PASIFIS ANARKI (lagi!)

-1-
Musuh setiap agama adalah teroris
Musuh setiap negara adalah anarkis.

-2-
Sekularisme adalah pemisahan antara kehidupan agama dan negara.
Sekularisme ada, karena ada agama dan negara.
Musuh para Sekularis adalah teroris dan anarkis.

-3-
Sekularisme bertentangan dengan Islam
Sekularisme adalah solusi problematika Peradaban Barat.
Peradaban Barat dibesarkan oleh Tirani Gereja dan Raja.
Gereja adalah agama.
Raja adalah negara.
Rival ideologis Gereja adalah Teroris.
Rival ideologis Raja adalah Anarkis.

-4-
“Jika membela Haramain adalah sebuah kejahatan. Biarlah sejarah mencacat saya sebagai penjahat” [Ibn Ladin]
“You are with US, or you`re with terorist” [Geoge W Bush-shitt! –laknatulloh]
Yap! We are terorist.

-5-
Al Qaidah adalah teroris dunia.
Jamaah Islamiyah adalah jaringan teroris dunia.
Keduanya adalah musuh bersama umat manusia (kafir!).

-6-
Teroris biasa melakukan tindakan anarkis.
Seorang teroris biasanya juga seorang anarkis.
Kutukan agama dunia (kafir) bagi para teroris.
Kutukan negara dunia (kafir) bagi para anarkis.

-7-
Karakter muslim sejati melekat pada diri para teroris.
Pers –freemasonry- menyebut tindakan teror terhadap pemilik modal dengan “tindakan anarkis”.
Anarki adalah musuh Kapitalisme Global.
Kekuatan konspirasi (zionis) global sepakat untuk menyebut musuhnya (muslim) dengan Teroris dan Anarkis.

-8-
Sebagian muslim telah sadar dengan stigma ini.
Mereka yang sadar melakukan tindakan2 teror untuk menghantam inprastruktur Barat kemudian dengan bangga menyebut dirinya Teroris.
[peluk hangat untuk Imam Samudra, Amrozi, dkk teroris (muslim) lainnya]
Sebagian muslim belum sadar dengan permainan kata ini.
Mereka yang belum sadar masih saja membenci para Teroris dan Anarkis.

-9-
Sudah banyak yang berani menjadi Teroris.
Tapi masih begitu banyak yang membeci Anarkis.
Yang mendukung Teror masih belum mendukung Anarki.
Bahkan Anarki masih menjadi musuh bersama muslim dan kuffar.
Belum ada (muslim) yang setuju dengan konsep anarki.
Belum ada kelompok (muslim) anarkis sebagaimana belum ada yang berani merekonstruksi konsep negara (muslim!).

-10-
Setiap agama membutuh kan negara!
Negara adalah implementasi ideologis dari Agama
Negara adalah patner konspirasi Agama.

-11-
Agama adalah produk kebudayaan.
Agama diwariskan dari generasi ke generasi.
Kualitas muslim keturunan -biasanya- lebih rendah dari para muallaf.
Karna yang berislam dengan agama berari hanya mengikuti tradisi.
Islam bukan agama tradisi
Bahkan Islam bukan agama.
Karna agama produk kebudayaan, Islam membenci agama pada kadar tertentu.
Islam adalah risalah wahyu
Islam adalah Transaksi Kehidupan!
Islam adalah Risalah Amal
Islam adalah Keta’atan!
Islam sewaktu-waktu mungkin saja menjadi Agama.
Tapi Islam berbeda dengan agama.
Musuh islam adalah kafir dan bid’ah
Agama adalah keyakinan bid’ah
Setiap agama adalah bid’ah!
Kristen adalah bid’ah dari Risalah Isa
Judaism adalah bid’ah dari Ajaran Musa.

-12-
Pembenci sekularisme bisa jadi pendukung Teroris.
Tapi Anarki tetap menjadi musuh bersama.
Karna tanpa negara tak akan ada sekularisme!
Karna tak ada negara berarti tak ada pemisahan antara negara dan agama.
Sebagaimana jika tak ada agama, tak akan ada sekularisme!

-13-
Sekularisme sebenarnya tidak membenci agama.
Sekularisme lah yang membesarkan agama
Sekularisme membutuhkan agama untuk kelangsungan risalahnya.
Sekularisme membutuhkan negara untuk menjaga kelangsungan keduanya.

-14-
Bangkit lah para Anarkis!!!
Gelorakan semangat anarki!
Hidup kaum Anarki!
Hidup para Terorist!

-15-
Mari bersama hancurkan Sekularisme.
Mari bersama hancurkan agama.
Mari bersama hancurkan negara.


-PasifisAnarki-
Seorang yang sedang berTransaksi dengan Rabb-nya


***Revolusi Hari Ini***

Mengada dalam sunyi

24.07.2005 00:08
durasi 52:37 menit

“Pemahaman lebih penting dari pengalaman”

Bada` gempa, seorang kawan menelpon ku. Dia bercerika tentang banyak hal. Tentang hari-harinya kini, masa lalunya yang telah ‘ditutup-rapat’. Dia begitu akrab…
Manja dan mesra. Padahal… Entah bagaimana dan seperti apa aku harus memposisikannya. Karna aku sendiri bingung, bagamana jalinan hati kami bisa terbentuk-bertemu, bersambung dan menyatu?

Sosok yang sebenarnya belum ku kenal, tetapi begitu dekat. Amat dekat- bahkan sesaat barusan aku seperti merasa menjadi orang terdekat dalam hidupnya. Bukan sekedar memeluknya erat, bahkan lebih erat dan dekat melebihi kedekatan syahwat. Ah, ‘dekapan’ itu… Dekapan yang sampai saat ini belum mampu ku tafsirkan dengan logika mahasiswa. Suaranya telah tiada. Tapi “ada”-nya masih tetap ku rasa.

Ya, biarlah! Biarkan rasa ini menemani ku sampai pagi. Sampai matahari datang di pagi hari. Sampai gelap dan sunyi pergi. Biarkan bayangnya tetap menghantui ku di tengah belantara hutan takdir Sang Tuhan sepanjang tahun…

Sampai aku menyelesaikan sesuatu… seperti inginnya, “lakukan sesuatu!”
Seperti lantunan niat berbalut janji ku padanya: tentang kehidupan mendatang. Tentang peradaban manusia.



SUNYI TERTINGGI

Hampir saja ku tulis syair tentang engkau
Sunyi tertinggi di malam hari

Saat ku termenung berkaca langit
Dan purnama ibarat lampu yang menemani
Tanpa pernah di nyalakan
Tak bisa di padamkan.

***Revolusi Hari Ini***

Manusia-Dewasa-Tanda-Tanya

Manusia ketika ia dilahirkan, maka kemanusiaan serta merta menyertainya. Akan tetapi, setelah ia mulai tumbuh dewasa terkadang malah membunuh kemanusiaannya sendiri. Bukan hanya itu! Manusia menyiksanya dalam pesakitan dalam waktu yangg lama. Hingga kematian itu tidak terasa sama sekali. Yach, saat itulah kematiaan hakiki! Ketika mati tak lagi dirasakan. Ketika sakit dianggap sebagai takdir buruk yg patut disesali dengan jeritan.

Manusia belajar untuk hidup. Tahun pertamanya ia habiskan untuk belajar memahami! Bukan hanya meniru, seperti animo umumnya, tetapi jauh lebih dari itu. Dia mempelajari konsep kehidupan secara konprehensif. Belajar tentang bagaimana ‘belajar’ yang ideal, juga bagaimana menjadi pelajar yang ideal.

Kemudian, tumbuhlah ia sebagai makhluk dewasa. Yang mempunyai kesadaran penuh –dalam proposisinya sebagai manusia- untuk berkehendak, untuk memilih dan menentukan. Tapi manusia sering kali salah dalam banyak hal. Kuasa yang dikaruniakan kepadanya, sering kali tak mampu ia emban dengan sebaik-baiknya. Bahkan untuk bertanggungtawab ia pun harus diajarkan terlebih dahulu. Kenapa? Sebab awalnya “tanggungjawab” hanya sebuah kata tanpa makna yang bisa saja di sinonimkan dengan “lepas tangan”, “lari” dan banyak kata lainnya (yang notabene memiliki makna berlawan dalam kaidah kebahasaan).

Betapa lemahnya. Bahkan ketika manusia menyebut dirinya sebagai “manusia dewasa”, ia sering lupa! Dia adalah jiwa yang sama dengan waktu masih balita dulu. Dia juga memiliki aliran darah dan denyut nadi yang dulu. Meski dalam pandangan penciptanya bisa saja ia menyebutnya sebagai kehidupan.

Satu-satunya ciri yang dimiliki manusia dewasa –dan yang membedakannya dengan dia sebelumnya– yaitu keberadaan akal pada dirinya. Kendati tidak atau belum digunakan, akal adalah “wahyu kedua” setelah kitab suci. Akal adalah hidayah, petunjuk untuk membedakan, memisahkan, menyatukan, mengadakan, meniadakan, dan memikirkan sesuatu. Sesuatu disini adalah “dunia luar” selain dirinya, termasuk jasad yang sering ia klaim sebagai keberadaannya.

Adapun sifat kekanak-kanak dalam diri seseorang hanyalah masa lalu yang belum sempat ia lupakan. Ia terlalu larut dengan kehidupan. Terlalu memegang kehidupan sebagai sesuatu yang mutlak ia miliki. Kekanak-kanakan adalah nostagia hura-hura, romansa zaman purba dan masa kejahiliyahan yang pernah ada. Fakta atau realitas? Tidak keduanya! Ia harus menjadi sejarah. Dan kita harus belajar darinya.

Mengapa lantas, ketika manusia mengklaim bahwa sejarah terus berulang ia menjadi stagnan? Padahal pengumpulan fakta –yang telah ia lalui – seharusnya berakumulasi menjadi pengetahuan. Dan setelah berpengetahuan seharusnya ia menjadi bijak. Apa itu bijak? Saya mendefinisikannya sebagai “pergerakan pasif”. Ia bisa saja berdiam diri dan terlihat tidak peduli, tapi sejatinya ia terus bergerak, mengalir dan bertarung dalam dialektika. Bijak hanya bicara ketika ia memang harus bicara (dalam waktu dana tempat yang tepat). Bijak tidak menjawab setiap pertanyaan yang datang kepadanya, sebelum ia memastikan apakah pertanyaan-pertanyaan itu tertuju untuk dirinya sepenuhnya. Dalam kancah diskusi hidup, bisa atau sering di jumpai pertanyaan-pertanyaan nyasar atau pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu di jawab.

***

Tradisi bertanya memang baik. Saya tak bermaksud melawan tradisi ini (meski saya adalah seorang penentang tradisi/kelaziman), sebab itu adalah sebuah kebodohan. Hanya saja, saya ingin mengajak semua untuk benar-benar memastikan semua pertanyaan yang ada. Tentunya semua sepakat bahwa ketidakpastian merupakan hal terbesar yang sering bahkan selalu mengusik gerak kita. Kita butuh kepastian, termasuk kepastian terhadap pertanyaan-pertanyaan tadi.

Bertanyalah dengan pasti, dan pastikan setiap pertanyaan yang datang dari diri kita juga orang lain adalah tepat sasaran.

***
Kebijaksanaan memang suatu keagungan dari kemanusiaan, tapi tentu saja bijak tak boleh lebih tinggi dari kemanusiaan itu sendiri. Kebijaksanaan yang dimiliki seseorang haruslah menjadikan dia sebagai manusia yang sebenar-benarnya. Tidaklah dapat disebut bijak, jika karna pertimbangan strategis manusia melakukan sesuatu tanpa menyertakan hati. Hati disini adalah pikiran dan perasaan.

***Revolusi Hari Ini***

Manifesto Awal LIMITS

Kolektif ini mengklaim dirinya sebagai sebuah perkumpulan lintas kampus, lintas gerakan. Kolektif berusaha untuk indipendent, tidak terikat dan menjaga jarak dari afiliasi terhadap kelompok tertentu. Kolektif ini lahir dari semangat untuk mengurangi perbedaan dan meminimalisir pertentangan diantara kaum muslimin. Kolektif berusaha berbuat semaksimal mungkin, sejauh dan sebesar apa yang kolektif punya, dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang banyak disana-sini.

26 Juni 2005 disebuah kontrakan di daerah Salemba, berdirilah Kolektif ini dengan formasi yang masih sangat sederhana. Meski demikian tiap-tiap individu kolektif berusaha untuk kompak, solid dan saling mengisi dan berbagi. Dengan latar belakang yang beragam, Kolektif memulai ‘proyek’ percontohan ukhuwah yang indah. Induividu-induvidu di Kolektif sepakat untuk menghilangkan ego kepentingan kelompok dan menanggalkan ‘baju’organisasi, minimal saat berada dan mengada dalam Kolektif. Adapun ini merupakan perwujudan kemerdekan individu dan kebebasan untuk tidak tunduk pada mainsteam kelompok-kelompok yang sudah mapan.

Kolektif ini menghormati dan sangat mengahormati usaha-usaha yang dilakukan oleh kaum muslimin dimanapun dan kapanpun, selama tidak menyimpang pada hal-hal pokok yang sudah disepakati oleh para generasi terdahulu. Kolektif menghargai dan sangat menghargai upaya yang selama ini dilakukan oleh berbagai kalangan dari kaum muslimin, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Oleh karenanya Kolektif sadar dan akan terus memperbaharui gerakannya demi kemaslahatan (syari‘at) semesta, dengan mengadopsi segala kebaikan dan menyingkirkan kekurangan/kelalaian yang pernah dilakukan oleh para pendahulu.

Kolektif mengutamakan orisinalitas dan proporsinalitas dalam segala hal. Proses tabanni (adopsi) pemikiran dan pola gerak Kolektif berdasarkan pada 2 prisip di atas. Dengan demikian, kolektif nantinya akan menghasilkan banyak ide kreatif dan terobosan-terobosan kritis guna penegakan pilar-pilar peradaban (tamaddun) dalam rangka proses perwujudan islam sebagai pimpinan semesta (qiyadatul ‘alam).

Kolektif berusaha mensinergikan perjuangan fundamentalnya dengan gerakan pertengahan (populer) umat, selama tidak bertentangan secara esensial. Ini dikarenakan Kolektif menyadari bahwasanya begitu banyak saudara-saudar kita yang berkonsentrasi pada ranah tersebut. Sehingga kolektif merasa perlu untuk berkoordinasi dan bersinergi dengan “kolektif-kolektif tengahan” yang ada.

Kolektif mewujudkan pegiatnya untuk menjadi manusia muslim seutuhnya. Merdeka dan dewasa. Manusia yang senantiasa siap untuk bergerak dimana pun ia berada. Kolektif mengabaikan status anggotanya di organ lain, tanpa me-nir-kan peran dan fungsi keberadaannya di tempat tersebut.
Kolektif mendorong dan men-support anggotanya untuk tetap hidup berjamaah dimanapun ia tinggal. Agar tiap anggota kolektif tidak memisahkan diri dengan masyarakat, dan bahkan bersinergi dengan segala sumber daya yang ada dihadapannya.

***Revolusi Hari Ini***

Manifesto Kolektif 1

Kolektif Kaum Muda – Pasti Jaya


Kaum muda bersatu, bergerak bersama. Kaum muda mewujudkan peradaban dunia, dengan dasar nilai-nilai keyakinan yang kokoh; Aqidah Islamiyyah. Membangun sebuah komunitas sebagai bentuk subkultur yang bermakna ketidakpuasannya terhadap mainstream kebudayaan yang tengah menghegemoni diri dan masyarakat kini.

Kaum muda bangkit, sadar akan keterpurukan. Kaum muda tersadarkan untuk menyadarkan sekitarnya. Menghadang serangan anasir asing yang bertentangan secara hakiki dengan Transaksi Kehidupannya (ad Dien). Sebuah pilihan atas permasalahan utama; memilih berarti siap menerima konsekuensi. Memilih berarti menceburkandiri. Memilih, melibatkan diri dalam masalah. Memilih revolusi berarti memilih berperang, menceburkan diri dalam pertempuran. Memilih jalan ini berarti memilih untuk melibatkan seluruh syaraf dan denyut nadi berhadapan dengan mati.

Saat ini, dimana telah terlihat wajah asli konsekuensi demokrasi dan metanarasi yang menjadi derivasinya, kami memilih untuk menjadi rival diametral dan oposisi utama. Kami, yang meski dengan segala terperdaya yang ada memilih untuk berdaya upaya. Kami, yang meski berkapasitas tertentu tapi tak punya kapabilitas kecuali amat terbatas yakin untuk memilih keyakinan ini.

Memilih untuk tidak menerima pilihan lain selain jalan ini adalah seperti memilih untuk berpesta ganja, atau berkerja membangunistana. Kami yakin ada hari esok. Kami yakin banyak yang terperosok. Tapi jalan ini tetap elok, paling tidak di mata kami yang berpandangan untuk tidak pernah berbelok. Semesta pandang kami adalah surga. Cita-cita kami Taman nan mesra. Seperti kehidupan saat ini yang kami pilih untuk tidak bermanja pada dunia. Mesra adalah asa untuk berjuang. Bukan sekedar romantisme zaman purba, dongeng-dongeng senjakala.

Oleh karena segala permasalahlah itulah, keberadaan kami adalah niscaya adanya. Kebersamaan kami dengan serta merta membuktikan keseimbangan semesta. YA, keseimbangan yang bukannya tak kenal beda. Tapi ketika hitam telah begitu pekat, putih wajib melekat lebih erat.

Inilah Kolektif kami! Proposisi kebangkitan masa depan. Instrument kebangkitan yang siap digunakan oleh siapapun yang akan mewujudkannya. Bukan untuk kemapanan status quo, tapi lebih kepada realisasi kehendak bagi pihak yang selama ini K.O.

Inilah Kolektif kami! Batu karang yang siap menjadi fondasi bangunan. Tapi jika tidak, kami tetap rela dipecah berkeping-keping guna menjadi pelengkap keindahan pot bunga di Taman surga. Kami siap diposisi manapun. Karena kami ada dimanapun.

***Revolusi Hari Ini***

dilematika

-1-

“Wa `alaikumussalam”
Pikiran saya menerawang. Entah kearah mana. Saya berusaha mengejar perjalanan dia, yang sepertinya semakin jauh menyimpang. Saya langsung menghidupkan PC. Rasa kantuk saya hilang, dan...berjuta sangkaan menghantam pikiran saya saat ini.
**

Saya hampir tertidur lelap. Ring tone Siemen membangunkan saya. Terdengar suara seorang akhwat disebrang sana. Bla..bla..bla apa yang terjadi dengan dunia?!

Dia, yang saya kenal kritis...kini benar2 kritis. Tapi berbeda! Kritisnya yang dulu adalah keingintahuaan yang meluap, semangat dan gejolak. Kini, kritis itu bermakna batas nadir jurang kehidupan.

Saudari, ku tulis ini dengan hati. Meski mungkin hati mu tak tersentuh, saya tak peduli. Seperti ketidakpedulian mu pada mereka, kawan-kawan lama mu. Tapi, saya beri tahu bahwa saya bukan seorang yang mencari-cari kesempatan. Saya juga bukan orang yang hanya ‘menyapa jika perlu’. Saya sahabat kamu, yang bersedia mendengar dan berbagi cerita. Meski dengan demikian kamu harus mentraktir saya makan. Tapi bukan itu substansinya! Kita sama2 senang, bukan?

Hey! Saya tak ingin membenci mu suatu saat. Saya juga tak berharap menangisi mu suatu saat. Ya..ya..suatu saat dimana (mungkin) kita akan berdiri pada diametral yang paling frontal. Sebagai musuh? Wa allohu `alam. Suatu saat, dimana ketulusan memaksa saya membenci kamu. Suatu saat yang meski rasa saya masih sama, tapi sikap saya akan lain. Lain sama sekali!

Saudari, mari duduk bersama kembali. Dengan saya, mereka dan semua yang pernah duduk bersama mu dalam majlis kebaikan. Mengertilah! Temukan hakikat “jalan ini”, ditengah kabut zaman yang memang jua takdirnya. Saudari, hari ini para penyeru itu tak selalu membawa madu. Ada randu, debu bahkan candu. Tapi bukan seperti itu yang harus kau pilih. Sebagaimana kita telah sepakat untuk tidak ‘memilih’. Atau untuk hidup ‘tanpa ikatan’ dan afiliasi buta.

Ya, kita memang telah berdamai tentang hal ini. Tapi bukan seperti ini yang saya maksudkan. Maap jika penjelasan saya waktu itu tak tuntas. Kembalilah! Sejauh mana pun kau telah melangkah. Kau salah jalan saudari ku.

Saudari ku, saya sobat kecil mu ini tak akan bergeser dari “jalan” yang dulu saya nyatakan. Perubahan aktifitas ini bukan penghianatan saudari! Sekali lagi, bukan penghianatan. Saya belum lagi berubah. Saya belum beranjak dari sisi kehidupan yang kemarin. Duduk lah kembali. Saya yakin kamu punya keberanian untuk berbalik kebelakang. Berbalik untuk meninggalkan dan menanggalkan semua yang saat ini menyelimuti mu.

Saat ini, dari kesadaran yang paling terang dalam jiwa saya, mengajak kamu, saudari ku untuk berpikir dengan jernih ihwal kehidupan. Tentang kebaikan yang tersamarkan. Tentang kebodohan yang terjaga. Serta hasrat yang harus selalu dikendalikan.

“Tetaplah dalam jamaah!” ya, dari lisan ikrar saya, kembali saya sampaikan. “Berpegang teguh lah!”. Saudari ku, mungkin engkau sudah mendengar kalimat ini berulang-ulang kali. Dan mungkin kau telah bosan. Muntah lah, jika kau ingin muntah karena kalimat itu. Paling tidak saat kau muntah, iblis dalam diri mu berkurang satu. Muntah lah! Karena saat ini saya melihat terlalu banyak sisi gelap mu kawan...

“Gigit lah akar itu” jika kau memang masih punya graham. Atau larilah ke lereng gunung, mungkin itu jauh lebih baik dari pada kau pergi ke klab malam.

Jangan marah kawan...sebab saya disini masih dengan ketenangan dan kesyahduan hubungan kita. Saya masih yang seperti kita bertemu dahulu. Tapi sepertinya, setiap ucapanku harus lebih di perjelas dalam berbagai laras.
**

-2-

Mereka yang tertipu, menjadikan “jalan ini” sebagai objek studi. Mereka hanya datang sepekan sekali untuk agar tetap dianggap hanif. Paling tidak, sebagai pasal pembelaan terhadap nuraninya saat di adili setiap malam. “Saya juga ngaji kok!”

Saya ingin sekali tertawa. Ya, saya ingin tertawa, tapi tak kuasa. Ada air mata di dalam jiwa. Ada linangan di hadapan durja. Ada hamparan yang sempurna. Di kedua sisinya, kudapati fitrah manusia.
**

-3-

Ahhgg, saya tak ingin mengkategorikan kamu sebagai korban. Saya takut kamu benar2 akan menjadi korban. Mari lah pejuang, kemarilah! Bangkit dengan romantisme yang dulu kau punya. Berontak sepenuh jiwa raga.


Buat Saudari ku
Buat Saudara ku
Aku tak ingin melihat mu bertaubat berulang kali.

-4-

Kawan, tiap detik mu pasti di hisab!
Islam adalah Transaksi Kehidupan yang sempurna, akan di dzohir kan di atas semua Transaksi. Walau pun manusia ingkar akan membenci.
Perbaharui akad mu, sempurnakan Transaksi mu. Engkau tengah berjual-beli dengan Sang Empunya ruang dan waktu.

NB : Untuk tikaman paling terdalam yang kau terima, bayar lah dengan apa yang kau rasa pantas untuk orang itu. Aku, saudara mu!



***Revolusi Hari Ini***

message

Wahai sekalian manusia, bulan yang agung lagi penuh berkah telah menaungi kalian. Bulan yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah jadikan puasanya sebagai kewajiban dan qiyam di malam harinya sebagai tatthowu (amalan sunnah).
Siapa yang bertaqorrub (mendekatkan diri kepada Allah) didalamnya dengan satu bentuk kebaikan, maka samalah dengan orang yang mengerjakan satu fardlu di bulan lainnya. Dan siapa yang mengerjakan fardlu didalamnya, maka samalah dengan orang yang mengerjakan 70 fardlu di bulan lainnya.
Ia adalah bulan sabar, sedang pahala sabar adalah syurga. Ia adalah bulan santunan, dan bulan dimana rizki seorang mukmin akan ditambah. Siapa yang memberi buka kepada orang yang berpuasa di dalamnya, maka yang demikian itu menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya, pembebasan dirinya dari api neraka dan memperoleh pahala yang sama
dengan orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahalanya.
Para shahabat bertanya: Ya Rasululloh, tidak setiap kami mendapati apa yang akan diberikan untuk buka orang yang berpuasa . Maka Rasulullah saw menjawab Allah memberikan pahala ini kepada siapa yang memberi buka orang puasa dengan satu
biji kurma, atau seteguk air atau susu yang sudah dicampur dengan air sekalipun.
Ia adalah bulan yang permulaannya adalah rahmah, dan pertengahannya adalah maghfirah, sedang penghujungnya adalah pembebasan dari api neraka.
Siapa yang meringankan kerja pembantunya, maka Allah berikan maghfirah kepadanya dan Allah bebaskan dia dari neraka. Perbanyaklah 4 hal, yang 2 untuk memperoleh ridlo Tuhan kalian, dan 2 hal lagi pasti kalian butuhkan. Adapun 2 hal untuk mendapatkan ridlo Tuhan kalian adalah bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (Asyhaduan la
ilaha illa lohi) dan beristighfar kepada-Nya (Astaghfirullah). Sedang 2 hal lagi yang pasti
kalian butuhkan adalah kalian meminta syurga kepada-Nya (as alukal jannah) dan memohan perlindungan-Nya dari api neraka (wa audubika minan nar).
Siapa yang memberi minum kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku (saat di padang masyar) dengan minuman yang dia tidak merasa haus lagi sampai masuk syurga.

***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina