Islam kah yang terasing..?

“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing...”
[Muhammad ibn Abdullah]


Apa yang terjadi dimasa silam benar-benar berbeda secara faktual dengan apa yang terjadi pada diri kita pada hari ini. Meski sejarah sering berulang tetapi selalu saja ada bentukan-bentukan baru yang hampir membuat kita terheran-heran. Bagaimana banyaknya kejanggalan dan keanehan perilaku umat Islam, pada hari ini sebenarnya mencerminkan kebenaran kabar di atas. Terorisme, Anti-toleransi, Anti-demokrasi, tradisionalisme aqidah, sampai ke-ajegan model pakaian, membuat kebanyakan kita tak habis fikir, ada apa sebenarnya dengan orang-orang seperti itu?!

Ada-ada saja. Di zaman yang pasca-modern ini ternyata masih ada yang ‘primitif’ dan eksluksif. Ada yang menolak pluralisme dan kebebasan. Ada yang selalu mengobarkan perang, ada yang fanatik dan keras kepala dengan keyakinannya. Ada juga yang merasa perlu untuk merepotkan diri dengan menjajakan kebenaran yang diyakininya kepada masyarakat sekitar. Tapi, di zaman ini tak cuma ada orang-orang seperti itu. Ada juga yang seperti kita atau yang lainnya. Yang seperti apa? Entahlah. Tapi mari kita meneliti kembali posisi diri kita masing-masing.

***
Pernahkah terbayang dalam benak kita, jika kita hidup di zaman unta. Dimana Abu Jahal dan rekan-rekannya yang terhormat dalam masyarakatnya masih hidup. Dimana 2 adidaya; Persia dan Roma masih dzohir dengan hegemoni budaya dan ideologi pagan serta imperialisme-nya. Masa-masa, dimana ada sekelompok masyarakat yang tinggal diantara jalur perdagangan dunia tapi tetap terbelakang. Tertinggal dalam baca-tulis, pemikiran dan peradaban. Tetapi pada masa itu, Abu Jahal tetaplah Abu Jahal Sang Diktator kecil di Jazirah-nya. Tak peduli betapa kecilnya ia dalam pandangan masyarakat dunia, Tak peduli betapa sedikitnya kekuasaannya, yang jelas ia penguasa yang terhormat di tempatnya.

Pernahkah Anda bayangankan, ini benar-benar seperti cermin yang wajah wajah kita dalam refleksi ke-jahilan gaya baru? Kita yang hidup di jalur strategis dunia, tak punya posisi tawar lagi. Tapi apa? Kita masih tetap bisa meniru mereka; para Adidaya, dengan menjadi diktator-diktator. Kita tetap bisa menjadi eksekutor atas masyarakat ummiy nusantara. Tetap bisa menjadi legislator atas masyarakat Tartar yang anarkis. Siapa kita? Abu Jahal kah?

Diantara 2 keterasingan

Dalam kondisi demikian, sebagaimana terjadi 15 alaf hijriyah silam kita dapat melihat karakter masyarakat dan ummat. Siapa kaum awam-mayoritas, siapa kaum elit-minoritas? Siapa pula yang menolak tirani-tirani tersebut?

Tirani awam-mayoritas senantiasa menindas manusia-manusia yang tidak me-massa, tidak populis dan tidak lazim. Bagi mereka; yakni yang lazim, me-massa dan populis, tak ada kata lain untuk berbeda. Tak boleh ada pendapat yang menyelisihi mereka. Tak boleh ada perilaku ‘menyimpang’ dari standar mereka. Sementara, tirani elit-minoritas menindas mereka yang tidak kuasa, tidak mampu berbuat dzalim, dan tidak demokratis. Bagi mereka, tidak boleh ada aturan, kecuali berkesesuaian dengan nafsu mereka. Tak boleh ada ideologi kecuali yang tidak mengancam kedudukan mereka.

Mahasuci Alloh yang telah mengutus seorang dari mereka; kaum yang ummiy dan jahiliy. Seorang manusia yang mengajarkan baca-tulis yang Robbaniy dengan sebenar-benarnya. Meski harus berhadapan dengan kemapanan dogmatis alias ke-jumud-an. Meski harus ter-alienasi dari sistem sosial dan tata masyarakat yang populis dan demokratis. Meski harus di stigma sebagai Anarkis atau Teroris. Gila, penyihir, maniak sex atau provokator. Ini semua demi meng-angkat 2 kaum Tiran dan manusia seluruhnya dari lumpur keterasing yang amat nadir. Keterasingan dari fitrah, naluri dan akal sehat. Inilah misi kerosulan yang sebenar-benarnya. Ia mengajak manusia untuk meninggalkan peradaban fisik dan sex oriented dengan hijab. Ia mengajak manusia untuk meninggalkan kemufakatan animo demokrasi dan polling yang kapitalistik. Ia mengajak manusia untuk meninggalkan perdamaian semu yang menipu dan kepengecutan sikap dengan jihad. Ia mengajak manusia untuk menolak pemberangusan identitas dan penghilangan jati diri ala pluralisme dengan dakwah.

Sayangnya, misi kerosulan tersebut benar-benar terlihat janggal dan aneh pada hari ini. Padahal estafeta risalah tak akan pernah berhenti, meski kita halangi. Bagi masyarakat dunia sekarang, semua bersebrangan dengan misi kerosulan. Boleh jadi, jika Alloh berkenan mengutus seorang Rosul kepada kita pada hari ini kita akan menentangnya. Boleh jadi, kita akan men-stigma orang-orang yang bersamanya sebagai gerakan teroris, kelompok anarkis yang provokatif, atau penganut fanatik yang rada sedikit nakal alias radikal. Di barisan mana kita akan berdiri? Pada garda terdepan pembela Nabi atau Thogut Demokrasi?

Akhirnya kami sampaikan pertanyaan kepada Anda. SIAPA YANG TERASING TERHADAP APA?!

Wa `l-Lohu a`lamu bi`sh-showwab


***Revolusi Hari Ini***

Refleksi Rajab

Atau seperti yang bagaimana kah
Engkau ingin memilih ku?
Tidak
Sungguh tidak demikian
Ini bukan penolakan seperti pada umumnya
Juga bukan rayuan untuk menjerumuskan
Ketahuilah, cinta dan nafsu itu mirip
Tiada yang memisahkannya
Kecuali sehelai benang yang tipis

[Rajab 1427]


Aku masih melihat mu di langit yang pertama
Bukankah tujuan kita Sidratul Muntaha?


[Refleksi 27 Rajab 1427]

***Revolusi Hari Ini***

Kritik untuk PENGGERAK

“Bergeraklah, karena diam adalah kematian”.


Pengantar Kehidupan dan Gerakan
Manusia hidup sebagai makhluk yang memiliki ciri khusus, yakni apa yang secara dzohir jelas berbeda dengan yang makhluk lain. Berpikir dan bergerak. Bergerak yang membedakannya dengan pepohonan. Berpikir membedakan ia dengan binatang. Katakanlah, bahwa pepohonan itu pun bergerak dan binatang pun dapat berpikir. Tapi saya anggap kalian sudah cukup cerdas untuk mengerti apa yang saya maksud.

Manusia bergerak secara unik dan berpikir secara rumit. Bergerak secara unik adalah pembedaan gerak seperti yang dilakukan sebagian dari kalangan pepohonan. Dimana manusia dapat mengatur geraknya beserta alasan rasionalnya. Manusia dapat menahan geraknya. Manusia dapat memilih geraknya. Dan itu berarti manusia tidak hanya bergerak, tetapi berpikir atau menggerakan pikirannya.

Berpikir secara rumit termanifestasikan dalam “bahasa”. Bahasa yang benar-benar berbeda dengan bahasa makhluk yang lain. Katakanlah binatang dan pepohonan juga dapat berbahasa, tapi lagi-lagi saya tak akan menuduh kalian bodoh untuk dapat membedakan bahasa masing-masing. Bahasa yang dimiliki manusia lahir dari kesadaran yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Kesadaran yang biasa disebut akal, yang terlahir dari gerak hati (nurani). Jika ada yang masih mengatakan, bahwa makhluk lain pun “sadar” dan “berakal”, ah sudahlah; jangan paksa saya menyebut kalian bodoh! Kalian pasti bisa membedakannya.

Seorang penyair berkata “kontemplasi tanpa aksi sama dengan kematian”. Sebelum saya melanjutkan, saya ingin Anda tahu bahwa penyair itu adalah Iqbal yang masyhur itu. 

Ya! Hanya kontemplasi (perenungan) yang benar-benar membedakan ( dichotomy ) manusia dengan yang lainnya. Saya akan menyebut kalian bodoh dan tolol jika menganggap binatang dan pepohonan pun berkontemplasi.

Lalu apa makna dari penyataan Iqbal? Secara matematis kita dapat memahami, bahwa konklusi “kematian” ada karena ketidaksempurnaan “kontemplasi”, yakni berkurang karena ketidaksertaan “aksi”. Logika matematik mengajarkan kita untuk memahami bahwa kesempurnaan “kontemplasi” adalah dengan “aksi”. Atau dengan kata lain “kontemplasi yang sempurna” adalah renungan dan gerakan, bukan hanya perenungan yang menggerakan (dam tentunya renungan tadi pun, bersifat menggerakan).

Aktifitas Hidup dan Kehidupan Aktifis
Pergerakan adalah bagian dari kehidupan. “Bergeraklah karena diam adalah kematian”. Kehidupan manusia adalah kehidupan yang dinamis dan tidak statis. Pembedaan ini untuk menunjukan keadaan alami dari bentuk kehidupan. Bukan untuk mendeskriditkan pola kehidupan suatu masyarakat. Karena telah terjadi pada sebagian orang, penyebutan yang sungguh sangat memalukan –yang hal ini menunjukan ketidakdewasaan berpikir – diri orang tersebut. Biasanya, mereka yang tinggal di kota (tempat bertumpuknya distribusi uang dan modal serta kerusakan alam) akan mengklain pola hidupnya lebih dinamis dari mereka yang tinggal di pedesaan. Dapat dipahami, jika pernyataan seperti ini keluar dari seorang yang tulus, jujur, rendah hati dalam memandang kedua kehidupan tersebut. Akan tetapi, betapa sangat menjijikan apa yang dilakukan sebagian orang yang megatakan hal tersebut dengan angkuh dan memandang sebelahmata terhadap pedesaan.

Pertanyaan mendasar untuk mereka yang angkuh adalah makna “waktu” dan “kerja”? Sungguh suatu kesesatan berpikir jika parameter keduanya adalah “uang” dan “modal”.

Apa makna waktu jika semua untuk uang?
Apa makna kerja jika semua untuk modal?
Keduanya adalah dusta masyarakat kota


Di desa sebelum musim urbanisasi, kehidupan menunjukan pola hidup yang alamiah. Sebelum masyarakat kota mengenal kata produktifitas, mereka telah memaknai dan mewujudkannya ditengah ladang dan hutan. Hitunglah, berapa hektar yang mereka gali dengan tangan dan pacul bersama sekawanan kerbau. Niscaya kalian tak dapat menghitungnya. Hal ini berbeda dengan harta masyarakat kota yang terhitung dan terbatas. Setiap mereka dapat melihat hasil jerih payahnya di depan kotak monitor, berapa baris angka nol tersusun untuk dirinya.

Jika produktifitas adalah bangunan pencakar langit
Maka traktor lebih pantas dihargai dari manusia


Lihat mereka yang menyebut dirinya sebagai Muharrik. Atau mereka yang tersebut sebagai Muharrik karena tatanan yang terbingkai dalam pengagungan sebagian kelas sosial oleh sebagian yang lain. Agen perubah? Pejuang masyarakat? Sungguh suatu dusta yang amat memalukan!

Sesungguhnya ciri manusia adalah bergerak, dan setiap manusia pasti bergerak. Memilih untuk diam sesungguhnya tetap bergerak. Kecuali mereka yang mati. Pikiran mereka bergerak. Tangan dan kaki mereka terus terayun membentuk sistematika dan mekanika yang unik. Sampai disini, tidak ada perbedaan antara siapa yang bisa disebut sebagai “Aktifis” dan mereka yang diejek sebagai “Pasifis”.

Apa keistimewaan mesin industri yang tak kenal henti
Sedang manusia memilih untuk duduk terpatri?


Aktifis. Para anggota partai dan mahasiswa. Apa yang kita lihat di televisi bukanlah kehidupan mereka. Itu hanya realiti show demokrasi yang hampir rutin terjadi. Dan setiap pertunjukan itu akan berjalan lancar dan mulus berdasarkan kesepakatan durasi tayang, antara korlap dan kantor polisi.

Lihatlah kehidupan. Lihatlah keseharian! Siapa yang kau dapati duduk tertawa di atas meja dengan kartu di tangan kanan, rokok di tangan kiri. Lihat siapa yang asyik ‘berdiskusi’ di ruang kantin (tempat makan!). Lihat siapa dan apa yang mereka pikirkan di ruang-rungan kelas ber-AC?!

Dan apa yang diklaim oleh sebagian aktifis adalah dusta!
Masyarakat bergerak bersama dirinya sendiri, tanpa memerlukan mahasiswa dan aktifis pergerakan.

Bagaimana Seharusnya Penggerak?
Pikiran yang bergerak akan menggerakan seseorang. Apa yang terjadi pada diri seorang Muharrik (Penggerak) sejati seharusnya bermula dari “pikiran yang bergerak” tersebut. Jika kalian memahami apa itu “pikiran yang bergerak”, tentunya kalian akan memiliki bayan (penjelasan) dan furqon (pembedaan) menganai siapa Muharrik sejati. Kalian juga tidak akan tertipu, mana aktifis palsu, mana klaim pasifis, dan mana realita.

Mengikuti realita adalah fitnah yang besar bagi kalangan penggerak. Seseorang yang hidup bersama akan senantiasa berbagi dan berinteraksi. Lantas, dimanakah letak fitnah itu? Semuanya dapat kita temukan dari dalam hati yang tenang, pikir yang jernih dan motiv yang bersih. Kalian yang hidup bersama, berjibaku dengan masyarakat, berinteraksi dengan ‘ke-tidak realistis-an’ dan ‘ke-tidak idel-an’ tatanan yang biasa disebut sebagai “normal” dan “standar”.

Dengan memahami ini, semua yang bergerak (di mulai dari pikirannya) akan sepakat bahwa tatanan ini adalah sistem dusta. Dusta yang kompleks dan komprehensif. Dusta yang memperdaya.

Maka mereka yang memiliki kesamaan, yakni keresahan, ketidaknyamanan, kegelisahan, dan gerak penolakan hati lainnya, mereka akan berkumpul, bersatupadu dan bergabung dalam suatu “gugus daerah” atau wilayah kerja untuk bergerak melakukan perubahan. Gugus tempat inilah yang mesti dipahami, sebab dengan terpencarnya fragmen-fragmen dari “kerja perubahan” semuanya akan mengacaukan pembagian divisi dan kerjasama lokal yang seharusnya terjadi secara alami! Tanpa memahami “gugus tempat”, “pola juang” perubahan akan menjadi kacau dan tidak beraturan.

Bagimana tidak, jika 2 orang yang bergandeng tangan mencondongkan hatinya ke arah yang berlawanan dalam penugasan. Bagaimana tidak, jika instruksi datang dari dua arah yang besebrangan. Sedang klaim yang mereka dengung-dengungkan adalah musyawarah dan kebersamaan.

Untuk selanjutnya, apa yang harus dilakukan akan terkait dengan “gugus kerja dan gerak”. Memahami ini , berarti memahami grand desain yang akan menjadi tujuan,. Dimana semuanya tergambar secara gamblang, dari miniatur hingga sebab-sebab penghancurnya. Dengan mengikatkan diri pada satu kesatuan “gugus tugas”, manusia penggerak akan berjalan secara sinergis dan terencana.

Yang perlu di perjelas adalah, gugus tugas ada karena ada penugasan. Penugasan itu sendiri ada karena ada kepemimpinan. Sedangkan kepemimpinan alami adalah kepemimpinan lokal yang merupakan cerminan dari gugus tempat (selingkungan kehidupan). Dan seterusnya, berkembang dan semakin luas mengikuti alur radius gugus ini hingga bersifat mondial.

***Revolusi Hari Ini***

Paman Romadhon akan tiba...!

aLLoHumma Bariklanaa fi Rajaba wa Sya`ban..
Wa Baligna ila Romadhon..

***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina