KADO BUAT Meea

Tentang kejutan-kejutan yang kau berikan
Tentang harapan-harapan;
Engkau menakjubkan!

Kegelisahan bertahta
Kecemasan bermahkota
Namun engkau di singgasana...

Sahabat, yakinlah
Ikatan yang kau bangun itu kokoh
Janji dan sumpah mu itu perisai
Tunaikanlah dan taat
Maka engkau akan terhormat

Yakin, siapapun yang mendekap mu
Ia pakaian mu
Yakin, siapapun yang memimpin mu
Ia benteng mu
Berpeganglah dengannya.
Kenakan dan gunakan ia.

Niscaya engkau bahagia...
[Semoga!]

Senin, 27 Nopember 2006; 00:48

NB: BarokaLLoHu laka wa Baroka `alaika. Wa jama`a bainakuma fi khoir... aamien


***Revolusi Hari Ini***

Tapak Nikah, Jalan Sakinah

1. Bolehkan seorang ikhwan/ akhwat membatalkan proses khithbahnya karena merasa tidak cocok dengan calonnya atau mengetahui ada calon yang lebih tepat? Bagaimana, Ummu?

Ya, Jadi memang begitu. (Jika ingin menikah) namanya ada perjanjian. Jadi artinya dia (si wanita) itu sudah punya atau membuat perjanjian dengan laki-laki tiba-tiba yang membatalkan yang perempuan (padahal sudah diterima, red). Ada ketentuan seseorang yang melamar yang sudah dilamar orang lain, itu tidak boleh. (jika akad masih terikat, red.) Sekarang bila bukan kemauan dari orang kedua (yang ingin melamar) itu. (Tetapi yang mengikat akad ingin membatalkan). Jadi sebenarnya, karena itu belum terjadi pernikahan, istilahnya tunangan. Sebenarnya itu ada hikmahnya. Bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menyetujuinya, lamaran itu...mungkin setelah ia mempertimbangkan beberapa hal akhirnya dengan pertimbangan itu dia (katakanlah) membatalkan yang tadinya sudah dilamar oleh laki-laki yang pertama. Dan yang perempuan ini, kalau perempuan ini yang memutuskannya itu tentu saja dia punya hak. Selama yang sesudahnya, yang laki-laki ini dinilai kurang memenuhi syarat bagi dia, sementara misalnya laki2 yang orang kedua itu dianggap lebih pantas atau sebagainya. Jadi saya pikir itu ada haknya, perempuan itu.

Artinya yang perempuan ini boleh membatalkan, tetapi dengan yang kedua (harus) belum ada ikatan?

Jadi dalam hal ini, menurut saya seandainya ada perempuan yang menolak/ membatalkan. Saya katakan itu lebih baik bagi laki-laki yang telah menyetujui lamaran itu. Karena begini, seandainya dipaksakan sedangkan perempuan itu tidak mau, nah ini akibatnya lebih buruk, buat laki-laki ini. Jadi ini suatu hikmah dimana misalnya perempuan itu memang sudah tidak mau, dari pada nanti setelah perkawinan ini terjadi rumahtangganya tidak akan damai karena ada semacam penyesaalan. Jadi disini ada hikmah buat laki-laki yang sudah melamar itu. Jadi lebih baik dia menerima, demi kebaikan diri dia sendiri.

Menerima untuk dibatalkan?

(Ya) menerima untuk dibatalkan, itu lebih baik bagi dia ketimbang dia memaksakan diri nanti setelah terjadi perkawinan, itu juga tidak membawa kepada atau menjadikan keluarga yang sakinah. Karena perempuan itu juga (tidak akan) menemui keinginannya.

> Kalau motivasinya bukannya (dia) merasa tidak cocok, tapi merasa ada yang lebih baik?
Misalkan, sudah tidak ada masalah dengan calonnya. Kemudian dia tahu atau kenal belakangan, (biasanya ada yang melamar tapi nikahnya tahun depan) namun dalam perjalannya ketemu dengan yang lebih baik, teman lamanya. Dalam artian, motivasi itu datang dari pihak luar, misalkan ikhwan melihat ada teman waktu kecil, yang diketahui latarbelakangnya baik, kemudian ketemu lagi dan merasa kayanya ini lebih baik daripada yang kemarin sudah (diterima). Pun dari akhwat, misalnya kenal dengan ikhwan yang dulu pernah ia kenal lebih baik, dan dia ingin dengan yang baru tersebut. Bagaimana?


Saya pikir itu lebih baik bagi orang pertama yang sudah melamar itu, untuk menerima keputusan itu. Kenapa? Karena itu hikmahnya lebih (besar) buat orang yang sudah melamar itu. Karena kalau dia memaksakan diri, itu tidak akan baik untuk kehidupan dia. Karena, perempuan itu jadi terpaksa. Dan sesuatu yang terpaksa, nanti setelah terjadi perkawinan rumahtangganya tidak akan tenang. Nah jadi, dalam hal ini sebaiknya orang yang tadi sudah disetujui (sudah melamar) duluan itu, baiknya menerima keputusan itu. (Karena) ternyata aLLoH tidak (katakanlah) menyetujui dan untuk mencari orang lain yang lebih tepat menurut aLLoH.

> Berarti kalau ikhwan yang membatalkan, ikhwan bisa langsung membatalkan. Kalau akhwat harus lewat wali-nya? Atau si akhwat sendiri boleh langsung minta batal/ putus. Bagaimana?

Dia melamar sudah melalui wali-nya?

> Iya dan sudah diterima..

Iya seharusnya begitu. (dengan wali-nya). Wali juga ikut, kalau dia yang pertama ikut menyetujui. Kemudian wali-nya akan berbincang kembali dengan orang yang sudah melamarnya; dengan alasan demikian ini itu terpaksa kita batalkan, dengan pertimbangan begini dan begitu. Supaya nanti pihak laki-laki yang sudah melamar itu, tidak kecewa. (Dan) menerima itu sebagai keputusan aLLoH. Yang dibelakangnya ada hikmah. Ya, jadi tidak mesti bahwa sesuatu (yang kita inginkan tercapai, red.) mungkin dia kecewa, tetapi ketahuilah kalau dipaksakan tidak akan baik untuk kehidupan dia. Jadi dia pasrahkan kepada aLLoH. Kita serahkan kepada aLLoH. Minta dibeikan kepada aLLoH supaya diberikan jalan yang terbaik.

2. Bolehkan 2 orang saling berjanji untuk menikah tanpa akad resmi? hanya antara pemuda dan pemudi, (mereka hendak menikah). Baru janji antara mereka berdua dan belum dengan keluarga dan baru sekedar perjanjian saja dan belum khithbah.

Sekedar janji boleh saja. Tapi kalau mereka sudah menikah tanpa sepengetahuan wali, dalam rangka sekedar janji, misalnya tahun depan kita menikah. Selama itu baru berupa janji saja, bisa dilaksakan bisa juga tidak. Tetapi kalau istilahnya mereka langsung menikah tanpa persetujuan wali, dalam islam ada 2 pendapat. Menurut 4 mazhab fiqh. 3 mazhab, yakni Syafi`i, Hambali dan Maliki, tidak men-syahkan pernikahan seorang wanita tanpa ijin wali-nya (orangtuanya). Menurut mazhab Imam Hanafi, perempuan boleh menikah tanpa sepengetahuan wali, nikahnya syah, tetapi orang tua/ wali punya hak untuk membatalkan pernikahan tersebut. Pertama dia menikah orang tua tidak mengetahui..menurut Imam Hanafi nikahnya syah, tetapi orang tuanya punya hak menfasah/ membatalkan atau menyetujui pernikahan tersebut. Jika wali menyetujui pernikahan dapat diteruskan, tapi kalau wali tidak setuju wali berhak membatalkan pernikahan tersebut. Dan batal menurut Imam Hanafi. Dia harus mengikuti kemauan, atau keputusan orangtuanya (setelah orangtua mengetahui, red.).

> Berarti janji yang pertama saya tanyakan tadi termasuk jatuh khithbah? Apakah yang seperti itu terlarang?


Belum terjadi akad, karena hanya sekedar baru janji. Tidak terlarang, tapi hanya janji dan proses menuju ke akad. Jadi baru sekedar janji dan belum terjadi apapun. Janji itu (sendiri) bisa dipenuhi, bisa tidak tergantung perkembangan keadaan yang dilihat oleh kedua pasangan ini. Kalau mereka lihat itu baik buat mereka menyetujinya, atau mereka bisa juga janji itu tidak diteruskan karena berbagai pertimbangan, misalnya. [Artinya belum ada ikatan atau konsekuensi] belum ada ikatan (karena) belum ada akad apapun antara mereka berdua.

3. Kekhawatiran atau alasan apa saja yang bisa dijadikan pertimbangan untuk melanjutkan atau membatalkan proses khithbah?

Segala sesuatunya perlu proses, perlu pengenalan yang lebih matang. Jadi seseorang itu sebaiknya mengenal lebih dekat atau mengenal lebih jauh, misalkan. Baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, supaya jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Katakanlah untuk pertama itu kenal dulu, kenal keluarga, kenal baground. Nah setelah kenal dengan baik kemudian mempelajari sifat-sifatnya mungkin orangnya kasar atau orangnya baik, atau banyak pertimbangan kebijaksanaan dan lain-lainnya. Itu sebaiknya dikenal lebih jauh. Supaya nanti setelah berlangsung perjanjian-perjanjian tersebut, tidak goyang oleh perubahan-perubahan. Jadi pertama kalau melihat perempuan ini perempuan baik-baik, keturunan keluarga baik, keluarga yang terhormat, misalkan. Nah itu perlu diketahui. Kemudian background si wanita ini, pendidikannya, sifat-sifatnya. Begitu pula sebaliknya. Dari pihak laki-laki mesti dikenal bagaimana background pendidikannya, bagaimana background keluarganya, kemudian sifatnya karakternya, laki-laki ini. Apakah seorang pemarah, atau seorang yang bijaksana, punya pertimbangan, punya rasa kasihsayang terhadap perempuan. Nah itu sebaiknya diteliti terlebih dahulu. Jadi jangan cepat-cepat mengambil keputusan. Lebih baik mengenalnya, mengenal backgroundnya, dan ambil waktu proses, jadi jangan segera begitu kenal langsung berjanji. Setelah berjanji sekian lama ternyata diketahui background masing-masing itu tidak baik. Nah disitu akan terjadi pemutusan hubungan Setelah beberapa lama dikenal, ternyata background salahsatunya itu tidak baik, misalnya. Jadi sebaiknya kenali dulu sejauh mana pribadi masing-masing. Nah, setelah itu kelihatan nanti, biasanya yang pertama terlihat itu kan indah-indah saja. Nanti setelah bergaul sekian lama ternyata dia punya sifat yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Jadi, untuk menghindari hal itu, sebaiknya kita jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Sebab begini, kalau memang si wanita memang mencintai laki-laki itu, dia dengan cara bagaimana pun, kalau pun dia orang yang kurang baik, dia akan berusaha menjadi orang yang (lebih) baik supaya laki-laki ini jadi dengan dia. Sebaliknya juga begitu, laki-laki seandainya dia memang tertarik dengan perempuan itu, dia akan berusaha menjadi seorang laki-laki yang baik. Jadi, jangan cepat-cepat semuanya. Sebab kalau dalam waktu dekat terlihat yang baik-baik saja, setelah beberapa waktu kelihatan, oh ini punya sifat yang seperti ini. Jadi biarlah prosesnya agak lama sebelum mengambil keputusan. Supaya mengenal lebih dekat pribadi masing-masing.

> Bagaimana jika dibatalkannya, misalkan alasannya itu, bukan masalah pada kedua calon, melainkan pada keluarga atau yang lainnya?

Ya itu dia, jadi sebelum mengambil lkeputusan sebaiknya kita kenal dulu lebih dekat, keluarganya dia. Dengan kita mengenal lebih dekat, kita disitu baru bisa mengambil keputusan, mau dengan orang ini atau tidak. Kalau misalnya kita sudah mengetahui ini keluarga ini bukan keluarga baik-baik, selalu berbuat begini-begini, misalnya. Nah disitulah kesempatannya kita untuk tidak melanjutkan hubungan ini, laki-laki ataupun perempuan tersebut. Nah jadi jangan terlalu cepat mengembil keputusan. Kalau perlu di uji dulu (sejauh mana kebaikannya). Contohnya; kalau kita begitu cepat bilang “saya cinta”, nah ternyata laki-laki ini sudah pernah nikah, misalkan. Nah disini akan timbul kekecewaan, kalau perempuan sampai tidak tahu. Jadi perlu untuk mengenal lebih dekat dengan calon ini. Sebelum mengambil keputusan untuk berjanji. Ini untuk keselamatan kita juga. Jadi dalam hal ini jangan terburu-buru melihat sesuatu yang baik. Ternyata mungkin dibelakang kita tidak baik. Jadi kekhawatiran-kekhawatiran seperti itu bisa dihindari dengan mengenal lebih dekat calon kita tersebut.

>Demikian saja Ummu, JazakumuLLoHu khoiran.

(Wa iyyaka) Mudah-mudahan bisa dipahami.

[Durasi 17:13] Senin, 13 November 2006

NB: Setelah itu Dr. Eliwarti banyak memberikan saya nasehat yang berharga. Saya baru sadar kalau saat itu pukul 06:45, padahal saya ada jadwal kelas jam 07:30. Saya masih di rumah (Bogor), kampus saya di Depok. Saya pikir, kuliah ini lebih berharga. aLLoH menghibur saya pagi itu... Segala Puji Bagi aLLoH.

***Revolusi Hari Ini***

Epilog buat si Goblog (Bush L.A.)

Dengan teriakan yang sama sebagiamana seorang muslimah kepada al-Mu`tashim; Yaa Ibn Ladien... Akankah Al-Qaidah mengirimkan pasukan yang kepalanya di Bogor sedang ekornya di Baghdad.

***Revolusi Hari Ini***

Petunjuk Diatas Pembedaan dan Penjelasan

BismiLLaHi ar-Rohamani ar-Rohimi
AlhamduliLLaHi wa SyukuriLLaH. Wa Laa Haulaa wa laa Quwwata illa bi LLaH.

Al-Fadh rahimakumuLLoH. Pada hari ini begitu banyak kekaburan dan kerancuan yang melanda ummat, menyelimuti kehidupan dan membayang-bayangi setiap jiwa yang menginginkan kebenaran (al-HaQ). Para Ulama menyebut masa kita sebagai Yaumul Fitnah (Masa Ujian), dimana banyak kedustaan dan kemunafikan. Sesuatu yang memang menjadi wajar pada hari ini. Dan setelah ini kita akan sampai pada Yaumul Furqon (Masa Pembeda), dimana terpilahnya haq dan bathil akan semakin jelas. Perbedaannya akan semakin nampak. Tawhid dan Syirik wal Ilhad akan menjadi jelas seperti sinar mentari di siang hari. Dan fase-fase perubahan ini adalah masa yang amat berat.

Fadh, bayangkan bagaimana sebuah ketidak-karuan, kelarut dan campur-bauran pada hari ini akan menjadi hal yang terpisah pada esok hari.. Sungguh menakjubkan! Masya aLLoH wa SubhanaLLoH.

Fadh, mari kita memuji Pemilik diri kita, Penguasa yang senantiasa Mengurus setiap makhluqnya. Mari kita memuji Dia seperti orang-orang yang berterimakasih, sebagaimana orang-orang sebelum kita melakukan yang demikian. Yaa Hayyu Yaa Qoyyum bi rohmatika astaghisu...

Fadh, aLLoH yang menciptakan kita telah menyiapkan aturan untuk menata kehidupan manusia. Aturan-aturan itu berlaku dan tetap pada alam semesta, maka bagaimana kita tidak mau menetapkan aturan pada kehidupan sosial-kemasyarakatan (ahkam al ijtima`i)? Bagaimana kita tidak menetapkan adnimistrasi (idary) berdasarkan hal yang sama.

Fadh, itulah Hukum Kauny (Sunnah Alamiyah) dan Hukum Syar`i (Sunnah Syari`yah) yang telah diamanahkan kepada kita. Orang beriman akan menerima seluruhnya, sedangkan yang ingkar akan menolak sebagian atau seluruhnya.

Fadh, aLLoH menetapkan bahwa Dien yang di ridhoi hanya Islam sedangkan jalan keselamatan ada di atasnya. Pada jalan tersebut orang-orang akan berselisih, sebagaimana orang yang ingkar berselisih. Hanya saja perselisihan mereka tidak sampai kepada kemurkaan dan kebinasaan. Perselisihan ini akan melemahkan kekuatan, merubah barisan menjadi kerumunan laksana buih di lautan. Sungguh, manusia akan bingung dan bimbang dengan untaian hujjah yang menipu dan mengelabuhi. Akan tetapi, aLLoH menjanjikan jaminan keselamatan pada segolongan orang yang tetap pada kemurnian dan kesucian sumber, metode dan pengagungan terhadap keduannya. Mereka yang selamat dan terjamin ini, adalah segolongan orang yang perkara cabangnya (furu`) tidak keluar dari kaidah pada prinsipnya (ushul). Mereka memadukan seluruh dalil dan mendirikan pemahamannya di atasnya. Mereka meyaqini kesatuan “kabar gembira” dan “berita peringatan”. Inilah jalan as-Sunnah, jalan al-Jama`ah. Orang-orang yang berjalan dan mengikuti golongan ini disebut Ahlussunnah wal Jama`ah.

Tentang Manhaj dan Sebutannya

Manhaj ini adalah hal yang sudah maklum diketahui. Namanya Ahlussunnah wal Jama`ah. Ia bermula dan mewujud sempurna pada masa As-Salaf ash-Sholih; yakni zaman Rosul aLLoH SAW, Para Shahabah ridwanaLLoHi ajma`in, dan 3 qurun yang utama yang telah dijamin (al qurun al mufadlolah). Penisbatannya ada pada manhaj secara keseluruhan Sunnah (maa ana alayhi) dan Jama`ah (maa ashabihi), bukan pada fase keterdahuluannya.

Adapun saudara-saudara kita yang mengklaim dirinya Salafiyuun bermaksud menisbatkan dirinya pada manhaj. Akan tetapi, yang lebih tepat adalah Sunny bukan Salafy. Karna nisbat itu pada manhaj dan manhaj telah tetap namanya, sebagai ismun syar`i. Sementara permasalahan disebagian tempat nama Sunny identik dengan tandhim tertentu, ditempat yang lain pun Salafy adalah fenomena yang sama. Maka peganglah nama yang disepakati oleh para ulama dan a`immah. Nama yang di ambil dari atsar Ibnu Abbas, Shahabah yang Mufassir ketika beliau mengomentari surah Ali `Imron ayat 106. “Wajah yang bersinar adalah Ahlussunnah...”.

Mengenai penamaan Salafy yang masih khilaf ini, bisa kita pahami dari momentum paling mutakhir dari fatwa Ulama yang ingin men-tazkiyah para da`i Ahlul Hadith dari para Mubtadi` yang mengklaim dirinya sebagai Sunny, juga dari banyaknya nama Sunny dipakai oleh kelompok-kelompok yang menyimpang dari Manhaj Sunnah. Maka yang masih lurus adalah Sunny yang berpegang pada Manhaj Salafus Sholih; ialah Salafiyuun. Demikian, ijtihad telah selesai. Ganjaran telah tetap, sedang kekeliruan harus dirubah, dibantah kemudian diperbaiki. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika nama Salafy telah cemar (sebagaimana yang terjadi pada hari ini)? Perlukan penamaan-penamaan atau sebutan baru? Apakah perlu tazkiyah dengan penamaan yang muhdats? Sedang Tazkiyah yang demikian dikhawatirkan akan dekat kepada ujub dan ghuluw. Demikian telah terjadi, pada sebagian ikhwah kita yang lemah qolbu-nya. Sedang hawa nafsunya belum lagi dapat terkendali. Samarlah bagi mereka prinsip ar-Rifqon (lemah lembut) dan at-Tahdzir (peringatan keras). Inilah perselisihan. Maka tahan diri mu dari hal yang tidak engkau ketahui, sebagaimana para Ulama ber-tawaquf terhadap hal yang belum mereka ketahui, baik dalil-nya maupun waqi-nya.

Ahlussunnah, masyaaLLoH nama ini begitu mulia. Sehingga ia diusung oleh mereka yang pernah mengenalnya atau yang paham akan ihwalnya secara mujmal, secara `amm. Akan tetapi dibutuhkan tajribah (penelitian) dan ta`yin (identifikasi individual) dalam beberapa hal. Perihal Ulama sebagai manusia yang tidak maksum, aib-nya memang patut dijaga. Akan tetapi, pemilihan masdar (sumber) dan pembawa kabar adalah kebutuhan asasi yang juga telah bersepakat ummat – dalam hal ini – atas dasar Kauny dan Syar`i. Sebab manhaj bukan Figuritas! Inilah kenapa Ulama Sunnah sering mengingatkan ummat akan bahaya Hizbiyyah. Adapun orang yang berkumpul pada orang tertentu, apakah itu Syekh, Ustadz atau Mufti, mereka adalah Ahlussunnah, kecuali yang telah menjadi Ahlul Hizby; yakni sampai mereka terjatuh pada dasar Hizbiyyah dan menyelisihi Sunnah.

Maka, ambillah pelajaran wahai orang-orang yang memiliki pandangan!


***Revolusi Hari Ini***

KISAH (NYATA) YANG MUNGKIN TERJADI

MS : Kapan kamu mau nikah? Saya punya calon yang tepat buat kamu
NR : Kenapa saya?
MS : Karna kamu orang yang gagal saya nikahi! Saya gak ingin gagal untuk kedua kalinya.
NR : Apa saya kenal dia?
MS : Kamu kenal
[NR merasa seperti ia bisa menerka dengan tepat]
NR : M, gimana kabar si AK
MS : Loh, kok AK sih..? Dasar!

***Sesuatu Bisa Saja Terjadi. Sesuatu Akan Terjadi Setelah Ini***


NR : M, saya ingin menikah (semoga) dalam waktu dekat. Saya ingin ada yang menjaga adik saya sementara waktu jelang musim haji.
MS : Dia tepat N!
NR : Saya juga pikir begitu
MS : Tuh kan..! Dasar, saya bilang juga kita terlibat cinta segitiga

***Sesuatu Bisa Saja Terjadi. Sesuatu Akan Terjadi Setelah Ini***


NR : M, ceritakan pada saya ihwal masalah itu...
MS : H bilang, sesuatu mungkin telah terjadi pada dirinya. Ia takut fitnah.
NR : [saya pun demikian; pelan..diujung lisan yang tertutup]
MS : Ia ingin delete No HP kamu supaya gak ngehub kamu lagi, tapi gak mungkin karna kamu pasti ngehubungin
NR : [astagfiruLLoH saya gak pernah berniat mengganggu; dalam hati]
Iya lah..saya lagi ada perlu dengan dia. Diskusi kami belum selesai.
MS : Hmm..
NR : Tapi M, saya malah jadi yaqin dia orangnya! Sikapnya adalah penjagaan yang mulia dimata saya.
[NR mulai menimbang posisi HR. Semua yang ia rangkai dan rencanakan tidak boleh keluar dari kesempurnaan desain dan kelurusan niat]

***Sesuatu Bisa Saja Terjadi. Sesuatu Akan Terjadi Setelah Ini***


NR : A, ceritain ttg HR dunk..
AK : Deuh..Ehm, ehm Kaka..
NR : Yeuh..serius ini mah. Ngerti lah..
AK : Iya, tau. Paham kok. Cerita apa?
NR : Waktu di skul?
AK : Dia pinter, pernah juara umum...main basket...ngaji....
[Bla..bla..bla...]
NR : Hmm.. ya. Makasih yah.
AK : Ditunggu yah undangannya.
NR : Yeh! Belum tentu kalee.
AK : Didukung kok
NR : Dasar! Makasih deh..nanti tanya lagi yah.
AK : Asal ada coklatnya
NR : wew! :P

***Sesuatu Bisa Saja Terjadi. Sesuatu Akan Terjadi Setelah Ini***


MS : N, si HR mo di khitbah orang...buruan!
[NR bingung]
NR : Bagaimana caranya...? Semoga dia diberi yang terbaik.
[dalam benak N hanya ada rangkaian tugas saat itu. Ia mengingat kembali janji-janji perjuangan dan agendanya bulan demi bulan...2 tahun kedepan]
Khitbahnya Udah..?
MS : Belum N! Makanya kamu duluan...
NR : Memotong..? Gak M! Gak baik.
[tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. N dihadapkan pada piliha sulit. Tapi N tidak mungkin membiarkan dirinya untuk berjibaku dengan masalah yang demikian. Terlalu banyak yang harus di selesaikannya, pikirnya...]
MS : Hmm... ga motong lah N.
NR : Saya takut ada yg sakit hati ato tersinggung, nambah masalah lagi nanti...
[Sementara ia teringat akan DM yang memutuskan akad khitbahnya di tengah jalan. Setelah cerita itu, N takut muncul stigma pada dirinya sendiri.
“N, kamu bukan perusak!”]

***Sesuatu Bisa Saja Terjadi. Sesuatu Akan Terjadi Setelah Ini***


NR : K, ayo dunk..
KF : Nanti aja pas acara temu pendengar, mo ngobrol dulu.
NR : Kelamaan! Ga tau orang jatuh cinta apa :P
KF : Huhhh, dasar!
NR : Serius, buruan bilangin! Kemaren MS crita H mo dikhitbah orang.
KF : Tenang aja napa...
NR : Iihh, susah banget ni orang. Nelpon aja mesti disuruh, sms mesti disuruh..bukannya ngerti perasaan Aa-nya...

***Sesuatu Bisa Saja Terjadi. Sesuatu Akan Terjadi Setelah Ini***


Malam itu. Ahad ba`da isya. [Ahad atau Senin yah.. sampe lupa dengan peristiwa sebesar ini].
Sebelumnya NR sempatkan minta do`a dari Ibu dan Adiknya.
Ia beranikan diri untuk nelpon HR. Sekalian mo ngasih info kajian dan mo tau perkembangan dia.
***
Sungguh NR tidak mengerti, apa beda keterlambatan dengan ketepatan, kehati-hatian dengan membiarkan peluang, kepentingan dengan keterdesakan....

Ia yaqin suatu nanti akan ada hikmah yang besar... setelah ini, dalam kehidupan selanjutnya!
...
...
[Saya yaqin ada yang bisa meneruskan cerita ini.]

***Sesuatu Bisa Saja Terjadi. Sesuatu Akan Terjadi Setelah Ini***


NB : Berkaitan dengan kisah ini, saya menulis 3 Risalah. 1 entah disimpan dimana (raib), 1 hilang beserta USB kesayangan saya. Semuanya terjadi begitu cepat dan sulit dipahami (kecuali dengan keikhlasan), hanya 1 pekan menjelang akhir dari ‘tragedi ini.

Siapa yang mengklaim bisa memahami kisah ini, padahal ia tidak mengetahui banyak hal. Kesimpulannya pasti salah! Ia berdusta atas keterburu-buruannya.
“Siapa yang tergesa-gesa akan di hukumi dengan kegagalan”



***Revolusi Hari Ini***

Haru-Biru-Kamu-Hatiku-Lalu?

Semesta diri
Aku masih menanti...

Pada diri mu yang menari di kehidupan orang lain
Aku tak tahu apa arti air mata saat ini
Seperti kedunguan orang yang melihat tarian tanpa nyanyian

aLLoH yang memindahkan matahari sore di barat
pada timur di pagi hari
Dialah yang akan membolak-balikan hati

Jika ikhtiar masih sah dan halal pada hari ini
Maka akan ku hancurkan dinding dan belenggu
Aku akan berdiri di hadapan matahari
Dan tegap menapak bumi

Saat lazuardi gelap tetap menyebut dirinya langit biru
Lantas hujan menjadi harap dan cemas untuk turun
Jikalau rahmat dikehendaki, niscaya hujan akan turun
Tetapi laknat dan petaka...niscaya turun jua air
Bukan dari gumpalan awan
Tapi dari wajah-wajah nan menawan


Terlampau Nyaman

Inginkah kita hidup nyaman,
niscaya ia ada pada Taman Keabadian
Inginkah kita akan tanah lapang…
hati yang ikhlas lebih luas terbentang

Mimpi-mimpi kesenangan yang membuai,
Tiada ia akan meraih ingin.
Sebab amal diatas hidup itu rumit dan sulit
Ia adalah pendakian yang berbukit

Tidak kurang jalan dengan langkah kedepan
Tidak habis bekal dengan duduk berkhayal
Perjalanan masih panjang dan belum lagi berhenti
Ia penuh onak dan duri

Sedang, bekal kita kurang…sayang!



***Revolusi Hari Ini***

Barang Disampaikannya oleh aLLoH pada orang yang berhak menerimanya

BismiLLaHi ar-Rahman ar-Rohim...
Tidak ada petunjuk melainkan petunjuk aLLoH, dan tiada yang sesat melainkan di sesatkan oleh-Nya. Saya memuji Dia dengan pujian orang-orang sholih, sebagaimana orang yang berterimakasih. Maha Suci Dia dari segala penyerupaan terhadap makhluq dan Maha Tinggi Dia dari segala yang sifatkan oleh orang-orang bodoh.

Sebelum saya mengutarakan maksud dari dituliskannya risalah ini. Ketahuilah! Bahwa pena telah di angkat dan tinta telah mengering. Apa-apa yang dikehendakinya pasti terjadi dan apa yang kita kehendaki belum tentu terjadi. Sesungguhnya Dia Yang Memiliki Kehendak menjadikan kita hidup diatas sunnah kauniyah dan segala puji bagi-Nya atas tetapnya kita di atas sunnah syar`iyyah.

Sesungguhnya aLLoH adalah Yang Paling menepati janjinya. Dan telah sampai kepada semesta sebait firman yang menyatakan “wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”. Sebagaimana Dia juga menitahkan “janganlah kalian menikahi wanita musyrik sebelum ia beriman”. Maka, kehendak syar`i yang kedua akan menuntun pada kehendak kauny yang pertama. Yakni, siapa saja yang tidak menginginkan wanita musyrik...ia akan sampai pada wanita yang beriman. Demikian yang saya pahami, bahwa orang yang tidak menginginkan ahlu bid`ah...akan disampaikan dan dipertemukan dengan penentangnya (Ahlussunnah).

Dengan Rahman aLLoH, ijinkan saya ‘mengusik’ anti untuk kesekian kalinya. Usikan seperti yang biasa saya lakukan saat mengabarkan keyakinan saya, sebagaimana yang saya lakukan saat belajar dan mengajak sahabat-sahabat saya kepada jalan keselamatan.

Demikian ini adalah ‘pinangan’ saya yang kedua. Setelah sebelumnya saya meminang engkau untuk bersama dalam manhaj da`wah dan tarbiyah. Sebuah ajakan untuk bersama-sama pada perjalanan yang lebih khusus lagi. Perjalanan yang memang akan segera dilalui oleh orang-orang yang mentaati aLLoH dan mengikuti sunnah Rosul.

Ini tidak berbeda seperti yang pertama. Hanya sebatas ajakan, yang boleh jadi engkau tolak atau terima. Ajakan berupa tawaran yang dengannya engkau bisa menawar atau menimbang baik-buruknya. Jika engkau terima dan berkenan untuk melakukan akad, “aLLoHu Akbar!” saya panjatkan syukur kepada Yang Berhak untuk disyukuri. Jika engkau tidak bersedia untuk berakad, dengan atau atas alasan apapun, “SubhanaLLoH” semoga saya tetap dalam kesabaran menanti yang lebih baik.

“Aku heran dengan kehidupan orang beriman. Jika ia mendapat kebaikan, ia bersyukur dan itu baik untuknya. Jika ia mendapat musibah, ia bersabar dan itu baik untuknya”.

Seperti yang pertama, (yang alhamduliLLaH engkau berkenan dengannya) tidak ada paksaan atau hal-ihwal yang akan menggangu ukhuwah. Sebagaimana ketika engkau bertanya dan saya menjawabnya, atau ketika engkau menuju sesuatu dan saya memberi alamatnya. Atau seperti yang terakhir kau inginkan, saya berusaha membantu. Itu semua tiada berbeda seperti ketika saya tawarkan bacaan dan engkau menerima. Saya menginformasikan sesuatu, engkau memanfaatkannya.

“Engkau lebih berwenang terhadap diri mu sendiri!”

Pada awalan ini saya beritahu, bahwa tidak akan ada ukhuwah yang retak diantara kita berkaitan dengan pilihan dan kehendak engkau. Meskipun ukhti, seperti yang pertama saya sangat berharap kita bisa bersama dalam hal ini. Sebab cinta dan benci hanya karena aLLoH. Jadi, jangan ragu untuk menegur, sapa serta mentausyiahi saya setelah ini. Jangan ragu untuk bertanya atau saling tolong-menolong...semoga aLLoH menjaga hati-hati kita. Ukhti, setelah ini mari berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal sholih!

Ukhti, kiranya engkau telah mengetahui maksud saya. Maka kiranya engkau berkenan untuk menjawab hal yang berlum terjawab, dan menjelaskan yang belum jelas;
...
...
...

Demikian ukhti, ajakan dan tawaran itu adalah untuk membentuk keluarga harokah yang sakinah, mawaddah warohmah...tentunya di atas manhaj an-najiyah. Maka, berkenankah jika saya datang untuk meng-khitbah engkau?

Atas perhatian, kesediaan dan jawabannya, saya ucapkan jazakiLLaH khoiron. Semoga engkau di berikan kedudukan yang tinggi dan di dekatkan kepada aLLoH di dunia dan akhirat.

BismiLLaHi Yaa Wadud, bismiLLaHi Yaa Rahim, walhamduliLLaHi Robbil `alamien!

Wassalamu`alaykum warohamtuLLohi wabarokatuH.

[Sya`ban 1427 H]

NB: Untuk “dia” yang sampai saat ini belum ku ketahui.


***Revolusi Hari Ini***

as-Sual ihwal Khithbah

Pertanyaan:
Bolehkah akhwat yang dalam proses khithbah membatalkan lamarannya karena merasa ada ikhwan lain yang lebih baik (dari calonnya) dan ia tahu ikhwan tersebut pernah berniat melamarnya?


Pertanyaan ini diajukan kepada 2 orang ahli fiqh via sms. Yaitu Ustadz Abu Abdillah Muhammad Sarbini dan Ustadzah Eliwarti Maliki.

Adalah Ustadz Sarbini, Pimpinan Umum Harokah Sunniyah Untuk Masyarakat Islami (HASMI), mendapat gelar Master Hukum Islam di Universitas Ibnu Khaldun-Bogor. Pernah halaqoh di Yaman, mudarits di Ma`had Al-Akhwaen (dan rutin mengadakan Dauroh Syeikh yang mengundang para Ulama dari Negara Arab).

Adapun Ustadzah Eliwarti Maliki adalah Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mendapatkan gelar Doktor di bidang Fiqh di Universitas Al-Azhar-Kairo (dengan nilai Summa Cume Laude). 16 tahun tinggal di Jeddah, dan baru kembali ke Indonesia sekitar bulan Sya`ban 1427 H.

***
Ustadz Sarbini: Boleh

Tanggapan: Atas dasar apa akhwat boleh membatalkan prosesnya sedangkan ikhwan yang meng-khithbah dia tidak cacat dan lain sebagainya. Padaha; sebelumnya telah ada akad dan si ikhwan tidak melanggarnya? JazakumuLLoH

Ustadz Sarbini: Atas dasar ketidaksiapan setelah berpikir.

***
Ustadzah Eliwarti: Khithbah `alal khithbah tidak boleh. Artinya tidak boleh meminang tunangan orang. Adapun kalau pertunangan belum terjadi wanita berhak memilih siapa yang lebih dia sukai.

Tanggapan: Maksud saya, akhwat membatalkan lamaran yang sebelumnya sudah ia terima. Kemudia ia menawarkan dirinya kepada ikhwan yang lain.


Karena keterbatasan fasilitas dan pulsa, soal ini hanya sampai disini.
Kemudian dialog berlanjut dan berkembang.
Tidak lagi via sms yang amat terbatas.
Akan tetapi live interaktif via telepon dan tatap muka.

Semoga Bermanfaat!
(Bersambung...)
Tunggu Postingan Selanjutnya



***Revolusi Hari Ini***

Romadhon Is Dead!

Barangsiapa menyembah Ramadhan maka sesungguhnya bulan Ramadhan ini telah akan habis dan lewat. Tetapi barangsiapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup, tidak mati.
[http://www.almuhajirun.com/depan/Bagaimana_Mengakhiri_Ramadhan.htm]

Orang-orang yang beragama dengan agama Romadhon atau bahkan yang menyembahnya akan terguncang! Mereka akan tertampar oleh sabda ini. Bahwa mereka telah kehilangan sesuatu dari hidupnya. Mereka telah menyia-nyiakan peluang keutamaan, yang mana setiap orang yang beriman akan asyik dan khusuk menjalaninya.

Ya, kami sampaikan sabda ini kepada seluruh ahli i`tikaf, ahli qiyamul lail, ahli tilawah, ahli tadarrus, ahli zakat, dan ahli shiyam semuanya. Tanpa terkecuali mereka, para pemburu Malam Kemuliaan. Ketahuilah, malam ganjil mu telah tiada, maka bagaimana lagi engkau akan beribadah?! Bagaimana lagi engkau akan ber-kholwat dengan Robb-mu?!

Wahai ahli ibadah Romadhon, sesungguhnya jika wajah kalian basah dengan air mata setiap malam ganjil. Maka kaki Mujahidun basah oleh darah bercampur debu dan mesiu. Apa lagi yang membuat engkau merasa berhak menerima rahmah-magfiroh-itqum minannar, sedang atas mu adalah kubah yang megah, sedang mereka tenda dan terpal basah.

Wahai Romadhoni dan Romadhonia, bagaimanakah dinginnya sholat malam kalian...bagaimana kantuk malam hari kalian (sementara kalian tidur, ketika matahari pagi mulai bangun). Sesungguhnya bumi Ribath jauh disana...

Barang siapa yang menyembah Romadhon, sesungguhnya ia telah pergi dan usai. Tapi siapa yang menyembah aLLoH, Dia Maha Hidup Lagi Kekal dan tidak pernah berhenti Mengurus makhluqnya di setiap bulan.

Hari ini Syawwal...Esok Dzulhijjah. Tiadakah semua itu mulia di mata kalian..?!
Berbahagialah, Romadhon telah usai, kini engkau dapat kembali untuk tidak beragama. Berbahagialah karena Romadhon yang kau sembah telah musnah.
Mari Berlebaran...Pesta Takbiran, kawan!

Seperti yang sampai kepada kami dari Al-Qordhowi dan Ulama lainnya :
“KUN ROBBANIYUN
WA LA KUN ROMADHONIYUN!”

Wahai Manusia Romadhon, jadilah Manusia Robbani!

-Dari seseorang yang kehilangan Romadhonnya-


***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina