Pedagogy Hari Ini

Salam!
Pakabar semua? Moga senantiasa baik.
Saya ingin bicara banyaka hal! Beberapa kali saya menjumpai perbicangan mengenai ‘keluh-kesah’ sistem sekolah, juga gelisah untuk kuliah. Saya bingung ketika kompleksitas industri pendidikan ini tak dapat kita hancurkan. Dan sebagian besar dari kita masih harus tetap memaksa diri untuk masuk kedalamnya, menjadi bagian darinya. Ya! Menjadi siswa di pabrik pendidikan yang dirancang khusus untuk menjadi robot.

Saya teringat oleh kata-kata seorang ilmuwan muslim (saya lupa namanya!). Beliau yang notabene sudah mencapai grade yang cukup tinggi dari stratifikasi dunia ini menyatakan (kira-kira) begini: “...ketika saya menulis tesis saya, saya harus memaklumi bagaimana saya harus menjauhi realitas sosial dan membuang jauh2 rasa kemanusiaan saya…”
Hahaa! Maap klo saya harus tertawa. Sebab inilah yang akan dilalui oleh seorang ilmuwan pada masa kini. Kawan-kawan INSIST menyebutnya dengan “Kekufuran Epistemologis”

Kita bisa saja menghujat sistem pendidikan kita, bahkan kapitalisme global sebagai penyebab segalanya. Kita bisa saja untuk tetap berteriak-teriak “Tegakan Khilafah! Terapkan Syariah!”. Kita juga bisa saja turun kejalan untuk menghujat sekularisme. Kita bisa berbondong-bondong menuju Bunderan HI, tumpah ruah ke pusat pemerintahan, mengibarkan ar rayaah, dan melobi pemerintah. Tapi sayang…itu tak akan merubah kenyataan ini.

Maap, saya tidak menyatakan semua hal di atas sia-sia. Saya juga tak bermaksud membuat kawan2 pesimis. Tapi lihatlah lebih jauh…melompatlah lebih tinggi. Bahwasanya, keringat kita selama 4-8 tahun hanya akan semakin memapankan industrialisasi. Sebagaimana keringat kita selama 4- 8 jam di bunderan HI, hanya akan semakin memapankan kepercayaan publik kepada demokrasi! Ya, bahwa kita akan tetap berjuang. Ya, bahwa kita akan terus melawan. Tetapi hakikatnya ini adalah permainan ‘didalam’.

Pernah bermain game? Lihat berapa banyak ‘jagoan’ pilihan kita yang mati di tangan musuh? Ada juga beberapa kali yang bisa sampai level tertinggi, berhadapan langsung dengan ‘sang raja’… Yakin lah ini hanya permainan! Dan kita telah di permainkan…

Ada yang tertawa di depan layar. Ada yang tertawa di atas panggung. Tetapi tak banyak yang tahu tawa mereka di balik layar…dibelakang panggung.

Ah, semoga saja tak ada yang tersenyum dalam duka sistemik ini!
Saya melihat sebagian berkata :
“Lihat, nilai saya tinggi. Lihat saya di terima di UI…
Lihatlah prestasi kami…kenaikan standar me motivasi kami. Ini kompetisi.”
Huahaha! Segala puji bagi Alloh yang menjadikan saya sadar dengan hal ini. Segala puji bagi Alloh yang tidak menjadikan saya berkata seperti ini.


Segala puji bagi Alloh yang memberikan saya inspirasi untuk berkhayal bisa membakar ijazah sarjana saat wisuda (meski hanya khayalan!).
Saya beritahukan sekarang tentang konspirasi ini:
“Dalam setiap penaikan standarisasi niscaya ada penurunan kualitas(isi)”
Mudah sekali untuk memahami ini. Bagaimana seorang lulusan SD tahun puluhan tahun yang lalu lebih baik daripada lulusan SMA saat ini. Bagaimana seorang lulusan SD mampu bekerja, mandiri, melakukan segala sesuatunya dengan merdeka. Memilih kerja. Atau memilih untuk tidak bekerja. Memilih untuk menikah dan membeli sawah. Atau membajak sawah di ‘keramahan lokal’ yang belum terjajah.

Lihat kebahagian otonomi ini. Memilih untuk tidak bersekolah tak lebih hina dari mereka yang beruntung bisa belajar di tempat yang mewah! Setiap orang berhak menentukan hidupnya sendiri. Setiap orang berhak untuk belajar dimana pun, sebagaimana ia berhak untuk bekerja dimana pun…dengan siapa pun. Setiap orang berhak untuk tidak bersekolah/ kuliah. Setiap orang berhak belajar rumahnya, sebagaimana ia berhak untuk memiliki ruang kerja di samping kamarnya.

Dulu! Ya, dulu kala hegemoni belum menyentuh ‘keramahan lokal’. Dulu ketika tirani demokrasi belum menyelimuti tanah lahir kami. Masih adakah kini? Masih bisakah kami…

Saya beritahu Anda! Saya beritahu, agar yang tahu menjadi ingat kembali. Agar yang lupa menjadi sadar kembali. Bahwa setiap orang berhak untuk memilih sistem yang menaunginya. Sebagaimana seorang petani berhak memilih ubi atau singkong untuk mengisi petak-petak kebunnya yang masih kosong. Setiap orang berhak untuk bersistem, diakui ataupun tidak sama sekali.

Saya beritahu. Bahwa kalian berhak untuk tunduk atau menolak sistem ‘industri akademi’ ini. Kalian berhak untuk melawan sistem dari dalam atau dari luar. Kalian berhak memberontak di mana pun. Tapi satu hal! “Bebaskan akal dan hati dari doktrinasi! Bebaskan jiwa dari jerat-jerat lembaga!”…diakui atau tidak sama sekali.

Karena hanya dengan inilah kita masih bisa berkata merdeka…diakui atau tidak sama sekali. Karena hanya dengan ini Otoritas Personal ada. Karena hanya dengan ini otonomi moral mewujud nyata…diakui atau tidak sama sekali.
Ya, inilah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Tujuan yang sering kali dijadikan alasan untuk masuk kedunia ‘pelacuran’. Ya, pelacuran! Tempat melacurkan diri, melacurkan kesadaran dan revolusi. Tempat yang kalian berada di dalamnya. Tempat yang kalian sebentar lagi akan kalian tinggalkan, untuk menuju ‘kelas’ yang lebih tinggi. Untuk menjadi pelacur kelas atas yang di hormati. Apa? Sekolah!

Terdidik??? Bukan! Sekali lagi bukan! Bejibaku 4-8tahun di sekolah tidak menjadikan kita terdidik…tidak! Tidak sama sekali! Bejibaku 4-8tahun di sekolah tidak akan menjadikan kita terpelajar! Seberapa lama kita hidup di sekolah selama itulah waktu sekolah kita. Bejibaku 4-8tahun di sekolah hanya akan menjadikan kita TERSEKOLAH. Sekali lagi waktu sekolah, bukan waktu belajar.

Tempat belajar? Pelajar? Hahahaa, saya sudah berkali-kali berkata, bahwa ini sekolah! Sehingga tempatnya tidak layak di sebut lebih tinggi dari tempat sekolah. Sebab disinilah intelektual kita akan di lokalisasi. Disinilah status kita dimitoskan. Saya pertegas, bahwa kampus tempat kita kuliah (teman saya lebih senang menyebutnya “juz`iyah”) sebenarnya hanya sebuah LOKALISASI INTELEKTUAL, dimana pikiran kita akan di eksploitasi di dalamnya, hingga kita terasing sama sekali dengan dunia luar. Saya pertegas sekali lagi, bahwa “mahasiswa”, status yang di sematkan kepada kita hanyalah MAKHLUK MITOS yang sengaja di citrakan menjadi kelas tersendiri di dunia Postmo-liberalisme sekarang ini. Ya, kawan-kawan pelajar…yang saya cintai, kawan-kawan yang saya muliakan. Saat ini kita di-Pseudo-gloryfikasi-kan. Saat ini kita ‘disucikan’ secara semu. Kita yang semula puas dengan iming-iming “siswa” kini di-Maha-kan statusnya dengan segala ke-Maha-an yang dimiliki pemilik modal industri ini.

………wah! Saya rasa ini harus berhenti sampai disini. Saya takut dengan ini justru saya melakukan self-gloryfikasi yang nista itu.

“Yang tak bisa lebur niscaya hancur”
-SeorangPelajarAbadiYangHampirMenghianatiMetodologinyaSendiri-


***Revolusi Hari Ini***

Daulah?

"Filsafat di mulai dengan proposisi yang sulit untuk ditolak,dan di akhiri dengan proposisi yang sulit untuk di terima"
Konsep negara yang diajakan kepada saya (juga sebagian besar Anda, mungkin) berasal dari Barat. Semua argumentasi dan proposisi bermula dari sana. Tak ada sedikit pun (yang saya ketahui)...selain dari 'perjalanan sejarah' kenegaraan kecuali yang terikat erat dengan 'perkembangan' sekularisme.
Jika saya (dan orang2 seperti saya) masih mempertanyakan terminologi [Di, gak boleh pake "Terma" yach?] "Agama", dan masih menyangsikan ketepatan "Dien=Agama", menjadi wajar jika saya mempertanyakan "negara".
Bukankah pada mulanya, tiada...
Awalnya penuh dusta
Bilamana kini ia ada...
menjadi niscaya.
Ya! Seperti agama!"
Otoritas moral-individual adalah wujud kemerdekaan sejati, maka kemerdekaan adalah kebohongan"
***
Hampir setiap orang percaya dan menerima konsep kenegaraan.Seperti apakah negara?Apa urgensinya?Kenapa seolah ada stigma "bodoh" bagi orang yang menolaknya?Terakhir...apakah khilafah = negara?-yang terasing dalam kemapanan "negara"-
***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina