Harga Diri sebagai Komoditi

Di sebuah PTN, sebutlah Universitas Imajiner dalam sebuah acara, sebutlah BK seorang yang, sebutlah juga MC dengan angkuhnya menyuarakan ‘kebesaran-kebesaran’ PTN yang bersangkutan. Tak perlu saya tulis ulang rasanya, kalimat2 sombong yang keluar dari mulutnya. Saya jijik! Yang jelas ini menunjukkan betapa imagologi sangat begitu kental dengan kehidupan kita. Kita sadar, tapi tak tertipu.

Saya pikir awalnya PTN ini punya harga diri yang tinggi. Ternyata benar, harganya begitu tinggi. Yach sekitar xx xxx rupiah untuk 2 hari non-stop. Hebat! Hebat karena dalam dunia promosi, calon konsumen biasanya disuguhi sample produk secara gratis. Bahkan dalam beberapa ekspo, masyarakat (calon konsumen) memiliki akses bebas masuk keluar masuk ruangan pameran. Tapi yang ini…

Bahkan ada ‘kawan’ saya berseragam kuning yang berusaha men-stample tangan saya ketika ingin masuk ruangan setelah sebelumnya saya menunjukkan kartu identitas, yang juga kuning! Warna kuning memang kadang menyeramkan. Beberapa hari sebelumnya, kawan sempat tertantang dengan tawaran membakar jaket propertinya, (yang juga kuning!) untuk di bakar. Meski tak sempat terjadi ‘kerusuhan’, saya jadi balik berpikir…apa panitia dan penjaga stan BK ikut demonstrasi semua?

BK (kaya nama pil anjing ya?,red 1) (emang!, red 2) adalah salah satu ajang promosi, maaf PT BHMN UI. Biasa di ikuti oleh para pelajar ‘putih-abu’ yang memang berniat untuk studi di PT ternama. Entah dengan klaim mencari info tentang program studi, atau motivasi lain. Konon, acara ini adalah ‘gawean’ elit eksekutif yang paling melimpah ruah keuntunganya. Konon! Ya, seperti konon pula Universitas ini mempunyai trade mark yang tinggi.

Setelah heran dengan beberapa logika diatas, kita akan semakin heran dengan berbondong-bondongnya para pelajar mengunjungi acara ini. Ya, namanya juga anak-anak, tidak seperti mahasiswa yang konon lebih dewasa dan berpikiran jauh kedepan…gedung DPR atau istana negara. Jauh…jauh sekali! Sekedar berbagi pengetahuan, tidak semua orang berkeinginan untuk melanjutkan studi ke PT, disamping banyak juga yang ingin tapi tidak berkemampuan. (saya termasuk orang yang tidak berminat untuk kuliah saat SMU.)

Sekarang saya mengerti, merk memang bisa di jual di era krisis ini. Dan semakin mengerti pula saya, bahwa para pelajar tengah tawar-menawar untuk membeli produk merk almamater ini. Akhirnya, orang yang membeli merk akan menjual merk tersebut pula saat pasar membutuhkannya. Dengan harga yang tinggi tentunya. Ya, seharga kantor akuntan atau hukum, setinggi harga resep obat yang harus di tebus di apotik atau kantor pak dokter.
Mungkin ini bentuk rasionalisasi politik-ekonomi BHMN. Bahwa pendidikan adalah investasi. Bahwa kuliah adalah jual beli. Sayangnya sang pembeli tak mengerti benar baik-buruknya produk yang ia beli.

***Revolusi Hari Ini***

Menggagas “Local Movement”

Manusia hidup di habitatnya. Bertanggungjawab di habitatnya. Beraktifitas di habitatnya. Bergerak atau di gerakkan di habitatnya pula. Lantas apa peduli manusia pada non-habitatnya? Menjadi tanggungjawab realitas bahwa manusia harus melakukan sesuatu terhadap kenyataan yang ia temui. Siapa yang menderita bila lingkungan menjadi rusak? Siapa yang susah ketika bencana menimpa tempat tinggal? Tentunya, bukan orang lain di luar habitat yang akan ‘merasa sial’.

Hahaha, saya ingin sekali menertawakan solidaritas. Saya juga ingin sekali menertawakan kemanusiaan atau bentuk-bentuk kepedulian yang terlihat seperti sebuah kebaikan lainnya. Saya melihat orang berjuang di luar ‘rumahnya’. Jauh, bahkan jauh sekali dari tempat tinggalnya. Lihat! Kubangan jalan aspal di halaman rumahnya. Lihat juga atap bocor di sudut dapur istrinya. Siapa peduli? Bukankah ia telah menjadi pahlawan dengan berteriak di mimbar jalanan di depan istana? Bukankah ia menjadi tokoh kemanusiaan ketika berkoar-koar di koran pagi?

Saya kira, seandainya manusia berpikir untuk diri dan lingkungan sekitarnya, itu sudah cukup. Sementara akan ada orang yang terlena ketika haknya di perjuangkan habis-habisan oleh ‘saudaranya’ di pelosok sana. Siapa peduli kerusakan ekosistem lokal, jika hidup menjadi lebih mudah dengan Mall di samping rumah? Siapa peduli dengan ilmu pengetahuan, sedang informasi selalu tersaji di kamar tidur, di televisi?

Saya sering kali merasa di tampar. Begitu banyak aktifis yang jorok. Panutan yang tak memiliki otoritas terhadap dirinya. Idola yang memiliki segudang masalah keluarga. Saya malu sekaligus sedih, ketika beberapa waktu lalu mendengar (dari seorang kawan) bahwa pentoran aktifis di kampusnya memiliki daftar her (ujian perbaikan) terpanjang pada masanya. Saya bingung dan resah.. Tapi itu hanya sebentar saja. Kembali saya merubah arah kendali pemikiran saya untuk memikirkan habitat saya. Saya tak ingin dunia hancur karena hal-hal seperti ini.

Andai semua orang memiliki proporsionalitas dalam bertindak dan berpikir. Andai semua premis pemikiran yang kita bangun tak terkontaminasi oleh konklusi-konklusi yang terlah jadi. Andai kita tak behitu terpengaruh oleh ideologi-ideologi yang mereka pasarkan. Andai. Sekali lagi andai!

Pola pemikiran kita hampir tercemar sempurna. Pola sikap kita hampir terinstitusi sempurna. Kini saatnya bagi kita untuk merubah paradigma. Saatnya untuk bergerak. Berontak dan bangkit! “Bisa?” saya rasa, mengapa tidak kita coba?

Mari bersama, membebasakan diri dari penjajahan akal dan hati. Carilah, siapa yang mengekang mu! Hantamlah! Carilah siapa yang memenjarakan benak mu! Tinjulah!

Saya tak ingin ini hanya menjadi retorika saja. Saya akan mulai dari diri saya. Saya juga seperti kawan semua. Merasa kesulitan untuk mencari tahu biang kerok semuanya. Beberapa bilangan waktu menjadi saksi mata kesulitan saya. Sebagian berkata “berhentilah!”. Tapi alhamdulillah masih saja ada yang memberi stimulasi energi. Saya melanjutkan perjalanan. Keluar dari tempurung yang sekarang terasa sempit sekali. (dulu saya merasa ia ruangan terluas dan indah!). Saya mencoba keluar dari penjara intelektual dan moral. Begitu sulit! Rantai belenggu yang di kalungkan awalnya saya kalungkan sendiri di kunci mati oleh orang-orang yang saya sanyangi. Mereka mengikat saya dalam terali oraganisasi. Mengurung saya dalam ruang persahabatan. Menyakitkan!

Saya tak bisa begitu saja meninggalkan orang-orang yang saya sayangi. Saya tak bisa membebaskan diri secara ragawi.
***Revolusi Hari Ini***

Pengemis

Disana-sini demonstrasi. Seluruh negeri berdemokrasi. Lihat di belakang mu, seorang anak menangis kelaparan. Bukan karena ditariknya subsidi tapi simpati. Lihat di depan mu, seorang pasangan muda-mudi tertawa riang. Bukan karena kasmaran, tapi lantaran mereka masih bisa mengadahkan tangan.

Disana-sini demontrasi. Seluruh negeri berdemokrasi. Lihat di kanan mu, rumah-rumah kardus menanti belas sang tuan lagi. Sementara di kiri mu, gedung-gedung mulai berusaha mencakar-cakar kaki ilahi. Bukan! Bukan karena harga melonjak tinggi Tapi tak ada toleransi disini.

Disana-sini demontrasi. Seluruh negeri berdemokrasi. Lihat sekeliling mu, pemerintah berusaha sekuat tenaga menyelamatkan bangsa. Ditengah pengaruh dan tekanan vampir-vampir istana, di sela-sela bisingnya propaganda. Kita yang memeberi mandate kepadanya. Kita juga yang meminta mereka memimpin negeri ini (walaupun saya tidak ikur PEMILU saat itu). Lantas ditengah jalannya keringat dan letihnya tulang berulang mereka, kita malah menghajar dan menghisap keringat mereka. Untuk kemudian di jadikan bahan bakar pengganti BBM yang katanya mahal itu.

Disana-sini demontrasi. Seluruh negeri berdemokrasi. Di atas mu atap daun kelapa, di bawah mu papan berlapis tiga. Lalu engkau minta istana. Engkau minta derma penguasa.
Mereka wakil kita, kitalah ketua! Tetapi ada yang memilih menjadi budak, atau memposiskan dirinya sebagai hamba.

Penguasa, penguasaBerilah hamba subsidi, dan kenaikan gaji… (Fals)
***Revolusi Hari Ini***

Kosolidasi setengah hati...

Kita adalah mata, telinga dan hati masyarakat. Prinsip keseimbangan (tawazun) harus kita jaga dengan baik. Keseimbang yang berarti kelancaran distribusi, sekaligus optimalisasi potensi. Kita tidak akan membiarkan potensi kerkunci mati karena menghambat distribusi, tetapi kita juga tak boleh melakukan optimalisasi yang mengahmbar distribusi. Kita akan melakukan semuanya secara sinergis, intergral dan gradual.

Kita di tuntut untuk berkerja membangun system (selama sistem kita belum kuat). Tak ada kekuatan individu manapun yang dapat melakukan lompatan sejauh lompatan yang dilakukan oleh sistem. Kita percaya kekuatan berjamaah adalah sebuah quantum. Meski individu dapat melakukan sesuatu atau apapun, tetapi banyak hal yang tak mungkin dilakukan oleh kita sebagai posisi individu.

Kerja sistemik ini akan melewati tahapan-tahapan yang gradualistik, yakni berproses secara simultan menuju suatu akhir yang signifikan. Kita akan tetap berpegang pada metodologi dan konsep kita. Dengan demikian tak ada lagi alasan untuk menghalalkan segala cara demi keuntungan atau kepuasan semu.

Akhirnya, mari bergerak bersama! Mari makmurkan semesta!!!
[Glob@L]
***Revolusi Hari Ini***

Egosentrisme Positif

Kau lihat, seorang manusia rela memberikan nyawanya untuk orang lain.
Mengeluarkan hartanya untuk orang lain, tanpa kompensasi. Apakah yang terjadi dalam diri orang tersebut? Apa dia sudah gila, lantas dengan suka rela memberikan apa yang ia miliki untuk ‘orang asing’? Apa ada manusia yang siap kehilangan, bahkan tanpa imbalan? Ah, saya rasa ini aneh. Bahkan lebih aneh dari tampilan makhluk ghoib di televisi. Menyeramkan. Menakutkan. Sungguh!

Bukankah manusia itu punya naluri untuk mempertahankan eksistensi? Berusaha mempertahankan hak milik dan properti adalah sesuatu yang lazim. Lantas bagaimana mungkin, ada yang ‘ikhlas’ begitu saja menyerahkan apa yang sudah susah payah ia peroleh. Hasil kerja keras (juga cerdas!), yang disertai aliran keringat, air mata, dan darah. Ini tidak logis!

Jika di Barat, kau akan melihat orang memberi karena investasi. Jika di Timur kau melihat toleransi. Apa yang terjadi dengan orang ini? Ia bukan putra Barat atau Timur. Juga tak tepat bila disebut Selatan atau Utara. Ia adalah pusat bagi dirinya. Ia pusat bagi semesta. Ia bersih dan tak terkontaminasi. Meski pernah keluar masuk lumpur, ia telah bermandikan cahaya. Ahk, makhluk apa ini?

Dia lurus, jernih dan tak berafiliasi. Tiba-tiba di suatu saat, dia berikan air minum kehidupannya kepada kawannya. Pun demikian kawannya. Hingga yang terakhir, kemudia ingin mengembalikan hak kehidupan orang yang pertama. Tapi sayang, air itu telah menjadi tinta emas yang tak dapat di minum. Lantas tinta itu menuliskan dirinya sendiri untuk mereka “engkau pahlawan bagi dirimu sendiri!”

Kita masih berpikir tentang kemanusiaan? Kita masih bingung dengan analisis tadhiyah? Tapi, jiwa adalah segalanya. Apa mungkin ada pengorbanan untuk hal yang paling tinggi. Bukankah nilai satu jiwa adalah sama seperti keseluruhan? Satu adalah semua. Tapi semua bukan berarti satu…
Kita masih dapat bilang itu persahabatan atau persaudaraan. Tapi apa nilai dan fungsinya? Apa tujuan dan hikmahnya? Kita tak akan sering melihat hal seaneh ini. Apa itu berarti tak banyak persahabatan di bumi? Atau sedikit sekali persaudaraan disini? Hey! Jangan berpikir ini sejajar. Kalau saja mereka masih hidup, bahkan mungkin akan dengan mudahnya mereka menyerahkan hidupnya untuk anjing yang kehausan. Itu karena mereka tau, bahwa anjing tak pernah haus kuasa, haus harta, haus tahta atau wanita. Hausnya anjing tentu saja akan hilang dengan segelas air bening saja. Meski airnya tak sebening air kemasan yang mengalami berpuluh-puluh kali penyulingan. Meski airnya tak semahal harga segelas minyak tanah atau bensin.

***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina