Surat balasan buat seorang akhwat yang sudah mau curhat ke saya

Assalamu’alaikum,

Tentang hal yang saudari ceritakan waktu lalu, saya merasakan ada sesuatu yang baru. Maksudnya, saya kok sepertinya bertemu dengan sosok Kawan N yang baru yach. Atau memang dari dulu memang seperti itu, hanya saja yang yang kurang mengenal kawan sendiri.

Ah, lagi-lagi tentang “virus ini”. Saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah ini suatu keniscayaan hidup dalam proses menuju kedewasaan? Atau jangan2 ini hanya kesalahan pengelolaan perasaan? Tanyakan ini pada hati mu terlebih dahulu. Jangan buru-buru mem-vonis. Sebab seperti yang kita kenal selama ini, bahwa perempuan (saya lebih suka menyebutnya seperti ini; tau kenapa sepertinya kata “wanita” begitu kurang terhormat dalam pandangan saya) lebih memenangkan hati daripada akal. Jika ini benar, dan kita percaya, sudah seharusnya kita mencari keseimbangan dengan mengasah keduanya secara proporsional. Meskipun secara pribadi saya kurang setuju dengan pernyataan ini. Kenapa? Karena manusia itu pada dasarnya sama.

Saya mengenal Kawan N sebagai sosok yang penyayang dan mampu mengasuh kawan-kawannya. Saya rasa (atau saya pikir?), hal ini banyak disepakati orang (teman-teman kamu). Meski terkadang manja, mungkin ini karena Kawan N belum mendapatkan posisi untuk menjadi orang yang ‘diatas’. Kawan N yang santun dan mampu menghargai. Yang bersahabat, dan lain-lainnya. (Maap, kebanyakan memuji yach?).

Sekarang, saat ini, saya ingin coba untuk mengomentari c_hat yang Kawan N percayakan pada saya. Oiya, maap kalau ada kalimat2 yang menyinggung sebelum dan sesudahnya.

Cerita tentang beliau yang Kawan N cintai (saya pun ingin sekali mencintai beliau jika mendengar dari penuturan Kawan N) sebenarnya bukan pertama kali saya hadapi. Entah di alam mana, saya merasakan kesamaan kisah ini dengan apa yang ada di dalam benak saya (maksudnya yang saya alami). De ja vu! Saya juga punya kisah yang mirip dengan kisahnya Kawan N. Saat ini saya tidak bersama dengan kamu, juga tidak beserta tulisan c_hat, tapi saya merasakan ini sesuatu yang dekat dalam diri saya.

“Hey! Kamu sedang melakukan metamorfosis” Jika ini berhasil, kamu akan menjadi kupu-kupu yang cantik.

***

Alkisah tersebutlah seekor ulat yang mulai tumbuh dewasa. Ulat ini begitu riang menjalani hidupnya. Sampai suatu ketika, ia berjumpa dengan belahan jiwanya. Ia menjalin hubungan intra-personal yang begitu akrab. Begitu dekat dan lekat. Hubungan yang di ikat dengan tali hati dan simpul cinta. Simpul yang sulit untuk dilepaskan. Kalau pun bisa, hatinya akan terluka. Membekas dan sulit untuk dihilangkan.

Malang. Dia harus berpisah. Bukan karena keinginannya ataupun cintanya, tapi karena waktu memang harus memisahkan mereka. Bukan karena kepentingan, karena cinta di atas segalanya! Bukan juga karena kewajiban, sebab kewajiban ada dibawah cinta. Ulat itu kini sendir ditengan keramaian. Jiwanya sunyi. Padahal disekelilingan begitu banyak ulat-ulat yang begitu mempedulikannya. Sesekali ia tertawa kembali, namum air matanya akan menetes bila teringat akan cintanya. Dia punya banyak kawan, punya banyak sisis kehidupan, tapi tetap saja sepi.

Dia termenung, lalu terhenyak seketika. Alunan suara sayu itu terdengar “takdir memang kejam…”, entah dari mana asalnya. Tapi ia percaya takdir pasti baik. Lantas ia termenung kembali, lalu terhenyak kembali. Waktu lah yang kejam, ia yang memisahkan kamu dengan cintamu! Hampir saja ia mempercayai suara iblis ini. Apakah waktu kejam? Ah, saya rasa tidak. Waktu memang di ciptakan untuk menggilas siapa saja yang ‘berdiam diri’ dibawah naungannya. Ini sunnatulloh. Menurut saya, justru dengan membiarkan membelai kita lah itu telah berlaku dzolim.

Ulat itu mungkin akan bertanya pada saya. “kenapa membahas waktu? Bukankah saya tak pernah mempersoalkan waktu?” Ya! Betul sekali kawan Ulat J. Anda cerdas juga. Huehehe. Begini loh, saya ingin mencoba mengingatkan realitas yang sebenarnya begitu manis, meski tampak pahit.

“maksudnya?”
Waktu jua lah yang akan mengembalikan cinta kepangkuan kita. Kamu harus percaya ini! Hanya saja kita sering kali berbuat bodoh dengan mengklaim sesuatu sebagai cinta kita. Mungkin saya sering berbuat begini, tapi ini pertanyaan buat sang Ulat. Keyakinan seperti apa yang Ulat punya? Rasa apa yang selama ini ada? Jangan2 ini hanya prasangka. Kalau kata peribahasa mah “Ah, itu kan Cuma perasaan dek Ulat saja”.

Maap ya Ulat ku yang manis, jangan cemberut. Saya nggak bermaksud membuat kepala Ulat semakin bingung. Kenapa saya berputar-putar seperti ini? Kenapa nggak langsung jawab to the point. (Woi! Klo ada orang lain yang baca, bisa salah persepsi ney!). Saya hanya hendak mengajak Ulat untuk belajar terbang bersama. Sebab nantinya juga Ulat kan akan menjadi Kupu-kupu juga. Kita harus bisa terbang. Terbang yang tinggi! Ayo Ulat, mari mencoba! Di atas sana kamu akan bisa melihat sosok pujaan mu. Jangan bersedih melulu. Pejamkan mata mu. Biarkan kita mencoba untuk menjadi kupu-kupu. Paling tidak pikiran kita, perasaan kita. Kita harus bisa menjadikan pikiran dan perasaan kita menjadi kupu-kupu, sebelum masa itu benar-benar terjadi.

***

Ulat yang baik. Ups, maap! Maksud saya Kawan N. Lihatlah, seorang istri yang ditinggal suaminya berbulan-bulan. Dia tidak takut kehilangan sama sekali. Padahal lelaki itu miliknya sepenuhnya. Miliknya secara hukum dan komitmen. Apalah artinya, seseorang yang belum menjadi milik kita seutuhnya. Sebutlah kita hanya memiliki perasaannya. Lalu apa bedanya dengan orang yang hanya memiliki tubuhnya saja. Pasti beda! Iya lah pasti. Tapi, mohon untuk bijak dalam memahami tamsil-tamsil yang saya utarakan.

Dengan suara lantang saya sampaikan sebuah pertanyaan kepada lubnuk hati Kawan N, “Apakah kamu yakin seyakin-yakinnya dengan perasaan kamu, sedang akal mu tak kau hirau kan?”

Al Jauzi pernah bersyair.
Entah apa pesonanya yang memikat?
Atau akal ku benar-benar tak ada di tempat.

Cinta semau mu siapapun, dimanapun. Tapi ingat cintai ia dengan hati dan akal.

Oiya, mengenai hukum dan komitmen. Ada satu kalimat yang sangat mengena di hati dan pikiran saya: no rules just commitment. Jangan salah mengartikan yach. Ini berlaku untuk hal-hal tertentu. Biasanya hal ini sering berlaku untuk perasaan.

Terlalu panjang yach? Ya uda dech, sampai disini dulu.
Illa LiQo,
Wassalamu`alaikum warohmatulloh

#No Commitment before Marriage!
***Revolusi Hari Ini***

Political Manipulation

Maap! Sebelumnya saya ungkapkan kata “maap” pada semua kawan-kawan sekalian.
Tapi, saya agaknya sudah merasa cukup gatal untuk mendiamkannya terus-menerus dalam benak saya. Saya memang pernah mengutarakannya pada beberapa kawan (sebelumnya) secara abstak.
Apa? Apaan sich?! Ada yang bisa nebak…?
Ya, semua salah!
Ini adalah pemahaman (saya) terhadap “Islam yang apolitis”.
Islam non-politik adalah keuniversalan ajaran dan kekonprehensifan konsepsi.
Bagaimana ini menjukkan secara gamblang (kepada saya) apa itu “Jama`ah”, “Imamah” dan “Dakwah” –Paling tidak tiga hal ini yang menjadi sorotan saya.
Saya pernah…membenturkan benak saya pada partai politik berkali-kali. Hampir saja ia masuk menyublim dalam pemikiran saya…tapi (alhamdulillah) selalu gagal.
2 Parpol ternama sudah, saya bergulat dengannya. Dan tiba-tiba ingin sekali saya mengulang perkataan bapak proklamator indonesia: “Kita akan mengayuh sekoci ini diantara dua buah karang!” :D

1.
Jama`ah adalah kolektif massif kaum muslimin. Dan klaim-klaim atas Jama`ah yang bertentang secara frontal dengan ini, patut di pertanyakan. Adapun konsep-konsep yang prematur akan cenderung memecah belah kita (umat islam) menjadi beberapa fraksi.
Tak jadi soal jika ini terjadi dalam lingkup mu`amalah (politik praktis), tapi yang saya dapati justru fraksi-fraksi ideologi.

2.
Imam adalah pimpinan atas pengurusan permasalahan umat. Tak ada yang memberinya wewenang, kecuali adanya permasalahan. Tak ada yang membutuhkannya, kecuali karena umat menginginkan terselesaikannya permasalahan-permasalahan. “Terkutuklah siapapun yang menginginkannya jabatan ini!”
“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini pada siapapun yang memintanya atau yang berambisi untuk mendapatkannya.” (Al Hadits).
Imam tak memiliki otoritas mutlak dalam keberadaannya. Otoritas tertinggi kaum muslimin terletak pada sumber hukum (yakni Al Qur`an) yang berdasar pada aQidah. Inilah konsep Qiyadah Fikriyah yang saya anut sampai saat ini. Imam tak punya hak yang melebihi siapa yang mengangkatnya, kecuali sebatas wewenang yang telah di sepakati (oleh syara`). Karenanya Imam Negara tak berhak mengintervensi Imam Masjid atau Imam Keluarga (Keluarga bukan bagian terkecil dari Institusi Negara!). Semua memiliki ranah tersendiri, yang masing-masing bekerja tanpa saling bersimpang-siuran.

3.
Dakwah. Saat ini menjadi momok, minimal bagi diri saya sendiri. Saya sering mendengar; “keperntingan dakwah” lah, “aktifitas dakwah” lah, “lembaga dakwah” lah, “partai dakwah” lah. Ahhk! Saya pikir ini adalah taklif individu. Dan semua permasalahannya adalah masalah individu. Sebagaimana hisab atas hal ini pun terhadap individu. Lembaganya adalah lembaga personal, aktifitasnya pun aktifitas individu. Dan tiap diri adalah organisasi.
Lalu dimana posisi saya? Siapa saya dalam hal ini? Dari mana? “Saya dari LDF Mbak…Lembaga Dakwah Fardiyah”

4.
Politik bagi saya hanya sebagaian dari “urusan umat”. Aktifitasnya hanyalah sebagian dari sekian banyak aktifitas umat. Inilah politk! Politik dalam terminologi asalnya. Yang banyak di identifikasikan (didefinisikan) sebagai kekuasaan. Saya tak ingin lagi berkelit bahwa islam bukan politik, politik bukan islam. Tapi islam juga tidak samadengan politik, dan politik samadengan islam! Kita mesti melangkah ke tahap berpikir selanjutnya : “Islam mengatur politik dan politik adalah sub-sistem dari sistem islam”
Mungkin kawan-kawan akan menganggap proses dialektis saya ini terlalu sederhana dan ‘bodoh’. “Semua orang juga tau”, kata Anda dilubuk hati yang paling dalam. Apa iya? Kalau iya, apakah semua sadar dengan ucapan dan tindakan mereka?
Ada yang menjadikan politik sebagai worldview, setelah sebelumnya melakukkan islamisasi konsep. Saya jadi teringat tetang gerakan kontra partai oleh kaum anarchys. Orang Partai (manusia partai) bilang : “Tahi kucing di atas genting adalah sesuatu yang politis!”. Hahaha, padahal hujan tak menitikkan tahi ke atas genting. Tik, tik, tik bunyi hujan di atas genting…airnya turun (tuh kan!) tidak terkira…

5.
Politik lah yang telah merusak konsep Jama`ah, Imamah dan Dakwah! Politik itu kejam! Meski iwan fals mempertanyakannya dengan sinis. Tapi mau apa lagi…beginilah politik…
Akhirnya saya sedikit memahami kenapa ada ulama yang mengharamkan politik. J

6.
Paradigma Institusionis adalah kesalahan berpikir yang amat fatal. Sayangnya lagi, tak banyak yang menyadari akan hal ini. Apa yang di adopsi Partai, itulah yang ia adopsi. Padahal bukan tanpa sebab para pendiri Partai berijtihad. Masalahnya adalah proses berpikir! Bukan! Saya tak bermaksud memarjinalkan proses berpikir orang lain. Hanya saja, kebanyakan orang tidak seimbang atau adil dalam masalah ini.

7.
Atas nama tujuan, maka kita tak boleh melakukan distorsi. Apa yang sebenarnya adalah definisi haruslah tetap menjadi definisi. Dan apa yang yang sebenarnya hanya standar, akan tetap menjadi standar. Kita sering terjebak! Standarisasi dapat berubah menjadi definisi oleh sebab komunikasi hirarki. Inilah masalahnya! Ketika seseorang mengucapkan istilah dengan makna artificial (baca: Standarisasi), maka jangan lah sampai terjadi kesalahpahaman. Orang yang berpikiran terbuka, akan tetap bijaksana dalam situasi apapun.

8.
Maap. Menjadi Anarki…yach ini akhir yang saya simpulkan sebagai sebuah keniscayaan. Ingat selalu pasal 7, jangan anggap ini sebagai sebuah paham yang menyesatkan. Saya tak ingin membela diri atau lari.
***Revolusi Hari Ini***

LeaderSHITT!!! (Otonomi khusus ney)

OTO-REGULASI

Pengaturan terhadap diri tak boleh lepas dari kendali kita! Orang lain, siapa pun tak ada yang berhak mengambil alih kontrol ini. Sebab, eksistensi manusia adalah kemerdekaan dirinya, semenjak di nobatkan menjadi ‘khalifah fil ard’. Dan dengan ber-organisasi, banyak orang yang kehilangan kendali ini. Mereka memberikan otoritas dirinya kepada sesuatu atau seorang yang dianggap pantas mengatur. Ini kesalahan fatal. Perilaku seperti ini hanya dapa bergantung kepada sesuatu atau seseorang yang benar-benar mampu dan ideal mengatur. Sedikit saja ‘pemimpin’-nya menyimpang, maka semua akan jatuh ke jurang alienasi yang benar-benar jauh dari (sifat) kemanusiaan.

OTORITAS PERSONAL vis a vis KEPEMIMPINAN KOLEKTIF

Manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Maka setiap diri adalah seorang pemimpin. Ini adalah status yang telah ditetapkan dan dilekatkan pada nyawa kita. Tetap dan tak bisa berubah. Tidak seperti kepemimpinan status yang bersifat sementara, berubah sesuai ‘kesepakatan’.

Mengembalikan (atau mungkin lebih tepatnya menumbuhkan) Otoritas Personal berarti mengembalikan manusia pada fitrahnya, yakni merdeka. Setelah ini, maka babak kehidupan manusia mulai memasuki babak yang baru. Babak dimana ada begitu banyak kretifitas berpikir, kemandirian hidup, serta kelapangan hati. Babak yang merupakan babak spirit, yang akan memajukan peradaban manusia pada taraf yang paling tinggi. Tercapainya kemakmuran semesta yang belum pernah tercapai sepanjang sejarah kehidupan. Dan akhirnya timbullah egosentris positifistik.

Apakah Otoritas Personal akan menyeret manusia pada kekerdilan berpikir? Saya rasa tidak. Konsepsi ini juga tak akan membawa manusia menjadi seorang individualis yang sama seperti yang dialami oleh para penganut materialisme. Karena kita sepakat, bahwa kehancuran hanya akan terjadi jika manusia melanggar fitrahnya.

Masalah yang mungkin muncul akan terjadi ketika manusia –yang notabene makhluk sosial– mulai membagun hubungan-hubungan sosial (interaksi). Kita akan dihadapkan pada apa yang biasa disebut sebagai “sistem sosial", lantas didalamnya akan menjadi penting pembahasan tentang “kepemimpinan kolektif”. Status yang ada karena di adakan, yang muncul karena dimunculkan, dan yang lahir karena dilahirkan. Oleh siapa? “Kesepakatan!”. Ya, anggaplah ini sebagai kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Kebutuhan untuk hidup teratur, kebutuhan untuk bahagia dengan toleransi hati dan anarki akal. Ya, anggaplah ini sebagai keniscayaan atau tuntutan.

Salah jika kita menanggap “kepemimpinan kolektif” bersebrangan dengan “otoritas personal”. Sebenarnya ini saling melengkapi. Maksudnya, jika ruang kehidupan manusia terdiri dari ruang privat dan ruang publik, maka konsep Otoritas ini akan mengisi ruang-ruang itu secara proporsional.

NB: Leaders is function not position

[PasifisAnarki]
***Revolusi Hari Ini***

Keseimbangan

Saat dimana kemuliaan adalah kalimat sindiran. Dan kehormatan adalah cacian bagi para pejuangnya. Maka kita harus tegak, berdiri mentang, tak perlu dihadang, terus melawan! Sebab prjuangan selalu meniscayakan pengorbanan. Meski persahabatan, persaudaraan atau ikatan apapun harus terputus diantara balutan cita-cita.

Kawan..,
Hukum adalah segala hal yang harus di patuhi, semua hal untuk di taati. Sebab hukum bukan teori. Jika teori tak pasti, maka hukum tetap adanya. Teori di bangun atas dasar fakta, tapi hukum tidak. Hukumlah yang akan membentuk realita, hingga setiap fakta mesti di nilai dan di pandang berdasarkannya. Kita telah sepakat dan manusia harus sepakat. Bahwa Pencipta kita (manusia) lebih tahu anasir-anasir pembentuk/ penyusun alam semesta, kehidupan dan kita. Dia telah menetapkan aturan bagi kehidupan kita. Tak perlu berpikir lebih panjang lagi. Tak perlu merenung lebih dalam lagi. Telah menjadi kebenaran umum yang tak dapat di tolak (aksioma) jika jangkauan akal manusia terbatas. Dan banyak hal yang terjadi di luar dugaan dan kemampuan manusia membuktikannya. Siapa yang dapat menyangkal? Siapa yang dapat membantah sunnatulloh?

Kawan..,
Takdir memang di biarkan untuk memilih jalannya sendiri. Bagaimana manusia berusaha, berhasil dan gagal. Bagaimana manusia menyesal dan (atau) bangga atas pilihannya yang telah lalu. Kita telah di ajarkan tentang “berusaha dan berserah” (baca: ihktiar dan tawakal). Ini sebuah keseimbangan!

Banyak orang menyuarakan pembebasan. Meneriakkan Liberalisme atau mimpi-mimpi utopi lainnya (HAM, Demokrasi, Feminisme, etc.) Tetapi apa?! Mereka tak menyadari kesalahan berpikir dan logika irrasional dalam pemahaman mereka. “Manusia bertindak berdasarkan pemahamannya”. Ya! Sampai disinilah perjalanan akal mereka. Benak mereka -pikiran dan perasaan mereka- terpenjara oleh ide-ide ‘kebebasan’ absurd tersebut. Bagaimana mereka tidak bisa membebaskan diri mereka dari pengaruh budaya barat dan Kapitalisme. Padahal posisi dan fungsi yang telah di tetapkan adalah juga sebuah keseimbangan!


Kawan..,
Hak Asasi adalah hak untuk menghamba dan mengabdi. Musyawarah adalah kesetaraan hakiki untuk duduk, berbicara dan mendengar. Tetapi HAM telah menjadikan manusia sebagai hamba bagi sesamanya. Demokrasi menjadikan hawa nafsu di atas akal dan wahyu. Topeng macam apa ini? Bukankah ini bertentangan dengan fitrah? Jangan lupa, manusia juga mempunya tanggungjawab dan wewenang. Tanggungjawab Asasi dan Wewenang Asasi. Sesuatu yang menjadikan kehidupan manusia menjadi sesuai, seimbang dan harmoni.

Inilah penyikapan dan kedudukan yang sama-sama kita pahami. Seperti sinar matahari yang membakar tetapi juga memberi kehangatan. Membunuh sekaligus memberi kehidupan. Kita harus kuat. Kita harus tegas. Tegar memegang kebenaran dengan rangkulan yang paling mesra. Lembut tetapi penuh energi dan semangat, sehingga tak ada kekuatan apapun yang dapat melerai. Kita harus menggigit prinsip dengan graham kita. Hingga tak ada yang mampu mengambilnya dari mulut kita. Gigitan mesra yang romantis melebihi kecupan paling binal yang biasa dilakukkan para pelacur. Agar mereka yang biasa melacurkan prinsipnya malu karena ditelanjangi secara frontal oleh pandangan hidup kita.

Kawan..,
Ini sebuah keseimbangan. Sebagaimana polisi di ciptakan untuk menangkap para penjahat. Maka kita pun lahir untuk pekerjaan tertentu. Pekerjaan yang telah ditentukan job desk dan standard operational-nya oleh sosok yang menghadirkan kita disini.

[PasifisAnarki]


***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina