Meng-Islamkan yang Terasing (yang mengasingkan Islam)

“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing...”
[Muhammad ibn Abdullah]

Apa yang terjadi dimasa silam benar-benar berbeda secara faktual dengan apa yang terjadi pada diri kita pada hari ini. Meski sejarah sering berulang tetapi selalu saja ada bentukan-bentukan baru yang hampir membuat kita terheran-heran. Bagaimana banyaknya kejanggalan dan keanehan perilaku umat Islam, pada hari ini sebenarnya mencerminkan kebenaran kabar di atas. Terorisme, Anti-toleransi, Anti-demokrasi, tradisionalisme aqidah, sampai ke-ajegan model pakaian, membuat kebanyakan kita tak habis fikir, ada apa sebenarnya dengan orang-orang seperti itu?!

Ada-ada saja. Di zaman yang pasca-modern ini ternyata masih ada yang ‘primitif’ dan eksluksif. Ada yang menolak pluralisme dan kebebasan. Ada yang selalu mengobarkan perang, ada yang fanatik dan keras kepala dengan keyakinannya. Ada juga yang merasa perlu untuk merepotkan diri dengan menjajakan kebenaran yang diyakininya kepada masyarakat sekitar. Tapi, di zaman ini tak cuma ada orang-orang seperti itu. Ada juga yang seperti kita atau yang lainnya. Yang seperti apa? Entahlah. Tapi mari kita meneliti kembali posisi diri kita masing-masing.

***
Pernahkah terbayang dalam benak kita, jika kita hidup di zaman unta. Dimana Abu Jahal dan rekan-rekannya yang terhormat dalam masyarakatnya masih hidup. Dimana 2 adidaya; Persia dan Roma masih dzohir dengan hegemoni budaya dan ideologi pagan serta imperialisme-nya. Masa-masa, dimana ada sekelompok masyarakat yang tinggal diantara jalur perdagangan dunia tapi tetap terbelakang. Tertinggal dalam baca-tulis, pemikiran dan peradaban. Tetapi pada masa itu, Abu Jahal tetaplah Abu Jahal Sang Diktator kecil di Jazirah-nya. Tak peduli betapa kecilnya ia dalam pandangan masyarakat dunia, Tak peduli betapa sedikitnya kekuasaannya, yang jelas ia penguasa yang terhormat di tempatnya.

Pernahkah Anda bayangankan, ini benar-benar seperti cermin yang wajah wajah kita dalam refleksi ke-jahilan gaya baru? Kita yang hidup di jalur strategis dunia, tak punya posisi tawar lagi. Tapi apa? Kita masih tetap bisa meniru mereka; para Adidaya, dengan menjadi diktator-diktator. Kita tetap bisa menjadi eksekutor atas masyarakat ummiy nusantara. Tetap bisa menjadi legislator atas masyarakat Tartar yang anarkis. Siapa kita? Abu Jahal kah?

Diantara 2 keterasingan

Dalam kondisi demikian, sebagaimana terjadi 15 alaf hijriyah silam kita dapat melihat karakter masyarakat dan ummat. Siapa kaum awam-mayoritas, siapa kaum elit-minoritas? Siapa pula yang menolak tirani-tirani tersebut?

Tirani awam-mayoritas senantiasa menindas manusia-manusia yang tidak me-massa, tidak populis dan tidak lazim. Bagi mereka; yakni yang lazim, me-massa dan populis, tak ada kata lain untuk berbeda. Tak boleh ada pendapat yang menyelisihi mereka. Tak boleh ada perilaku ‘menyimpang’ dari standar mereka. Sementara, tirani elit-minoritas menindas mereka yang tidak kuasa, tidak mampu berbuat dzalim, dan tidak demokratis. Bagi mereka, tidak boleh ada aturan, kecuali berkesesuaian dengan nafsu mereka. Tak boleh ada ideologi kecuali yang tidak mengancam kedudukan mereka.

Mahasuci Alloh yang telah mengutus seorang dari mereka; kaum yang ummiy dan jahiliy. Seorang manusia yang mengajarkan baca-tulis yang Robbaniy dengan sebenar-benarnya. Meski harus berhadapan dengan kemapanan dogmatis alias ke-jumud-an. Meski harus ter-alienasi dari sistem sosial dan tata masyarakat yang populis dan demokratis. Meski harus di stigma sebagai Anarkis atau Teroris. Gila, penyihir, maniak sex atau provokator. Ini semua demi meng-angkat 2 kaum Tiran dan manusia seluruhnya dari lumpur keterasing yang amat nadir. Keterasingan dari fitrah, naluri dan akal sehat. Inilah misi kerosulan yang sebenar-benarnya. Ia mengajak manusia untuk meninggalkan peradaban fisik dan sex oriented dengan hijab. Ia mengajak manusia untuk meninggalkan kemufakatan animo demokrasi dan polling yang kapitalistik. Ia mengajak manusia untuk meninggalkan perdamaian semu yang menipu dan kepengecutan sikap dengan jihad. Ia mengajak manusia untuk menolak pemberangusan identitas dan penghilangan jati diri ala pluralisme dengan dakwah.

Sayangnya, misi kerosulan tersebut benar-benar terlihat janggal dan aneh pada hari ini. Padahal estafeta risalah tak akan pernah berhenti, meski kita halangi. Bagi masyarakat dunia sekarang, semua bersebrangan dengan misi kerosulan. Boleh jadi, jika Alloh berkenan mengutus seorang Rosul kepada kita pada hari ini kita akan menentangnya. Boleh jadi, kita akan men-stigma orang-orang yang bersamanya sebagai gerakan teroris, kelompok anarkis yang provokatif, atau penganut fanatik yang rada sedikit nakal alias radikal. Di barisan mana kita akan berdiri? Pada garda terdepan pembela Nabi atau Thogut Demokrasi?

Akhirnya kami sampaikan pertanyaan kepada Anda. SIAPA YANG TERASING TERHADAP APA?!

Wa `l-Lohu a`lamu bi`sh-showwab

***Revolusi Hari Ini***

Mengubah Realita Musik dengan Merealisasikannya

Musik sebagaimana bentuk keindahan lainnya adalah wujud kreatifitas dan ketinggian akal budi manusia. Ia muncul dari sisi yang mengiringi intelektualitas otak manusia. Ia selalu berada disisinya! Dimana intelektualitas hanya akan hidup seimbang dan sempurna dengan menghidupkannya. Jika ia – yakni sisi seni dalam diri manusia- mati, tak ada lagi harmoni dan keselarasan hidup. Tak ada lagi chaos yang teratur. Sebagaimana tak ada lagi perang untuk kedamaian.

Intelektual tanpa seni akan pincang. Manusia akan terbawa pada kejumudan dan kegersangan hidup jika tak memperhatikan estetika. Ya, seni adalah estetika. Sesuatu yang tak hanya sekedar mewarnai – karena ia bukan sekedar aksesoris – tapi merupakan bagian dari substansi. Seperti asin pada sayur, manis pada sirup dan pedas pada sambal.

Merealisasikan Musik berarti meniadakan realitanya!

Pada masa sekarang ini, kita mengenal berbagai macam realiti show. Berbagai macam bentuk audisi, termasuk audisi band yang berusaha menampilkan realitas musik sebagai manifestasi seni. Berbagai konser, termasuk konser musik di gelar untuk mengasingkan kemanusiaan dari seni sejati. Untuk memalingkan manusia dari proses perealisasian seni. Kemudian, Korporasi menyediakan realitas musik sebagai alternatif pilihan dari bisingnya mesin-mesin industri dan kehidupan modern yang melelahkan.

Dan mereka berhasil! Para pemuda asyik masyuk dalam lautan histeria konser musik. Para militan dan revolusionis pun tak ketinggalan untuk menikmati band-band ‘revolusioner’. Apa yang terjadi dan apa yang seharusnya terjadi dan apa yang seharusnya tidak terjadi?

Merealisasikan Musik dengan Mengharamkannya!

Yakni, sebagaimana dipahami bahwasanya musik adalah manifesto dari seni. Seni yang terformatkan dalam kemapanan instrumentalia. Seni yang direduksi dalam kesempitan keindahan tangga nada. Seni yang kekang dalam terali-terali senar dan tuts-tuts keyboard yang terotomasi dengan mesin-mesin korporasi. Seni yang tersiksa oleh tabuhan-tabuhan algojo berkedok artis, dengan gada-gada berlabel mayor yang senantiasa dapat kita temui berjajar dalam display komersalisme, di sudut-sudut Mall.

Kiranya tepat, seperti yang kita dapatkan pada suatu masa, belasan abad yang silam. Seorang mantan penggembala – kesejahteraan dan keselamatan baginya – telah mengetahui hal ini. Ia paham, bahwa hanya dengan mengharamkan alat musik, manusia dapat merealisasikan musik (baca: seni). Bahwa hanya dengan menghentikan konser musik, manusia akan dapat merelisasikan seni. Dan dengan demikian, eksistensi seni, eksistensi keseimbangan kecerdasan manusia dapat terjaga. Terciptalah intelektualitas yang sempurna dengan kehidupan yang indah. Terciptalah tatanan yang harmoni dalam lirik yang saling bersahutan dan selaras. Dalam derai naungan tilawah dan muhasabah setiap hari. Ya! Setiap hari, sepertiga malam terakhir yang penuh harmoni.

***Revolusi Hari Ini***

Politik Kaum Pagan

Kaum pagan adalah orang-orang yang memberhalakan sesuatu, tanpa dasar filosofis. Mereka hidup di atas perbudakan makhluk lain. Bodohnya lagi, hal ini di mapankan dalam wujud konstitusi yang pada akhirnya di sepakati secara kolektif. Kaum pagan senantiasa membodohi kaum yang lain, untuk kemudian bersama-sama mereka melakukan penyembahan kepada berhala-berhala mereka.

Ada kalanya, berhala ini harta yang di pelihara, wanita yang di cinta, dan atau kuasa yang di damba. Trinitas pemberhalaan ini adalah wujud penghambaan yang menipu. Bahkan jika di imani secara keseluruhan, seseorang akan terpecah dari unity kepribadiannya. Hal ini akan menyebabkan, masyarakat menjadi rakyat yang terjajah secara keyakinan, pemikiran dan kekuatan.

Adalah parlemen dan sistem demokrasi sebagai manifestasi kemusyrikan ini, yang pada hari ini justru di agung-agungkan oleh mereka yang mengaku beriman kepada Islam. Padahal beriman kepada Islam berarti menjadi ahli sholat, ahli infaq sekaligus menjadi rakyat Islam yang tunduk pada Undang-undang Islam. Bagaimana tidak, sedangkan tauhid mengharuskan demikian. Syahadat telah menjadi ikrar transaksi kita kepada Alloh dan semesta manusia serta alam, bahwa kita tunduk patuh pada transaksi Islam.

Perihal manhaj ini adalah pilihan yang tegas dan jelas. Abu Jahal, seorang pembesar kaum Quraisy pada waktu itu, menolak mentah-mentah tawaran transaksi Islam yang di ajukan oleh Muhammad (sholawat dan salam untuknya). Ini karena Gembong kejahilan ini tahu dan paham konsekuensi dari ikrar syahadat ini. Lantas bagaimana kita, yang mengklaim sebagai intelektual muda? Adakah kita mengerti akan hal tersebut. Bersyahadat berarti bertuhan, beribadah dan berhukum kepada Alloh dengan tuntunan Muhammad (sholawat dan salam untuknya).

Hegemoni pagan, kini mendzohirkan dirinya dalam bentuk agama, cinta dan negara. Rezim yang penuh kegelapan ini menjajah fitrah manusia, merenggutnya dari kepribadian yang utuh dan tata sosial yang alami. Seseorang mungkin berfikir untuk menumbangkan rezim ini. Tapi, sering kali itikad baik ini kandas di tengah jalan. Mengapa? Karena hanya dengan metode Ilahi lah hegemoni pagan akan tumbang; yakni metodologi yang utuh dan alami. Metodologi yang telah di gambarkan oleh pimpinan perang (melawan pagan) dengan garis lurus.

Syirik Politik


Seperti agama, politik pun adalah sebuah pilihan. Hanya orang jahil yang taken for granted sistem politik orang tuanya. Orang-orang seperti inilah yang terus menerus mempertahankan status quo rezim pagan. Dan pada akhirnya, politik akan keluar menyimpang dari substansinya; yakni mengurus rakyat. “Politik turunan” sebagaimana “agama turunan” hanya akan memperburuk keadaan penganutnya. Akan banyak bid`ah atas nama kemaslahatan tatanan. Akan banyak pelarangan dan aturan berdasarkan norma warisan.

Seseorang yang memberhalakan politik akan berusaha mati-matian untuk hidup dalam sistemnya, berjuang demi eksistensinya dan mati untuk keutuhannya. Orang-orang di luar kelompoknya akan di musuhi, apalagi mereka yang berusaha memerangi dan menentang sistem mereka. Mereka akan berusaha menangkap, memenjarakan, mengusir dan menyalib musuh politik mereka, yakni orang-orang beriman. Mereka tidak akan pernah ridho sampai orang-orang beriman (musuh mereka) masuk kedalam paradigma dan framework mereka.

Lantas bagaimana dengan orang-orang yang beriman? Orang-orang yang mengimani keutuhan dan fitrah insani akan senantiasa berbenturan dengan hegemoni “anti-fitrah” tersebut. Jawaban bagi keselamatan antara kedua belah pihak adalah perang total! Pertempuran habis-habisan hingga “mati atau menjadi hegemoni”. Ya, hanya itulah pilihannya. Mau bagaimana lagi; iman atau syirik. Tentukan pilihan Anda sekarang juga.

Shafar 1427 Hijriyah

***Revolusi Hari Ini***

Teror Hijab terhadap Ketelanjangan

Ketelanjangan adalah musuh terbesar manusia beradab.
Inilah, kain penjaga keindahan tubuh kami! Inilah, kain pelindung kecantikan wajah kami!


Seperti api yang membakar tubuh Ibrahim alaihissalam seluruhnya, hijab akan membakar tubuh wanita sepenuhnya. Pada keadaan ini, air keringat tak akan membawa kesejukan atau kenyamanan apalagi sampai mereduksi panas yang menyelimuti tubuh. Hijab seperti halnya api tungku akan membakar onggokan daging dan tulang manusia. Atau api revolusi yang membakar kesadaran masyarakat akan kebobrokan sistem. Atau api pembakar logam yang akan memisahkan emas dari pasir dan tembaga. Hanya wanita tertentu saja yang mampu bertahan dalam proses ini. Wanita yang kuat pun belum tentu mampu bertahan. Panasnya...teriknya serta pengapnya kungkungan kain yang menutup pori-pori kulit. Ya, ingatlah Ibrahim dan kisah dalam kobaran api raja yang lalim. Sekali lagi ingatlah apa yang di alami oleh Ibrahim Bapak Para Nabi, manusia yang paling besar bentuk pengorbanannya. Sesuatu yang diluar batas kemanusiaan manusia modern. Ingat pula kisahnya tentang penyembelihan seorang anak yang notabene seorang nabi juga.

Mungkin Anda akan bertanya, dimanakah sisi kemanusiaan seorang Ibrahim yang rela membiarkan dirinya di bakar di depan publik? Membiarkan pori-pori kulitnya di hantam panas yang menyelimuti. Atau pertanyaan tentang kemanusiaan seorang yang tega berniat menyembelih anaknya hanya karena Transaksi dengan Tuhannya. Sekali lagi kami tegaskan, karena “Transaksi” dengan Tuhannya (baca : Transaksi Hidup). Kami mengajak Anda untuk memahami fitrah dan nilai-nilai kemanusiaan hakiki.

Manusia Beradab

Orang-orang ramai membicarakan Hak Asasi Manusia (HAM). Sementara dari negeri ide HAM berasal, pemerintahnya sedang siap-siap membumi hanguskan manusia. Konsep ini menjelaskan kepada masyarakat dunia bahwa: Atas nama HAM dan demokratisasi manusia boleh di hina-binasakan. Mereka berkata “Terkadang diperlukan cara-cara yang tidak demokratis untuk melindungi demokrasi”. Sebagian lagi berkata “Kebebasan adalah hak asasi manusia”. Menjadi jelas bagi kami, apa maksud sebenarnya dari black campaign ini. Bahwa yang berkuasa berhak menindas siapapun. Bahwa Adikuasa berwenang untuk ‘memanusiakan’ bangsa-bangsa ghoyim setengah monyet.

Ah, mungkin pembahasan ini akan menjadi pembahasan politik jika kami terus dibiarkan membongkar kebohongan-kebohongan kampanye HAM dan Demokrasi. Tapi, baiklah…kami menahan diri untuk hal tersebut. Kami lebih memilih untuk membicarakan realitas yang ada disekitar kami (juga disekitar Anda).

Masih berkaitan dengan premis di atas, yakni “kebebasan”. Pertanyaannya adalah, kebebasan yang bagaima yang sesuai dengan fitrah manusia? Kebebasan seperti HAM dan Demokrasi kah? Atau seperti apa? Kita mungkin sudah bosan mendengar istilah “kebebasan yang bertanggungjawab”, ya! Inilah jawaban atas soal multiple choice yang sampai kepada kita. KEBEBASAN YANG BERTANGGUNGJAWAB. Tapi pertanyaannya tidak sesederhana itu. Anggaplah ini pertanyaan berantai, atau soal Essay yang biasa dikeluarkan dosen perguruan tinggi yang biasanya dilengkapi dengan redaksi “Apa pendapat Saudara?”.

Sekarang apa jawaban kita? Anggaplah kami dosen filsafat atau pengamat politik yang akan mengorek semua argumen Anda hingga Anda bungkam. Atau seorang misionaris yang akan menyudutkan Anda hingga fikiran Anda terbang melayang dan mendarat di genggaman tangannya.

Kebebasan yang bertanggungjawab? Apakah sudah dipertanggungjawabkan? Kepada siapa? Apakah diterima pertanggungjawabannya? Bagi yang pernah berkecimpung di dunia kepanitiaan tentunya tidak asing dengan istilah LPJ alias Laporan Pertanggung Jawaban. LPJ diserahkan kepada pimpinan atau lawan transaksi. LPJ juga ada yang di terima, ada yang di tolak. Dalam kehidupan sebenarnya, LPJ tak semudah itu! Mesti ada konsekuensi dan ganjaran bagi mereka yang bertransaksi. Sehingga tidak ada lagi orang yang seenaknya mengambil amanah kehidupan, sebagaimana seenaknya Anda mengemban kepanitiaan.

Berkaitan dengan subjudul di atas, manusia beradab adalah yang mengemban transaksi hidup dengan tata hidup (adab) yang sesuai dengan keyakinannya. Manusia Beradab menerima hal apapun dengan adab – yang sesuai dengan “transaksi kehidupan” – yang ia yakini. Ia bertindak “bebas”, “tunduk”, “patuh”, atau “melawan” sesuai dengan “tata adab” dalam “transaksi kehidupan”.

Adab dan Transaksi Kehidupan


Kami mendefinisikan adab sebagai sesuatu yang tunggal. Yakni tata sikap yang dianut oleh seseorang untuk menunjukan nilai-nilai logika, etika dan estetika yang ia adopsi. Adapun orang yang mencampur adukan konsep adab, atau mereka yang menganut 2 adab sekaligus dalam dirinya maka kami menyebutnya: Biadab!

Adab, bagi orang yang meyakini Tuhan adalah penghormatan transendental terhadap transaksi kehidupan. Hal ini menunjukan betapa tak adanya pemisahan yang berarti antara hubungan horizontal dengan hubungan vertikal. Seorang yang ber-Tuhan, kemana pun ia menghadap disitulah wajah Tuhan. Ketika ia menghadap pimpinan perusahaan, menghadap guru, orang tua atau siapa pun maka ia akan menyaksikan wajah Tuhan-nya. Bahkan ketika seorang pelacur menghadapkan tubuhnya pada seorang berhidung panjang yang akan memberinya penghidupan, inilah bentuk pengabdian (ibadah). Berarti pelacur itu bertuhankan lelaki berhidung panjang. Artinya, kemana pun manusia menghadap, disitulah wajah Tuhan atau tuhan dia..

Hanya ada satu Tuhan. Maaf, maksud kami, hanya boleh mengimani satu Tuhan! Sebagaimana hanya boleh ada satu adab yang diikuti. Satu Tuhan meniscayakan satu adab. Artinya ketika yang kita berhadapan dengan seseorang, penghormatan transenden pada siapa yang kita berikan. Atau adab kepada siapa yang kita berikan? Di hadapan laki-laki terhormat maupun dihadapan laki-laki laknat ‘berhidung panjang’ adab kita adalah kepada Tuhan atau tuhan. Karena kepada siapapun “penghormatan” itu kita berikan, kepadaNya atau kepadanya lah kita menghamba. Sampai disini jelas, ketika seorang pelacur menghadapkan tubuhnya kepada laki-laki berhidung panjang, siapakah tuhannya yang di hormati, dilayani, diberi ketundukan dan kepatuhan? Siapakah tuhan yang ia yakini dapat memberi penghidupan kepadanya?

Lalu apa hubungannya antara Tuhan atau Tuhan dengan adab? Kami katakan, bahwa hanya orang yang mengakui keberadaan Tuhan yang beradab. Atau paling tidak berusaha memperhatikan adab. Karena kami menginginkan Anda menjadi orang yang beradab, kami akan sedikit menjelaskan tentang posisi Anda dalam masalah adab ini. Ah, tapi kami rasa anda sudah mengerti. Jadi langsung saja pada maksud baik kami, kami menawarkan kepada Anda “Adab Islam”. Yakni tata hidup yang akan menjadi pegangan kita dalam mengambil sikap dan keputusan dimana pun kita berada; di rumah, kantor, atau tempat prostitusi sekali pun! Dengan mengadopsi adab yang sesuai hidup kita akan senantiasa berkesesuaian dengan Transaksi Hidup Islam yang muslim yakini. Sebab jika Transaksi Hidup kita berbeda dengan tata adab yang kita adopsi, niscaya akan bertentangan. Konsekuensinya, kita akan menjadi golongan orang yang hipokrit.

Telanjang Berarti Tidak Beradab

Bagaimana mungkin kami menyebut mereka manusia beradab, sedang mereka memiliki dua adab? Mereka yang mengaku muslim, mengucapkan salam, dan berhijab ketika sholat tetapi membiarkan iblis mengerayangi tubuhnya setiap hari. Mereka membiarkan semilir angin membuai kulit ari dan rambut-rambut halus yang terurai dari tubuh yang indah dan mulia.

Sesuatu yang salah dalam logika! Mereka menjauhi api dan membiarkan angin menyelimuti. Mungkin mereka tertipu dalam memahami sebuah idiom “iblis jahanam” (baca: api), lantas menjauhi api. Juga tentang “angin surga” (baca: taman) lantas mendekatinya. Ini seperti dalam dongeng-dongeng peradaban jahil yang berusaha memvisualisasikan Adam-Hawa di tempat asalnya. Di mana kenikmatan selalu di harap dan perjuangan adalah masa lalu.

Apa yang salah?? Hey! Kami beri tahu, bahwa iblis hanya akan musnah pada kobaran Api! Dahulu kala di Taman Firdaus pun, mereka telah mengelabuhi Adam-Hawa. Kini mereka berusaha mengelabuhi kita untuk menjauhi “panasnya hijab” dan mendekati “sejuknya ketelanjangan”. Sekali lagi kami ulangi, iblis hanya takut pada panasnya Api! Karenanya takdir pembangkangannya adalah kehidupan di Api (baca: neraka). Dengan menyingkap “panas hijab”-mu, itu berarti kau rela membiarkan iblis menerobos masuk. Padahal hanya dengan “panas hijab”-lah manusia mampu menghalau “api iblis”.

Kawan, lindungi tubuh mu darinya. Jangan biarkan Iblis – semoga Tuhan melaknatinya – membobol benteng pakaian mu. Jangan biarkan Iblis menggerayangi mu, karena kamu tak punya perisai panas pakaian (baca: hijab). Jangan biarkan iblis menyetubuhi mu, mencumbu lengan, betis dan leher mu! Sebab pada bagian-bagian tubuh inilah, kenikmatan streaching persetubuhan terjadi. Kawan, jangan pernah rela bezina dengan Iblis!

Mari berhijab!!!

***Revolusi Hari Ini***

Mundur untuk Strategi Tempur!

Kepada : Forum Amal dan Studi Islam FIB UI
Perihal : Pengunduran Diri

Assalamu`alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Innalhamdalillah nahmaduhu wanashta`inuhu wanasytagfiruhu wa natubu ilaih. Ba`da sholawat dan salam, semoga kita termasuk orang-orang yang mengikuti manhaj nabawi dengan ihsan. Alloh swt berfirman : “Sempurnakanlah akad-akad itu”. Demi Alloh kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap akad dan transaksi kita di dunia pada Hari Pembalasan (al-yaumul jazaa).

Setelah beberapa bulan berkecimpung dan bergabung dengan FORMASI, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil sikap ini. Sedari awal saya sudah memilih sikap untuk menjadi “Pasifis”. Dan perlu diketahui bahwa masuknya saya kedalam keanggotaan FORMASI adalah hasil ‘tawar menawar’ dengan seorang akhwat yang kebetulan menjabat sebagai Ketua Keputrian. Sebelumnya ingin saya sampaikan, bahwa ini kesalahpahaman sistemik yang harus diperbaiki di masa datang. Tidak, dan bukan bermaksud menuding salah satu hidung ikhwah sekalian. Apa yang terjadi pada FORMASI dan diri saya sendiri, saya fikir adalah sunnatulloh yang akan terjadi pada siapa pun dan dimana pun. Dan “Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kaum” sampai kita sendiri yang akan berusaha merubah takdir, sebagaimana Al Faruq “lari dari takdir yang satu ke takdir yang lain”. Telah menjadi permasalahan ‘yang terang’ bagi saya bahwa eksistensi FORMASI adalah sebagai forum studi islam di FIB. Lantas dimana semangat pengkajian Islam itu, ayyuhal ikhwah?! Saya melihat kualitas pengkajian islam di FIB masih minim, sedangkan kualitas aktifis FORMASI hanya akan semakin menurun jika FORMASI hanya menyibukan diri pada syi`ar populer dan bisnis belaka. Padahal kita selaku mahasiswa muslim FIB mengemban core competence yang memang menjadi tanggungjawab keilmuan kita, dengan ataupun tanpa FORMASI. Ya! Dengan atau tanpa FORMASI, studi keislaman harus eksis dan dzohir. Dan FORMASI adalah lembaga yang seharusnya mewadahi ini!

Pertanyaan selanjutnya, apa jadinya FORMASI tanpa eksistensi Departemen Kajian? Dimana fungsi FORMASI sebagai forum pengkajian islam bagi publik mahasiswa FIB? Sudahkah kita berniat untuk menghantam publik feminis di Fakultas? Sekedar mengingatkan, ide feminisme di usung oleh banyak dosen kita. Bagaimana dengan liberalisme islam yang sempat ‘mengudara’? Sudahkah kita berniat untuk ide-ide tersebut? Juga ihwal kawan-kawan kita yang terjebak dalam gerakan –gerakan marxis-leninis? Padahal dalam pandangan saya, FORMASI adalah forum bersama muslim FIB (dari yang ‘kiri abis sampai yang bergamis). Sekali lagi, ini permasalahan sistemik bukan ‘pengadilan’ terhadap salah seorang dari kita. Ada pun, saya hanya bisa menyalahkan diri saya sendiri atas kelalaian tanggungjawab competency ini.

Dengan ini, saya yang bertandatangan dibawah ini. Bermaksud mengundurkan diri dan keluar dari akad kepengurusan FORMASI 2005/2006 dikarenakan beberapa alasan:
1. Ada beberapa amanah di tempat lain yang menuntut konsentrasi lebih, yang selama ini sudah terlantarkan.
2. Adanya ketidaksesuaian kultur kerjasama dan semangat organisasi pada Departemen kami (Kajian).
3. Kevakuman kegiatan rutin Departemen secara total dan matinya pengkajian yang notabene merupakan nyawa dari Departement Kajian.
4. Juga agenda-agenda masa depan dalam kehidupan saya yang semakin mendesak pada hari ini.

Pengunduran ini bukan berarti sebuah kekecewaan, tapi lebih sebagai posisi tawar saya selaku individu yang akan mempertegas sikap dan menunjukan kejelasan posisi dalam segala hal, khususnya dalam dakwah “pengkajian islam”. (meski pun wajar jika saya kecewa dalam beberapa hal, sebagaimana FORMASI berhak kecewa kepada saya). Kenapa demikian? Sebab bagi saya wewenang individu lebih luas dan fleksibel (mengingat beberapa amanah di tempat lain yang mengikat saya) dari sekedar keberadaan struktural di lembaga dakwah. Karenanya mari bersama ber-muhasabah, akan posisi kita sabagai pengusung panji “amal dan studi islam”. Mari bergerak, hancurkan sesat fikir studi ala Barat!.

Mungkin ada yang bertanya tentang urgensi surat ini, baik dengan “sangka baik” maupun “sangka buruk”. Ada pun saya sangat berterimakasih atas fikiran-fikiran loyal kepada sesama muslim dari siapa dan kepada siapa pun. Karena ini adalah simpul Aqidah Al-Wala` wal-Bara` yang telah mapan (ma`lumun min ad-dien ad-darurah) dalam pemahaman Islam. Mungkin juga ada yang berfikir terlalu politis (afwan, ini cuma kemungkinan), tapi saya tegaskan saya tidak berminat dalam politik praktis, karena dalam kultur politik ala Barat (baca: demokrasi) sikap yang harus kita ambil adalah melawan para politikus. Bukan menjadi apatis, oportunis atau memilih menjadi oposisi mutlak. Hal-hal dibawah ini adalah yang harus ikwah sekalian perhatikan berkaitan dengan “pengunduran diri seorang anggota FORMASI” :
1. Status keanggotaan FORMASI yang tidak jelas (khususnya Departemen Kajian). Begitu banyak nama yang menurut saya udah semestinya “di-putihkan”. (Kalau tidak salah, wacana pemutihan sudah pernah dibahan kan?). Ini penting! Penting secara politis dan ideologis, dimana sikap FORMASI akan di tunjukan oleh para anggotanya. Disamping itu, kerja ke-organisasian pun hanya akan berjalan jika di topang oleh SDM yang memiliki komitmen, apalagi ini kerja dakwah.
2. Kultur dikotomi “mushola” dan “non-mushola” yang perlu dibenahi. Ini penting! Penting secara politis dan ideologis, dimana mushola adalah milik semua muslim FIB, demikian dengan FORMASI. Adanya qarinah yang semakin hari semakin dikotomis adalah sangat berbahaya bagi dakwah Islamiyah.

Bukankah selayaknya setiap aktifis muslim harus memperjuangankan keanggotaannya dalam lembaga dakwah? Dan ini mesti memiliki konsekuensi, yakni “pemecatan”. Kenapa saya atau yang lainnya tidak dipecat, karena tidak pernah melakukan agenda Departemen? (Atau mungkin sekalian saja Departemennya di bubarkan karena tidak punya kegiatan?). Akhirnya, ini merupakan pilihan sulit bagi saya. Semga ukhuwah kita tetap terjalin (paling tidak dalam wujud “salam” dan “saling mendo`akan”). Saya berpendapat, ini adalah pelajaran bagi kita semua. Demi kebaikan misi dakwah dan aqidah, dan bukan demi kebaikan kita semata. Jika saya oportunis atau pragmatis, mungkin saya akan tetap bertahan dan mengambil banyak ‘kemanfaatan’ dari FORMASI, tetapi tidak ikhwah sekalian. Sebab seharusnya banyak yang malu terhadap diri sendiri, seharusnya banyak yang malu menyandang gelar “ikhwan-akhwat” atau “rijal-nisa” dalam aktivitas yang mulia ini.

Adapun saya mohon maaf karena harus mundur dari amanah yang sebelumnya di berikan kepada saya, diantaranya ; penyelesaian “kumpulan makalah KISI” dan “penerbitan kompilasi tulisan mahasiwa”. Saya sampaikan hormat saya untuk para pejabat FORMASI (amanu tsumastaqim!). Mulai saat ini, saya berlepas diri dari aktifitas ke-organisasian FORMASI, akan tetapi mari tetap “tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa”. Jangan ragu untuk menasehati, menegur dan mengingatkan saya. Karena Dien ini adalah nasehat. Demikian pula saya nyatakan, apa yang saya lakukan kedepannya bukan lagi menjadi tanggungjawab ke-organisasian FORMASI. Jika saya di cela, FORMASI tak boleh mendapat celaan. Jika saya bermasalah, FORMASI tak boleh terkena ekses dari permasalahan saya. Akan tetapi tetaplah untuk tetap “saling tolong-menolong”. Satu hal yang tak boleh dilupakan: saya siap untuk bergabung dengan FORMASI kembali (jika diberi kesempatan oleh Alloh). Semoga sikap ini menjadi maklum, penuh hikmah dan ibroh.

WaAllohi, dakwah tak boleh mati!
Tanah Dakwah, Universitas Indonesia, 18 Muharram 1427 H.
Saudara kalian dalam Dakwah dan Tarbiyah,


MR. H
Tembusan :
1. Dewan Syuro FORMASI
2. Ketua Umum FORMASI
3. Kepala Departemen Kajian FORMASI


***Revolusi Hari Ini***

Antara kau dan aku

Ketika tabir itu terbuka
Maka akan nyata; siapa kita sebenarnya
Ketika hijab itu tersingkap
Pilihan kita akan terungkap

Untuk seseorang yang akan bersebrangan dengan ku
Kau akan lihat, siapa yang keparat...
Tapi sayang, itu terjadi
Setelah kau sesali
Pada posisi benci tertinggi

Untuk mereka yang akan bersebrangan dengan ku
Ingatlah apa yang ku tulis ini,
Pertanda aku tahu terlebih dahulu.
Dan aku telah memilih itu
Dan kalian kelak akan tahu
Dan kita pasti kembali satu
(semoga!)


*Kamu lebih pantas jadi seorang pengagum yang akan bersandar
Daripada seorang yang bersandar kemudian terkagum-kagum!
[16/01/1427]

***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina