KAMI TIDAK MENGINGINKAN KENAIKAN UPAH, KAMI MENGINGINKAN KEADILAN UPAH!

Bayangkan jika semua orang bekerja sesuai dengan kehendak hatinya. Bayangkan jika setiap keringat dihargai dengan harga yang setara. Bayangkan jika setiap orang menanggung beban hidupnya dengan keringatnya sendiri, yang berarti juga setiap keringat dibayar dengan harga yang sesuai, dan pantas.

Hari ini kami melihat banyak orang memaknai istilah “kerja” sebagai kata kerja (verb). “Setelah lulus kami akan bekerja”. Demikian pernyataan ini merubah makna subyektif menjadi makna obyektif; “dipekerjakan”. Bagaimana tidak, jika syarat untuk bekerja adalah ijazah, surat lamaran dan antrian panjang di pinggir jalan. Inilah kenyataan yang memang di inginkan oleh sistem produsen-konsumen. Dimana kehidupan adalah produksi dan industri, sedangkan keringat pekerja adalah komoditi sesuap nasi. Mereka, para “Bos” membuat kita lupa akan apa yang kita kehendaki, apa yang seharusnya kita inginkan. Mereka membuat kita merengek untuk sesuap nasi. Tidak demikian seharusnya. “Kami tidak menginginkan sesuap nasi, kami menginginkan sawah ladang sendiri!”

Ya, setiap orang berhak bekerja dimana pun. Setiap orang berhak memilih hal apa yang akan ia kerjakan. Setiap orang berhak untuk menentukan kepada siapa ia bekerja, untuk apa ia bekerja, dan berapa lama ia bekerja.

Sistem produsen-konsumen menipu para pekerja. Mereka memaksa kita untuk menuntut harga yang murah. Tidak demikian seharusnya. “Kami tidak menginginkan penurunan harga, kami ingin benar-benar menjadi berharga!” Karena tidak menjadi berarti murahnya harga atau naiknya upah, jika sistem moneter ribawi tetap eksis dan tegak. Ketahuilah ini hanya permainan kurs para Bankir dan Kapitalis untuk mengeruk keuntungan sekehendak hawa nafsu mereka. Ketahuilah, tidak seharusnya suku bunga bank berpengaruh kepada harga keringat buruh. “Kami tidak menginginkan kenaikan upah, kami mengingikan sistem keuangan yang manusiawi!”

Ya. Setiap orang akan menukar miliknya dengan sesuatu yang seimbang. Setiap orang akan memberikan miliknya dengan harga yang pantas. Dan itu berarti keringat dengan keringat, waktu dengan waktu, darah dengan darah, dan nyawa dengan nyawa.

Sistem produsen-konsumen memaksa para pekerja lebih menginginkan sekotak serbuk deodoran dari pada sekarung beras. Ini karena terlalu banyaknya outlet-outlet Multi National Corporate di sepanjang jalan antara pabrik dan rumah kami. Ini juga karena menjadi petani berarti menjadi kelas pekerja terendah, sedangkan kacung disebuah korporasi lebih terpandang dimata umum. Bagi kebanyakan orang, deodoran lebih mahal dan eksklusif dari sekedar nasi bungkus.

Hari ini gaji bulanan kami terima, hari ini pula kami harus pergi ke “town square” untuk sekedar melepas lelah sambil membeli kebutuhan dapur kami. Dan ini berarti sebulan kerja hanya sehari berbelanja. Untungnya, mereka menyediakan bagi kami kedai donat dan ayam goreng untuk makan siang setiap hari. Jika kami tak berani untuk berhutung, kami harus mengatur strategi untuk bisa makan di restoran-restoran pribumi. Jika kami berhasil, kami telah beramal kepada saudara-saudara kami dari Padang dan Tegal, untuk sekedar mencicipi satu atau dua piring nasi. Kami yakin, amal ini berpahala dan akan menambah catatan kebaikan kami. Lagi pula mengunjungi saudara senasib-sepenanggungan merupakan wujud silaturahim. Dan silaturahim menambah rezeki.

Jika setiap orang harus menjadi pekerja, itu berarti setiap orang adalah pekerja. Manajer adalah pekerja, Satpam adalah pekerja, Sekretaris adalah pekerja, Petugas Kebersihan adalah pekerja. Tidak berarti apa-apa sebuah perusahanan atau unit dagang tanpa keringat mereka semua.

Sistem produsen-konsumen mentakdirkan kami menjadi pekerja kelas rendahan. Sedang yang terhormat diantara kami hanya mereka yang beruntung dapat menjadi anggota serikat buruh. Dimana mereka bisa mengirim utusan untuk sekedar bertemu dengan sosok pemimpin yang menghidupi kami semua, untuk menceritakan keluh kesah dan nasih kami yang tak kunjung berubah.

Ya. Sistem ini memiliki mekanisme tatap muka yang begitu rumit. Sistem ini memaksa kami harus menyetor uang kertas senilai 10.000 rupiah setiap bulannya untuk membiayai sub-sistem ‘rapat perusahaan’ (baca: serikat buruh) agar tetap eksis. Ini juga menjaga harapan kami dan mempermudah komunikasi vertikal kami kepada Tuan ‘sang pemberi penghidupan’.

Jika seseorang bahagia diatas penderitaan orang lain, ia layak dikutuk. Jika sebuah strata kelas hidup diatas penindasan stata kelas lain, mereka pantas untuk dibunuh. Dan jika ada manusia ingin menjadi tuhan, ia harus ditinggalkan!


Apa yang kami dapatkan, ketika sistem mekanisme produsen-konsumen ini tidak berjalan lancar? Kami melihat kelaparan dan kemiskinan. Tapi ketika sistem seperti ini hanya menghasilkan tuhan-tuhan kecil bagi kami, tuhan-tuhan yang mencatat rezeki kami dari balik meja, tuhan-tuhan yang setiap pekan pergi ke puncak atau padang golf untuk menyenangkan hatinya, apa yang harus kami lakukan?

Apa yang harus kami perbuat atas soal-soal dari Depaetemen Tenaga Kerja? Apa yang harus lakukan pada diri kami dan keluarga kami?

Kunci jawabannya ada pada Islam!
Tidak pada ideologi yang lainnya.
SELAMAT MENCARI.

Sistem yang kita gunakan, bukan sistem yang kita inginkan.
Kita terjabak pada kebodohan akal manusia.


***Revolusi Hari Ini***

Satu langkah menuju kebangkitan komunisme?

Isu demonstrasi besar-besaran atas nama buruh pada kali ini merupakan isu yang urgen untuk diperhatikan. Bagaimana tidak, jika konon berkembangluas isu “tembak ditempat” bagi perusuh dan provokator. Jika ini benar-benar diberlakukan, boleh jadi akan ada orang tak berdosa yang akan menjadi korban. Mengapa tidak berdosa? Karena tindakan yang mereka lakukan adalah logis dengan mempertimbangan premis-premis yang telah terjadi.

Lantas bagaimana solusinya? Bagi kami, para “penumpang gelap” lebih layak untuk ditindak. Mereka yang berkedok gerakan buruh atau aliansi rakyat perlu menjadi penelitian pihak yang akan menghakimi aksi ini. Sebab apa yang nampak di media atau ditempat demonstrasi pada saat berlangsungnya aksi, tak dapat di nilai secara obyektif.

Sudah menjadi rahasia umum, agen-agen komunis tak pernah bisa diam melihat momentum seperti ini. Apalagi isu kaum proletar sangat dekat dengan ideologi mereka. Di Bogor, satu bulan sebelum Mei simbol “palu-arit” bertebaran dipusat tongkrongan anak muda. Spanduk dan selebaran gelap banyak tempat. Kampus-kampus besar di Jakarta dan sekitarnya disusupi. Gerakan mahasiswa di provokasi. Jika seperti ini, masih dapat di anggap murnikah aspirasi para demonstran? Tidak kah ini cukup sebagai gambaran dari semangat ideologi ‘palu-arit’?

Permasalahan buruh memang permasalahan kita semua. Keprihatinan mereka harus diselesaikan bersama-sama. Tapi bukan berarti kita harus membiarkan ideologi berdarah bangkit kembali . Jika ini terjadi, ini sebuah kemunduran bagi bangsa ini!
Wa Allohu a`lam.


***Revolusi Hari Ini***

Pengantar Imanologi

“Kekufuran memodernisasi dirinya menjadi sesuatu yang ilmiah diatas fikiran yang rasional”

Kalangan terpelajar dari umat ini adalah harapan terbesar bagi peradaban Islam untuk bangkit kembali. Ruang akademik sebagai basis intelektual dan core competancy ilmu-ilmu Islam merupakan tempat yang paling potensial untuk memulai membangun peradaban ilmiah. Sebab kadar kemajuan sebuah masyarakat di ukur oleh intelektualitas kaum terpelajarnya.

Kaum muslimin yang kini tengah terpuruk, terjelembab dalam lubang kegelapan seolah merindukan renaissance yang pernah dialami oleh Barat. Apa yang sebenarnya di butuhkan, dan apa yang sebenarnya terjadi? Padahal Islam tidak pernah mengalami kematian, sehingga tak perlu di lahirkan kembali. Karena“Akan senantiasa ada segolongan dari ummat-ku yang berperang di atas al-haq...” maka permasalahannya adalah bagaimana men-dzohirkan golongan (minoritas) tersebut.

Al-Islam ya`lu wala yu`la alaihi. Islam itu agung dan tetap agung, dari awal mulanya, hingga kini. Tapi bagaimana dengan umat-nya? Bagaimana dengan generasi mudanya dan kalangan terpelajarnya. Kita yakin akan sunnah kauny yang menyatakan bahwa peradaban itu dipergilirkan. Kita juga yakin bahwa Islam akan kembali mendominasi dunia (Idzharudien).

Kenyataan bahwa pengusung al-haq (baca : islamic standard) adalah minoritas pada saat ini telah di kabarkan oleh Rosululloh. Banyak dalil-dalil yang menegaskan, baik dalil naql maupun aql.

Akademisi bebas hukum
Sudah maklum bagi sistem hukum negara ini, bahwa kampus merupakan basis intelektual, kebebasan berfikir, berpendapat dan bersuara. Karenanya siapapun boleh berkata apa pun. Siapa pun boleh berpendapat apapun, tanpa harus takut terkena sangsi represif dari rezim. Ini aksioma yang disepakati secara umum. Bahwa sistem politik dan hukum tak berlaku di dalam kampus.

Lantas bagaimana dengan sistem agama (hukum agama, sangsi agama, dll)? Apa masih berlaku aksioma kebebasan diatas? Mari kita lihat Undang-undang agama kita.
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu k edalam Islam secara kafah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaiton [Al-Baqoroh:208]
Katakanlah: "Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam, tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah". [Al An' aam: 162-163]
Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang di turunkan oleh Allah (Subhanahu wa Taala), maka Allah (Subhanahu wa Taala) menghapuskan segala amal perbuatan mereka. [Muhammad : 9].

Sesungguhnya, Islam melingkupi seluruh aspek kehidupan. Tidak ada rukhsoh kecuali untuk kebodohan dan kelemahan. Apa yang tertera dalam transaksi dan perjanjian Islam, akan tetap memberikan konsekuensi pada siapa yang berada dalam naungan transaksi tersebut.

Jika dalam framework negara, kampus bebas nilai maka dalam framework agama tidaklah demikian. Seorang muslim tidak di perkenankan untuk melakukan diskusi tanpa implementasi, atau untuk berpendapat secara bebas atau berkata sekehendak nafsunya. Hawa nafsu tidak boleh ada di kampus, sebab ia hanya pantas ada di neraka.

Ilmu Iman versus Ilmu Kufur

Sudah mafhum dalam khazanah Islam, bahwa setiap ilmu menuntut pengamalan. Karenanya ilmu-ilmu Islam hampir seluruhnya bersifat praksis dan aplikatif. Tidak ada tradisi olah fikir (semata), atau onani intelektual yang biasa kita lakukan. Tidak ada diskusi, kecuali untuk implementasi. Karena apa yang diterima al-qalb, diterima oleh badan. Apa yang ada pada qoul akan ada pada `amal.

Berbeda dengan ilmu yang lahir di peradaban ‘tempat tenggelamnya matahari’. Apa yang ada di (dalam) kepala adalah untuk kepuasan kepala. Tidak berkaitan sama sekali dengan gerak tangan dan badan. Badan boleh di gereja, tapi kepala tidak mesti. Karena kepala punya kebebasan yang tak terbatas. (Isi) Kepala boleh saja pergi ke surga atau ke neraka, saat badan dan tangan ada di dalam tempat ibadah.

Islam menyeru manusia menuju Taman Firdaus secara keseluruhan. Taman kenikmatan yang dapat di rasakan kepala, tangan dan badan secara bersamaan. Taman yang akan menjadi tempat tinggal orang-orang yang menerima Islam secara keseluruhan. Taman yang memiliki segala kenikmatan, berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh manusia modern tentang surga.

Objektifitas dan perjuangan menggapainya
Sampai disini jelas, bahwa tidak hanya dengan berilmu kita menjadi beriman. Tidak sedikit orang yang ingkar justru setelah mendapat ilmu. Sekali lagi perlu di ingat bukan hanya ketidaktahuan yang membuat seseorang menjadi ingkar. Karena sebagaimana kita maklumi, iman dan kufr tidak di ukur dari sejauh mana pengetahuan yang di miliki.

Kita bisa melihat betapa ilmiah dan rasionalnya kekufuran pada hari ini. Secara empirik, setiap pihak yang mengusung peradaban akan mewujudkan tradisi ilmiah. Disisi lain, ada kisah tentang orang-orang beriman yang hampir kehilangan tradisi ilmiahnya. Jadi, bukan hanya iman yang menuntut tradisi ilmiah dan objektifitas.

Pada akhirnya, baik iman atau kufur, kedua pengusunganya akan diberi kemudahan untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah ia kuasainya itu”. Namun demikian, kita harus sadar bahwa hidup ini adalah perjuangan, dan menjadi kafir pun butuh perjuangan. Sebab hidup adalah pilihan, maka tentukan pilihan Anda sekarang juga. Mau bagimana lagi; iman atau kufur. Hanya itu!

***Revolusi Hari Ini***

Amanah dan Aqidah

“...Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia...” [Al-Ahzab:72]
“Wahai Abu Dzar, aku memangdangmu seorang yang lemah, dan aku menyukai untukmu apa yang aku sukai untuk diriku...”

Kalimat tersebut merupakan potongan nasihat Rosululloh kepada sahabatnya, Abu Dzar dari suku Ghifar. Hadits ini tertera dalam Shohih Muslim no.1826. Berkaitan dengan hal itu, pada hadits sebelumnya Abu Dzar berkata: “Wahai Rosululloh SAW, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?” Mendengar permintaan tersebut, beliau menepuk pundak Abu Dzar seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, engkau ini lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.”

Demikian menjadi adab bagi ummat Muhammad untuk tidak ‘merengek’ meminta jabatan. Bukan karena anti kekuasaan, bahkan Islam dan kekuasaan harus seiring sejalan. Tetapi adalah izzah dan iffah bagi orang-orang yang mengikuti manhaj nabawi untuk senantiasa bersikap waro`. Sebagaimana seperti yang digariskan dalam akhir ayat Al-Ahzab:72 “Sesungguhnya manusia itu amat dzolim dan amat bodoh”

Kebenaran dan Kekuasaan
Islam, meniscayakan penegakan seluruh aspeknya dalam bentuk kekuasaan. Karena Islam adalah sebuah mabda` yang menghasilkan nidzom. Sedangkan nidzom tidak akan terlaksana tanpa kekuasaan. Namun bagaimana kekuasaan tersebut dapat tercapai, inilah yang menjadi permasalahan. Islam (baca: sunnah kauni) membutuhkan kekuasaan, tapi Islam (baca: sunnah syar`i) juga menyuruh agar menjauhi kekuasaan. Demikianlah betapa realistis dan idealisnya Islam. Realistis karena mengajarkan keyakinan kepada hukum Alloh yang ada pada alam ciptaan (kauniyah) juga mengajarkan keyakinan kepada hukum yang disyari`atkan.

Keseimbangan tatanan hidup akan terjadi apabila kedua hukum tersebut sesuai dan dilaksanakan. Bagaimana mungkin kita mengharapkan hukum (syari`ah) yang lain jika hukum (kauniyah) yang berlaku telah tetap dan mutlak?

Lantas apa yang harus kita lakukan? Pertama tentu saja beriman, dan beriman butuh ilmu. Maka apa yang harus pertama sekali di cari adalah ilmu! Ilmu tentang segala aktifitas yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, ilmu tentang masalalu dan masadepan. Islam mengajarkan semuanya. Dan menerima Islam meniscayakan seluruhnya!

Sudah seyogyanya setiap muslim bertanya dalam setiap aktivitasnya, “Apakah hukumnya dalam Islam?” Halal kah? Haram kah? Mubah, Sunah atau Makruh kah? Dan semua pertanyaan ini harus di ukur dari parameter aqidah shohihah wal salamah. Semua harus terintegrasi (at-talazum).


***
“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya” [R. Bukhori no.7149 ; Muslim no. 1733]


***Revolusi Hari Ini***

Duduk Sejenak Bersama Mereka

Organ-organ kemahasiswaan begitu limpah ruah pada masa paska reformasi politik di Indonesia. Dari mana akar sejarah dan kelahiran mereka? Apa yang sesunggunya mereka perbuat? Semua orang boleh saja mengklaim peran dan fungsinya dalam dunia dakwah dan jihad. Tapi sesungguhnya, ibarat “buih di samudera” tidak mampu berdaya upaya selain aksi-aksi reaksioner yang sangat temporer sekali. Lembaga-lembaga dakwah formal mengalami banyak degradasi, baik dari segi kualitas kader, maupun perannya pada lingkungan intelek dan tanggungjawab akademiknya.

Permasalahan di atas, bagi kami adalah sesuatu yang harus di respon, di tindak lanjuti dan di perbaiki. Sebab, jika terus-menerus di biar kan akan semakin banyak khazanah Islam yang rusak. Cukuplah sudah fenomena “islam liberal”, “Islam Emansipatoris”, dan terlalu banyak yang menjengkelkan itu. Atau pembusukan terminologi syar`i oleh ahli makar kuffar dengan citra-citra negatif; Jamaah Islamiyah, Darul Islam, Negara Islam, Qiyadatul Jihad.

Dari dalam, kita di paksa untuk mengubah mafahim kita akan konsep-konsep Islam. Dari luar kita di paksa menelan term-term asing yang secara kontinyu dan sistematis dijadikan sebagai konsep yang ma`lum minad-Dien. Apakah ini tidak berbahaya? Apakah ini remeh dan sesuatu yang kecil? Lihatlah orang-orang yang dipermainkan niat baiknya di panggung politik! Lihatlah ulama-ulama di penjara! Inikah yang dimaksud “ya`lu wala yu`la alaih”?

Berangkat dari ironi dan masalah ini kami sadar dan bangkit. Kami ingat akan “kisah-kisah masalalu” kami. Tentang masjid Nabawi dan sesuatu dibaliknya. Tentang Ahlu Suffah dan sesuatu dibaliknya. Tentang Hudaibiyyah dan sesuatu dibaliknya. Tentang Badar, Uhud dan Parit-parit. Tentang Gua Hiro dan makna yang disiratkan. Tentang darul arqom yang misterius. Tentang darun-Nadwah, kekufuran yang sistematis.

Maka kami menggariskan 2 prinsip dan menetapkan 2 golongan dalam kancah semesta saat ini.

2 Prinsip : Gugus Tugas dan Gugus Tempat
Ini prinsip kerja yang harus dipahami. Karena banyak mereka yang tidak memahaminya harus layu dan tumbang di jalan ini. Sengketa wilayah, tarik-menarik kader, benturan kepentingan, dan banyak hal memalukan lainnya.

Dapat kami sederhanakan, bahwa muslimin di satu tempat adalah satu. Adapun klasifikasinya hanya 2; yang khos dan ammah. Dalam istilah manhaj; ada ahlussunnah, ada ahlul qiblah. Dan Islam hadir sebagai transaksi hidup muslim, dimana pun mereka berada. Islam menetapkan persaudaraan, kekeluargaan dan kepemimpinan yang datang (la syarqiyyah wala gorbiyyah) dari Alloh. Inilah inti sari risalah yang di bawa Rosul dan anbiya. Di satu tempat muslimin adalah saudara, keluarga dan negara secara sekaligus!

Berkaitan dengan perwujudan dari eksistensi risalah islam maka menjadi penting untuk memahami perjalanan hidup rosul. Kami berpendapat bahwa hanya dengan mengkaji Siroh Nabawiyah setiap muslim akan berada pada posisi yang ia pahami. Dan yang perlu kami sampaikan, bahwa Muhammad SAW menjadikan `Umar sebagai `Umar, Usman sebagai Usman, Abu Dzar sebagai Abu Dzar, Kholid sebagai Kholid, dan Abdurrahman bin Auf sebagai dirinya. Juga shahabat dan shahabiyah yang lain. Ini yang menjai fokus dan bidang kerja (penugasan) para mutarobbi, yang murobbi¬-nya adalah manusia yang paling hasanah uswah-nya.

Metode
Adapun proses tarbiyah tersebut, telah berlaku adab-adab yang memiliki filosofi yang dalam. Kita bisa banyak belajar dari dialog, penamaan, penolakan dan penetapan mereka, para assabiqunal awwalun. Dan kami berusaha menetapkan dan mengadopsi hal ini. Sehingga tarbiyah bagi kami bukanlah hanya halaqoh tatsqofiyah atau tablig belaka. Kami berusaha mewujudkan Ta`dib, yakni pendidikan untuk menjadi manusia beradab. Manusia-manusia yang memiliki visi-misi peradaban yang berkesesuaian dengan sunnah idzharul islam. Ta`dib yang memiliki korelasi akar kata dengan `adab, tamadun, madinah dan dien.

2 Golongan yang Tetap

Manusia hidup berkelompok. Masing-masing bangga dengan kelompok/ golongannya. Golongan-golongan ini, adalah camp yang memang dipisahkan oleh Alloh sejak awal hingga akhir. Dan hijab (pemisah) di antara mereka adalah tawhid (Rububiyah-Uluhiyah-Ilahiyah-Mulkiyah-Hakimiyah-Asma` dan Sifat) yang merupakan Hak Alloh. Tidak ada hukum dan ketetapan, kecuali milik Alloh.

Golongan yang selamat (ahlul islam: al-jamaah) adalah yang menjadi pengusung dan pengibar berdera tawhid, yang dibelakangnya adalah para jundi dan martir. Mereka menaungi dan menyelamatkan orang-orang yang satu kiblat dengan mereka (dalam hal ini ammah). Merekalah da`i dan muharik yang sesungguhnya!

Golongan yang celaka (ahlul nar: Kuffar) adalah pengusung dan pengibar bendera syirik dan riddah. Merekalah para Kafir dan murtadin (yang sadar maupun tidak!) yang menaungi manusia yang lalai dan lengah terhadap transaksi ilahi (Dienulloh). Mereka punya banyak jebakan dan perangkap.

Para Rosul dan Anbiya berhadapan dengan Iblis dan Hawa nafsu. Demikian para pengikutnya. Tidak ada golongan diantara keduanya, melainkan akan tersesat dan terjerumus dalam Api, kecuali yang dikehendaki oleh Alloh.

Metode

Kami bersama seluruh orang-orang yang bersyahadat, menetapkan bahwa Kalimat Syahadat adalah sebuah konsep dan metode sekaligus. Dengan memisahkan antar Haq dan Bathil. Yakni yang dikenal sebagai an-nafi atau ar-radd dan al-itsbat. Demikian para ahli hadits menetapkan kaidah jahr dan ta`dil.

***

Akhirnya kami, mengajak semua untuk menyelamatkan konsep-konsep islam dan mafahim dan fikrah asing yang hendak mengacaukan (at-talbis) worldview muslimin. Dalam arti yang sesungguhnya; bukan bergabung bersama kami, akan tetapi mari bersama-sama menjadi orang-orang yang di takdirkan sebagai orang yang berperan sebagai penolong Dienulloh.

Ya, bergabunglah dengan mereka!

***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina