HaKI dan Masalah Plagiarisme

I. Pengantar HaKI : Sebuah Isu Global

Globalisasi, bagi sementara orang mungkin ditanggapi dengan biasa saja karena dianggap sebagai kata klise tak bermakna jelas, sementara yang lain menanggapi dengan was-was karena mungkin memahami sejumlah konsekuensi yang mungkin timbul atau sebagian lain bersikap pasrah tanpa melakukan antisipasi apapun. Inti globalisasi adalah harmonisasi atau penyelarasan nilai-nilai (values) di seluruh dunia. Penyelarasan nilai-nilai tersebut dilakukan antara lain melalui serangkaian kampanye nilai dengan menggunakan berbagai media yang kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan antar negara-negara yang merasa memiliki persepsi dan kepentingan yang sama. Kemudian diwujudkan menjadi serangkaian peraturan-peraturan international yang mengikat pihak-pihak yang meratifikasinya. Sehingga tercipta standar perlakuan yang sama bagi pihak-pihak tersebut.

Pertanyaan yang muncul adalah nilai-nilai apa yang akan dijadikan acuan dan kemampuan pemahaman terhadap values tersebut, karena ini bisa menentukan who rules the world dan berpotensi menyebabkan clash of civilization seperti yang diramalkan Huntington. Terlepas dari adanya potensi konflik yang mungkin timbul, yang jelas era globalisasi telah datang dan Indonesia harus mencermati dan mengantisipasi isu-isu penting dalam globalisasi.

I.1 Tinjauan Historis

Sedikitnya ada lima isu penting dalam globalisasi yang oleh sebagian pengamat Indonesia dikatakan sebagai Pancasila dunia, yaitu hak asasi manusia, demokratisasi, lingkungan, standar internasional dalam bidang industri dan hak atas kekayaan intelektual.

Hak-hak atas Kekayaan Intelektual atau HaKI yang diterjemahkan dari Intellectual Property Rights (IPR) sebagaimana isu global yang lain, tidak hanya perangkat peraturan akan tetapi sudah menjadi sistem nilai yang berakar sejak lama di negara maju (Baca : Negara Kapitalis).

Kalau dilihat secara historis, undang-undang mengenai HaKI pertama kali ada di Venice, Italia yang menyangkut masalah paten pada tahun 1470. Caxton, Galileo dan Guttenberg tercatat sebagai penemu-penemu yang muncul dalam kurun waktu tersebut dan mempunyai hak monopoli atas penemuan mereka. Hukum-hukum tentang paten tersebut kemudian diadopsi oleh kerajaan Inggris di jaman TUDOR tahun 1500-an dan kemudian lahir hukum mengenai paten pertama di Inggris yaitu Statute of Monopolies (1623). Amerika Serikat baru mempunyai undang-undang paten tahun 1791.

Upaya harmonisasi dalam bidang HaKI pertama kali terjadi tahun 1883 dengan lahirnya Paris Convention untuk masalah paten, merek dagang dan desain. Kemudian Berne Convention 1886 untuk masalah copyright atau hak cipta. Tujuan dari konvensi-konvensi tersebut antara lain standarisasi, pembahasan masalah baru, tukar menukar informasi, perlindungan mimimum dan prosedur mendapatkan hak. Kedua konvensi itu kemudian membentuk biro administratif bernama the United International Bureau for the Protection of Intellectual Property yang kemudian dikenal dengan nama World Intellectual Property Organisation (WIPO). WIPO kemudian menjadi badan administratif khusus di bawah PBB yang menangani masalah HaKI anggota PBB.

Pada kesempatan yang berlainan diselenggarakan perundingan di Uruguay (Uruguay Round) disponsori oleh Amerika yang membahas tarif dan perdagangan dunia yang kemudian melahirkan kesepakatan mengenai tarif dan perdagangan GATT (1994) dan kemudian melahirkan World Trade Organisation (WTO).

Kemudian terjadi kesepakatan antara WIPO dan WTO dimana WTO mengadopsi peraturan mengenai HaKI dari WIPO yang kemudian dikaitkan dengan masalah perdagangan dan tarif dalam perjanjian Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) untuk diterapkan pada anggotanya. Indonesia sebagai anggota WTO telah meratifikasi perjanjian tersebut tahun 1995.

I.2 HaKI Sebagai Peluang atau Ancaman

Jika dilihat dari latar belakang historis mengenai HaKI terlihat bahwa di negara barat (western) penghargaan atas kekayaan intelektual atau apapun hasil olah pikir individu sudah sangat lama diterapkan dalam budaya mereka yang kemudian diterjemahkan dalam perundang-undangan.

HaKI bagi masyarakat barat bukanlah sekedar perangkat hukum yang digunakan hanya untuk perlindungan terhadap hasil karya intelektual seseorang akan tetapi dipakai sebagai alat strategi usaha dimana karena suatu penemuan dikomersialkan maka diperlukan perlindungan yang memadai untuk mencegah sengketa dagang dan bukan untuk tujuan perlindungan itu sendiri.

Sehingga penghargaan negara yang berupa pemberian hak monopoli kepada pencipta kekayaan intelektual, memungkinkan pencipta atau penemu tersebut dapat mengeksploitasi ciptaan/penemuannya secara ekonomi. Hasil dari komersialisasi penemuan tersebut memungkinkan pencipta karya intelektual untuk terus berkarya dan meningkatkan mutu karyanya dan menjadi contoh bagi individu atau pihak lain, sehingga akan timbul keinginan pihak lain untuk juga dapat berkarya dengan lebih baik sehingga timbul kompetisi.

Pada akhirnya konsumenlah yang diuntungkan dengan kondisi ini, karena akan muncul banyak pemain dalam bidang bisnis. Timbulnya kartel dengan sendirinya dapat diminimalisasi, barang tersedia dalam jumlah yang mencukupi dan dengan kualitas yang semakin lama semakin baik.

Untuk mengantisipasi timbulnya persaingan tidak sehat, misalnya seseorang menjadi terlalu unggul, sehingga menguasai yang terlalu besar dan memungkinkan timbulnya pemaksaan terhadap konsumen, maka diciptakan peraturan anti persaingan tidak sehat atau Unfair Competition Law. Seperti kasus Microsoft yang diduga bertindak curang oleh Netscape melalui Unfair Competition. Sebagai pemegang mayoritas pangsa pasar software sistem operasi, Microsoft menciptakan software internet yang dijadikan satu paket dengan software sistem operasi mereka, dan menimbulkan "pemaksaan" terhadap konsumen. Unfair Competition Law merupakan perangkat hukum yang komplementer bagi rejim HaKI yang lain.

Dari kasus Inggris, juga dapat disimpulkan bahwa telah terjadi perubahan sosial yang signifikan setelah diundangkannya peraturan tentang HaKI khususnya paten tahun 1623, karena memicu budaya mencipta oleh masyarakatnya, ditandai dengan munculnya penemuan penemuan baru dalam bidang teknologi yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya revolusi industri tahun 1789 dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sesuaikah kebijakan ini di terapkan di negeri yang mempunyai tradisi toleransi, dengan sejarah sebagai negeri agraris yang sudah mendarah daging. Meskipun Indonesia telah meratifikasi TRIPs dan sudah terlanjur terlibat dengan arus globalisasi. Dengan mengambil pengalaman negara-negara barat, Indonesia mempunyai pilihan dalam menghadapi isu HaKI; yakni menolak dan berontak, atau tunduk dan terjajah.

II. Mempertanyakan Kembali “Kepemilikan Intelektual”

"Kepemilikan Intelektual" yang diajarkan untuk kita hormati sejak kecil perlu dipertanyakan kembali. Ingat, "tidak ada hal baru dibawah siraman sinar matahari." Ketika kita masih anak-anak dan memiliki ide-ide yang menarik, orang yang lebih dewasa biasanya dengan cepat menunjukkan ide tersebut. Ide yang sebelumnya sudah pernah dicoba dan tidak berhasil berjalan dengan baik, atau seseorang lain telah memiliki ide tersebut dan telah mengembangkannya dalam level yang jauh lebih tinggi dari yang bisa dibayangkan anak tersebut. Apakah anak ini memiliki pemikiran yang orisinil? Ataukah ia akan kita sebut sebagai seorang yang kurang beruntung karena ia terlambat mengungkapkan idenya. Akhirnya, anak itu sadar bahwa ia baru dilahirkan belakangan setelah ide yang ada di pikiranya itu mapan dalam pikiran orang dewasa atau sudah mapan terlebih dahulu.

Meskipun logika seperti ini sudah sering kita pelajari dari kecil, namun logika tersebut mulai berubah dalam perkembangan ke arah kedewasaan, kita semakin posesif akan ide-ide kita. Konsep "Kepemilikan intelektual" tertanam dalam psikologi kolektif lebih dalam daripada konsep kepemilikan material. Sebagian intelektual menyatakan "kepemilikan adalah pencurian" dalam pengertian modal atau material, tetapi hanya sedikit yang berani menyatakan dan menerapkan pernyataan tersebut bagi ide-ide mereka. Bahkan ide tersebut bisa saja di patenkan…

Bahkan pemikir yang kelihatannya paling radikal sekalipun seringkali dengan lantang menyatakan ide mereka adalah yang pertama dan paling mendasar sekali lagi ide mereka. Konsekuensinya, banyak orang hanya melihat perbedaan yang kecil antara pemikir dan pikiran yang dihasilkannya. Hal terburuk yang dihasilkan pola ini adalah pemujaan bagi persona yang terkenal serta pemujaan para partisan akan pahlawan-pahlawan mereka. Selain menghasilkan anggapan bahwa ide-ide dan karya seni pahlawan-pahlawan mereka tersebut tidak terbantah kehebatannya, sementara sisanya yang memiliki keberatan dan penolakan akan ide tersebut secara umum biasanya sulit untuk tidak bersikap prejudis terhadap ide tersebut.

Sudah waktunya asumsi-asumsi "kepemilikan intelektual" diperhatian lebih dari yang selama ini kita berikan. Perlu dinyatakan terdapat banyak faktor yang menghasilkan kata-kata dan ide-ide yang dihasilkan seorang individual dan juga sangat bervariasi, termasuk didalamnya keadaan kultural dan sosial serta input-input yang diberikan orang lain padanya.

Untuk mengatakan sebuah ide memiliki asal muasal yang dapat terwujud dalam satu bentuk individual baik wanita maupun pria adalah sama dengan menggampangkan masalah. Tetapi kita sudah terbiasa mengklaim items dan objek-objek bagi diri kita sendiri, dan dipaksa untuk menerima klaim-klaim yang diajukan orang lain, dalam kompetisi yang sangat bersaing akan dominasi. Inilah kehidupan dalam pasar ekonomi, yang juga membuat kelihatannya merupakan hal yang alami untuk menerima klaim yang sama dalam dunia ide-ide. Tentu saja untuk memungkinkan hal ini diperlukan satu cara berfikir yang melingkupi ketentuan bagi kepemilikan akan ide. Dalam keadaan kita sekarang pendekatan "hak cipta" sangat berbahaya karena hanya menghasilkan pembodohan bagi publik akan "pemikir" dan "seniman" yang menjadi terkenal dengan membodohi Publik. Ketika ide-ide selalu diasosiasikan dengan nama-nama (faktanya, biasanya selalu dengan nama-nama yang sama) hal ini hanya akan mengacu pada kesimpulan berfikir dan mencipta adalah skill khusus yang dimiliki hanya oleh segelintir orang. Sebagai contoh, penghormatan yang berlebihan akan "seniman/budayawan" dalam budaya kita, yang didalamnya men-stereotype-kan seniman sebagai seorang "visioner" yang nyentrik serta eksis pada ujung terdepan masyarakat hal-hal yang mendorong banyak orang percaya seniman secara fundamental berbeda dari manusia lainnya.

Pada kenyataannya, setiap orang dapat menjadi seniman, dan kenyataannya memang setiap orang dalam satu segi mampu menjadi seniman, Tindakan kreatif adalah elemen penting bagi kebahagiaan manusia. Tetapi kemudian kita dibohongi dengan disuruh percaya berbuat kreatif dan berfikir kritis adalah sebuah `bakat` yang hanya dimiliki beberapa orang. Konsekuensinya kita bergantung pada segelintir orang akan banyaknya ide-ide yang akan kita bagi, serta membuat sisanya hanya menjadi penonton pasif bagi ide kreatif yang dilakukan orang lainnya--hal yang membuat seseorang menjadi terasing dan tidak puas. Bentuk lain kemunduran-kemunduran asosiasi kita akan ide spesifik seorang individu biasanya berbentuk promosi ide tersebut dalam bentuknya yang paling original (melalui kekuatan modal).

Kita ternyata masih mengutamakan ritual mengatasnamakan penghormatan akan pemikir-pemikir tua yang sudah mati, serta menganggapnya sebagai suatu tradisi untuk menjaga teks-teks dan teorinya sebagaimana ditulis daripada mencari bentuk baru atau konteks lain yang menawarkan pandangan yang berbeda, dalam proses pemumian demi ritual masa lalu ini banyak teori yang memiliki potensi menjadi tidak relevan dengan kondisi modern, sekarang sangat disayangkan karena teori-teori tersebut sebenarnya merupakan bagian dari mata ramntai proses pembaruan bila diperlakukan dengan lebih fleksibel. Ini semua menggambarkan penerimaan kita akan tradisi "kepemilikan Intelektual" memiliki efek negatif dalam penjelajahan untuk menjadikan pemikiran semakin kritis serta untuk mempelajari ulang peninggalan artistik dan filosofi kita. Pertanyaannya apa yang dapat kita lakukan dalam mengatasi masalah tersebut? Salah satu solusinya adalah: plagiarisme.


II.1 Plagiarisme dan Kemajuan Berfikir

Plagiarisme alias pembajakan adalah metode efektif untuk menyelaraskan dan me-reorganisasi ide-ide, dimana hal ini merupakan alat paling berguna bagi wanita dan pria yang menawarkan pemikiran baru dan menantang. Dimana metode ini merupakan hal yang revolusioner hingga tidak lagi menganggap hak-hak "kepemilikan Intelektual" tetapi malah menunjukkan perlawanan dengan menunjukkan efek-efek negatif kepemilikan intelektual tersebut. Plagiarisme memfokuskan perhatian pada isi dan jauh dari isu yang kebetulan, dengan membuat asal isi material tidak mungkin lagi terlacak. Lagipula seperti yang diusulkan diatas, dapat dibantah keaslian asal dari isi sumber plagiat yang diplagiat karena sangat tidak mungkin untuk menentukan siapa yang memplagiat apa kecuali sekedar aspirasi sama yang diekspresikan semangat isi tulisan, lagu ide atau apapun yang dibagikan. Dengan menuliskan nama baru, atau sama sekali tanpa nama dalam sebuah teks, seorang plagiator memberikan material tersebut dalam konteks yang sama sekali baru, hal ini juga akan menghasilkan perspektif dan pemikiran baru tentang subjek-subjek yang sebelumnya tidak terlihat. Plagiarisme juga membuat kemungkinan untuk mengkombinasikan bagian-bagian terbaik yang dimiliki tulisan, teks atau nomor, untuk kemudian menciptakan teks-teks baru yang memiliki semangatnya sendiri, sebagaimana juga efek-efek tidak terduga yang dihasilkan dengan membuka kunci makna-makna tersembunyi dengan menyatukan teks-teks yang selama bertahun tahun tidak pernah dimengerti. Terakhir dan diatas segalanya yang membuat Plagiarisme merupakan bagian dari perlawanan adalah tidak menerima ide-ide begitu saja: ketika seorang individu memplagiat teks yang dipercaya mereka yang dianggap ‘suci’ oleh mereka yang percaya pada kepemilikan intelektual berarti individu tersebut telah menolak perbedaan tingkatan antara dirinya dan pemikiran yang diambil dari pemikir tersebut. Dia mengambil pemikiran pemikir tersebut bagi dirinya sendiri, untuk mengekspresikannya sesuai yang dia anggap cocok, daripada memperlakukan pemikir tersebut sebagai satu otoritas yang karyanya harus dijaga dan dihormati seperti yang diingkan pemikir tersebut. Apa yang ditolak oleh pemlagiat tersebut adalah perbedaan fundamental antara pemikir tersebut dengan sisa manusia yang ada dibumi, yakni dengan memperlakukan material piker (ide) tersebut sebagai milik seluruh umat manusia.

Lagipula ide bagus harus dibagikan ke semua orang dimana bila benar-benar bagus, seharusnya menjadi milik semua orang dalam satu masyarakat yang mengorganisasikan kebahagiaan manusia sebagai objek. Hukum pelanggaran hak cipta dan batasan serta larangan hanya akan memperlambat distribusi dan usaha untuk menggabungkan ide-ide.

Sampai disini, yang seharusnya di tolak cukuplah pembajakan karya dalam arti sesungguhnya. Seperti dongeng tentang bajak laut atau perompak padang pasir. Ya, pencurian material adalah sebuah pelanggaran terhadap hokum kepemilikan material yang di akui oleh kultur kita secara historis.


II.2 Penutup

Kebijakan copyright adalah kebijakan absurd yang membuat individu-individu semakin sulit mencari material-material menantang yang menginspirasi mereka untuk membagi ide-ide mereka dengan sesamanya. Jadi bila memang benar :"tidak ada hal baru dibawah pancaran sinar matahari" maka ambil kalimat tersebut dan bertindaklah sesuai dengan kalimat tersebut. Ambillah hal-hal yang relevan dan kita butuhkan serta sesuai dengan kehidupan yang kita jalani meskipun hal tersebut berupa teori atau doktrin orang-orang yang hidup sebelum kita. Jangan takut untuk mereproduksi kata demi kata dari teks-teks yang baik, hingga kita bisa berbagi dengan manusia lainnya. Teruslah mencari tubuh yang dibangun dari pemikiran kritis dan kreatif, dengan elemen dari berbagai pemikiran yang berasal dari sebanyak-banyaknya sumber. Daripada hanya bergantung pada satu ideologi yang ditawarkan oleh globalisasi kepada kita.


***Pembajakan adalah Perlawanan***

Sumber bacaan :
• Romadoni, Ahdiar Ir. dan Tim Pengasuh Berita Penelitian ITB , Hak atas Kekayaan Intelektual dalam Berita Penelitian ITB. Bandung : 15 April 2000.
• http://www.kontra-kultur.tk (Manifesto Kontra Kultura)

***Revolusi Hari Ini***

Perilaku toleran yang tak ada di dalam ide toleransi.

Mari meneliti kembali ide toleransi. Ide yang menjadi dasar atas keseragaman individu atau yang biasa di propagandakan sebagai pluralisme.

Sikap ketidak-toleran-an (intoleran) justru sering hadir dalam pembahasan ide-ide atau wacana toleransi. Tidak ada toleransi sejatinya, tanpa keyakinan yang satu. Apa artinya? Tidak ada toleransi! Yang ada adalah penyeragaman keyakinan. Yang ada hanya hegemoni dari keyakianan yang berkuasa. Keyakinan yang belum tentu sesuai dengan fitrah kemanusiaan.

Manusia bisa hidup toleran tanpa ide toleransi. Manusia bisa hidup toleran tanpa kampanye ide toleransi. Bahkan ide ini justru sering membuat penganutnya menjadi angkuh dan tidak toleran sama sekali.

Toleransi hanyalah ide kosong yang membuai perasaan kemanusiaan setiap insan. Mereka yang tidak meyakini Transaksi hidup kepada Alloh, tak akan pernah bisa hidup toleran. Hal ini dapat dibuktikan, apabila mereka hidup pada masyarakat yang plural. Yakni apabila mereka bersinggungan atau berbaur dengan seorang yang Sangat Meyakini Transaksi Hidup manusia dengan Alloh.

Meskipun seorang yang menganut ide toleransi, biasanya juga mengkampanyekan ide pluralisme akan tetapi kita tidak tahu secara pasti pluralisme yang bagaimana? Pluralisme dalam hal apa? Secara umum, jika perhatikan maka semangat mereka ini hanya lahir dari kebencian terhadap agama dan pengalaman keagamaan. Motivasi memerangi pengalaman pahit keagamaan yang terlembaga. Sungguh, sesuatu yang sangat menyakitkan secara spiritual!.

Transaksi Hidup meniscayakan ketunggalan keyakinan akan agama dan keagamaan. Adapun mengenai hukum (baca:aturan kemanusiaan), hal ini dapat saja beragam dan fleksibel, selama aturan yang disepakati tidak bertentangan dengan Transaksi Hidup sejati.

[Labkom, 15 Desember 2005 12:58]

***Revolusi Hari Ini***

Kepada pemilik Arsy nan Maha Agung

Ya Alloh…
Berikanlah hamba ketetapan hati dan keteguhan dalam Islam
Jauhkan dari fitnah syahwat dari wanita
Jauhkan dari fitnah subhat dalam Transaksi (Dien)

Ya Alloh…
Jika Engkau mentakdirkan hamba syahid
Engkau akan menunjukkan jalannya
Dan Engkau pula yang akan membawa hamba kesana..

Ya Alloh…
Jadikanlah tanah kami tanah air Islam
Jadikan wilayah kami Daarul Islam

Ya Alloh…
tegakkan kepemimpinan Islam
Wujudkan kemenangan Islam
Sempurnakan kemuliaan-Mu
Kemuliaan Islam dan kaum muslimin

Ya Alloh…
tunaikan janji-Mu pada mu’minin
Hamba mohon Idzaharul Islam
Kehidupan Nabawi di tempat tinggal kami,
Di negeri kami, di wilayah hidup kaum muslimin

Ya Alloh…
daulatkan Qur’an.
Gabungkan kami dalam Daarul Qur’an al Marhamah al Munawaroh

Ya Alloh…
berikan kesehatan dan kekuatan
Kepada Hamba-Mu
Berikan keimanan dan keistiqomahan…

Ya Alloh…
eratkan ukhuwah kaum muslimin
Persatukan hati-hati kami

Ya Alloh…
gentarkan musuh-musuh-Mu
Musuh-musuh Islam dan kaum muslimin
Kecutkan semangat mereka
Ciutkan nyali mereka

Ya Alloh…
Jadikan keluarga kami sebagai keluarga Islam
Yang menunaikan sholat dengan Haq
Yang menunaikan zakat dengan Haq
Yang menyempurnakan Transaksi (Dien) dengan Haq

Ya Alloh…
Jadikan kami Ahlu Ribat (Murabitun) yang Haq
Ahlu Jihad (Mujahidun) yang Haq
Ahlu Hijrah (Muhajirun) yang Haq
Berikan pada kami
kekuatan Fisik dan Hujjah

***Revolusi Hari Ini***

NB: Salam hormat untuk Ihsan Tandjung, yang insya Alloh akan membacakan kalimat ini di Tanah Haram

Surat untuk Pelacur

Ran, pakabar? Kamu pasti akan menjawab “kabar buruk!”. Padahal dulu selalu terlantun “alhamdulillah, ana bi khoir”. Kenapa Ran? Kamu gak mo muji Alloh lagi sich? Cuma gara2 kamu benci ma yang namanya tuhan? Ran, kamu kok jadi angkuh begitu? Padahal kamu benci ma tuhan gara2 kesombongannya. Lantas kenapa kamu berlaku sama...

Ahk, kamu gak mau kan kalau saya jadi membeci kamu gara-gara kamu seperti ini. Yach, sama seperti halnya kamu membenci tuhan. Saya dan orang lain pun bisa jadi akan membenci mu Ran. Tapi mungkin kamu gak peduli. Toh, kamu masih tetap menjadi kan kaum saya sebagai objek ‘uji intelektual’ mu. Ya, sama seperti halnya ketidaterlalu-pedulian tuhan pada yang membencinya. Kamu masih saja mencoba membenturkan nalar mu. Kenapa tak kau tinggalkan saja logika mu. Biarlah semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Sang Maha Segala. Bukankah kamu juga percaya, bahwa semuanya, ya semua yang terjadi adalah kehendak tuhan. Bahkan tuhan membiarkan kamu untuk membencinya. Ya kan..?

Kamu tau gak, kenapa tuhan selalu saja membuat mu kesal? Itu karena dia ingin sekali agar kamu mengingatnya. Dan ini adalah sesuatu yang kamu benci juga kan..? Hahaha, lihat Ran, tuhan tertawa. Lagi-lagi tuhan berhasil berbuat sekehendaknya.

Ran, kamu tau gak, kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang menghujat kuasa tuhan? Ini konspirasi Ran. Tuhan lagi-lagi ingin menunjukkan ke-Maha Segala-annya kepada kita, manusia. Dan tuhan berhasil! Dia mampu membuat syetan untuk tetap memusuhinya. Ia menjaga agar syetan tetap mendendam kepada-Nya. Ini agar tercipta keseimbangan Ran. Bukankah keseimbangan itu kehidupan? Keharmonisan?

Syetan tetap dibiarkan untuk membuat makar yang besar. Makar yang mencoba menandingi makarnya tuhan. Juga masih dengan kuasa tuhan. Ia ingin menunjukkan pada kita, bahwa walau bagaimana pun, walau semuanya (termasuk kita) membenci tuhan, itu tidak mengurangi sedikitpun kursi-Nya. Dia hebat ya... Kamu yang notabene khalifatulloh juga dibiarkan menjadi pembela syetan. Ah...gak ngaruh Ran!

Ran, sekarang kamu lagi sama siapa? Lelaki yang mana lagi? Siapa lagi yang hendak kau jadikan objek? Kamu gak adil Ran. Ini seperti ide feminisme yang nggak proporsional. Menyalahkan pelaku kejahatan dengan gender. Padahal jahat adalah jahat. Baik adalah baik. Jangan kita samakan jahat dengan kaum tertentu. Lelaki yang jahat memang penjahat. Tapi penjahat belum tentu lelaki jahat. Bisa jadi perempuan. Ya kan..? Iya, seperti kamu yang meracuni seorang lelaki yang sudah ‘berpunya’. Ini kejahatan juga Ran. Tapi meski demikian, jahat bukanlah perempuan jahat!

Ran, saya jadi ingin diskusi dengan kamu. Semalaman Ran! Ya, sepanjang malam. Sepanjang waktu terlama yang pernah kamu hamburkan untuk kenistaan lelaki jahat dan diri mu. Sepanjang daftar gugatan mu terhadap tuhan. Kamu mau gak?

Eh, Ran... Tapi kok saya tiba2 jadi takut yach. Jangan2 saya akan dijadikan objek ‘uji nalar’ mu lagi. Ahggk, ga. Gak! Saya gak boleh berprasangka buruk. Saya gak boleh melakukkan kesalahan seperti yang kamu lakukan. Ya, kesalahan sangka! Menyangka buruk terhadap lelaki. Menyangka buruk pada tuhan. Oiya, kamu masih percaya gak kalo “tuhan sebagaimana prasangka kita”?

Oiya, kamu gak suka terma “tuhan” yah. Maap yach, bukan maksud saya untuk membuat mu kesal Ran. Saya gak sejahat itu kok. Saya gak sejahat tuhan yang tega membiarkan kamu benci pada saya. Saya gak cukup berani. Bahkan saya bukan tuhan yang katanya punya kuasa untuk tetap di benci. Saya sama seperti kamu. Tak beda di mata tuhan (ups maap). Atau siapa pun lah...

Ran, saya jadi bingung kalo gini terus. Saya belum bisa melepaskan atau menghapuskan terma “tuhan” dalam kamus saya. Sulit Ran. Saya bukan pemikir ato retoris yang hebat untuk menjungkir balikkan konsep “kata dan makna” sekaligus. OK deh, karna saya yang punya hajat untuk ngobrol bareng kamu. Saya ikutin gaya kamu. Kamu pake gaya apa?
(eh, ini bukan gaya ‘main tubuh’ loh!)

Apa??? Iblis? Hmmm, gak da yang lain Ran..? Saya takut chaos ney. Gimana yah... Trus kamu mo pake terma apa untuk nama rival dari Iblis Yang Maha Segala itu?
... Jangan “tuhan” dunk... Please!

OK deh, daripada gak jadi ‘kencan’. Saya ikutin kamu. Tapi sebelumnya...”Sebesar itukah kebencianmu pada tuhan?”

***
Perempuan bercerita banyak hal tentang kehidupannya. Tentang masa lalu yang kelam. Tentang penghianatan, kemunafikan dan topeng-topeng retoris yang ia jumpai. Kiran mengalami kehidupan yang begitu pahit. Bahkan pengalaman yang paling terpahit yang pernah saya dengar. Saya pernah mendengar dia berkata; “tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur!”
Entah, permohonan ini menunjukkan bahwa ia masih percaya pada tuhan. Atau mungkin ini wujud ketidakkonsistenan pola pikirnya.
***

OK, kalau kamu bilang bahwa tuhan berhianat dan iblis beriman, lantas pada siapa iblis beriman? Dan pada siapa tuhan berhianat?

Siapa yang kamu ibadahi? Dan apa nama yang akan kamu sematkan pada “siapa” yang kamu ibadahi tadi?

Oiya, kamu juga gak setuju dengan konsep ibadah yah... Anggap aja yang namanya “ibadah sosial” bener-bener ada. Ato gak, gini aja deh. Siapa yang kamu anggap suci, tinggi dan angung melebihi diri mu? Jawab! Ran, kamu tuh gak mo di jadiin objek tapi slalu ngobjek (maksudnya menjadikan orang lain sebagai objek).

Sekarang saya cuma mo bilang, “kamu gila, Ran!”. Eh, jangan2 kamu kesurupan kalee... Kamu menghakimi semua lelaki yang pernah tidur dengan kamu (entah meniduri atau ditiduri) sebagai penjahat. Lantas siapa yang lebih jahat?

Kecuali kamu mo ngaku kalo kamu berkepribadian ganda. Ya, 2 jiwa dalam 1 tubuh. Atau 2 diri : jiwa dan tubuh. Gmn? Kamu pilih yang mana?
Nah, kalo gini kan saya jadi gampang memahami kamu. Tinggal bagaimana kamu berusaha memahami saya nantinya. Huehehe
Sehingga ketika kamu sedang ‘bermain’ dengan seorang lelaki, kamu bisa bilang dia jahat. Karna kamu adalah korban, dan kamu yang lain adalah hakim. ????? . Tubuh kamu sebagai korban dan objek sebagaimana tubuh si lelaki, dan jiwa kamu adalah hakim yang tetap suci. Tapi saya tetep masih bingung Ran, bagaimana dengan jiwa si lelaki.
(Eh, lelaki ini bukan saya loh!)

[ibrahim khidir]
Lana a`maluna Walakum a`malukum

***Revolusi Hari Ini***

EKOLOGI PERBANKAN

“Mba, transfer” sapa saya ramah sambil dikit senyum. “Iya, BCA”
“Cabang mana?” “Bina Nusantara…”
“Oh, BINUS… Tapi bea-nya besar loh Mas”

Hari ke-2

Berangkat setelah selesai berjibaku dengan kerjaan rumah. Sosok yang sepertinya saya kenal menawakan diri jasa ojek. Owh, kawan saya. “Ehm, gratisan neeh”. “Lagi cari bensin…” Huehehehe. Anjrit! Oportunis juga neh orang. (sama aja!).

“Lewat sini aja yah, takut di tagih gope”. “Terserahlah…yang penting nyampe”. Sampai di tempat yang tidak biasanya. Kawan saya langsung menghilang beberapa detik kemudian. Dasar oportunis. Huehehe.

Panas euy! Di angkot cuma be-3.. Tinggal be-2, ma anak SMA. Ngerasa paling tua,setelah supir…untungnya dia segera turun. Ehm, paling muda sendiri di angkot! (setelah supir. He9X)

Jalan cepat. Selain panas, juga gak nyaman lewat pasar. Apalagi mo ke BCA yang ada di pasar. Loh, pintu otomatis neh? Hehe, pak satpam yang bukain toh. Nggleuk! Antrian panjang. Bisa lama deh, mana mo tutup lagi.

“Mas, mask lo mo transfer ke KCP lain pake slip setor yah?” Setelah di iya-kan, saya langsung nulis secepatnya, juga se-hati-hati mungkin no rekening yang di maksud.

Sejenak. Saya melihat banyak tumpukan uang kertas. Hampir setiap orang yang antri, membawa gepokan uang kertas dalam tas-nya. Saya lihat ke teller (bukan teller mabok!), sama juga. Saya pikir ini percepatan laju uang. Atau perputaran harta? Atau percepatan distribusi? Ah, tapi janggal! Gak da barang jual-beli disini. Saya pikir ulang. Saya masih mengamati khalayak.

INI TRANSAKSI FIKTIF!!!, dalam hati saya.

Dingin. Ya, kapitalisme memang dingin (disamping disiplin). Saya heran melihat wanita tua (karena lebih tua dari saya), tak merasa dingin sedikit pun, padahal dia lebih terbuka dari saya (pakaiannya!). Ya, kapitalisme memang begitu dingin. Orang2 yang terlibat di dalamnya pun lambat laun menjadi dingin. Dan diantara manusia dingin ini, ada yang tetap nyaman dengan tingkahnya yang seperti mayat, seperti robot! Tapi ada juga yang berusaha untuk memanusiakan dirinya di tengah iklim kapitalisme yang dingin. Dengan apa? Yap! Dengan menghangatkan diri. Cari kehangatan… Ngerti kan? Itu loh bercinta. ML…ML. (bukan Mind-less!).

Giliran saya semakin dekat. Sementara tepat di belakang saya, seorang lelaki tua (karma lebih tua dari saya!) terlihat tidak sabar. Katanya sih, lagi ada meeting di hotel tidak jauh dari sini. Saya hanya tersenyum. “Maju dunk, biar lega” ujar lelaki tua itu. “Kalo udah lega hati-nya, manusia kan bias tenang”, tambahnya. ??? Shufi juga neh orang.

Tiba giliran saya. Saya maju dengan gagahnya. Tanpa sedikit pun malu. Meski hanya menenteng 2 lembar uang, yang totalnya di hargai oleh kesepakatan manusia Indonesia dengan nilai DUA PULUH LIMA RIBU RUPIAH. Saya cuek! Meski disekeliling saya orang2 memegang lembaran kertas lebih banyak. Toh, di sini “Dingin”! Ini juga hanya transaksi fiktif dengan alat tukar bernilai ekstrinsik yang notabene hanya kesepakatan dibawah ketakutan hukum positif, yang sejatinya merupakan bagian atau sub-sistem dari tatanan paling negative sepanjang sejarah peradaban kehidupan manusia; sistem dajjal!

“Tahapan atau Giro, Mas?” lelaki tua (karna lebih tua dari saya!) yang pada saat ini di beri status “teller” oleh system dingin ini. Mana saya tau?! Lagian emang penting apa tau ‘Tahapan’ atau ‘Giro’. Saya kan cuma mo nyetor uang ke rekening seseorang. “Hmm, mungkin Tahapan…” saya ga mo kelihatan bodoh dunk. Tapi ternyata saya dibodohi. Hasil pencarian melalui system computer ‘dingin’ menyimpulkan kalo nomor rekening yg dimaksud a.d.a.l.a.h. GIRO. Dezigh!

“Cuma 25000 yah Mas?” Iya! Kok nanya sih. Kami beradu tatap. Saya bingung. Tapi dia pun terlihat bingun. Ups, pintu masuk syetan. Saya mulai kesal. Tapi saya langsung tersenyum ‘tulus’. Saya pikir ini satu2-nya cara untuk memperbaiki keadaan. “Minimal 30.000, Mas.” Kedegarannya sih begitu. Saya memotong cepat. “Ya udah, tambahin jadi 30.000”. Innalillahi! Ternyata bukan 30.000 tapi 50.000! apa-apaan nih!

“Wah, tapi temen saya cuma minta transfer segituh”. Sebelum dia ngomong yang lebih aneh lagi, saya langsung bertanya “nggak bisa yah..?”.
“Iya”
“Oohh…ya uda deh”
“Makasih ya, Mas”
“Ya…”

Gat au, makasih untuk apa? Mungkin untuk safari saya ke tempat yang bernama BCA ini. Juga atas kesediaan saya untuk antri sekitar 20menit. Sebab dengan demikian tempat transaksi ini terlihat ramai dan laris.

Ya..ya..ya! Mereka berterimakasih pada saya. Mereka??? Iya, mereka.
Siapa?  Segenap kru dan kerabat kerja Bank Capitalist Ashole!

Lunglai. Saya berjalan sambil cengar-cengir melihat ke-aneh-an tatanan ini. Saya langsung menuju angkot yang tak jauh dari tempat kunjungan. Duduk manis dan mulai berkhayal!

Saya membayangkan… Bagaimana saya harus terpaksa menghadap monster2 bermuka manusia, penyihir2 berwajah bidadari. Huuff. Saya berusaha datang menghadiri pesta, sesuai undangan yang saya terima. Saya datang dengan membawa sedikit hadiah. Kemudian apa??? “Maap Nak…” Hadiah mu terlalu kecil. Uang mu terlalu sedikit untuk bisa ikut berpesta.

Terimakasih atas udangannya! Terimakasih atas pelayanannya!

Saya tesadar dari lamunan mengerikan itu. Tiba-tiba saja saya di ingatkan oleh rentetan kalimat yang ajaib. “Tidak akan terjadi hari kiamat, kecuali riba meraja lela. Hingga tak seorang pun yang bisa menghindar darinya…”

Jgn2 bentar lagi kiamat. Coz, tanda2 pengukuhan hegemoni sistem dajjal semakin nampak jelas.

GILAA!!! Bank Capitalist Ashole! Sori nih Boz, gmn gak kesel… ane ga bs transfr k Rek ent. Lantaran system BANKsat perBANKan ga mengijinkan. Help me..!

Itu prosa sms yang saya kirim ke orang yg sedang ‘menantikan’ kiriman 25.000. Untungnya dia maklum. Malah dia berbaik hati untuk menangguhkan kiriman tersebut, sampai saya berkesempatan mengirimnya. Dia juga menawarkan via wesel dan langsung ngirim alamat kantornya. Waduh!

***Revolusi Hari Ini***

Dusta Serikat Pekerja


Lahirnya sosialisme
Sosialisme lahir untuk memerangi keadaan yang mengerikan itu. Sosialisme pada masa awal kejadiannya, sama sekali berbeda dengan Sosialisme menurut anggapan kita kini, bukan saja berbeda bahkan bertentangan. David Ricardo (salah satu ekonom yang jadi panutan Karl Marx), menyatakan bahwa penyebab pengangguran adalah kehadiran mesin-mesin saat revolusi industri. Namun kaum sosialis tidak puas dengan kesimpulan itu. Bakunin menetapkan bahwa sosialisme adalah "peruntuhan negara". Yaitu negara sebagai penyelenggara pemungutan pajak, yang hasilnya berperan mutlak demi pembayaran utang negara kepada bank-bank (sebagaimnaa yang kini terjadi), padalahl pajak merupakan perintang perdagangan. Di Dresden, Richard Wagner merumuskan bahwa revolusi adalah "pemerintahan tanpa negara, dan perniagaan tanpa riba". Joseph Pierre Proudhon pun menuduh riba sebagai "biang kerok kelumpuhan industri".

Sosialisme merupakan perlawanan pada negara administratif dan pada bank-bank, demi menegakkan pemerintahan tanpa pajak-pajak, dan perdagangan tanpa bank-bank.

Pembajakan atas sosialisme
Karl Marx, cucu seorang rabbi Yahudi, di bawah penugasan Mr. Rotschild (pemimpin freemason cabang Inggris), membuat teori nilai tambah (surplus value) dengan menyelewengkan makna riba.

Dalam bahasa Ibrani (bahasa Yahudi), riba disebut tarbith, yang arti harfiahnya adalah peningkatan nilai. Dagang tidak sama dengan riba. Dagang adalah mendatangkan keuntungan dari membeli dan menjual, setidaknya ada dua transaksi yang terjadi. Riba adalah mengambil untung dari satu transaksi, menuntut lebih dari yang sedikit (contohnya membungakan uang). Marx berkata bahwa perdagangan menciptakan nilai tambah (atau riba), sedangkan transaksi ribawi tidak akan menciptakan nilai tambah (riba). Seiring dengan itu Marx mengagungkan konsep Negara yang secara munafik disebutnya sebagai Worker's State (Negara Milik Para Pekerja), lalu dia pun meninggikan derajat sang pekerja upahan menjadi sesuatu yang sangat ideal dan bernilai kepahlawanan tinggi (bukannya sebagai keterpaksaan menjadi hamba negara dan hamba para bankir). Dengan pertolongan para freemason (the League of the Just —Liga Keadilan, the Fraternal Democrats —Persaudaraan Demokrat, dan lainnya) Karl Marx telah merampas revolusi Eropa milik Proudhon dan Bakunin, dan menyajikannya dalam bentuk yang bertolak belakang.

Sosialisme modern versi Karl Marx bukanlah sosialisme —yang diperjuangkan oleh Proudhon dan Bakunin dalam peruntuhan Negara, sosialisme modern adalah Marxisme.

Pengkhianatan Serikat Buruh-isme
Serikat Buruh-isme adalah menyerah pada kekacungan. Serikat-serikat Buruh tidak mempertanyakan mengapa kita harus menjadi budaknya upah, namun tujuan utama perjuangan mereka adalah demi meningkatkan upah para pekerja. Serikat Buruh tidak akan pernah menyelesaikan masalah pengangguran, karena mereka telah pasrah menerima tegaknya sistem perbankan yang telah mengutuk mereka jadi pekerja yang tidak akan pernah bisa berswausaha.

Jadi, bukannya berjuang demi khalayak kelas pekerja, Serikat Buruh-isme malah menjamin bahwa akan selalu tersedia khalayak kelas pekerja.

Terpujilah Serikat-serikat Buruh, berkat perjuangan mereka kini orang-orang tidak lagi bekerja 12 jam sehari demi upah yang memprihatinkan (setidaknya begitulah nampaknya), walaupun yang sebenarnya dicapai oleh Serikat Buruh hanyalah kacung yang sedikit lebih ceria. Dengan melakukan itu, Serikat Buruh mencegah agar pokok masalah sebenarnya tidak digugat. Serikat Buruh-isme adalah pemberontakan para budak melawan para Majikan, seraya mengakui bahwa mereka tidak bisa menjadi Majikan. Andaikan pilihan semata wayang hanyalah pengangguran, tentu saja mempunyai pekerjaan menjadi penting. Namun hal ini tidak akan membuat semua orang ceria selamanya.

Serikat Buruh-isme sama dengan Marxisme, tidak mengecam riba. Mereka mengabaikan kata ini. Berkat mereka sistem perbankan jadi lestari.

Untuk menghilangkan sifat penghambaan kita pada dialektika menjadi pekerja atau menjadi penganggur, kita harus membasmi riba, artinya sistem perbankan harus dihapuskan. Selama kita masih bersama sistem perbankan, kita tak akan bisa mengelak dari kenyataan bahwa kita bekerja untuk orang lain, dan orang lain itu adalah: para bankir yang memiliki segalanya. Para bankir itu siap untuk menghukum para kacungnya dengan ancaman kehilangan pekerjaan dan hidup bergantung pada belas kasih negara. Ketakutan psikologis ini menyapu bersih kesempatan untuk berfikir bebas. Akhirnya yang ada adalah para kacung yang jauh lebih picik dibanding para majikannya. Mereka telah membuat khalayak takut pada perubahan sekecil apapun, karena takut kehilangan sesuap nasi yang telah dijanjikan. Kita dicekoki bahwa inilah yang "praktis" itu. Walhasil, tak heran jika kita lihat betapa gigihnya para kacung membela sistem perbankan, walaupun mereka adalah salah seorang dari 90.000 warga (di Inggris) yang setiap tahun harus kehilangan rumahnya, gara-gara tidak bisa membayar jahatnya bunga cicilan. Perbankan sudah menjadi "agama" yang ortodoks, bahkan sudah menjadi sebuah tabu (pemali). Untung saja masih ada orang-orang yang tidak percaya pada "agama" ini dan ingin berbuat sesuatu untuk mengatasinya.
[dari `Umar Ibrahim Vadillo]

***Revolusi Hari Ini***

next GENERATION


Ia akan TUMBUH!
Dan akan menempuh perjalanan fikir dan rasa, melampaui apa yang saya jalani...

***Revolusi Hari Ini***

Antara Emas dan Kertas : Ironi Ekonomi

Bagaimana mungkin, kita berzakat dengan “kertas hutang”? Kertas yang nilainya terpaksa harus disepakati sebagai harta ril! Padahal sejatinya, ia hanya kertas perjanjian hutang yang entah kapan akan dilunasi. Hutang??? Siapa yang berhutang? Bank Nasional! Bank Indonesia kepada seluruh rakyat dan muslimin Indonesia.

Suatu saat di zaman dahulu kala. Kala semua transaksi masih alami. Siapa menyebut apa. Dimana dan bagaimana. Semua seperti sebagaimana seharusnya. Lihat harta mu! Emas dan perak dalam keeping-keping logam. Gandum dan kacang dari ladang yang luas.

Manusia waras menukar kertas dengan kertas, emas dengan emas, besia dengan besi, perak dengan perak, dengan nilai yang sama. Seimbang dalam sifat dan kadar. Manusia waras menukar gandum dengan ikan dalam ukuran wajar,. Menukar emas dengan umbi dalam kesepakatan yang wajar.

TAPI MEREKA YANG BODOH MENUKAR PADI DAN TERNAKNYA DENGAN KERTAS TAK BERHARGA!

Yang bodoh, yang menukar kertas dengan tanah. Yang lebih bodoh yang rela menerimanya.

...hingga sampailah manusia pada transaksi yang timpang. Manusia sampai pada jual-beli yang terlarang.

Maka menjadi wajar, sekelompok orang mencerca dagang dan jual-beli. Sebagian lagi lebih senang mencuri. Wajar ada yang melarang dan mengharamkan jual beli. Tapi apa yang terjadi? Tatanan sosial makhluk yang bernama manusia ini akan mendekati kehanuran. Kekacauan pada saat ini didefinisikan sebagai penguasaan manusia atas manusia lainnya. Ketimpangan pada saat ini adalah penindasan sebagian terhadap sebagian lainnya. Lalu bagaimana???

“Alloh telah menghalalkan JUAL-BELI dan mengharamkan RIBA!”

Islam memilah dan memilih transaksi duniawinya. Sebagaimana Islam memilah dan memilih transaksi ukhrawinya. Islam memisahkan dan menggabungkan segala sesuatu sebagaimana mestinya. Islam mencerca dan memuji pada tempatnya.

Maka, EMAS adalah EMAS dan KERTAS adalah KERTAS.
Seperti halnya plastik tetap plastik tanpa mesin digital yang terotomasi pada pusat data institusi perbankan.

15:00 30 November 2005

***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina