Mimpi

Seperti mimpi, demokrasi pun tidak nyata. Orang akan terbangun dan sadar, cepat atau lambat. Karena tak ada mimpi yang abadi, sekalipun itu mimpi indah yang kita damba. Demokrasi adalah angan hampa. Khayalan yang memang senantiasa membuai orang yang mempercayainya.

Apakah ini mimpi indah? Sayang, kita tak benar-benar sedang tertidur. Dengan demikian, betapa punindahnya mimpi tersebut dan terlihat menyenangkan, waktu akan membunuhnya. Begitupun sang pemimpi, ia akan ikut terbunuh jika tidak beranjak.

Beranjak berarti sadar. Bangun dan melihat kenyataan. Bahwa selama ini kita terus menerus dibohongi. Bahkan membohongi diri sendiri, dengan episode-episode ‘kebebasan’, “kesetaraan’, dan ‘persamaan’. Kemudian kita akan bangkit, kembali merakit bahtera bersama-sama. Mengayuhnya untuk mengarungi samudera diantara karang-karang yang ada. Mari menuju surga!

Sekarang tinggal bagaimana kita memilih. Mau ikut? Atau tenggelam di samudera yang dalam.

23 Maret 2005


***Revolusi Hari Ini***

Pelaminan

Mendung

Moga tak selimuti pelaminan mu

Tapi hujan

Tetap ku harap

Merahmati rumah dan pintu mu

Moga tak ada petir

Menyambar singgasana

Moga peangi menjadi dipan

Tuan dan nona

26 Maret 2005, dedicated for Marla
***Revolusi Hari Ini***

Mengenang Perpustakaan

Salam!

Kaifa Halluk?
Afwan neeh...ga pernah atau jarang kumpul or dateng lagi ke Skul.
Maklum, kerja soial... Huehehe.
Iya! Beneran...saya lagi berpusing-pusing ria dengan segala permasalahan dunia perpustakaan.
Kenapa? Ah, jgn tanya gitu...ini masalah besar dan penting Bro, Sis!
Perpustakaan ibarat tiang penyangga bagi peradaban!
Tanpa perpustakaan...peradaban akan runtuh. Mungkin kawan2 akan berpikir saya terlalu berlebihan. Atau menganggap saya 'sok visioner'. Ah, terserah! Toh, walau bagaimana pun ini bidang keilmuan saya. Meskipun bukan ini alasan krusiannya sebenarnya.

Buku bagi seorang muslim adalah sesuatu yang sakral. Buku identik dengan ilmu. Bahkan di Era Guitenberg, buku merupakan satu2nya wasilah bagi transfer of record information. Demi Alloh, buku tidak pernah berdusta. Buku adalah sebaik-baik teman duduk.

Konon, tak ada Ulama yg tak memiliki perpustakaan pribadi. Konon, Ulama-ulama adalah penghasil karya tulis terbaik di zamannya masing masing. Saya tak tahu benar apa alasannya? Saya juga tak tahu kenapa kok rasanya itu adalah kebaikan yang besar. Yah, tiap diri Ulama kita berisi ilmu, dan dokumentasinya tertuang dalam kitab-kitab koleksi. Ini falsafah sejarah terpenting dalam dunia perpustakaan.

Perpustakaan terus berkembang. Keunggulan-keunggulan pribadi terus berusaha di tularkan ke masyarakat. Tradisi mengumpulkan buku (baca= membangun perpustakaan terus diwarisi. Hingga terwujudlah institusi pendidikan yang cukup berpengaruh di Cordova sepanjang sejarah pendidikan.

Sekarang di era "peer to peer", kolektifitas adalah keniscayaan. Kita butuh kekuatan bersama (jamaah) untuk menghasilkan hal yg sama. Perpustakaan pun...mewujud dalam bentuk yg lebih umum. yakni Perpustakaan Umum. Nilai dan falsafahnya masih sama: buku=ilmu.

Perpustakaan Umum memanifestasikan dirinya terbuka untuk seluruh anggota masyarakat. Ia berusaha mengingatkan kita akan pentingnya pengetahuan. Bahkan..ia berusaha menyadarkan kita bahwa "Informasi bukan komoditi!". Pengetahuan hak semua orang. Semua orang mempunyai Hak Terinformasi.

***

Ahgg!!! Sayang...itu semua teoritis-historis. Ya, bahkan nilai filosofisnya banyak di langgar oleh profesi dari keilmuaanya sendiri.

Andai...
ia ada disini
Andai...
kita bisa menikmati
Dunia dimana kita tak perlu lagi HAKI
Dan semua orang terinformasi

Andai...
Sekali lagi andai!
Ini tak hanya manifestasi ilusi
Tapi suatu visi yang akan kita jalani
Bersama...
Segera!
***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina