IHWAL SIYASAH

-1- Dikotomi Taklif

Sementara kalangan umat islam mengharamkan politk. Sebagian lagi justru menganggapnya wajib, bahkan menganggapnya bagian integral dari ajaran islam. Diantara permasalahan yang sampai ke permukaan khazanah pergerakan islam pun diantaranya seputar hal ini. Ada gerakan yang sengaja di bentuk untuk menyuarakan politik dan mengkampanyekan politk syar’i. Lantas ada yang –sengaja maupun tidak- akhirnya berkumpul dan berkelompok untuk menentang ijtihad gerakan politik syar’i tersebut. Dimana letak dan dasar dari permasalahan ini?

Setiap orang bertindak berdasarkan pemahamannya. Dimana ketika seseorang telah paham mengenai sesuatu hal, tentu ia akan tercerahkan dan akan bertindak secara otonom. Baik dengan cara mengidentifikasi diri sendiri maupun mengorganisasi oranglain. Ini adalah kesadaran politis! Kesadaran akan segala permasalahan kepengurusan masyarakat dan perihal kekuasaan. Dan inilah yang oleh sebagian umat islam disebut sebagai politik. Wilayah yang hampir dianggap sakral dan fundamental. Karena kepengurusan (politik syar’i) inilah yang menjadi dasar dan sendi dari bangunan masyarakat islam. Namun, bukan berarti mereka yang kontra terhadap politik syar’i adalah orang-orang yang tidak mempunyai kesadaran semacam ini. Boleh jadi justru kesadaran kelompok penentang lebih besar dari sekedar simpatisan atau bahkan pengurus partai politik sekalipun. Sebab yang menjadi esensi dari politik syar’i adalah perihal kepengurusan umat. Dan orang-orang yang memperhatikan dan bergulat dalam permasalahan ini adalah orang-orang yang memiliki kesadaran kepengurusan yang amat tinggi.

Untuk keluar dari perdebatan dan membahas masalah yang lebih esensial, kami memilih untuk menggunakan istilah “Kesadaran Kepengurusan”. Dengan istilah yang lebih umum, kami berharap bisa keluar dari segala jeratan tendensi politis. Hal ini di dasarkan pada pemahaman kami, bahwa pertentangan amal (al `aml) bermula dari pertentangan pemahaman (mafahim). Dan pertentangan pemahaman berawal dari pertentangan pola fikir (fikriyah). Sedangkan pola fikir di bentuk melalui sebuah framework, yang berarti sebuah perspektif. Perspektif kami tentang Kesadaran Kepengurusan berpegang pada dalil yang memang disepakati oleh semua kalangan umat islam, berkaitan dengan politik. Yakni, hadits tentang kenabian bani israil dan perhatian atas permasalahan umat.

Adapun pilihan yang paling tepat adalah dengan menggunakan terminologi syar`i untuk menyebut sesuatu yang syar`i.

-2- Dikotomi Sistem

Apa yang dikenal oleh manusia Barat tentang sistem politik adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan apa yang di kenal oleh kaum muslimin. Apa yang di alami oleh mereka pun berbeda dengan pengalaman kita. Pengalaman mereka terhadap tata kehidupan sosial (termasuk di dalamnya tentang pranata sosial) adalah “pengalaman yang problematis”. Pengalaman yang berasal dari pemisahan (al-irja`) antara keyakinan dengan aturan, antara ad-Dien dan al-Hayaah “fashlud dien ‘anil hayaah”.

Maka dalam sistem politik, tata kehidupan politik dan aturan politik pun demikian (problematis). Jebakan antara Theokrasi dan Demokrasi agaknya di buat untuk tidak memberikan pilihan lain pada kita. Boleh jadi apa yang di alami oleh Barat adalah sesuatu yang alamiah. Akan tetapi, pabila hal ini di adopsi (baca: di paksakan) kepada peradaban kita, ini adalah pilihan bodoh! Bodoh jika kita menganggap tak ada tata lain selain 2 Theokrasi dan Demokrasi. Juga bodoh karena tak pernah mau mempelajari khazanah Islam.

Keluar dari jebakan (perdebatan) di atas menjadi urgen bagi kaum muslimin. Mau tidak mau, jika kita tak mau mengulangi kebodohan Barat maka kita harus hijrah dari konsep-konsep tersebut – beserta terminologinya. Karena apa yang ada pada diri kita (baca: khazanah Islam) sebenarnya sudah cukup untuk membangun peradaban yang lebih baik dari Barat.

Inilah Kekhilafahan! Sebutan untuk tata politik para khulafa yang mendapat petunjuk. Istilah yang telah dipilih oleh Nabi untuk para penerusnya (yakni Khulafa). Maka sebutan untuk tata politik kepemimpinan Khalifah adalah Khilafah Islamiyah.

Kita membutuhkan Khilafah Islamiyah. Kaum muslimin perlu mewujudkannya. Sebab walau bagaimana pun, Khilafah Islamiyah adalah tata sosial yang secara sosiologis akan lahir dari kepaduan kolektif kewajiban berjamaah. Inilah Khilafah Islam, Negara Islam internasional. Negara yang akan tegak dengan landasan ideologi Islam, dengan landasan strategi Darul Islam. Sebagaimana kapitalisme membutuhkan Negara Industri Internasional, sebagaimana sosialisme membutuhkan Negara Komunis Internasional, demikian halnya dengan Islam.

Akhirnya, untuk sekedar mengingat kembali prinsip Islam dalam Usrah An-Nuur “Laa Syarqiya wa Laa Ghorbiya”. Katakan tidak untuk kapitalisme Barat dan Sosialisme Timur!

Catatan : Tulisan ini diajukan sebagai draff diskusi kajian utama Buletin Transform ; tetapi di tolak dengan sempurna karena sangat tidak argumentatif dan tidak berkesesuaian dengan politik redaksi. Hoho!
***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina