupi hati-hati kami.

Salam untukmu…
Yang tengah lupa,
bahwa di sudut sana ada yang mengirim do’a untuk mu
karna cinta.
karna iman,
dan persahabatan sejati.

Salam untukmu…
Yang tengah lalai,
bahwa di pojok sana banyak mentari seperti mu
nan masih kokoh,
dan tangguh,
untuk tetap ikhlas
seperti kata mu : “Bahwa mentari akan tetap menyinari…”

[22 November 2004]
***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina