HaKI dan Masalah Plagiarisme

I. Pengantar HaKI : Sebuah Isu Global

Globalisasi, bagi sementara orang mungkin ditanggapi dengan biasa saja karena dianggap sebagai kata klise tak bermakna jelas, sementara yang lain menanggapi dengan was-was karena mungkin memahami sejumlah konsekuensi yang mungkin timbul atau sebagian lain bersikap pasrah tanpa melakukan antisipasi apapun. Inti globalisasi adalah harmonisasi atau penyelarasan nilai-nilai (values) di seluruh dunia. Penyelarasan nilai-nilai tersebut dilakukan antara lain melalui serangkaian kampanye nilai dengan menggunakan berbagai media yang kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan antar negara-negara yang merasa memiliki persepsi dan kepentingan yang sama. Kemudian diwujudkan menjadi serangkaian peraturan-peraturan international yang mengikat pihak-pihak yang meratifikasinya. Sehingga tercipta standar perlakuan yang sama bagi pihak-pihak tersebut.

Pertanyaan yang muncul adalah nilai-nilai apa yang akan dijadikan acuan dan kemampuan pemahaman terhadap values tersebut, karena ini bisa menentukan who rules the world dan berpotensi menyebabkan clash of civilization seperti yang diramalkan Huntington. Terlepas dari adanya potensi konflik yang mungkin timbul, yang jelas era globalisasi telah datang dan Indonesia harus mencermati dan mengantisipasi isu-isu penting dalam globalisasi.

I.1 Tinjauan Historis

Sedikitnya ada lima isu penting dalam globalisasi yang oleh sebagian pengamat Indonesia dikatakan sebagai Pancasila dunia, yaitu hak asasi manusia, demokratisasi, lingkungan, standar internasional dalam bidang industri dan hak atas kekayaan intelektual.

Hak-hak atas Kekayaan Intelektual atau HaKI yang diterjemahkan dari Intellectual Property Rights (IPR) sebagaimana isu global yang lain, tidak hanya perangkat peraturan akan tetapi sudah menjadi sistem nilai yang berakar sejak lama di negara maju (Baca : Negara Kapitalis).

Kalau dilihat secara historis, undang-undang mengenai HaKI pertama kali ada di Venice, Italia yang menyangkut masalah paten pada tahun 1470. Caxton, Galileo dan Guttenberg tercatat sebagai penemu-penemu yang muncul dalam kurun waktu tersebut dan mempunyai hak monopoli atas penemuan mereka. Hukum-hukum tentang paten tersebut kemudian diadopsi oleh kerajaan Inggris di jaman TUDOR tahun 1500-an dan kemudian lahir hukum mengenai paten pertama di Inggris yaitu Statute of Monopolies (1623). Amerika Serikat baru mempunyai undang-undang paten tahun 1791.

Upaya harmonisasi dalam bidang HaKI pertama kali terjadi tahun 1883 dengan lahirnya Paris Convention untuk masalah paten, merek dagang dan desain. Kemudian Berne Convention 1886 untuk masalah copyright atau hak cipta. Tujuan dari konvensi-konvensi tersebut antara lain standarisasi, pembahasan masalah baru, tukar menukar informasi, perlindungan mimimum dan prosedur mendapatkan hak. Kedua konvensi itu kemudian membentuk biro administratif bernama the United International Bureau for the Protection of Intellectual Property yang kemudian dikenal dengan nama World Intellectual Property Organisation (WIPO). WIPO kemudian menjadi badan administratif khusus di bawah PBB yang menangani masalah HaKI anggota PBB.

Pada kesempatan yang berlainan diselenggarakan perundingan di Uruguay (Uruguay Round) disponsori oleh Amerika yang membahas tarif dan perdagangan dunia yang kemudian melahirkan kesepakatan mengenai tarif dan perdagangan GATT (1994) dan kemudian melahirkan World Trade Organisation (WTO).

Kemudian terjadi kesepakatan antara WIPO dan WTO dimana WTO mengadopsi peraturan mengenai HaKI dari WIPO yang kemudian dikaitkan dengan masalah perdagangan dan tarif dalam perjanjian Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) untuk diterapkan pada anggotanya. Indonesia sebagai anggota WTO telah meratifikasi perjanjian tersebut tahun 1995.

I.2 HaKI Sebagai Peluang atau Ancaman

Jika dilihat dari latar belakang historis mengenai HaKI terlihat bahwa di negara barat (western) penghargaan atas kekayaan intelektual atau apapun hasil olah pikir individu sudah sangat lama diterapkan dalam budaya mereka yang kemudian diterjemahkan dalam perundang-undangan.

HaKI bagi masyarakat barat bukanlah sekedar perangkat hukum yang digunakan hanya untuk perlindungan terhadap hasil karya intelektual seseorang akan tetapi dipakai sebagai alat strategi usaha dimana karena suatu penemuan dikomersialkan maka diperlukan perlindungan yang memadai untuk mencegah sengketa dagang dan bukan untuk tujuan perlindungan itu sendiri.

Sehingga penghargaan negara yang berupa pemberian hak monopoli kepada pencipta kekayaan intelektual, memungkinkan pencipta atau penemu tersebut dapat mengeksploitasi ciptaan/penemuannya secara ekonomi. Hasil dari komersialisasi penemuan tersebut memungkinkan pencipta karya intelektual untuk terus berkarya dan meningkatkan mutu karyanya dan menjadi contoh bagi individu atau pihak lain, sehingga akan timbul keinginan pihak lain untuk juga dapat berkarya dengan lebih baik sehingga timbul kompetisi.

Pada akhirnya konsumenlah yang diuntungkan dengan kondisi ini, karena akan muncul banyak pemain dalam bidang bisnis. Timbulnya kartel dengan sendirinya dapat diminimalisasi, barang tersedia dalam jumlah yang mencukupi dan dengan kualitas yang semakin lama semakin baik.

Untuk mengantisipasi timbulnya persaingan tidak sehat, misalnya seseorang menjadi terlalu unggul, sehingga menguasai yang terlalu besar dan memungkinkan timbulnya pemaksaan terhadap konsumen, maka diciptakan peraturan anti persaingan tidak sehat atau Unfair Competition Law. Seperti kasus Microsoft yang diduga bertindak curang oleh Netscape melalui Unfair Competition. Sebagai pemegang mayoritas pangsa pasar software sistem operasi, Microsoft menciptakan software internet yang dijadikan satu paket dengan software sistem operasi mereka, dan menimbulkan "pemaksaan" terhadap konsumen. Unfair Competition Law merupakan perangkat hukum yang komplementer bagi rejim HaKI yang lain.

Dari kasus Inggris, juga dapat disimpulkan bahwa telah terjadi perubahan sosial yang signifikan setelah diundangkannya peraturan tentang HaKI khususnya paten tahun 1623, karena memicu budaya mencipta oleh masyarakatnya, ditandai dengan munculnya penemuan penemuan baru dalam bidang teknologi yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya revolusi industri tahun 1789 dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sesuaikah kebijakan ini di terapkan di negeri yang mempunyai tradisi toleransi, dengan sejarah sebagai negeri agraris yang sudah mendarah daging. Meskipun Indonesia telah meratifikasi TRIPs dan sudah terlanjur terlibat dengan arus globalisasi. Dengan mengambil pengalaman negara-negara barat, Indonesia mempunyai pilihan dalam menghadapi isu HaKI; yakni menolak dan berontak, atau tunduk dan terjajah.

II. Mempertanyakan Kembali “Kepemilikan Intelektual”

"Kepemilikan Intelektual" yang diajarkan untuk kita hormati sejak kecil perlu dipertanyakan kembali. Ingat, "tidak ada hal baru dibawah siraman sinar matahari." Ketika kita masih anak-anak dan memiliki ide-ide yang menarik, orang yang lebih dewasa biasanya dengan cepat menunjukkan ide tersebut. Ide yang sebelumnya sudah pernah dicoba dan tidak berhasil berjalan dengan baik, atau seseorang lain telah memiliki ide tersebut dan telah mengembangkannya dalam level yang jauh lebih tinggi dari yang bisa dibayangkan anak tersebut. Apakah anak ini memiliki pemikiran yang orisinil? Ataukah ia akan kita sebut sebagai seorang yang kurang beruntung karena ia terlambat mengungkapkan idenya. Akhirnya, anak itu sadar bahwa ia baru dilahirkan belakangan setelah ide yang ada di pikiranya itu mapan dalam pikiran orang dewasa atau sudah mapan terlebih dahulu.

Meskipun logika seperti ini sudah sering kita pelajari dari kecil, namun logika tersebut mulai berubah dalam perkembangan ke arah kedewasaan, kita semakin posesif akan ide-ide kita. Konsep "Kepemilikan intelektual" tertanam dalam psikologi kolektif lebih dalam daripada konsep kepemilikan material. Sebagian intelektual menyatakan "kepemilikan adalah pencurian" dalam pengertian modal atau material, tetapi hanya sedikit yang berani menyatakan dan menerapkan pernyataan tersebut bagi ide-ide mereka. Bahkan ide tersebut bisa saja di patenkan…

Bahkan pemikir yang kelihatannya paling radikal sekalipun seringkali dengan lantang menyatakan ide mereka adalah yang pertama dan paling mendasar sekali lagi ide mereka. Konsekuensinya, banyak orang hanya melihat perbedaan yang kecil antara pemikir dan pikiran yang dihasilkannya. Hal terburuk yang dihasilkan pola ini adalah pemujaan bagi persona yang terkenal serta pemujaan para partisan akan pahlawan-pahlawan mereka. Selain menghasilkan anggapan bahwa ide-ide dan karya seni pahlawan-pahlawan mereka tersebut tidak terbantah kehebatannya, sementara sisanya yang memiliki keberatan dan penolakan akan ide tersebut secara umum biasanya sulit untuk tidak bersikap prejudis terhadap ide tersebut.

Sudah waktunya asumsi-asumsi "kepemilikan intelektual" diperhatian lebih dari yang selama ini kita berikan. Perlu dinyatakan terdapat banyak faktor yang menghasilkan kata-kata dan ide-ide yang dihasilkan seorang individual dan juga sangat bervariasi, termasuk didalamnya keadaan kultural dan sosial serta input-input yang diberikan orang lain padanya.

Untuk mengatakan sebuah ide memiliki asal muasal yang dapat terwujud dalam satu bentuk individual baik wanita maupun pria adalah sama dengan menggampangkan masalah. Tetapi kita sudah terbiasa mengklaim items dan objek-objek bagi diri kita sendiri, dan dipaksa untuk menerima klaim-klaim yang diajukan orang lain, dalam kompetisi yang sangat bersaing akan dominasi. Inilah kehidupan dalam pasar ekonomi, yang juga membuat kelihatannya merupakan hal yang alami untuk menerima klaim yang sama dalam dunia ide-ide. Tentu saja untuk memungkinkan hal ini diperlukan satu cara berfikir yang melingkupi ketentuan bagi kepemilikan akan ide. Dalam keadaan kita sekarang pendekatan "hak cipta" sangat berbahaya karena hanya menghasilkan pembodohan bagi publik akan "pemikir" dan "seniman" yang menjadi terkenal dengan membodohi Publik. Ketika ide-ide selalu diasosiasikan dengan nama-nama (faktanya, biasanya selalu dengan nama-nama yang sama) hal ini hanya akan mengacu pada kesimpulan berfikir dan mencipta adalah skill khusus yang dimiliki hanya oleh segelintir orang. Sebagai contoh, penghormatan yang berlebihan akan "seniman/budayawan" dalam budaya kita, yang didalamnya men-stereotype-kan seniman sebagai seorang "visioner" yang nyentrik serta eksis pada ujung terdepan masyarakat hal-hal yang mendorong banyak orang percaya seniman secara fundamental berbeda dari manusia lainnya.

Pada kenyataannya, setiap orang dapat menjadi seniman, dan kenyataannya memang setiap orang dalam satu segi mampu menjadi seniman, Tindakan kreatif adalah elemen penting bagi kebahagiaan manusia. Tetapi kemudian kita dibohongi dengan disuruh percaya berbuat kreatif dan berfikir kritis adalah sebuah `bakat` yang hanya dimiliki beberapa orang. Konsekuensinya kita bergantung pada segelintir orang akan banyaknya ide-ide yang akan kita bagi, serta membuat sisanya hanya menjadi penonton pasif bagi ide kreatif yang dilakukan orang lainnya--hal yang membuat seseorang menjadi terasing dan tidak puas. Bentuk lain kemunduran-kemunduran asosiasi kita akan ide spesifik seorang individu biasanya berbentuk promosi ide tersebut dalam bentuknya yang paling original (melalui kekuatan modal).

Kita ternyata masih mengutamakan ritual mengatasnamakan penghormatan akan pemikir-pemikir tua yang sudah mati, serta menganggapnya sebagai suatu tradisi untuk menjaga teks-teks dan teorinya sebagaimana ditulis daripada mencari bentuk baru atau konteks lain yang menawarkan pandangan yang berbeda, dalam proses pemumian demi ritual masa lalu ini banyak teori yang memiliki potensi menjadi tidak relevan dengan kondisi modern, sekarang sangat disayangkan karena teori-teori tersebut sebenarnya merupakan bagian dari mata ramntai proses pembaruan bila diperlakukan dengan lebih fleksibel. Ini semua menggambarkan penerimaan kita akan tradisi "kepemilikan Intelektual" memiliki efek negatif dalam penjelajahan untuk menjadikan pemikiran semakin kritis serta untuk mempelajari ulang peninggalan artistik dan filosofi kita. Pertanyaannya apa yang dapat kita lakukan dalam mengatasi masalah tersebut? Salah satu solusinya adalah: plagiarisme.


II.1 Plagiarisme dan Kemajuan Berfikir

Plagiarisme alias pembajakan adalah metode efektif untuk menyelaraskan dan me-reorganisasi ide-ide, dimana hal ini merupakan alat paling berguna bagi wanita dan pria yang menawarkan pemikiran baru dan menantang. Dimana metode ini merupakan hal yang revolusioner hingga tidak lagi menganggap hak-hak "kepemilikan Intelektual" tetapi malah menunjukkan perlawanan dengan menunjukkan efek-efek negatif kepemilikan intelektual tersebut. Plagiarisme memfokuskan perhatian pada isi dan jauh dari isu yang kebetulan, dengan membuat asal isi material tidak mungkin lagi terlacak. Lagipula seperti yang diusulkan diatas, dapat dibantah keaslian asal dari isi sumber plagiat yang diplagiat karena sangat tidak mungkin untuk menentukan siapa yang memplagiat apa kecuali sekedar aspirasi sama yang diekspresikan semangat isi tulisan, lagu ide atau apapun yang dibagikan. Dengan menuliskan nama baru, atau sama sekali tanpa nama dalam sebuah teks, seorang plagiator memberikan material tersebut dalam konteks yang sama sekali baru, hal ini juga akan menghasilkan perspektif dan pemikiran baru tentang subjek-subjek yang sebelumnya tidak terlihat. Plagiarisme juga membuat kemungkinan untuk mengkombinasikan bagian-bagian terbaik yang dimiliki tulisan, teks atau nomor, untuk kemudian menciptakan teks-teks baru yang memiliki semangatnya sendiri, sebagaimana juga efek-efek tidak terduga yang dihasilkan dengan membuka kunci makna-makna tersembunyi dengan menyatukan teks-teks yang selama bertahun tahun tidak pernah dimengerti. Terakhir dan diatas segalanya yang membuat Plagiarisme merupakan bagian dari perlawanan adalah tidak menerima ide-ide begitu saja: ketika seorang individu memplagiat teks yang dipercaya mereka yang dianggap ‘suci’ oleh mereka yang percaya pada kepemilikan intelektual berarti individu tersebut telah menolak perbedaan tingkatan antara dirinya dan pemikiran yang diambil dari pemikir tersebut. Dia mengambil pemikiran pemikir tersebut bagi dirinya sendiri, untuk mengekspresikannya sesuai yang dia anggap cocok, daripada memperlakukan pemikir tersebut sebagai satu otoritas yang karyanya harus dijaga dan dihormati seperti yang diingkan pemikir tersebut. Apa yang ditolak oleh pemlagiat tersebut adalah perbedaan fundamental antara pemikir tersebut dengan sisa manusia yang ada dibumi, yakni dengan memperlakukan material piker (ide) tersebut sebagai milik seluruh umat manusia.

Lagipula ide bagus harus dibagikan ke semua orang dimana bila benar-benar bagus, seharusnya menjadi milik semua orang dalam satu masyarakat yang mengorganisasikan kebahagiaan manusia sebagai objek. Hukum pelanggaran hak cipta dan batasan serta larangan hanya akan memperlambat distribusi dan usaha untuk menggabungkan ide-ide.

Sampai disini, yang seharusnya di tolak cukuplah pembajakan karya dalam arti sesungguhnya. Seperti dongeng tentang bajak laut atau perompak padang pasir. Ya, pencurian material adalah sebuah pelanggaran terhadap hokum kepemilikan material yang di akui oleh kultur kita secara historis.


II.2 Penutup

Kebijakan copyright adalah kebijakan absurd yang membuat individu-individu semakin sulit mencari material-material menantang yang menginspirasi mereka untuk membagi ide-ide mereka dengan sesamanya. Jadi bila memang benar :"tidak ada hal baru dibawah pancaran sinar matahari" maka ambil kalimat tersebut dan bertindaklah sesuai dengan kalimat tersebut. Ambillah hal-hal yang relevan dan kita butuhkan serta sesuai dengan kehidupan yang kita jalani meskipun hal tersebut berupa teori atau doktrin orang-orang yang hidup sebelum kita. Jangan takut untuk mereproduksi kata demi kata dari teks-teks yang baik, hingga kita bisa berbagi dengan manusia lainnya. Teruslah mencari tubuh yang dibangun dari pemikiran kritis dan kreatif, dengan elemen dari berbagai pemikiran yang berasal dari sebanyak-banyaknya sumber. Daripada hanya bergantung pada satu ideologi yang ditawarkan oleh globalisasi kepada kita.


***Pembajakan adalah Perlawanan***

Sumber bacaan :
• Romadoni, Ahdiar Ir. dan Tim Pengasuh Berita Penelitian ITB , Hak atas Kekayaan Intelektual dalam Berita Penelitian ITB. Bandung : 15 April 2000.
• http://www.kontra-kultur.tk (Manifesto Kontra Kultura)

***Revolusi Hari Ini***

Perilaku toleran yang tak ada di dalam ide toleransi.

Mari meneliti kembali ide toleransi. Ide yang menjadi dasar atas keseragaman individu atau yang biasa di propagandakan sebagai pluralisme.

Sikap ketidak-toleran-an (intoleran) justru sering hadir dalam pembahasan ide-ide atau wacana toleransi. Tidak ada toleransi sejatinya, tanpa keyakinan yang satu. Apa artinya? Tidak ada toleransi! Yang ada adalah penyeragaman keyakinan. Yang ada hanya hegemoni dari keyakianan yang berkuasa. Keyakinan yang belum tentu sesuai dengan fitrah kemanusiaan.

Manusia bisa hidup toleran tanpa ide toleransi. Manusia bisa hidup toleran tanpa kampanye ide toleransi. Bahkan ide ini justru sering membuat penganutnya menjadi angkuh dan tidak toleran sama sekali.

Toleransi hanyalah ide kosong yang membuai perasaan kemanusiaan setiap insan. Mereka yang tidak meyakini Transaksi hidup kepada Alloh, tak akan pernah bisa hidup toleran. Hal ini dapat dibuktikan, apabila mereka hidup pada masyarakat yang plural. Yakni apabila mereka bersinggungan atau berbaur dengan seorang yang Sangat Meyakini Transaksi Hidup manusia dengan Alloh.

Meskipun seorang yang menganut ide toleransi, biasanya juga mengkampanyekan ide pluralisme akan tetapi kita tidak tahu secara pasti pluralisme yang bagaimana? Pluralisme dalam hal apa? Secara umum, jika perhatikan maka semangat mereka ini hanya lahir dari kebencian terhadap agama dan pengalaman keagamaan. Motivasi memerangi pengalaman pahit keagamaan yang terlembaga. Sungguh, sesuatu yang sangat menyakitkan secara spiritual!.

Transaksi Hidup meniscayakan ketunggalan keyakinan akan agama dan keagamaan. Adapun mengenai hukum (baca:aturan kemanusiaan), hal ini dapat saja beragam dan fleksibel, selama aturan yang disepakati tidak bertentangan dengan Transaksi Hidup sejati.

[Labkom, 15 Desember 2005 12:58]

***Revolusi Hari Ini***

Kepada pemilik Arsy nan Maha Agung

Ya Alloh…
Berikanlah hamba ketetapan hati dan keteguhan dalam Islam
Jauhkan dari fitnah syahwat dari wanita
Jauhkan dari fitnah subhat dalam Transaksi (Dien)

Ya Alloh…
Jika Engkau mentakdirkan hamba syahid
Engkau akan menunjukkan jalannya
Dan Engkau pula yang akan membawa hamba kesana..

Ya Alloh…
Jadikanlah tanah kami tanah air Islam
Jadikan wilayah kami Daarul Islam

Ya Alloh…
tegakkan kepemimpinan Islam
Wujudkan kemenangan Islam
Sempurnakan kemuliaan-Mu
Kemuliaan Islam dan kaum muslimin

Ya Alloh…
tunaikan janji-Mu pada mu’minin
Hamba mohon Idzaharul Islam
Kehidupan Nabawi di tempat tinggal kami,
Di negeri kami, di wilayah hidup kaum muslimin

Ya Alloh…
daulatkan Qur’an.
Gabungkan kami dalam Daarul Qur’an al Marhamah al Munawaroh

Ya Alloh…
berikan kesehatan dan kekuatan
Kepada Hamba-Mu
Berikan keimanan dan keistiqomahan…

Ya Alloh…
eratkan ukhuwah kaum muslimin
Persatukan hati-hati kami

Ya Alloh…
gentarkan musuh-musuh-Mu
Musuh-musuh Islam dan kaum muslimin
Kecutkan semangat mereka
Ciutkan nyali mereka

Ya Alloh…
Jadikan keluarga kami sebagai keluarga Islam
Yang menunaikan sholat dengan Haq
Yang menunaikan zakat dengan Haq
Yang menyempurnakan Transaksi (Dien) dengan Haq

Ya Alloh…
Jadikan kami Ahlu Ribat (Murabitun) yang Haq
Ahlu Jihad (Mujahidun) yang Haq
Ahlu Hijrah (Muhajirun) yang Haq
Berikan pada kami
kekuatan Fisik dan Hujjah

***Revolusi Hari Ini***

NB: Salam hormat untuk Ihsan Tandjung, yang insya Alloh akan membacakan kalimat ini di Tanah Haram

Surat untuk Pelacur

Ran, pakabar? Kamu pasti akan menjawab “kabar buruk!”. Padahal dulu selalu terlantun “alhamdulillah, ana bi khoir”. Kenapa Ran? Kamu gak mo muji Alloh lagi sich? Cuma gara2 kamu benci ma yang namanya tuhan? Ran, kamu kok jadi angkuh begitu? Padahal kamu benci ma tuhan gara2 kesombongannya. Lantas kenapa kamu berlaku sama...

Ahk, kamu gak mau kan kalau saya jadi membeci kamu gara-gara kamu seperti ini. Yach, sama seperti halnya kamu membenci tuhan. Saya dan orang lain pun bisa jadi akan membenci mu Ran. Tapi mungkin kamu gak peduli. Toh, kamu masih tetap menjadi kan kaum saya sebagai objek ‘uji intelektual’ mu. Ya, sama seperti halnya ketidaterlalu-pedulian tuhan pada yang membencinya. Kamu masih saja mencoba membenturkan nalar mu. Kenapa tak kau tinggalkan saja logika mu. Biarlah semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Sang Maha Segala. Bukankah kamu juga percaya, bahwa semuanya, ya semua yang terjadi adalah kehendak tuhan. Bahkan tuhan membiarkan kamu untuk membencinya. Ya kan..?

Kamu tau gak, kenapa tuhan selalu saja membuat mu kesal? Itu karena dia ingin sekali agar kamu mengingatnya. Dan ini adalah sesuatu yang kamu benci juga kan..? Hahaha, lihat Ran, tuhan tertawa. Lagi-lagi tuhan berhasil berbuat sekehendaknya.

Ran, kamu tau gak, kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang menghujat kuasa tuhan? Ini konspirasi Ran. Tuhan lagi-lagi ingin menunjukkan ke-Maha Segala-annya kepada kita, manusia. Dan tuhan berhasil! Dia mampu membuat syetan untuk tetap memusuhinya. Ia menjaga agar syetan tetap mendendam kepada-Nya. Ini agar tercipta keseimbangan Ran. Bukankah keseimbangan itu kehidupan? Keharmonisan?

Syetan tetap dibiarkan untuk membuat makar yang besar. Makar yang mencoba menandingi makarnya tuhan. Juga masih dengan kuasa tuhan. Ia ingin menunjukkan pada kita, bahwa walau bagaimana pun, walau semuanya (termasuk kita) membenci tuhan, itu tidak mengurangi sedikitpun kursi-Nya. Dia hebat ya... Kamu yang notabene khalifatulloh juga dibiarkan menjadi pembela syetan. Ah...gak ngaruh Ran!

Ran, sekarang kamu lagi sama siapa? Lelaki yang mana lagi? Siapa lagi yang hendak kau jadikan objek? Kamu gak adil Ran. Ini seperti ide feminisme yang nggak proporsional. Menyalahkan pelaku kejahatan dengan gender. Padahal jahat adalah jahat. Baik adalah baik. Jangan kita samakan jahat dengan kaum tertentu. Lelaki yang jahat memang penjahat. Tapi penjahat belum tentu lelaki jahat. Bisa jadi perempuan. Ya kan..? Iya, seperti kamu yang meracuni seorang lelaki yang sudah ‘berpunya’. Ini kejahatan juga Ran. Tapi meski demikian, jahat bukanlah perempuan jahat!

Ran, saya jadi ingin diskusi dengan kamu. Semalaman Ran! Ya, sepanjang malam. Sepanjang waktu terlama yang pernah kamu hamburkan untuk kenistaan lelaki jahat dan diri mu. Sepanjang daftar gugatan mu terhadap tuhan. Kamu mau gak?

Eh, Ran... Tapi kok saya tiba2 jadi takut yach. Jangan2 saya akan dijadikan objek ‘uji nalar’ mu lagi. Ahggk, ga. Gak! Saya gak boleh berprasangka buruk. Saya gak boleh melakukkan kesalahan seperti yang kamu lakukan. Ya, kesalahan sangka! Menyangka buruk terhadap lelaki. Menyangka buruk pada tuhan. Oiya, kamu masih percaya gak kalo “tuhan sebagaimana prasangka kita”?

Oiya, kamu gak suka terma “tuhan” yah. Maap yach, bukan maksud saya untuk membuat mu kesal Ran. Saya gak sejahat itu kok. Saya gak sejahat tuhan yang tega membiarkan kamu benci pada saya. Saya gak cukup berani. Bahkan saya bukan tuhan yang katanya punya kuasa untuk tetap di benci. Saya sama seperti kamu. Tak beda di mata tuhan (ups maap). Atau siapa pun lah...

Ran, saya jadi bingung kalo gini terus. Saya belum bisa melepaskan atau menghapuskan terma “tuhan” dalam kamus saya. Sulit Ran. Saya bukan pemikir ato retoris yang hebat untuk menjungkir balikkan konsep “kata dan makna” sekaligus. OK deh, karna saya yang punya hajat untuk ngobrol bareng kamu. Saya ikutin gaya kamu. Kamu pake gaya apa?
(eh, ini bukan gaya ‘main tubuh’ loh!)

Apa??? Iblis? Hmmm, gak da yang lain Ran..? Saya takut chaos ney. Gimana yah... Trus kamu mo pake terma apa untuk nama rival dari Iblis Yang Maha Segala itu?
... Jangan “tuhan” dunk... Please!

OK deh, daripada gak jadi ‘kencan’. Saya ikutin kamu. Tapi sebelumnya...”Sebesar itukah kebencianmu pada tuhan?”

***
Perempuan bercerita banyak hal tentang kehidupannya. Tentang masa lalu yang kelam. Tentang penghianatan, kemunafikan dan topeng-topeng retoris yang ia jumpai. Kiran mengalami kehidupan yang begitu pahit. Bahkan pengalaman yang paling terpahit yang pernah saya dengar. Saya pernah mendengar dia berkata; “tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur!”
Entah, permohonan ini menunjukkan bahwa ia masih percaya pada tuhan. Atau mungkin ini wujud ketidakkonsistenan pola pikirnya.
***

OK, kalau kamu bilang bahwa tuhan berhianat dan iblis beriman, lantas pada siapa iblis beriman? Dan pada siapa tuhan berhianat?

Siapa yang kamu ibadahi? Dan apa nama yang akan kamu sematkan pada “siapa” yang kamu ibadahi tadi?

Oiya, kamu juga gak setuju dengan konsep ibadah yah... Anggap aja yang namanya “ibadah sosial” bener-bener ada. Ato gak, gini aja deh. Siapa yang kamu anggap suci, tinggi dan angung melebihi diri mu? Jawab! Ran, kamu tuh gak mo di jadiin objek tapi slalu ngobjek (maksudnya menjadikan orang lain sebagai objek).

Sekarang saya cuma mo bilang, “kamu gila, Ran!”. Eh, jangan2 kamu kesurupan kalee... Kamu menghakimi semua lelaki yang pernah tidur dengan kamu (entah meniduri atau ditiduri) sebagai penjahat. Lantas siapa yang lebih jahat?

Kecuali kamu mo ngaku kalo kamu berkepribadian ganda. Ya, 2 jiwa dalam 1 tubuh. Atau 2 diri : jiwa dan tubuh. Gmn? Kamu pilih yang mana?
Nah, kalo gini kan saya jadi gampang memahami kamu. Tinggal bagaimana kamu berusaha memahami saya nantinya. Huehehe
Sehingga ketika kamu sedang ‘bermain’ dengan seorang lelaki, kamu bisa bilang dia jahat. Karna kamu adalah korban, dan kamu yang lain adalah hakim. ????? . Tubuh kamu sebagai korban dan objek sebagaimana tubuh si lelaki, dan jiwa kamu adalah hakim yang tetap suci. Tapi saya tetep masih bingung Ran, bagaimana dengan jiwa si lelaki.
(Eh, lelaki ini bukan saya loh!)

[ibrahim khidir]
Lana a`maluna Walakum a`malukum

***Revolusi Hari Ini***

EKOLOGI PERBANKAN

“Mba, transfer” sapa saya ramah sambil dikit senyum. “Iya, BCA”
“Cabang mana?” “Bina Nusantara…”
“Oh, BINUS… Tapi bea-nya besar loh Mas”

Hari ke-2

Berangkat setelah selesai berjibaku dengan kerjaan rumah. Sosok yang sepertinya saya kenal menawakan diri jasa ojek. Owh, kawan saya. “Ehm, gratisan neeh”. “Lagi cari bensin…” Huehehehe. Anjrit! Oportunis juga neh orang. (sama aja!).

“Lewat sini aja yah, takut di tagih gope”. “Terserahlah…yang penting nyampe”. Sampai di tempat yang tidak biasanya. Kawan saya langsung menghilang beberapa detik kemudian. Dasar oportunis. Huehehe.

Panas euy! Di angkot cuma be-3.. Tinggal be-2, ma anak SMA. Ngerasa paling tua,setelah supir…untungnya dia segera turun. Ehm, paling muda sendiri di angkot! (setelah supir. He9X)

Jalan cepat. Selain panas, juga gak nyaman lewat pasar. Apalagi mo ke BCA yang ada di pasar. Loh, pintu otomatis neh? Hehe, pak satpam yang bukain toh. Nggleuk! Antrian panjang. Bisa lama deh, mana mo tutup lagi.

“Mas, mask lo mo transfer ke KCP lain pake slip setor yah?” Setelah di iya-kan, saya langsung nulis secepatnya, juga se-hati-hati mungkin no rekening yang di maksud.

Sejenak. Saya melihat banyak tumpukan uang kertas. Hampir setiap orang yang antri, membawa gepokan uang kertas dalam tas-nya. Saya lihat ke teller (bukan teller mabok!), sama juga. Saya pikir ini percepatan laju uang. Atau perputaran harta? Atau percepatan distribusi? Ah, tapi janggal! Gak da barang jual-beli disini. Saya pikir ulang. Saya masih mengamati khalayak.

INI TRANSAKSI FIKTIF!!!, dalam hati saya.

Dingin. Ya, kapitalisme memang dingin (disamping disiplin). Saya heran melihat wanita tua (karena lebih tua dari saya), tak merasa dingin sedikit pun, padahal dia lebih terbuka dari saya (pakaiannya!). Ya, kapitalisme memang begitu dingin. Orang2 yang terlibat di dalamnya pun lambat laun menjadi dingin. Dan diantara manusia dingin ini, ada yang tetap nyaman dengan tingkahnya yang seperti mayat, seperti robot! Tapi ada juga yang berusaha untuk memanusiakan dirinya di tengah iklim kapitalisme yang dingin. Dengan apa? Yap! Dengan menghangatkan diri. Cari kehangatan… Ngerti kan? Itu loh bercinta. ML…ML. (bukan Mind-less!).

Giliran saya semakin dekat. Sementara tepat di belakang saya, seorang lelaki tua (karma lebih tua dari saya!) terlihat tidak sabar. Katanya sih, lagi ada meeting di hotel tidak jauh dari sini. Saya hanya tersenyum. “Maju dunk, biar lega” ujar lelaki tua itu. “Kalo udah lega hati-nya, manusia kan bias tenang”, tambahnya. ??? Shufi juga neh orang.

Tiba giliran saya. Saya maju dengan gagahnya. Tanpa sedikit pun malu. Meski hanya menenteng 2 lembar uang, yang totalnya di hargai oleh kesepakatan manusia Indonesia dengan nilai DUA PULUH LIMA RIBU RUPIAH. Saya cuek! Meski disekeliling saya orang2 memegang lembaran kertas lebih banyak. Toh, di sini “Dingin”! Ini juga hanya transaksi fiktif dengan alat tukar bernilai ekstrinsik yang notabene hanya kesepakatan dibawah ketakutan hukum positif, yang sejatinya merupakan bagian atau sub-sistem dari tatanan paling negative sepanjang sejarah peradaban kehidupan manusia; sistem dajjal!

“Tahapan atau Giro, Mas?” lelaki tua (karna lebih tua dari saya!) yang pada saat ini di beri status “teller” oleh system dingin ini. Mana saya tau?! Lagian emang penting apa tau ‘Tahapan’ atau ‘Giro’. Saya kan cuma mo nyetor uang ke rekening seseorang. “Hmm, mungkin Tahapan…” saya ga mo kelihatan bodoh dunk. Tapi ternyata saya dibodohi. Hasil pencarian melalui system computer ‘dingin’ menyimpulkan kalo nomor rekening yg dimaksud a.d.a.l.a.h. GIRO. Dezigh!

“Cuma 25000 yah Mas?” Iya! Kok nanya sih. Kami beradu tatap. Saya bingung. Tapi dia pun terlihat bingun. Ups, pintu masuk syetan. Saya mulai kesal. Tapi saya langsung tersenyum ‘tulus’. Saya pikir ini satu2-nya cara untuk memperbaiki keadaan. “Minimal 30.000, Mas.” Kedegarannya sih begitu. Saya memotong cepat. “Ya udah, tambahin jadi 30.000”. Innalillahi! Ternyata bukan 30.000 tapi 50.000! apa-apaan nih!

“Wah, tapi temen saya cuma minta transfer segituh”. Sebelum dia ngomong yang lebih aneh lagi, saya langsung bertanya “nggak bisa yah..?”.
“Iya”
“Oohh…ya uda deh”
“Makasih ya, Mas”
“Ya…”

Gat au, makasih untuk apa? Mungkin untuk safari saya ke tempat yang bernama BCA ini. Juga atas kesediaan saya untuk antri sekitar 20menit. Sebab dengan demikian tempat transaksi ini terlihat ramai dan laris.

Ya..ya..ya! Mereka berterimakasih pada saya. Mereka??? Iya, mereka.
Siapa?  Segenap kru dan kerabat kerja Bank Capitalist Ashole!

Lunglai. Saya berjalan sambil cengar-cengir melihat ke-aneh-an tatanan ini. Saya langsung menuju angkot yang tak jauh dari tempat kunjungan. Duduk manis dan mulai berkhayal!

Saya membayangkan… Bagaimana saya harus terpaksa menghadap monster2 bermuka manusia, penyihir2 berwajah bidadari. Huuff. Saya berusaha datang menghadiri pesta, sesuai undangan yang saya terima. Saya datang dengan membawa sedikit hadiah. Kemudian apa??? “Maap Nak…” Hadiah mu terlalu kecil. Uang mu terlalu sedikit untuk bisa ikut berpesta.

Terimakasih atas udangannya! Terimakasih atas pelayanannya!

Saya tesadar dari lamunan mengerikan itu. Tiba-tiba saja saya di ingatkan oleh rentetan kalimat yang ajaib. “Tidak akan terjadi hari kiamat, kecuali riba meraja lela. Hingga tak seorang pun yang bisa menghindar darinya…”

Jgn2 bentar lagi kiamat. Coz, tanda2 pengukuhan hegemoni sistem dajjal semakin nampak jelas.

GILAA!!! Bank Capitalist Ashole! Sori nih Boz, gmn gak kesel… ane ga bs transfr k Rek ent. Lantaran system BANKsat perBANKan ga mengijinkan. Help me..!

Itu prosa sms yang saya kirim ke orang yg sedang ‘menantikan’ kiriman 25.000. Untungnya dia maklum. Malah dia berbaik hati untuk menangguhkan kiriman tersebut, sampai saya berkesempatan mengirimnya. Dia juga menawarkan via wesel dan langsung ngirim alamat kantornya. Waduh!

***Revolusi Hari Ini***

Dusta Serikat Pekerja


Lahirnya sosialisme
Sosialisme lahir untuk memerangi keadaan yang mengerikan itu. Sosialisme pada masa awal kejadiannya, sama sekali berbeda dengan Sosialisme menurut anggapan kita kini, bukan saja berbeda bahkan bertentangan. David Ricardo (salah satu ekonom yang jadi panutan Karl Marx), menyatakan bahwa penyebab pengangguran adalah kehadiran mesin-mesin saat revolusi industri. Namun kaum sosialis tidak puas dengan kesimpulan itu. Bakunin menetapkan bahwa sosialisme adalah "peruntuhan negara". Yaitu negara sebagai penyelenggara pemungutan pajak, yang hasilnya berperan mutlak demi pembayaran utang negara kepada bank-bank (sebagaimnaa yang kini terjadi), padalahl pajak merupakan perintang perdagangan. Di Dresden, Richard Wagner merumuskan bahwa revolusi adalah "pemerintahan tanpa negara, dan perniagaan tanpa riba". Joseph Pierre Proudhon pun menuduh riba sebagai "biang kerok kelumpuhan industri".

Sosialisme merupakan perlawanan pada negara administratif dan pada bank-bank, demi menegakkan pemerintahan tanpa pajak-pajak, dan perdagangan tanpa bank-bank.

Pembajakan atas sosialisme
Karl Marx, cucu seorang rabbi Yahudi, di bawah penugasan Mr. Rotschild (pemimpin freemason cabang Inggris), membuat teori nilai tambah (surplus value) dengan menyelewengkan makna riba.

Dalam bahasa Ibrani (bahasa Yahudi), riba disebut tarbith, yang arti harfiahnya adalah peningkatan nilai. Dagang tidak sama dengan riba. Dagang adalah mendatangkan keuntungan dari membeli dan menjual, setidaknya ada dua transaksi yang terjadi. Riba adalah mengambil untung dari satu transaksi, menuntut lebih dari yang sedikit (contohnya membungakan uang). Marx berkata bahwa perdagangan menciptakan nilai tambah (atau riba), sedangkan transaksi ribawi tidak akan menciptakan nilai tambah (riba). Seiring dengan itu Marx mengagungkan konsep Negara yang secara munafik disebutnya sebagai Worker's State (Negara Milik Para Pekerja), lalu dia pun meninggikan derajat sang pekerja upahan menjadi sesuatu yang sangat ideal dan bernilai kepahlawanan tinggi (bukannya sebagai keterpaksaan menjadi hamba negara dan hamba para bankir). Dengan pertolongan para freemason (the League of the Just —Liga Keadilan, the Fraternal Democrats —Persaudaraan Demokrat, dan lainnya) Karl Marx telah merampas revolusi Eropa milik Proudhon dan Bakunin, dan menyajikannya dalam bentuk yang bertolak belakang.

Sosialisme modern versi Karl Marx bukanlah sosialisme —yang diperjuangkan oleh Proudhon dan Bakunin dalam peruntuhan Negara, sosialisme modern adalah Marxisme.

Pengkhianatan Serikat Buruh-isme
Serikat Buruh-isme adalah menyerah pada kekacungan. Serikat-serikat Buruh tidak mempertanyakan mengapa kita harus menjadi budaknya upah, namun tujuan utama perjuangan mereka adalah demi meningkatkan upah para pekerja. Serikat Buruh tidak akan pernah menyelesaikan masalah pengangguran, karena mereka telah pasrah menerima tegaknya sistem perbankan yang telah mengutuk mereka jadi pekerja yang tidak akan pernah bisa berswausaha.

Jadi, bukannya berjuang demi khalayak kelas pekerja, Serikat Buruh-isme malah menjamin bahwa akan selalu tersedia khalayak kelas pekerja.

Terpujilah Serikat-serikat Buruh, berkat perjuangan mereka kini orang-orang tidak lagi bekerja 12 jam sehari demi upah yang memprihatinkan (setidaknya begitulah nampaknya), walaupun yang sebenarnya dicapai oleh Serikat Buruh hanyalah kacung yang sedikit lebih ceria. Dengan melakukan itu, Serikat Buruh mencegah agar pokok masalah sebenarnya tidak digugat. Serikat Buruh-isme adalah pemberontakan para budak melawan para Majikan, seraya mengakui bahwa mereka tidak bisa menjadi Majikan. Andaikan pilihan semata wayang hanyalah pengangguran, tentu saja mempunyai pekerjaan menjadi penting. Namun hal ini tidak akan membuat semua orang ceria selamanya.

Serikat Buruh-isme sama dengan Marxisme, tidak mengecam riba. Mereka mengabaikan kata ini. Berkat mereka sistem perbankan jadi lestari.

Untuk menghilangkan sifat penghambaan kita pada dialektika menjadi pekerja atau menjadi penganggur, kita harus membasmi riba, artinya sistem perbankan harus dihapuskan. Selama kita masih bersama sistem perbankan, kita tak akan bisa mengelak dari kenyataan bahwa kita bekerja untuk orang lain, dan orang lain itu adalah: para bankir yang memiliki segalanya. Para bankir itu siap untuk menghukum para kacungnya dengan ancaman kehilangan pekerjaan dan hidup bergantung pada belas kasih negara. Ketakutan psikologis ini menyapu bersih kesempatan untuk berfikir bebas. Akhirnya yang ada adalah para kacung yang jauh lebih picik dibanding para majikannya. Mereka telah membuat khalayak takut pada perubahan sekecil apapun, karena takut kehilangan sesuap nasi yang telah dijanjikan. Kita dicekoki bahwa inilah yang "praktis" itu. Walhasil, tak heran jika kita lihat betapa gigihnya para kacung membela sistem perbankan, walaupun mereka adalah salah seorang dari 90.000 warga (di Inggris) yang setiap tahun harus kehilangan rumahnya, gara-gara tidak bisa membayar jahatnya bunga cicilan. Perbankan sudah menjadi "agama" yang ortodoks, bahkan sudah menjadi sebuah tabu (pemali). Untung saja masih ada orang-orang yang tidak percaya pada "agama" ini dan ingin berbuat sesuatu untuk mengatasinya.
[dari `Umar Ibrahim Vadillo]

***Revolusi Hari Ini***

next GENERATION


Ia akan TUMBUH!
Dan akan menempuh perjalanan fikir dan rasa, melampaui apa yang saya jalani...

***Revolusi Hari Ini***

Antara Emas dan Kertas : Ironi Ekonomi

Bagaimana mungkin, kita berzakat dengan “kertas hutang”? Kertas yang nilainya terpaksa harus disepakati sebagai harta ril! Padahal sejatinya, ia hanya kertas perjanjian hutang yang entah kapan akan dilunasi. Hutang??? Siapa yang berhutang? Bank Nasional! Bank Indonesia kepada seluruh rakyat dan muslimin Indonesia.

Suatu saat di zaman dahulu kala. Kala semua transaksi masih alami. Siapa menyebut apa. Dimana dan bagaimana. Semua seperti sebagaimana seharusnya. Lihat harta mu! Emas dan perak dalam keeping-keping logam. Gandum dan kacang dari ladang yang luas.

Manusia waras menukar kertas dengan kertas, emas dengan emas, besia dengan besi, perak dengan perak, dengan nilai yang sama. Seimbang dalam sifat dan kadar. Manusia waras menukar gandum dengan ikan dalam ukuran wajar,. Menukar emas dengan umbi dalam kesepakatan yang wajar.

TAPI MEREKA YANG BODOH MENUKAR PADI DAN TERNAKNYA DENGAN KERTAS TAK BERHARGA!

Yang bodoh, yang menukar kertas dengan tanah. Yang lebih bodoh yang rela menerimanya.

...hingga sampailah manusia pada transaksi yang timpang. Manusia sampai pada jual-beli yang terlarang.

Maka menjadi wajar, sekelompok orang mencerca dagang dan jual-beli. Sebagian lagi lebih senang mencuri. Wajar ada yang melarang dan mengharamkan jual beli. Tapi apa yang terjadi? Tatanan sosial makhluk yang bernama manusia ini akan mendekati kehanuran. Kekacauan pada saat ini didefinisikan sebagai penguasaan manusia atas manusia lainnya. Ketimpangan pada saat ini adalah penindasan sebagian terhadap sebagian lainnya. Lalu bagaimana???

“Alloh telah menghalalkan JUAL-BELI dan mengharamkan RIBA!”

Islam memilah dan memilih transaksi duniawinya. Sebagaimana Islam memilah dan memilih transaksi ukhrawinya. Islam memisahkan dan menggabungkan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Islam mencerca dan memuji pada tempatnya.

Maka, EMAS adalah EMAS dan KERTAS adalah KERTAS.
Seperti halnya plastik tetap plastik tanpa mesin digital yang terotomasi pada pusat data institusi perbankan.

15:00 30 November 2005

***Revolusi Hari Ini***

INILAH TEROR KAMI; WAHAI MANUSIA


Beberapa kawan saya menanyakan pendapat saya mengenai beberapa kejadian terakhir berkaitan dengan terorisme. Begitu banyak wacana yang saya terima dari orang-orang disekitar saya. Tapi dapat saya tarik simpul dari semua permasalahan semua ini. Ada beberapa permasalahan yang menjadi pangkal kekisruhan ini. Diantaranya adalah konsep dalam khazanah islam mengenai “jihad”, “’idad” dan “irhab”. Sedangkan dalam perspektif yang lain ada beberapa istilah yang memiliki makna bisa dianggap mirip (meski jauh dari serupa!), yakni: “revolusi”, “anarki” dan “teror”.

Dapat dipahami secara awwam, bahwa istilah-istilah ini mengandung makna psikologis tertentu bagi manusia. Hal ini dikarenakan istihal-istilah tersebut merupakan produk peradaban yang telah mapan. Dan masing-masing peradaban memiliki framework yang berbeda untuk memaknai istilah; baik dalam tataran normativ maupun praksis.

Dibelahan dunia sana. Di suatu tempat dimana ketidakadilan berlangsung begitu lama dan ajeg. Tempat dimana ketimpangan dilindungi secara sistemik oleh dogma-dogma humaniora yang dianggap mutlak. Munculah semangat masyarakat untuk bangkit, bergerak dan melawan ‘ketidaksempurnaan hidup’ ini. kemudian dikenaglah apa yang biasa kita sebut sebagai gerakan-gerakan perlawanan. Revolusionis, Anarkis dan Teroris!

Di dunia yang lain, ada manusia-manusia yang menginginkan untuk tetap tenang dan tentram. Orang-orang ini tak pernah gegabah dalam menyikapi apapun. Ditengah kecamuk masyarakat, ditengah gelora perang dan pertempuran, atau tumpah darah dan banjir air mata…mereka tak bergeming. Siapa mereka? Seorang yang tampak begitu naïf dan tak begitu peduli.

Kau akan melihat mereka akan tetap dengan senyum dan tangis yang sama. Dengan kinerja yang tinggi disiang hari, dan rintihan setengah mati di dalam gelapnya malam.

Apa ada dalam benak mereka?!

Baiklah..ijinkan saya untuk coba menerka ihwal mereka. Semoga saja tak ada dusta. Semoga saja tak salah menista.

…hingga sampailah risalah itu kepada kami. Kami yang setiap saat gelisah. Kami yang senantiasa gundah. Memilih untuk menjadi pengemban risalah yang indah ini. Kami menyebutnya : “Al Islam”. Risalah inilah yang mewarnai kami. Hati kami, jiwa kami, sikap dan laku kami. Semua senantiasa merujuk pada lembaran-lembaran yang sampai kepada kami. Nenek moyang kami dahulu, mewarisinya secara lisan. Tapi saat ini kami tak punya garis tradisi itu. Kami hampir kehilangan jejak. Hingga kami hanya mendapatkan “lembaran yang tergantung”, dan kami laksanakan apa yang ada didalamnya.

Yah! Begitulah mereka. Hingga jika kalian tanyakan tentang keheranan kalian, mereka akan menjawab dengan Risalah sambil tersenyum. Meski caci dan makian kalian dampratkan kepada mereka, balasan mereka adalah bajikan. Karena mereka memegang teguh Transaksi Kehidupan secara utuh. Transaksi yang terangkum dalam Kitab paling otoritatif dalam kabar masa lalu dan masa depan. Transaksi paling shohih yang tak dimiliki oleh siapapun selain mereka.

Kini bayangkanlah, betapa mereka akan memerangi siapa pun yang mencaba merusak kemurnia Transaksi mereka. Tapi dengan mudah secara tiba-tiba mereka mengurungkan niatnya, hanya karena kau ludahi muka mereka.

Kini bayangkanlah, betapa mereka akan tetap mengangkat senjata dan merakit bom untuk para pengingkar Transaksi yang menindas manusia. Tapi disela-sela itu, nasihat mereka akan mengalir melebihi banjir yang biasa kalian tumpahkan melalui corong-corong propaganda media. Mereka akan dengan mudah merangkul dan memukul pada saat yang hampir bersamaan. Mereka akan mudah tersenyum simpul.

Kini bayangkanlah,… betapa kokoh dan tak roboh orang-orang seperti mereka. Dan yakinlah, kalian akan tunduk pada mereka!

21.11.2005 11:51

***Revolusi Hari Ini***

BABAK BARU PERADABAN MANUSIA

Suatu ketika manusia berfikir tentang dirinya dan lingkungan. Pada mulanya tak ada negara. Pada mulanya tak ada agama. Dimana hidup adalah hidup yang sebenarnya. Manusia mulai berfikir, merenung tentang relasinya dengan sesama. Entah dari bagaimana…tiba-tiba saja mereka mengorganisir dirinya tanpa sengaja. Tak perlu jabatan atau status penghargaan, semua berjalan dengan alami. Tiap orang bertindak sesuai dengan apa yang harus ia lakukan. Tiap orang ada pada tempat dan fungsinya masing-masing. Inilah gugus tugas yang pertama dari sebuah organ kemasyarakatan yang pertama.

Suatu ketika manusia berfikir tentang dirinya dan kerabatnya. Pada mulanya tak ada keluarga atau bentuk ‘imperium monarki’ yang eksis. Dimana setiap orang adalah sama dan sejajar. Manusia hidup dalam keluarga besar. Manusia hidup dalam satu kesatuan yang tidak besar, dimana satu adalah bagian dari yang lain. Munculah perasaan memiliki atau yang akrab disebut kekeluargaan atau kekerabatan. Satu adalah harga dari keseluruhannya!

Suatu ketika manusia mulai berfikir, tentang dirinya dan kehidupan pribadinya. Ia mencoba untuk eksis di antara sesamanya. Ia bertarung dengan kepentingan-kepentingan tetangganya, lingkungannya dan alam sekitarnya. Entah apa yang membuat ia, manusia begitu picik dan egois saat ini. Kemudian ia tetap pada sifat dan sikapnya. Hingga lambat-laun jadilah tradisi. Jadilah sosok pribadi, yang mapan dengan segala kecongkakannya. Manusia mulai sombong dan berani berbohong.

Suatu ketika, dimana manusia tak lagi mulai berfikir. Pada mulanya ia hanya letih dan bosan dengan segala problema… Hingga tibalah ia pada masa dimana hanya ada kebodohan dan kemunafikan. Disini tak perlu orang-orang baik. Kehidupan mulai meninggalkan kebaikan sejati. MATILAH HIDUP dan KEHIDUPAN!!!

15 November 2005 10:10

***Revolusi Hari Ini***

Kembali Fitri, Kembali Revolusi

07.11.2005 10:29
+628125262***
Ya 4JJI, ya Aziz, jdkn kami tmsuk ke dlm gol org2 yg KEMBALI FITRI. Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir batin. Salm pjuangn slalu. Smbut KBGKITAN ISLAM
=
Aamien... Kembali Fitri, Kembali Revolusi.

06.11.2005 21:53
+6281319972***
Salam!HaiPemuda,GimanaLebaranEnte?AneAkuiTanpaKemunafikanAnePunyaBanyakSalahMaEnte.UntukNtuAneMintaMaapDahKeEnte.MogaAjaEnteRedhoMaapinAneNyangSlaluNyusahinEnte.
=
Geuning sadar Boy :D Semua udah diikhlasin kecuali utang (klo ada!).

06.11.2005 20:05
+628174891***
Dina dinteun anu suci,panghapunteun anu di pinghareup. Takaballohu minna wa minkum.Subhi.
=
Hampura sim kuring oge nya...

06.11.2005 14:47
+628161989***
Selamat Hari Raya Idul Fitri Taqabbalallah Minna wa Minkum! Mohon Maaf Lahir dan Batin! Semoga Ramadhan menjadikan kita orang yang lebih baik ! Amin –Syami-

06.11.2005 14:22
+6281510820***
MenegukTawaKlian,mendamaiknHati.nafasKlianHrIniMrupaknRefleksiRuhSySlanjtny.hari2QtYgDinaungiSenjaYgMerekah,SlaluSjM’beriGairahMimpiSyMlmNanti
Kalian..BINTANGKU
=
Para sahabat Rasul laksana bintang yang terang dan memberi arah petunjuk. Ikutilah!

04.11.2005 15:23
+6281572677***
kata orang klo lebaran itu qta mesti maaf2an.maafin ane punye segale kesalahan ye.minal aidzin wal faidzin.abdi
=
kok ngikutin kata orang?

04.11.2005 19:49
+6281932781***
Walopun tlat, kata maaf slalu t’ucap. Taqoballahu minna wa minkum. Smoga amal ibadah qt dtrima oleh Alloh swt. –Than+Shin-
=
Wew! Eleh ku Bapana :P

04.11.2005 16:21
+62816892***
TaqabalAllahu minnaa wa minkum, shiamanaa wa shiamakum [IhsanTandjung~Aisyah~Tia~#@#@~Askar~Imam~Sofia~Izzuddin~Lina~Afia~Zein]
=
ups, ustad perasaan baru ngirim sms ini sktr 2 jam yg lalu. 

04.11.2005 13:57
+6281572055***
Alhamdullah t’ opidah nglhrn brsn anakny perempuan

04.11.2005 12:54
+6281318963***
Salam, hampuranya! Kumaha sbtu or ahad d malab rek itung2 teh? Lepaskan diri dri stagnasi gerakn n pikirn. Gus
=
Howgh!

04.11.2005 09:54
+628129565***(194)
Tiada pemberian yg indah selain maaf
Tiada perbuatan yg mulia selain memaafkan
Semoga kesucian hati tidak hanya untuk hari ini
Met Idul Fitri 1426 H
(cita+cito)
=
ups! Kompak ney...huehe

04.11.2005 08:17
+628567853***
#$$B%A*H!A^S+A_|A@R(A)B~(TaqabalAllahu minnaa wa minkum, shiamanaa wa shiamakum, red)
Selamat Idul Fitri 1426 H

04.11.2005 07:10
+6281347310***
ini adalah layanan pengaduan TelKoMsEL
pelanggan 081347310316 meminta maaf TaK BiSa HuB sdr. ReDakSi Telkomsel ucapkn Minal aidin wal faidzin  he3x..redaksiWedeW
=
Huahaha.

03.11.2005 16:43
+628161189***
Dear friend, forgive my rudeness,my words that might hurt you(HARUS ikhlas ya^^/) en d’hari yg fitri ini aq ucapin minal aidin wal faidzin, maafin aq ya m~~m

03.11.2005 08:43
+6281355085***
Takobawlohu mina waminkum maafkan lahir dan bathin
=
TaqabbalYaKariem. Saya juga mohon maaf bwt Keluarga. Salam bwt Than, Shin, TSusi.

03.11.2005 07:43
+6281324273***
Andai muka tak sempt brtatap, andai tabgab tak sempt brjabat, mungkn hany kt yg dpt t’ungkap, dgn kerendahan dan ketulusan hati kumohon maaf lahir bathin, taqobalallahu minna waminkum. Mili&family 

03.11.2005 07:31
+6281572055***
ThiZ dAy iEz D;MosT iMPortAnt of aLL,,just LeT me SaY ^h@pPy LbRan dAy 1426 H^ mNal aiDZin wALF aidzin..hOPe cAn be 4give of aLL mY miStaKES..!!

03.11.2005 05:52
+6281310349***
MaaF..
(AhardFullMeaningWord2Say)

TpMaaF..
(D’RightWord2TellNow)

Jd MaaF..
&MaaF..
(4EveryMistakeI’veDone)
TaqabbalallohuMinnaWaMinkum
Met’leb1426H


03.11.2005 04:14
+6281584022***
Andai jemari tak sempat berjabat, raga tak bisa b’tatap. Andai ada kata membekas lara menusuk sukma, semoga pintu maaf masih terbuka. Mohon maaf lahir & batin.

03.11.2005 01:15
+6281321663***
Allahumma amiin. Taqabbalallahu minna wa mikum. Taqabbal Yaa Kariim. Kullu ‘ammin wa antm bi khair. Maaf kami jg lahir-batin. SalsabilaCintaNabila&Kluarga 

02.11.2005 21:56
+6281380273***
Temanku, tak trhitung salahku padamu. Aku tulus datang mmohon maafmu,brharap esok hidayah fitri-Nya mengeratkan silaturahmi kita._lala_

02.11.2005 20:57
+628128778***
Gema takbir berkumandang mengagungkan asma-Nya. Di hari yang mulia iniperkenankan terucap Minal ‘Aidin wal Faidzin. Mohon maaf atas segala khilaf. Taqabalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima ibadah ramadhan kita.

02.11.2005 19:29
+628129888***
Pastinya trlalu bnyk ucap kt yg mnoreh luka.Tralu bnyk hati pilu bhdap sikap yg tak srasa. Mk, sbLm umur ini hbis dtelan masa, izinkanLh Mnda memohon maaf..Met ‘ied!

02.11.2005 18:53
+628159005***
Manusia tak luput dari kesalahan, tuk itu kupinta kepadamu bukakan pintu maaf untukku, taqobalallahu minna waminkum, selamat hari raya idul fitri 1426 H

02.11.2005 18:50
+628569811***
Assalamualaikum wr wb. Selamat Idul Fitri 1426 H Taqaballahu mina waminkum MINAL AIDIN WAL FAIZIN. Mohon maaf lahir&batin. (Y0g1)

02.11.2005 18:26
+628889018***
seRiNg b!b!R mNgUcao cELa, LakU bbUat dOSa, p!k!r bBuRuk sANgkA mbUat hat! tLuka..tap! aDa saAt Qta mgHpUs LukA mgUcAp maAf mbAsUH dOSa..mHoN maAf LH!R BtH!N;)

02.11.2005 18:06
+628568592***
RamadhanHasLeft us,butMayOur spiritOfRamadhan stillColouredOur comingDays..but today,justWanna say MetLebaran.minalAidinWalFaidzin. Taqabalallahu minna Waminkum..

02.11.2005 17:04
+628156408***
Minal
Aidzin
Walfaidzin
Mohon
Maaf
Lahir
Bathin
Slamat
Idul
Fitri
1426H
Juliana P.

02.11.2005 16:39
+628158284***
Maaf atas sgl khilaf & salah yg udah tantri lakuin sengaja ato ga disengaja. Smg dilebaran in 4JJI b’kenan m’sucikan kmbl hati kita..Minal Aidin Wal Faidzin..!

02.11.2005 15:43
+12038096***
Taqabbalallohu minna waminkum Shiyamanna wa shiyamakum, minal Aidzin wal faidzin Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1426 H, Mohon maaf lahir & bathin (sayid & kel)

02.11.2005 12:28
+628123290***
Tulusnya p’sahabatn t’uji ktk m’beri tnp menerima,ada doa dlmsedih,ada nasihat dlmkata,ada memaafkn dlm khilaf. Taqobbalallahu minna waminkum. –fira,okie,addin-

01.11.2005 21:33
+628128310***
Ketika yg mulia pergi. Ksdhn pun dtg. Ketika kslhn & dosa itu t’tls. Hanyalah maaf yg ingin kudapat. Minal aidin wal faidzin. Mhn maaf lahir & bathin.

31.10.2005 19:41
+628129407***
_/|_
> ,”< DiHariYgSuci,

_/|_
>”, < SepenuhHati,

_/|_
> ,”< Mengucapkan

_/|_
> ,”< ‘Met
LeBaRaNbOw!

_/|_
>”, <
MinalAidinWalFaidzin

MaafLahirBatinYaa! aNnO 

***KEMBALI FITRI KEMBALI REVOLUSI***

Isti`adzah - political manipulation

'Audzu billahi minasy syaitoni wassiyasah! [Badiuzzaman]
'Allohumma inni 'audzubillahi min fitnatisy syubhati minad Dien
Wa fitnatisy Syahwati minan Nisaa. [Mesia Kasimilia]

***Revolusi Hari Ini***

IED MUBAROK!

Filsafat ku adalah hati ku
Revolusi ku adalah realisasi sikap ku
Dan ini aku yang tak ingin terdefinisi oleh waktu...
[al ghifari]

Hidup adalah hidup, dimana kau berjaga dan berdiri.
Nafas adalah nafas, dimana kau menghirup dan meraup sejuk.
Jadilah, manusia!
Jadilah Ada!


Kembali Fitri, Kembali Ravolusi!
***Revolusi Hari Ini***

PASIFIS ANARKI (lagi!)

-1-
Musuh setiap agama adalah teroris
Musuh setiap negara adalah anarkis.

-2-
Sekularisme adalah pemisahan antara kehidupan agama dan negara.
Sekularisme ada, karena ada agama dan negara.
Musuh para Sekularis adalah teroris dan anarkis.

-3-
Sekularisme bertentangan dengan Islam
Sekularisme adalah solusi problematika Peradaban Barat.
Peradaban Barat dibesarkan oleh Tirani Gereja dan Raja.
Gereja adalah agama.
Raja adalah negara.
Rival ideologis Gereja adalah Teroris.
Rival ideologis Raja adalah Anarkis.

-4-
“Jika membela Haramain adalah sebuah kejahatan. Biarlah sejarah mencacat saya sebagai penjahat” [Ibn Ladin]
“You are with US, or you`re with terorist” [Geoge W Bush-shitt! –laknatulloh]
Yap! We are terorist.

-5-
Al Qaidah adalah teroris dunia.
Jamaah Islamiyah adalah jaringan teroris dunia.
Keduanya adalah musuh bersama umat manusia (kafir!).

-6-
Teroris biasa melakukan tindakan anarkis.
Seorang teroris biasanya juga seorang anarkis.
Kutukan agama dunia (kafir) bagi para teroris.
Kutukan negara dunia (kafir) bagi para anarkis.

-7-
Karakter muslim sejati melekat pada diri para teroris.
Pers –freemasonry- menyebut tindakan teror terhadap pemilik modal dengan “tindakan anarkis”.
Anarki adalah musuh Kapitalisme Global.
Kekuatan konspirasi (zionis) global sepakat untuk menyebut musuhnya (muslim) dengan Teroris dan Anarkis.

-8-
Sebagian muslim telah sadar dengan stigma ini.
Mereka yang sadar melakukan tindakan2 teror untuk menghantam inprastruktur Barat kemudian dengan bangga menyebut dirinya Teroris.
[peluk hangat untuk Imam Samudra, Amrozi, dkk teroris (muslim) lainnya]
Sebagian muslim belum sadar dengan permainan kata ini.
Mereka yang belum sadar masih saja membenci para Teroris dan Anarkis.

-9-
Sudah banyak yang berani menjadi Teroris.
Tapi masih begitu banyak yang membeci Anarkis.
Yang mendukung Teror masih belum mendukung Anarki.
Bahkan Anarki masih menjadi musuh bersama muslim dan kuffar.
Belum ada (muslim) yang setuju dengan konsep anarki.
Belum ada kelompok (muslim) anarkis sebagaimana belum ada yang berani merekonstruksi konsep negara (muslim!).

-10-
Setiap agama membutuh kan negara!
Negara adalah implementasi ideologis dari Agama
Negara adalah patner konspirasi Agama.

-11-
Agama adalah produk kebudayaan.
Agama diwariskan dari generasi ke generasi.
Kualitas muslim keturunan -biasanya- lebih rendah dari para muallaf.
Karna yang berislam dengan agama berari hanya mengikuti tradisi.
Islam bukan agama tradisi
Bahkan Islam bukan agama.
Karna agama produk kebudayaan, Islam membenci agama pada kadar tertentu.
Islam adalah risalah wahyu
Islam adalah Transaksi Kehidupan!
Islam adalah Risalah Amal
Islam adalah Keta’atan!
Islam sewaktu-waktu mungkin saja menjadi Agama.
Tapi Islam berbeda dengan agama.
Musuh islam adalah kafir dan bid’ah
Agama adalah keyakinan bid’ah
Setiap agama adalah bid’ah!
Kristen adalah bid’ah dari Risalah Isa
Judaism adalah bid’ah dari Ajaran Musa.

-12-
Pembenci sekularisme bisa jadi pendukung Teroris.
Tapi Anarki tetap menjadi musuh bersama.
Karna tanpa negara tak akan ada sekularisme!
Karna tak ada negara berarti tak ada pemisahan antara negara dan agama.
Sebagaimana jika tak ada agama, tak akan ada sekularisme!

-13-
Sekularisme sebenarnya tidak membenci agama.
Sekularisme lah yang membesarkan agama
Sekularisme membutuhkan agama untuk kelangsungan risalahnya.
Sekularisme membutuhkan negara untuk menjaga kelangsungan keduanya.

-14-
Bangkit lah para Anarkis!!!
Gelorakan semangat anarki!
Hidup kaum Anarki!
Hidup para Terorist!

-15-
Mari bersama hancurkan Sekularisme.
Mari bersama hancurkan agama.
Mari bersama hancurkan negara.


-PasifisAnarki-
Seorang yang sedang berTransaksi dengan Rabb-nya


***Revolusi Hari Ini***

Mengada dalam sunyi

24.07.2005 00:08
durasi 52:37 menit

“Pemahaman lebih penting dari pengalaman”

Bada` gempa, seorang kawan menelpon ku. Dia bercerika tentang banyak hal. Tentang hari-harinya kini, masa lalunya yang telah ‘ditutup-rapat’. Dia begitu akrab…
Manja dan mesra. Padahal… Entah bagaimana dan seperti apa aku harus memposisikannya. Karna aku sendiri bingung, bagamana jalinan hati kami bisa terbentuk-bertemu, bersambung dan menyatu?

Sosok yang sebenarnya belum ku kenal, tetapi begitu dekat. Amat dekat- bahkan sesaat barusan aku seperti merasa menjadi orang terdekat dalam hidupnya. Bukan sekedar memeluknya erat, bahkan lebih erat dan dekat melebihi kedekatan syahwat. Ah, ‘dekapan’ itu… Dekapan yang sampai saat ini belum mampu ku tafsirkan dengan logika mahasiswa. Suaranya telah tiada. Tapi “ada”-nya masih tetap ku rasa.

Ya, biarlah! Biarkan rasa ini menemani ku sampai pagi. Sampai matahari datang di pagi hari. Sampai gelap dan sunyi pergi. Biarkan bayangnya tetap menghantui ku di tengah belantara hutan takdir Sang Tuhan sepanjang tahun…

Sampai aku menyelesaikan sesuatu… seperti inginnya, “lakukan sesuatu!”
Seperti lantunan niat berbalut janji ku padanya: tentang kehidupan mendatang. Tentang peradaban manusia.



SUNYI TERTINGGI

Hampir saja ku tulis syair tentang engkau
Sunyi tertinggi di malam hari

Saat ku termenung berkaca langit
Dan purnama ibarat lampu yang menemani
Tanpa pernah di nyalakan
Tak bisa di padamkan.

***Revolusi Hari Ini***

Manusia-Dewasa-Tanda-Tanya

Manusia ketika ia dilahirkan, maka kemanusiaan serta merta menyertainya. Akan tetapi, setelah ia mulai tumbuh dewasa terkadang malah membunuh kemanusiaannya sendiri. Bukan hanya itu! Manusia menyiksanya dalam pesakitan dalam waktu yangg lama. Hingga kematian itu tidak terasa sama sekali. Yach, saat itulah kematiaan hakiki! Ketika mati tak lagi dirasakan. Ketika sakit dianggap sebagai takdir buruk yg patut disesali dengan jeritan.

Manusia belajar untuk hidup. Tahun pertamanya ia habiskan untuk belajar memahami! Bukan hanya meniru, seperti animo umumnya, tetapi jauh lebih dari itu. Dia mempelajari konsep kehidupan secara konprehensif. Belajar tentang bagaimana ‘belajar’ yang ideal, juga bagaimana menjadi pelajar yang ideal.

Kemudian, tumbuhlah ia sebagai makhluk dewasa. Yang mempunyai kesadaran penuh –dalam proposisinya sebagai manusia- untuk berkehendak, untuk memilih dan menentukan. Tapi manusia sering kali salah dalam banyak hal. Kuasa yang dikaruniakan kepadanya, sering kali tak mampu ia emban dengan sebaik-baiknya. Bahkan untuk bertanggungtawab ia pun harus diajarkan terlebih dahulu. Kenapa? Sebab awalnya “tanggungjawab” hanya sebuah kata tanpa makna yang bisa saja di sinonimkan dengan “lepas tangan”, “lari” dan banyak kata lainnya (yang notabene memiliki makna berlawan dalam kaidah kebahasaan).

Betapa lemahnya. Bahkan ketika manusia menyebut dirinya sebagai “manusia dewasa”, ia sering lupa! Dia adalah jiwa yang sama dengan waktu masih balita dulu. Dia juga memiliki aliran darah dan denyut nadi yang dulu. Meski dalam pandangan penciptanya bisa saja ia menyebutnya sebagai kehidupan.

Satu-satunya ciri yang dimiliki manusia dewasa –dan yang membedakannya dengan dia sebelumnya– yaitu keberadaan akal pada dirinya. Kendati tidak atau belum digunakan, akal adalah “wahyu kedua” setelah kitab suci. Akal adalah hidayah, petunjuk untuk membedakan, memisahkan, menyatukan, mengadakan, meniadakan, dan memikirkan sesuatu. Sesuatu disini adalah “dunia luar” selain dirinya, termasuk jasad yang sering ia klaim sebagai keberadaannya.

Adapun sifat kekanak-kanak dalam diri seseorang hanyalah masa lalu yang belum sempat ia lupakan. Ia terlalu larut dengan kehidupan. Terlalu memegang kehidupan sebagai sesuatu yang mutlak ia miliki. Kekanak-kanakan adalah nostagia hura-hura, romansa zaman purba dan masa kejahiliyahan yang pernah ada. Fakta atau realitas? Tidak keduanya! Ia harus menjadi sejarah. Dan kita harus belajar darinya.

Mengapa lantas, ketika manusia mengklaim bahwa sejarah terus berulang ia menjadi stagnan? Padahal pengumpulan fakta –yang telah ia lalui – seharusnya berakumulasi menjadi pengetahuan. Dan setelah berpengetahuan seharusnya ia menjadi bijak. Apa itu bijak? Saya mendefinisikannya sebagai “pergerakan pasif”. Ia bisa saja berdiam diri dan terlihat tidak peduli, tapi sejatinya ia terus bergerak, mengalir dan bertarung dalam dialektika. Bijak hanya bicara ketika ia memang harus bicara (dalam waktu dana tempat yang tepat). Bijak tidak menjawab setiap pertanyaan yang datang kepadanya, sebelum ia memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu tertuju untuk dirinya sepenuhnya. Dalam kancah diskusi hidup, bisa atau sering di jumpai pertanyaan-pertanyaan nyasar atau pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu di jawab.

***

Tradisi bertanya memang baik. Saya tak bermaksud melawan tradisi ini (meski saya adalah seorang penentang tradisi/kelaziman), sebab itu adalah sebuah kebodohan. Hanya saja, saya ingin mengajak semua untuk benar-benar memastikan semua pertanyaan yang ada. Tentunya semua sepakat bahwa ketidakpastian merupakan hal terbesar yang sering bahkan selalu mengusik gerak kita. Kita butuh kepastian, termasuk kepastian terhadap pertanyaan-pertanyaan tadi.

Bertanyalah dengan pasti, dan pastikan setiap pertanyaan yang datang dari diri kita juga orang lain adalah tepat sasaran.

***
Kebijaksanaan memang suatu keagungan dari kemanusiaan, tapi tentu saja bijak tak boleh lebih tinggi dari kemanusiaan itu sendiri. Kebijaksanaan yang dimiliki seseorang haruslah menjadikan dia sebagai manusia yang sebenar-benarnya. Tidaklah dapat disebut bijak, jika karna pertimbangan strategis manusia melakukan sesuatu tanpa menyertakan hati. Hati disini adalah pikiran dan perasaan.

***Revolusi Hari Ini***

Manifesto Awal LIMITS

Kolektif ini mengklaim dirinya sebagai sebuah perkumpulan lintas kampus, lintas gerakan. Kolektif berusaha untuk indipendent, tidak terikat dan menjaga jarak dari afiliasi terhadap kelompok tertentu. Kolektif ini lahir dari semangat untuk mengurangi perbedaan dan meminimalisir pertentangan diantara kaum muslimin. Kolektif berusaha berbuat semaksimal mungkin, sejauh dan sebesar apa yang kolektif punya, dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang banyak disana-sini.

26 Juni 2005 disebuah kontrakan di daerah Salemba, berdirilah Kolektif ini dengan formasi yang masih sangat sederhana. Meski demikian tiap-tiap individu kolektif berusaha untuk kompak, solid dan saling mengisi dan berbagi. Dengan latar belakang yang beragam, Kolektif memulai ‘proyek’ percontohan ukhuwah yang indah. Induividu-induvidu di Kolektif sepakat untuk menghilangkan ego kepentingan kelompok dan menanggalkan ‘baju’organisasi, minimal saat berada dan mengada dalam Kolektif. Adapun ini merupakan perwujudan kemerdekan individu dan kebebasan untuk tidak tunduk pada mainsteam kelompok-kelompok yang sudah mapan.

Kolektif ini menghormati dan sangat mengahormati usaha-usaha yang dilakukan oleh kaum muslimin dimanapun dan kapanpun, selama tidak menyimpang pada hal-hal pokok yang sudah disepakati oleh para generasi terdahulu. Kolektif menghargai dan sangat menghargai upaya yang selama ini dilakukan oleh berbagai kalangan dari kaum muslimin, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Oleh karenanya Kolektif sadar dan akan terus memperbaharui gerakannya demi kemaslahatan (syari‘at) semesta, dengan mengadopsi segala kebaikan dan menyingkirkan kekurangan/kelalaian yang pernah dilakukan oleh para pendahulu.

Kolektif mengutamakan orisinalitas dan proporsinalitas dalam segala hal. Proses tabanni (adopsi) pemikiran dan pola gerak Kolektif berdasarkan pada 2 prisip di atas. Dengan demikian, kolektif nantinya akan menghasilkan banyak ide kreatif dan terobosan-terobosan kritis guna penegakan pilar-pilar peradaban (tamaddun) dalam rangka proses perwujudan islam sebagai pimpinan semesta (qiyadatul ‘alam).

Kolektif berusaha mensinergikan perjuangan fundamentalnya dengan gerakan pertengahan (populer) umat, selama tidak bertentangan secara esensial. Ini dikarenakan Kolektif menyadari bahwasanya begitu banyak saudara-saudar kita yang berkonsentrasi pada ranah tersebut. Sehingga kolektif merasa perlu untuk berkoordinasi dan bersinergi dengan “kolektif-kolektif tengahan” yang ada.

Kolektif mewujudkan pegiatnya untuk menjadi manusia muslim seutuhnya. Merdeka dan dewasa. Manusia yang senantiasa siap untuk bergerak dimana pun ia berada. Kolektif mengabaikan status anggotanya di organ lain, tanpa me-nir-kan peran dan fungsi keberadaannya di tempat tersebut.
Kolektif mendorong dan men-support anggotanya untuk tetap hidup berjamaah dimanapun ia tinggal. Agar tiap anggota kolektif tidak memisahkan diri dengan masyarakat, dan bahkan bersinergi dengan segala sumber daya yang ada dihadapannya.

***Revolusi Hari Ini***

Manifesto Kolektif 1

Kolektif Kaum Muda – Pasti Jaya


Kaum muda bersatu, bergerak bersama. Kaum muda mewujudkan peradaban dunia, dengan dasar nilai-nilai keyakinan yang kokoh; Aqidah Islamiyyah. Membangun sebuah komunitas sebagai bentuk subkultur yang bermakna ketidakpuasannya terhadap mainstream kebudayaan yang tengah menghegemoni diri dan masyarakat kini.

Kaum muda bangkit, sadar akan keterpurukan. Kaum muda tersadarkan untuk menyadarkan sekitarnya. Menghadang serangan anasir asing yang bertentangan secara hakiki dengan Transaksi Kehidupannya (ad Dien). Sebuah pilihan atas permasalahan utama; memilih berarti siap menerima konsekuensi. Memilih berarti menceburkandiri. Memilih, melibatkan diri dalam masalah. Memilih revolusi berarti memilih berperang, menceburkan diri dalam pertempuran. Memilih jalan ini berarti memilih untuk melibatkan seluruh syaraf dan denyut nadi berhadapan dengan mati.

Saat ini, dimana telah terlihat wajah asli konsekuensi demokrasi dan metanarasi yang menjadi derivasinya, kami memilih untuk menjadi rival diametral dan oposisi utama. Kami, yang meski dengan segala terperdaya yang ada memilih untuk berdaya upaya. Kami, yang meski berkapasitas tertentu tapi tak punya kapabilitas kecuali amat terbatas yakin untuk memilih keyakinan ini.

Memilih untuk tidak menerima pilihan lain selain jalan ini adalah seperti memilih untuk berpesta ganja, atau berkerja membangunistana. Kami yakin ada hari esok. Kami yakin banyak yang terperosok. Tapi jalan ini tetap elok, paling tidak di mata kami yang berpandangan untuk tidak pernah berbelok. Semesta pandang kami adalah surga. Cita-cita kami Taman nan mesra. Seperti kehidupan saat ini yang kami pilih untuk tidak bermanja pada dunia. Mesra adalah asa untuk berjuang. Bukan sekedar romantisme zaman purba, dongeng-dongeng senjakala.

Oleh karena segala permasalahlah itulah, keberadaan kami adalah niscaya adanya. Kebersamaan kami dengan serta merta membuktikan keseimbangan semesta. YA, keseimbangan yang bukannya tak kenal beda. Tapi ketika hitam telah begitu pekat, putih wajib melekat lebih erat.

Inilah Kolektif kami! Proposisi kebangkitan masa depan. Instrument kebangkitan yang siap digunakan oleh siapapun yang akan mewujudkannya. Bukan untuk kemapanan status quo, tapi lebih kepada realisasi kehendak bagi pihak yang selama ini K.O.

Inilah Kolektif kami! Batu karang yang siap menjadi fondasi bangunan. Tapi jika tidak, kami tetap rela dipecah berkeping-keping guna menjadi pelengkap keindahan pot bunga di Taman surga. Kami siap diposisi manapun. Karena kami ada dimanapun.

***Revolusi Hari Ini***

dilematika

-1-

“Wa `alaikumussalam”
Pikiran saya menerawang. Entah kearah mana. Saya berusaha mengejar perjalanan dia, yang sepertinya semakin jauh menyimpang. Saya langsung menghidupkan PC. Rasa kantuk saya hilang, dan...berjuta sangkaan menghantam pikiran saya saat ini.
**

Saya hampir tertidur lelap. Ring tone Siemen membangunkan saya. Terdengar suara seorang akhwat disebrang sana. Bla..bla..bla apa yang terjadi dengan dunia?!

Dia, yang saya kenal kritis...kini benar2 kritis. Tapi berbeda! Kritisnya yang dulu adalah keingintahuaan yang meluap, semangat dan gejolak. Kini, kritis itu bermakna batas nadir jurang kehidupan.

Saudari, ku tulis ini dengan hati. Meski mungkin hati mu tak tersentuh, saya tak peduli. Seperti ketidakpedulian mu pada mereka, kawan-kawan lama mu. Tapi, saya beri tahu bahwa saya bukan seorang yang mencari-cari kesempatan. Saya juga bukan orang yang hanya ‘menyapa jika perlu’. Saya sahabat kamu, yang bersedia mendengar dan berbagi cerita. Meski dengan demikian kamu harus mentraktir saya makan. Tapi bukan itu substansinya! Kita sama2 senang, bukan?

Hey! Saya tak ingin membenci mu suatu saat. Saya juga tak berharap menangisi mu suatu saat. Ya..ya..suatu saat dimana (mungkin) kita akan berdiri pada diametral yang paling frontal. Sebagai musuh? Wa allohu `alam. Suatu saat, dimana ketulusan memaksa saya membenci kamu. Suatu saat yang meski rasa saya masih sama, tapi sikap saya akan lain. Lain sama sekali!

Saudari, mari duduk bersama kembali. Dengan saya, mereka dan semua yang pernah duduk bersama mu dalam majlis kebaikan. Mengertilah! Temukan hakikat “jalan ini”, ditengah kabut zaman yang memang jua takdirnya. Saudari, hari ini para penyeru itu tak selalu membawa madu. Ada randu, debu bahkan candu. Tapi bukan seperti itu yang harus kau pilih. Sebagaimana kita telah sepakat untuk tidak ‘memilih’. Atau untuk hidup ‘tanpa ikatan’ dan afiliasi buta.

Ya, kita memang telah berdamai tentang hal ini. Tapi bukan seperti ini yang saya maksudkan. Maap jika penjelasan saya waktu itu tak tuntas. Kembalilah! Sejauh mana pun kau telah melangkah. Kau salah jalan saudari ku.

Saudari ku, saya sobat kecil mu ini tak akan bergeser dari “jalan” yang dulu saya nyatakan. Perubahan aktifitas ini bukan penghianatan saudari! Sekali lagi, bukan penghianatan. Saya belum lagi berubah. Saya belum beranjak dari sisi kehidupan yang kemarin. Duduk lah kembali. Saya yakin kamu punya keberanian untuk berbalik kebelakang. Berbalik untuk meninggalkan dan menanggalkan semua yang saat ini menyelimuti mu.

Saat ini, dari kesadaran yang paling terang dalam jiwa saya, mengajak kamu, saudari ku untuk berpikir dengan jernih ihwal kehidupan. Tentang kebaikan yang tersamarkan. Tentang kebodohan yang terjaga. Serta hasrat yang harus selalu dikendalikan.

“Tetaplah dalam jamaah!” ya, dari lisan ikrar saya, kembali saya sampaikan. “Berpegang teguh lah!”. Saudari ku, mungkin engkau sudah mendengar kalimat ini berulang-ulang kali. Dan mungkin kau telah bosan. Muntah lah, jika kau ingin muntah karena kalimat itu. Paling tidak saat kau muntah, iblis dalam diri mu berkurang satu. Muntah lah! Karena saat ini saya melihat terlalu banyak sisi gelap mu kawan...

“Gigit lah akar itu” jika kau memang masih punya graham. Atau larilah ke lereng gunung, mungkin itu jauh lebih baik dari pada kau pergi ke klab malam.

Jangan marah kawan...sebab saya disini masih dengan ketenangan dan kesyahduan hubungan kita. Saya masih yang seperti kita bertemu dahulu. Tapi sepertinya, setiap ucapanku harus lebih di perjelas dalam berbagai laras.
**

-2-

Mereka yang tertipu, menjadikan “jalan ini” sebagai objek studi. Mereka hanya datang sepekan sekali untuk agar tetap dianggap hanif. Paling tidak, sebagai pasal pembelaan terhadap nuraninya saat di adili setiap malam. “Saya juga ngaji kok!”

Saya ingin sekali tertawa. Ya, saya ingin tertawa, tapi tak kuasa. Ada air mata di dalam jiwa. Ada linangan di hadapan durja. Ada hamparan yang sempurna. Di kedua sisinya, kudapati fitrah manusia.
**

-3-

Ahhgg, saya tak ingin mengkategorikan kamu sebagai korban. Saya takut kamu benar2 akan menjadi korban. Mari lah pejuang, kemarilah! Bangkit dengan romantisme yang dulu kau punya. Berontak sepenuh jiwa raga.


Buat Saudari ku
Buat Saudara ku
Aku tak ingin melihat mu bertaubat berulang kali.

-4-

Kawan, tiap detik mu pasti di hisab!
Islam adalah Transaksi Kehidupan yang sempurna, akan di dzohir kan di atas semua Transaksi. Walau pun manusia ingkar akan membenci.
Perbaharui akad mu, sempurnakan Transaksi mu. Engkau tengah berjual-beli dengan Sang Empunya ruang dan waktu.

NB : Untuk tikaman paling terdalam yang kau terima, bayar lah dengan apa yang kau rasa pantas untuk orang itu. Aku, saudara mu!



***Revolusi Hari Ini***

message

Wahai sekalian manusia, bulan yang agung lagi penuh berkah telah menaungi kalian. Bulan yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah jadikan puasanya sebagai kewajiban dan qiyam di malam harinya sebagai tatthowu (amalan sunnah).
Siapa yang bertaqorrub (mendekatkan diri kepada Allah) didalamnya dengan satu bentuk kebaikan, maka samalah dengan orang yang mengerjakan satu fardlu di bulan lainnya. Dan siapa yang mengerjakan fardlu didalamnya, maka samalah dengan orang yang mengerjakan 70 fardlu di bulan lainnya.
Ia adalah bulan sabar, sedang pahala sabar adalah syurga. Ia adalah bulan santunan, dan bulan dimana rizki seorang mukmin akan ditambah. Siapa yang memberi buka kepada orang yang berpuasa di dalamnya, maka yang demikian itu menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya, pembebasan dirinya dari api neraka dan memperoleh pahala yang sama
dengan orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahalanya.
Para shahabat bertanya: Ya Rasululloh, tidak setiap kami mendapati apa yang akan diberikan untuk buka orang yang berpuasa . Maka Rasulullah saw menjawab Allah memberikan pahala ini kepada siapa yang memberi buka orang puasa dengan satu
biji kurma, atau seteguk air atau susu yang sudah dicampur dengan air sekalipun.
Ia adalah bulan yang permulaannya adalah rahmah, dan pertengahannya adalah maghfirah, sedang penghujungnya adalah pembebasan dari api neraka.
Siapa yang meringankan kerja pembantunya, maka Allah berikan maghfirah kepadanya dan Allah bebaskan dia dari neraka. Perbanyaklah 4 hal, yang 2 untuk memperoleh ridlo Tuhan kalian, dan 2 hal lagi pasti kalian butuhkan. Adapun 2 hal untuk mendapatkan ridlo Tuhan kalian adalah bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (Asyhaduan la
ilaha illa lohi) dan beristighfar kepada-Nya (Astaghfirullah). Sedang 2 hal lagi yang pasti
kalian butuhkan adalah kalian meminta syurga kepada-Nya (as alukal jannah) dan memohan perlindungan-Nya dari api neraka (wa audubika minan nar).
Siapa yang memberi minum kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku (saat di padang masyar) dengan minuman yang dia tidak merasa haus lagi sampai masuk syurga.

***Revolusi Hari Ini***

AHLAN

Allohumma Bariklanaa fi Rajaba wa Sya`ban
Wa balignaa ilaa Ramadhon.

***Revolusi Hari Ini***

Kangker Ideologi

3 Kangker versi Abu Bakar Baa`syir:
1. Demokrasi,
2. Nasionalisme,
3. Sekularisme.

...dan semuanya adalah thogut!
[Sabda dari Penjara, LP Cipinang]

Ada yang protes..?

***Revolusi Hari Ini***

Surga!

"Aku membayangkan surga seperti perpustakaan" -Teuing-

Sementara disana ada yang menganggapnya seperti neraka...
???

***Revolusi Hari Ini***

Baru!

Fuuihh..!
Indahnya...
Semua serba terlihat baru
Semua tiba-tiba nampak begitu saja,
seperti candu!
memburu,
seperti peluru,
menderu,
seperti rindu,
menggebu.


***Revolusi Hari Ini***

Pedagogy Hari Ini

Salam!
Pakabar semua? Moga senantiasa baik.
Saya ingin bicara banyaka hal! Beberapa kali saya menjumpai perbicangan mengenai ‘keluh-kesah’ sistem sekolah, juga gelisah untuk kuliah. Saya bingung ketika kompleksitas industri pendidikan ini tak dapat kita hancurkan. Dan sebagian besar dari kita masih harus tetap memaksa diri untuk masuk kedalamnya, menjadi bagian darinya. Ya! Menjadi siswa di pabrik pendidikan yang dirancang khusus untuk menjadi robot.

Saya teringat oleh kata-kata seorang ilmuwan muslim (saya lupa namanya!). Beliau yang notabene sudah mencapai grade yang cukup tinggi dari stratifikasi dunia ini menyatakan (kira-kira) begini: “...ketika saya menulis tesis saya, saya harus memaklumi bagaimana saya harus menjauhi realitas sosial dan membuang jauh2 rasa kemanusiaan saya…”
Hahaa! Maap klo saya harus tertawa. Sebab inilah yang akan dilalui oleh seorang ilmuwan pada masa kini. Kawan-kawan INSIST menyebutnya dengan “Kekufuran Epistemologis”

Kita bisa saja menghujat sistem pendidikan kita, bahkan kapitalisme global sebagai penyebab segalanya. Kita bisa saja untuk tetap berteriak-teriak “Tegakan Khilafah! Terapkan Syariah!”. Kita juga bisa saja turun kejalan untuk menghujat sekularisme. Kita bisa berbondong-bondong menuju Bunderan HI, tumpah ruah ke pusat pemerintahan, mengibarkan ar rayaah, dan melobi pemerintah. Tapi sayang…itu tak akan merubah kenyataan ini.

Maap, saya tidak menyatakan semua hal di atas sia-sia. Saya juga tak bermaksud membuat kawan2 pesimis. Tapi lihatlah lebih jauh…melompatlah lebih tinggi. Bahwasanya, keringat kita selama 4-8 tahun hanya akan semakin memapankan industrialisasi. Sebagaimana keringat kita selama 4- 8 jam di bunderan HI, hanya akan semakin memapankan kepercayaan publik kepada demokrasi! Ya, bahwa kita akan tetap berjuang. Ya, bahwa kita akan terus melawan. Tetapi hakikatnya ini adalah permainan ‘didalam’.

Pernah bermain game? Lihat berapa banyak ‘jagoan’ pilihan kita yang mati di tangan musuh? Ada juga beberapa kali yang bisa sampai level tertinggi, berhadapan langsung dengan ‘sang raja’… Yakin lah ini hanya permainan! Dan kita telah di permainkan…

Ada yang tertawa di depan layar. Ada yang tertawa di atas panggung. Tetapi tak banyak yang tahu tawa mereka di balik layar…dibelakang panggung.

Ah, semoga saja tak ada yang tersenyum dalam duka sistemik ini!
Saya melihat sebagian berkata :
“Lihat, nilai saya tinggi. Lihat saya di terima di UI…
Lihatlah prestasi kami…kenaikan standar me motivasi kami. Ini kompetisi.”
Huahaha! Segala puji bagi Alloh yang menjadikan saya sadar dengan hal ini. Segala puji bagi Alloh yang tidak menjadikan saya berkata seperti ini.


Segala puji bagi Alloh yang memberikan saya inspirasi untuk berkhayal bisa membakar ijazah sarjana saat wisuda (meski hanya khayalan!).
Saya beritahukan sekarang tentang konspirasi ini:
“Dalam setiap penaikan standarisasi niscaya ada penurunan kualitas(isi)”
Mudah sekali untuk memahami ini. Bagaimana seorang lulusan SD tahun puluhan tahun yang lalu lebih baik daripada lulusan SMA saat ini. Bagaimana seorang lulusan SD mampu bekerja, mandiri, melakukan segala sesuatunya dengan merdeka. Memilih kerja. Atau memilih untuk tidak bekerja. Memilih untuk menikah dan membeli sawah. Atau membajak sawah di ‘keramahan lokal’ yang belum terjajah.

Lihat kebahagian otonomi ini. Memilih untuk tidak bersekolah tak lebih hina dari mereka yang beruntung bisa belajar di tempat yang mewah! Setiap orang berhak menentukan hidupnya sendiri. Setiap orang berhak untuk belajar dimana pun, sebagaimana ia berhak untuk bekerja dimana pun…dengan siapa pun. Setiap orang berhak untuk tidak bersekolah/ kuliah. Setiap orang berhak belajar rumahnya, sebagaimana ia berhak untuk memiliki ruang kerja di samping kamarnya.

Dulu! Ya, dulu kala hegemoni belum menyentuh ‘keramahan lokal’. Dulu ketika tirani demokrasi belum menyelimuti tanah lahir kami. Masih adakah kini? Masih bisakah kami…

Saya beritahu Anda! Saya beritahu, agar yang tahu menjadi ingat kembali. Agar yang lupa menjadi sadar kembali. Bahwa setiap orang berhak untuk memilih sistem yang menaunginya. Sebagaimana seorang petani berhak memilih ubi atau singkong untuk mengisi petak-petak kebunnya yang masih kosong. Setiap orang berhak untuk bersistem, diakui ataupun tidak sama sekali.

Saya beritahu. Bahwa kalian berhak untuk tunduk atau menolak sistem ‘industri akademi’ ini. Kalian berhak untuk melawan sistem dari dalam atau dari luar. Kalian berhak memberontak di mana pun. Tapi satu hal! “Bebaskan akal dan hati dari doktrinasi! Bebaskan jiwa dari jerat-jerat lembaga!”…diakui atau tidak sama sekali.

Karena hanya dengan inilah kita masih bisa berkata merdeka…diakui atau tidak sama sekali. Karena hanya dengan ini Otoritas Personal ada. Karena hanya dengan ini otonomi moral mewujud nyata…diakui atau tidak sama sekali.
Ya, inilah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Tujuan yang sering kali dijadikan alasan untuk masuk kedunia ‘pelacuran’. Ya, pelacuran! Tempat melacurkan diri, melacurkan kesadaran dan revolusi. Tempat yang kalian berada di dalamnya. Tempat yang kalian sebentar lagi akan kalian tinggalkan, untuk menuju ‘kelas’ yang lebih tinggi. Untuk menjadi pelacur kelas atas yang di hormati. Apa? Sekolah!

Terdidik??? Bukan! Sekali lagi bukan! Bejibaku 4-8tahun di sekolah tidak menjadikan kita terdidik…tidak! Tidak sama sekali! Bejibaku 4-8tahun di sekolah tidak akan menjadikan kita terpelajar! Seberapa lama kita hidup di sekolah selama itulah waktu sekolah kita. Bejibaku 4-8tahun di sekolah hanya akan menjadikan kita TERSEKOLAH. Sekali lagi waktu sekolah, bukan waktu belajar.

Tempat belajar? Pelajar? Hahahaa, saya sudah berkali-kali berkata, bahwa ini sekolah! Sehingga tempatnya tidak layak di sebut lebih tinggi dari tempat sekolah. Sebab disinilah intelektual kita akan di lokalisasi. Disinilah status kita dimitoskan. Saya pertegas, bahwa kampus tempat kita kuliah (teman saya lebih senang menyebutnya “juz`iyah”) sebenarnya hanya sebuah LOKALISASI INTELEKTUAL, dimana pikiran kita akan di eksploitasi di dalamnya, hingga kita terasing sama sekali dengan dunia luar. Saya pertegas sekali lagi, bahwa “mahasiswa”, status yang di sematkan kepada kita hanyalah MAKHLUK MITOS yang sengaja di citrakan menjadi kelas tersendiri di dunia Postmo-liberalisme sekarang ini. Ya, kawan-kawan pelajar…yang saya cintai, kawan-kawan yang saya muliakan. Saat ini kita di-Pseudo-gloryfikasi-kan. Saat ini kita ‘disucikan’ secara semu. Kita yang semula puas dengan iming-iming “siswa” kini di-Maha-kan statusnya dengan segala ke-Maha-an yang dimiliki pemilik modal industri ini.

………wah! Saya rasa ini harus berhenti sampai disini. Saya takut dengan ini justru saya melakukan self-gloryfikasi yang nista itu.

“Yang tak bisa lebur niscaya hancur”
-SeorangPelajarAbadiYangHampirMenghianatiMetodologinyaSendiri-


***Revolusi Hari Ini***

Daulah?

"Filsafat di mulai dengan proposisi yang sulit untuk ditolak,dan di akhiri dengan proposisi yang sulit untuk di terima"
Konsep negara yang diajakan kepada saya (juga sebagian besar Anda, mungkin) berasal dari Barat. Semua argumentasi dan proposisi bermula dari sana. Tak ada sedikit pun (yang saya ketahui)...selain dari 'perjalanan sejarah' kenegaraan kecuali yang terikat erat dengan 'perkembangan' sekularisme.
Jika saya (dan orang2 seperti saya) masih mempertanyakan terminologi [Di, gak boleh pake "Terma" yach?] "Agama", dan masih menyangsikan ketepatan "Dien=Agama", menjadi wajar jika saya mempertanyakan "negara".
Bukankah pada mulanya, tiada...
Awalnya penuh dusta
Bilamana kini ia ada...
menjadi niscaya.
Ya! Seperti agama!"
Otoritas moral-individual adalah wujud kemerdekaan sejati, maka kemerdekaan adalah kebohongan"
***
Hampir setiap orang percaya dan menerima konsep kenegaraan.Seperti apakah negara?Apa urgensinya?Kenapa seolah ada stigma "bodoh" bagi orang yang menolaknya?Terakhir...apakah khilafah = negara?-yang terasing dalam kemapanan "negara"-
***Revolusi Hari Ini***

Mimpi

Seperti mimpi, demokrasi pun tidak nyata. Orang akan terbangun dan sadar, cepat atau lambat. Karena tak ada mimpi yang abadi, sekalipun itu mimpi indah yang kita damba. Demokrasi adalah angan hampa. Khayalan yang memang senantiasa membuai orang yang mempercayainya.

Apakah ini mimpi indah? Sayang, kita tak benar-benar sedang tertidur. Dengan demikian, betapa punindahnya mimpi tersebut dan terlihat menyenangkan, waktu akan membunuhnya. Begitupun sang pemimpi, ia akan ikut terbunuh jika tidak beranjak.

Beranjak berarti sadar. Bangun dan melihat kenyataan. Bahwa selama ini kita terus menerus dibohongi. Bahkan membohongi diri sendiri, dengan episode-episode ‘kebebasan’, “kesetaraan’, dan ‘persamaan’. Kemudian kita akan bangkit, kembali merakit bahtera bersama-sama. Mengayuhnya untuk mengarungi samudera diantara karang-karang yang ada. Mari menuju surga!

Sekarang tinggal bagaimana kita memilih. Mau ikut? Atau tenggelam di samudera yang dalam.

23 Maret 2005


***Revolusi Hari Ini***

Pelaminan

Mendung

Moga tak selimuti pelaminan mu

Tapi hujan

Tetap ku harap

Merahmati rumah dan pintu mu

Moga tak ada petir

Menyambar singgasana

Moga peangi menjadi dipan

Tuan dan nona

26 Maret 2005, dedicated for Marla
***Revolusi Hari Ini***

Mengenang Perpustakaan

Salam!

Kaifa Halluk?
Afwan neeh...ga pernah atau jarang kumpul or dateng lagi ke Skul.
Maklum, kerja soial... Huehehe.
Iya! Beneran...saya lagi berpusing-pusing ria dengan segala permasalahan dunia perpustakaan.
Kenapa? Ah, jgn tanya gitu...ini masalah besar dan penting Bro, Sis!
Perpustakaan ibarat tiang penyangga bagi peradaban!
Tanpa perpustakaan...peradaban akan runtuh. Mungkin kawan2 akan berpikir saya terlalu berlebihan. Atau menganggap saya 'sok visioner'. Ah, terserah! Toh, walau bagaimana pun ini bidang keilmuan saya. Meskipun bukan ini alasan krusiannya sebenarnya.

Buku bagi seorang muslim adalah sesuatu yang sakral. Buku identik dengan ilmu. Bahkan di Era Guitenberg, buku merupakan satu2nya wasilah bagi transfer of record information. Demi Alloh, buku tidak pernah berdusta. Buku adalah sebaik-baik teman duduk.

Konon, tak ada Ulama yg tak memiliki perpustakaan pribadi. Konon, Ulama-ulama adalah penghasil karya tulis terbaik di zamannya masing masing. Saya tak tahu benar apa alasannya? Saya juga tak tahu kenapa kok rasanya itu adalah kebaikan yang besar. Yah, tiap diri Ulama kita berisi ilmu, dan dokumentasinya tertuang dalam kitab-kitab koleksi. Ini falsafah sejarah terpenting dalam dunia perpustakaan.

Perpustakaan terus berkembang. Keunggulan-keunggulan pribadi terus berusaha di tularkan ke masyarakat. Tradisi mengumpulkan buku (baca= membangun perpustakaan terus diwarisi. Hingga terwujudlah institusi pendidikan yang cukup berpengaruh di Cordova sepanjang sejarah pendidikan.

Sekarang di era "peer to peer", kolektifitas adalah keniscayaan. Kita butuh kekuatan bersama (jamaah) untuk menghasilkan hal yg sama. Perpustakaan pun...mewujud dalam bentuk yg lebih umum. yakni Perpustakaan Umum. Nilai dan falsafahnya masih sama: buku=ilmu.

Perpustakaan Umum memanifestasikan dirinya terbuka untuk seluruh anggota masyarakat. Ia berusaha mengingatkan kita akan pentingnya pengetahuan. Bahkan..ia berusaha menyadarkan kita bahwa "Informasi bukan komoditi!". Pengetahuan hak semua orang. Semua orang mempunyai Hak Terinformasi.

***

Ahgg!!! Sayang...itu semua teoritis-historis. Ya, bahkan nilai filosofisnya banyak di langgar oleh profesi dari keilmuaanya sendiri.

Andai...
ia ada disini
Andai...
kita bisa menikmati
Dunia dimana kita tak perlu lagi HAKI
Dan semua orang terinformasi

Andai...
Sekali lagi andai!
Ini tak hanya manifestasi ilusi
Tapi suatu visi yang akan kita jalani
Bersama...
Segera!
***Revolusi Hari Ini***

RE-FLEKSI SIMPATI 081-31924-32005

1.
Hari ini, 81 tahun yang lalu. Tiap pekan kami berawal dengan kemalasan. Tiap kemajuan membawa kebobrokan moral. 81 tahun yang lalu di pusat ibukota kami, berdiri tegaklah demokrasi dengan bendera absurditas. Sekularisme berkedok kebebasan. Cukup sudah 81 tahun derita kami…

2.
Padahal dengan sistem inilah kita di hantam begitu keras 81 tahun yang lalu. Hantaman yang bahkan hingga saat ini kita belum bisa bangkit? Lantas apa yang kita lakukkan hari ini dengan Trias Politica dan pestanya? Adakah kita lupa…?

3.
Mungkin tak ada yang menyadari, kenapa hari Ahad tidak bekerja? Kenapa tidak Jum`at? Atau Sabtu? Apa dalam kalender Hijriah ada konsep seperti itu? Kenapa semua hilang, padahal ummat ini pernah berjaya menangui 2/3 dunia selama 7 abad? Hey! Sadarlah, kita yang dulu satu terpecah menjadi lebih dari 50 state of nation. Mari satukan langkah..!

4.
Gerakan Reformasi yang di usung oleh kaum Turki Muda tak malu menyuarakan sekularisme dan westernisasi, lantas kenapa kita malu menyuarakan islam? Kemal, anak seorang pelacur berdarah Yahudi blateran, berhasil membentuk parlemen pertama dalam sejarah dunia islam. Ini penghianatan! Tapi sejarah malah memberi padanya mahkota sebagai Bapak Turki.


***
Al Ustad Abu Bakar Ba`asyir setelah disidang kembali pada 3 Maret 2005 di vonis 2 tahun lebih kurungan… Semoga dapat mengarang Kitab yang mampu mengguncangan ummat, menyusul Sayyid Qutb dan Hamka. “Penjara adalah surga bagi para ulama”
Yusuf AS pun demikian, “Wahai Robb-ku, penjara lebih aku sukai…” Allohu akbar!!!

***Revolusi Hari Ini***

Harga Diri sebagai Komoditi

Di sebuah PTN, sebutlah Universitas Imajiner dalam sebuah acara, sebutlah BK seorang yang, sebutlah juga MC dengan angkuhnya menyuarakan ‘kebesaran-kebesaran’ PTN yang bersangkutan. Tak perlu saya tulis ulang rasanya, kalimat2 sombong yang keluar dari mulutnya. Saya jijik! Yang jelas ini menunjukkan betapa imagologi sangat begitu kental dengan kehidupan kita. Kita sadar, tapi tak tertipu.

Saya pikir awalnya PTN ini punya harga diri yang tinggi. Ternyata benar, harganya begitu tinggi. Yach sekitar xx xxx rupiah untuk 2 hari non-stop. Hebat! Hebat karena dalam dunia promosi, calon konsumen biasanya disuguhi sample produk secara gratis. Bahkan dalam beberapa ekspo, masyarakat (calon konsumen) memiliki akses bebas masuk keluar masuk ruangan pameran. Tapi yang ini…

Bahkan ada ‘kawan’ saya berseragam kuning yang berusaha men-stample tangan saya ketika ingin masuk ruangan setelah sebelumnya saya menunjukkan kartu identitas, yang juga kuning! Warna kuning memang kadang menyeramkan. Beberapa hari sebelumnya, kawan sempat tertantang dengan tawaran membakar jaket propertinya, (yang juga kuning!) untuk di bakar. Meski tak sempat terjadi ‘kerusuhan’, saya jadi balik berpikir…apa panitia dan penjaga stan BK ikut demonstrasi semua?

BK (kaya nama pil anjing ya?,red 1) (emang!, red 2) adalah salah satu ajang promosi, maaf PT BHMN UI. Biasa di ikuti oleh para pelajar ‘putih-abu’ yang memang berniat untuk studi di PT ternama. Entah dengan klaim mencari info tentang program studi, atau motivasi lain. Konon, acara ini adalah ‘gawean’ elit eksekutif yang paling melimpah ruah keuntunganya. Konon! Ya, seperti konon pula Universitas ini mempunyai trade mark yang tinggi.

Setelah heran dengan beberapa logika diatas, kita akan semakin heran dengan berbondong-bondongnya para pelajar mengunjungi acara ini. Ya, namanya juga anak-anak, tidak seperti mahasiswa yang konon lebih dewasa dan berpikiran jauh kedepan…gedung DPR atau istana negara. Jauh…jauh sekali! Sekedar berbagi pengetahuan, tidak semua orang berkeinginan untuk melanjutkan studi ke PT, disamping banyak juga yang ingin tapi tidak berkemampuan. (saya termasuk orang yang tidak berminat untuk kuliah saat SMU.)

Sekarang saya mengerti, merk memang bisa di jual di era krisis ini. Dan semakin mengerti pula saya, bahwa para pelajar tengah tawar-menawar untuk membeli produk merk almamater ini. Akhirnya, orang yang membeli merk akan menjual merk tersebut pula saat pasar membutuhkannya. Dengan harga yang tinggi tentunya. Ya, seharga kantor akuntan atau hukum, setinggi harga resep obat yang harus di tebus di apotik atau kantor pak dokter.
Mungkin ini bentuk rasionalisasi politik-ekonomi BHMN. Bahwa pendidikan adalah investasi. Bahwa kuliah adalah jual beli. Sayangnya sang pembeli tak mengerti benar baik-buruknya produk yang ia beli.

***Revolusi Hari Ini***

Menggagas “Local Movement”

Manusia hidup di habitatnya. Bertanggungjawab di habitatnya. Beraktifitas di habitatnya. Bergerak atau di gerakkan di habitatnya pula. Lantas apa peduli manusia pada non-habitatnya? Menjadi tanggungjawab realitas bahwa manusia harus melakukan sesuatu terhadap kenyataan yang ia temui. Siapa yang menderita bila lingkungan menjadi rusak? Siapa yang susah ketika bencana menimpa tempat tinggal? Tentunya, bukan orang lain di luar habitat yang akan ‘merasa sial’.

Hahaha, saya ingin sekali menertawakan solidaritas. Saya juga ingin sekali menertawakan kemanusiaan atau bentuk-bentuk kepedulian yang terlihat seperti sebuah kebaikan lainnya. Saya melihat orang berjuang di luar ‘rumahnya’. Jauh, bahkan jauh sekali dari tempat tinggalnya. Lihat! Kubangan jalan aspal di halaman rumahnya. Lihat juga atap bocor di sudut dapur istrinya. Siapa peduli? Bukankah ia telah menjadi pahlawan dengan berteriak di mimbar jalanan di depan istana? Bukankah ia menjadi tokoh kemanusiaan ketika berkoar-koar di koran pagi?

Saya kira, seandainya manusia berpikir untuk diri dan lingkungan sekitarnya, itu sudah cukup. Sementara akan ada orang yang terlena ketika haknya di perjuangkan habis-habisan oleh ‘saudaranya’ di pelosok sana. Siapa peduli kerusakan ekosistem lokal, jika hidup menjadi lebih mudah dengan Mall di samping rumah? Siapa peduli dengan ilmu pengetahuan, sedang informasi selalu tersaji di kamar tidur, di televisi?

Saya sering kali merasa di tampar. Begitu banyak aktifis yang jorok. Panutan yang tak memiliki otoritas terhadap dirinya. Idola yang memiliki segudang masalah keluarga. Saya malu sekaligus sedih, ketika beberapa waktu lalu mendengar (dari seorang kawan) bahwa pentoran aktifis di kampusnya memiliki daftar her (ujian perbaikan) terpanjang pada masanya. Saya bingung dan resah.. Tapi itu hanya sebentar saja. Kembali saya merubah arah kendali pemikiran saya untuk memikirkan habitat saya. Saya tak ingin dunia hancur karena hal-hal seperti ini.

Andai semua orang memiliki proporsionalitas dalam bertindak dan berpikir. Andai semua premis pemikiran yang kita bangun tak terkontaminasi oleh konklusi-konklusi yang terlah jadi. Andai kita tak behitu terpengaruh oleh ideologi-ideologi yang mereka pasarkan. Andai. Sekali lagi andai!

Pola pemikiran kita hampir tercemar sempurna. Pola sikap kita hampir terinstitusi sempurna. Kini saatnya bagi kita untuk merubah paradigma. Saatnya untuk bergerak. Berontak dan bangkit! “Bisa?” saya rasa, mengapa tidak kita coba?

Mari bersama, membebasakan diri dari penjajahan akal dan hati. Carilah, siapa yang mengekang mu! Hantamlah! Carilah siapa yang memenjarakan benak mu! Tinjulah!

Saya tak ingin ini hanya menjadi retorika saja. Saya akan mulai dari diri saya. Saya juga seperti kawan semua. Merasa kesulitan untuk mencari tahu biang kerok semuanya. Beberapa bilangan waktu menjadi saksi mata kesulitan saya. Sebagian berkata “berhentilah!”. Tapi alhamdulillah masih saja ada yang memberi stimulasi energi. Saya melanjutkan perjalanan. Keluar dari tempurung yang sekarang terasa sempit sekali. (dulu saya merasa ia ruangan terluas dan indah!). Saya mencoba keluar dari penjara intelektual dan moral. Begitu sulit! Rantai belenggu yang di kalungkan awalnya saya kalungkan sendiri di kunci mati oleh orang-orang yang saya sanyangi. Mereka mengikat saya dalam terali oraganisasi. Mengurung saya dalam ruang persahabatan. Menyakitkan!

Saya tak bisa begitu saja meninggalkan orang-orang yang saya sayangi. Saya tak bisa membebaskan diri secara ragawi.
***Revolusi Hari Ini***

Arsip Blog

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina