Maap

Maap ya, untuk semua kawan yang pernah mampir ke Blog ini.
Maap atas segala kekosongan dan stagnasi yang pernah terjadi...
Maap,...

***Revolusi Hari Ini***

Aku masih disini

Aku masih disini...kawan!
Ditempat dulu kita pernah bertemu
Saat engkau masih berkutat pada tumpukan buku
Padahal semua orang percaya pada kemampuanmu

Aku masih disini...
Ditempat perenungan kita dulu
Saat kau lelah pada semua jemu
Padahal semuanya tidak seperti itu

Aku masih disini..
Ditempat kita melepas rindu
Saat kita lelah dan mendekat bertemu
Padahal kini semua telah berlalu

Aku masih disini...
Ditempat bertemu dulu, melepas rindu

[Kapuk, 26/11/1428]

***Revolusi Hari Ini***

Labbayka Yaa Ukhta...

Kami Menjawabmu Wahai Saudariku Muslimah (Iraq)


Segala puji bagi Allah Robb Pemilik Alam Semesta. Yang awal dan yang akhir. Yang mendengar segala pengaduan.Yang paling cepat balasannya terhadap kedloliman.Sholawat serta salam kepada yang dibangkitkan bersama pedang sebelum datangnya hari kiamat. Yang memberi berita gembira dan peringatan. Yang memberi petunjuk kepada Allah dengan ijin-Nya dan sebagai lampu yang memancarkan sinarnya


Amma ba’du:


Telah berfirman Allah:

“Wahai orang – orang yang beriman jawablah Allah (dengan mentaatinya) dan Rasul (Muhammad Saw) ketika ia mengajak kalian kepada apa yang akan memberi kehidupan bagi kalian.”[Al-Anfal: 24]


Dan firman-Nya:

“Dan perangilah kaum musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangimu seluruhnya.Dan Allah bersama orang – orang yang bertaqwa” [At-Taubah: 36]


Dan Allah berfirman:

“Jika engkau tidak berangkat (untuk berjihad) maka Dia (Allah) akan mengadzabmu dengan adzab yang besar, dan menggantikan dengan kelompok selain kalian, dan kalian sekali – kali tidak dapat memberikan kejelekan pada mereka. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” [At-Taubah: 36]


Dan firman-Nya:

“Berangkatlah baik dalam keadaan ringan atau berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian fie sabilillah. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya.” [At-Taubah: 41]


Berangkatlah dalam ringan atau berat, yang tua dan yang muda, yang kaya dan yang miskin. Wahai muslim, wahai mujahidin hari ini telah direndahkan harga diri, telah dijatuhkan kemuliaan agama. Hari ini anjing telah mengambil tempat yang bukan milik mereka, dan orang kafir, fasiq, dan fajir telah mengotori kesucian tempat ini


Wahai muslim, sesungguhnya Nabi kalian Muhammad Saw telah memanggil kalian untuk berjihad fi sabilillah ketika orang – orang merendahkan kehormatan kaum muslimah.Maka beliau berkata kepada Malik ibn al-Ashrof. Dan sekarang, Nuri al-Maliki dan Thoriq al-Hasyimi telah menjatuhkan kehormatan kaum muslimah kita dan menari di atas kesucian mereka. Maka siapakah yang akan membalaskan dan menjadi tentara mereka. Mana cucu – cucu Muhammad bin Maslamah. Sesungguhnya Nabi Saw bersabda:

“Barang siapa seseorang yang merendahkan harga diri seorang muslim dimana kesuciannya dijatuhkan dan kehormatannya direndahkan kecuali Allah tidak akan mendengarkan doanya ketika ia membutuhkan-Nya”


dan sabda beliau :

“Barang siapa yang merendahkan harga diri seorang muslim maka tidak akan ditolong (oleh Allah) padahal ia membutuhkan pertolongan-Nya. Allah akan merendahkannya pada di hadapan Sang Pencipta pada hari kiamat.”


Maka wahai para pemuda Daulah Islam sesungguhnya Amirul Mukminin (Abu Umar Al-Baghdadi) berkata:

“Saya bukanlah pemimpin kalian dan kalian bukanlah pasukanku hingga kalian menjatuhkan ke tanah darah orang–orang kafir itu. Hancurkan kendali mereka, robohkan markaz–markaz mereka, pecahkan persatuan mereka, jadikanlah jantung–jantung mereka keluar dari tubuh mereka. Hari ini merupakan hari kekacauan, hari ini telah dijatuhkan harga diri, pada hari ini kami akan mengucurkan darah kami setelah kehormatan dijatuhkan.”

Dan ketahuilah bahwa Rasullah Saw bersabda:

”Barang siapa mati membela keluarganya maka ia syahid”. Maka carilah kesyahidan. Kematian fie sabilillah adalah tujuan kita yang selalu kita berusaha untuknya. Telah berkata orang yang suka tertawa dan seorang pembunuh (Rasulullah SAW):
“Sebaik – baik kehidupan adalah seseorang di atas kuda tunggangannya untuk berperang fi sabililah, setiap ia mendengar panggilan meminta tolong, maka ia cepat–cepat menuju panggilan itu dimana terdapat pembunuhan dan kerusuhan.” Maka adakah penolong yang lebih baik dari hal tersebut wahai tentara Allah.


Maka wahai seluruh kafilah syuhada’, pergilah dengan barokah dari Allah, bakarlah kemah–kemah mereka. Pergilah ke rumah–rumah mereka, dan keluarkan dari tubuh mereka darah mereka.


Amir kita telah bertekad maka ia berkata:” Setiap mujahidin harus mengeluarkan senjata mereka dari tempatnya, dan janganlah ia meletakkannya hingga ia mendapatkan kesyahidan atau Allah membukakan bagi mereka kemenangan”


“Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah, dan din ini hanya menjadi milik Allah seluruhnya” [Al-Baqarah: 193]


Dan hati–hatilah dari menjadi orang yang disebutkan Allah tentang mereka:
Dan jikalau mereka ingin untuk keluar (untuk berperang) maka pastilah mereka mempersiapkan untuknya; akan tetapi Allah tidak menginginkan kepergian mereka, maka Allah menetapkan mereka dan dikatakan kepada mereka, “Duduklah bersama orang – orang yang duduk” [At-Taubah:46]


Adapun engkau wahai wanita suci negeri ini:” Panggilanmu bergantung kepada Allah, panggilanmu bergantung kepada Allah, dan bersabarlah dan tunggulah dan ketahuilah bahwa ada lebih dari 300 para penolong dan pencari syahid dari mujahidin Iraq diantara 50 orang Janabiyyah (keluarga bangsa Iraq), lebih dari 20 orang ingin menikah dengan kalian jika kalian hendak mencari pendamping. Maka kami menjawabmu wahai saudaraku muslimah, dan kami tidak akan lupa dengan kalian.


Ya Allah, atas Engkaulah Nori Al-Maliki, atas Engkaulah Thoriq Al-Hasyimi.
Atas Engkaulah Adnan Ad-Dulaimi, atas engkaulah Salam Az-Zuba’i.

Atas Engkaulah Mahmud Al-Masyhadani.

Ya Allah, mereka ini telah berdusta kepadamu, mereka ini telah menjatuhkan kehormatan bangsa mereka sendiri.

Mereka telah berbuat curang dan khianat terhadap kaum mereka sendiri.

Hingga kehormatan dan hak ahlu sunnah mereka serang atas nama politik dan strategi.

Ya Allah berilah balasan kepada mereka.

Dan tunjukkanlah kepada kami balasan-Mu yang segera.

Ya Allah, atas engkaulah mereka yang memberi kesempatan kepada mereka dan kepada yang mengaku Ahlu Sunnah yang berfatwa.

Untuk menggabungkan pasukan nasional dan penjajah.

Ya Allah, atas Engkaulah anak – anak Baa’ora.

Dan sebagai penutup panggilan kami, Segala puji hanyalah bagi Robb Sekalian Alam.


[Menteri Perang Dawlah Islam Iraq : Syeikh Abu Hamzah Al-Muhajir ]
***Revolusi Hari Ini***

MESJID MERAH DAN TATHBIQUSH SHARI`AH

Mesjid adalah tempat aktivitas keislaman yang paling utama. Pada zaman Rosulullah SAW, mesjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat sholat atau membaca al-quran. Mesjid juga biasa dijadikan tempat membicarakan masalah ummah, menyelesaikan problem rumah tangga, hingga membahas strategi perang.

Madrasah dan Universtas dalam sejarah Islam lahir dari halaqoh-halaqoh kecil yang bermula di mesjid. Mesjid adalah tempat utama bagi kaum muslimin untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka. Itulah yang terjadi di Mesjid “Merah” Lal, Pakistan.

Para jamaah mesjid dan santri dari Jami`ah Hafsah dilingkungan mesjid berusaha menerapkan syariah islam. Di mulai dari mesjid inilah upaya penyelesaian masalah hidup-matinya ummah coba untuk diselesaikan. Awalnya hanya tausyiah untuk menerapkan syariah dan memerangi thogut, kemudian penggerebekan tempat-tempat maksiat, hingga pada penculikan polisi keamanan oleh para santri.

Mesjid, di negeri yang berbatasan langsung dengan tanah jihad Afghanistan tersebut memang terkenal dengan ketegasannya dalam menyuarakan Islam. Akan tetapi, sebelum konflik antara militer versus santri ini berlangsung, mesiid ini memiliki kedekatan dengan para pejabat pemerintah. Semuanya baik-baik saja, hingga rezim sekuler Pakistan yang dipimpin oleh Musarraf memilih untuk menjadi pendukung Bush dalam perangnya melawan terorisme.

Kekerasan dan Thathbiqush Syari`ah

Usaha penerapan syariah adalah usaha yang mulia. Sebab pada dasarnya usaha penerapan syariah adalah implementasi dari syahadah yang di ikrarkan oleh setiap muslim.

Terorisme memiliki tempat dalam syariah. Al-Anfal:60 menyatakan setiap muslim agar membuat takut dan menggetarkan musuh mereka dan orang-orang munafik. Bahkan agar menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari kekuatan hingga kuda yang ditambat secara khusus. Jadi, terorisme adalah masyru` (disyariatkan) dalam Islam.

Pun, demikian dalam ajaran dan konsep-konsep negara moderen. Dalam negara, militer sengaja dipersiapkan untuk mempertahankan diri dan melindungi serta menjaga dari kekuatan musuh. Maka sudah lazim, bahkan wajib hukumnya dalam sebuah negara memiliki kekuatan militer. Permasalahannya, kita perlu membedakan terorisme yang mana yang baik dan mana yang buruk.

Bagi kaum muslimin, tidak ada keburukan dalam syariah Islam. Semua yang ada dan dinyatakan dalam syariah adalah kebaikan. Meskipun terkadang kebaikan itu tampak relatif. Al-Quran menyatakan: “Bolehjadi sesuatu itu kamu anggap baik, padahal sesungguhnya tidak”. Demikian argumentasi al-quran untuk menjelaskan orang yang menolak perang dan anti-kekerasan.

Selanjutnya yang perlu dibahas adalah bagaimana mungkin seseorang menginginkan penerapan syariah (tathbiqus-syariah) sementara ia menolak syariah? Kita memang tidak boleh “main hakim sendiri”. Kita memang tidak boleh melakukan penindasan, karena kedzliman dilarang oleh syari`ah. Namun, itu bukan berarti kita harus menolak kekerasan atau cara-cara ‘anarkis’ yang dilakukan dalam rangka amal jihad dan nahyi munkar.

Pendeskriditan penggunaan cara kekerasan sebagai “anarkis” pun perlu kita kaji dan pahami kembali. Sebab arti yang umum dalam “anarkisme” adalah “ketiadaan negara” atau “penolakan terhadap otoritas negara”. Sementara itu, saat ini kaum muslimin memang tidak memiliki negara Islam. Wajar jika beberapa amal islami dianggap ‘subversif’.

Aqidah dan Syariah

Islam terdiri dari sisi Aqidah dan Syariah. Keduanya saling terikat dan tidak dapat dipisahkan. Tidak ada muslim yang ikhlas dan ittiba` yang menolak hal ini. Pemisahan antara keyakinan dan amal hanya ada pada paham sekularisme. Karenanya, menjadi wajar jika apa yang diyakini oleh kaum muslimin menjadi wujud dalam amal dan perjuangan.

Dasar dari aqidah Islam adalah tauhid yang terangkum dalam kaimat syahadah. Kalimat Syahadah sendiri telah menyatakan bahwa “tiada ilaah yang hak kecuali aLLoH”. Orang arab seperti Abu Jahal mengerti betul apa makna dan konsekuensi dari kalimat ini, hingga dia menolak untuk mengucapkannya. Dia sadar, bahwa pengakuan terhadap syahadah berarti pertentangan dengan segala hukum, undang-undang dan kekuasaan insani. Syahadah berarti menolak segala bentuk kekuasaan dan menyerahkannya kepada kekuasaan ilahi yang syar`i.

Pelajaran Berharga

Pertentangan kaum muslimin dengan kekuasaan yang dzolim bisa berwujud dalam berbagai bentuk. Penolakan mereka, dapat berupa protes, perang atau futuhat. Hal ini dilakukan kepada siapapun tanpa memandang apakah itu brigade militer, kerajaan, negara kesatuan atau pun imperium adi daya.

Apa yang dilakukan oleh para santri dan jamaah mesjid Lal adalah usaha mereka untuk menolak kedzoliman terbesar (yakni, disingkirkannya hukum Islam). Mereka ingin memerangi sekularisme dan demokrasi agar bisa hidup dalam naungan Islam, sebagai mana penganut sekularisme dan demokrasi berlaku sebaliknya terhadap kaum muslimin.

Hal semisal ini akan terus terjadi dan tidak akan berhenti selama Islam masih ada, dan kaum muslimin masih memiliki kesadaran. Karenanya pengepungan yang dilakukan oleh rezim mussaraf terhadap mesjid dan pengrusakannya terhadap mesjid, hanyalah usaha untuk memperbesar konflik. Perang akan semakin bergejolak dan daerah jihad akan semakin luas, hingga kedzoliman hilang. Karena setiap muslim, siapapun ia akan senantiasa merindukan kehidupan dalam naungan syariah Islam.[]

[17 Juli 2007/ 2 Rajab 1428]



***Revolusi Hari Ini***

PENDIDIKAN YANG SALAH KAPRAH

Apapun yang terjadi, setiap manusia harus tetap mengenyam pendidikan. Karena pendidikan adalah hak setiap manusia. Setiap orang harus belajar meski bangku sekolah banyak yang kosong, disaat para ‘calon konsumen’ kelimpungan mencari jalan agar bisa ‘menduduki’ kursinya.

Berbagai kesulitan dialami masyarakat perihal dunia persekolahan. Tentunya yang merasa kesulitan bukan hanya pihak yang bersangkutan, yang merasa membutuhkan ilmu (pendidikan). Sebab permasalahan sekolah kini bukan hanya sebatas masalah pendidikan, akan tetapi ekonomi dan politik.

Bobroknya keadaan ekonomi dan politik seharusnya tidak mempengaruhi proses menuntut ilmu. Tetapi sekali lagi, sekolah adalah permasalahan ekonomi dan politik. Meski pada dasarnya, aktifitas menuntut ilmu tidak berkaitan secara langsung dengan ekonomi dan politik. Apa yang terjadi pada anggota dewan atau inflasi moneter, tidak sama sekali bersentuhan secara langsung dengan keadaan seorang manusia yang tengah belajar (menuntut ilmu).

Di berbagai daerah, sekolah kekurangan stakeholder. Ratusan Perguruan Tinggi Swasta gulung tikar karena biaya operasional (Republika, 12/07). Apakah gerangan yang menyebabkan keadaan pendidikan kita dan anak-anak kita menjadi runyam?

Fenomena Alternatif?

Mahalnya biaya masuk sekolah dan buruknya kualitas serta minimnya fasilitas sekolah membuat sebagian kalangan berusaha menggagas sekolah alternatif. Sekolah-sekolah alternatif bermunculan. Masing-masing memilik posisi tawar dan kompetensi sendiri-sendiri sebagai daya saing dalam percaturan persekolahan. Ada yang mengusung nama “sekolah terpadu”, “boardingschool”, atau bahkan “homeschool”. Masing-masing memiliki kekuatan promosi yang cukup kuat untuk bisa menarik para calon siswa sekolah reguler.

Akan tetapi apakah keberadaan mereka merupakan solusi praktif bagi masyarakat atau bahkan solusi filosofis terhadap krisis pendidikan yang tengah melanda Indonesia? Jika sebagian orang ‘putus sekolah’ karena ketidaksesuaian tertentu, seperti pandangan hidup, metode pengajaran, dan yang semisalnya, mungkin sekolah alternatif adalah pilihan yang boleh saja dicoba. Namun jika ‘putus sekolah’ disebabkan oleh mahalnya biaya sekolah, seperti yang dialami kebanyakan mayarakat, sekolah alternatif pun tidak berbeda (mahal). Mahalnya biaya pendidikan di sekolah alternatif yang banyak ditawarkan bolehjadi menunjukan bahwa ‘kaum pemilik modal’ tengah melakukan inovasi, beralih bentuk (neo capitalism). Katakanlah, “kapitalis telah memoderenisasikan dirinya dalam bentuk sekolah alternatif”

Banyaknya anak yang ‘putus sekolah’ memang sangat menyedihkan. Akan tetapi banyaknya anggapan yang yang menyatakan bahwa mereka (yang ‘putus sekolah’) adalah putus pendidikan, justru lebih menyedihkan lagi. Pahadal sekolah hanya salahsatu dari sekian banyak institusi pendidikan. Sekolah hanya merupakan bentuk institui dari jenis pendidikan formal, dan kita mengenal pendidikan non-formal dan informal.

Terlebih lagi, sekolah yang ada kurang mencerminkan dirinya sebagai institusi pendidikan, baik dari sisi guru, siswa, maupun kelembagaannya. Tutupnya sejumlah Perguruan Tinggi Swasta pun dapat menjadi pelajaran bagi setiap calon mahasiswa bahwa institusi yang sedang mereka damba sejatinya adalah sebuah “korporasi” yang bisa saja bangkrut.

Paradigma Persekolahan

Hari ini banyak orang mulai sadar, bahwa kenyataan yang ada adalah sebuah keadaan yang jauh dari baik. Munculnya sekolah-sekolah alternative seolah mengisyaratkan kepada kita bahwa belum adanya model yang baik dalam institusi pendidikan kita.

Maraknya sekolah terpadu, sekolahrumah, sekolah alam, dan sekolah-sekolah alternatif lannya, bisa berarti menunjukan bahwa kesadaran akan urgensi pendidikan yang ada dimasyarakat sudah cukup tinggi. Akan tetapi perlu dicermati juga, bahwa anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Mahalnya ‘tarif’ dari sekolah alternative bolehjadi menunjukan bahwa kaum pebisnis-kapitalis sedang melakukan inovasi. Bukankah sekolah juga permasalahan ekonomi?

Jika ribuan guru turun ke jalan (09/07), melakukan demonstrasi di senayan menuntut pemerintah agar lebih memperhatikan pendidikan tentu saja ini wajar. Toh, para yang menuntut dan yang dituntut adalah pekerja dan bos, atau pelayan dan majikan. Maka jika Si Majikan lupa kepada ‘keseharian’ pelayannya, wajar jika di protes. ‘Umar Bakri’ telah terlalu letih bekerja, meski sudah beruntung di angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Sementara yang belum di angkat pun berhak turun ke jalan, untuk meminta pengangkatan status kegegawaiannya. Bukankah sekolah juga masalah politik?

Untungnya wajib belajar hanya 9 tahun, sehingga pemerintah tidak perlu terlalu gusar ketika ratusan Perguruan Tinggi Swasta tinggal nama (Republika, 12/07). Kewajiban pemerintah dan segenap warga masyarakat adalah melaksakan pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Umum (SMU). Oleh karena itu, tugas pemerintah dalam hal ini adalah mempertemukan ribuan bangku kosong dengan para calon pembelinya (masyarakat). Bukankah sebelum menduduki kursi jabatan, para pejabat pun dibantu oleh masyarakat (untuk mendapatkan kursi jabatannya). Bukankah sekolah adalah masalah ekonomi dan politik?

Dunia Sekolah versus Kehidupan

Apapun yang terjadi pada dunia politik dan ekonomi, seorang “manusia pembelajar” akan mengambil pelajaran darinya. Tidak melulu harus sedih dan murung, fenomena keterpurukan bagi “manusia yang belajar” adalah sebuah pelajaran tersendiri. Gonjang-ganjing politik adalah mata kuliah politik yang ril. Krisis moneter adalah mata pelajaran ekonomi yang dapat kita tarik benang merahnya. Bukankan “problem base learning” dan metode studi kasus menjadi andalan institusi sekolah?

Ketidak-berhubungannya dunia sekolah dengan kehidupan ril adalah sebuah kesalahan paradigmatik yang patut diperhatikan. Terpisahnya kaum terpelajar dari masyarakat pada kehidupannya, adalah sebuah pengasingan yang juga patut ditangisi seperti pengungsian yang banyak terjadi di dunia. Dunia sekolah seolah hanya mengenal input-proses-output dengan paradigma bisnis. Mungkin inilah yang dimaksud oleh sebagian orang bahwa pendidikan adalah investasi. Semuanya demi pembangunan manusia seutuhnya dan demi mengejar ketertinggalan.

Kaum cendikia, yang konon adalah pemilik strata sosial tertinggi pada masyarakat moderen, kini ibarat skrup-skrup dari mesin besar yang bernama globalisasi. Itulah, mengapa para sarjana, dengan toga dikepalanya, mulai berbaris rapi untuk meninggalkan masyarakat.[]


***Revolusi Hari Ini***

SKETSA

Jangan tanyakan tentang kesungguhan

Sebab matahari tak pernah ditanya tentang sinarnya

Jangan tanyakan tentang cinta dan kasih sayang

Sebab langit tak pernah ditanya tentang naungannya

Wahai yang menarik dan telah menawan hati

Seperti mimpi-mimpi yang pernah digambarkan senja

Merah tak berarti marah

Hitam tak selalu kelam

Wahai pemilik dua bibir yang merekah

Seperti yang pernah diucapkan halilintar

Teriakan bukan makian

Gemuruh tak selalu bencana

Pelangi di sore hari

Lazuardi menghias diri

Maka perhatikanlah setiap yang sampai kepada mu

Dengarkanlah wahai yang memiliki hati penuh cinta

Dangarkanlah wahai manusia...

Jangan tanyakan tentang kesungguhan

Sebab matahari tak pernah ditanya tentang sinarnya

Jangan tanyakan tentang cinta dan kasih sayang

Sebab langit tak pernah ditanya tentang naungannya

Ketahuilah,

hitam tinta adalah cinta

merah darah adalah muru`ah

pada keduanya mushaf kita menaruh asa

pada keduanya sketsa jiwa kita

Maka simaklah apa yang datang kepada mu

Tela`ah dan renungilah!

[Pagi, 15 Jumada Al-Thani 1428]

Terimakasih wahai kekasih



***Revolusi Hari Ini***

Menuju Masyarakat Islam

Mereka adalah Jamaah Takfir wal Hijrah... Mereka adalah Jamaah Jihad... Mereka adalah Jamaah Fanniyah 'Asykariyah...

Bagaimana membangun suatu masyarakat Islam? Masyarakat Islam sekali-kali tidak bisa dibangun kecuali dengan cara sebagaimana masyarakat tersebut pernah berdiri untuk pertama kalinya. Sebagaimana Rosululloh pernah membangunnya. Masyarakat tersebut tegak dimulai dengan berkumpulnya sejumlah orang yang menyeru kepada Laa Ilaaha Illallah, kepada tauhid. Kemudian kelompok manusia itu akan mendapatkan tantangan dan permusuhan dari masyarakat kafir. Tak ada thagut manapun di bumi ini yang mau menerima kehadiran mereka. Maka sudah pasti akan terjadi bentrokan dan peperangan. Dakwah kepada tauhid sudah pasti akan menyebabkan terjadinya permusuhan. Dakwah kepada Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah, bahwa kekuasaan itu hanyalah milik Allah, bahwa hukum itu hanyalah milik Allah, bahwa membuat aturan itu adalah hak Allah, bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini kepunyaan Allah, dan semuanya harus tunduk kepada-Nya. Dan kami serta kalian wahai penguasa, harus berhukum kepada Syariat Allah.

Dakwah ini akan ditentang oleh para penguasa thaghut, karena khawatir kekuasaan mereka akan lenyap. Sehingga terjadilah benturan antar mereka dengan para juru dakwah yang menyeru kepada tauhid; antara gerakan baru dengan kelompok jahiliyah yang bergerak untuk melindungi kekuasaannya. Tiga golongan manusia akan selalu menentang dakwah tauhid: pemilik kekuasaan, orang-orang kaya, dan pengikut hawa nafsu. Tiga golongan inilah yang dimaksud oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya,
"Dan tidaklah Kami mengutus seorang pemberi peringatan ke suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup di negeri itu berkata, "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya." (QS. Saba': 34)

Perang antara kedua golongan yang saling bertentangan ini akan dimulai saat fikrah tauhid telah mengkristal dalam benak para pemuda yang siap berkorban untuk membelanya. Perang akan muncul dimanapun tempat yang tidak memakai hukum dengan syariat Allah. Sudah pasti perang itu bakal terjadi, dengan maklumat umum bagi para penguasa thaghut, sehingga mereka melakukan upaya untuk mempertahankan kekuasaannya. Seperti yang dilakukan Fir'aun dalam mensikapi dakwah tauhid yang dibawa Nabi Musa 'alaihis-salam,

"Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian, atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." (QS. Al-Mukminun: 26)

"Mereka adalah Jamaah Takfir wal Hijrah... Mereka adalah Jamaah Jihad... Mereka adalah Jamaah Fanniyah 'Asykariyah (Jamaah Islam yang bergerak dalam bidang militer)... Mereka adalah jamaah ini atau itu... kami membuktikan tindak kejahatan mereka." Itulah sikap mereka menghadapi ahli tauhid.

Kejahatan apa yang mereka lakukan? Kejahatan melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Kejahatan menuntut pemberlakuan Syariat Allah. Kejahatan menuntut berhukum kepada Dienullah. Kejahatan menuntut pembelaan terhadap wilayah mereka yang direbut oleh musuh-musuh Allah.

(disarikan dari Tarbiyah Jihadiyah 8, As-Syahid Abdullah Azzam)


***Revolusi Hari Ini***

Keajaiban yang berulang...

Kalian pernah terkejut atau takjub? Pada saat itu mungkin kita lupa sudah berapa kali kita mengalaminya. Seolah-olah ini yang pertama. Seolah-olah kejadian ini baru sekali dan benar-benar di luar perhitungan. Namun, kini kita sadar bahwa ini adalah kejadian yang berulang-ulang.

Berapa kali Anda dilahirkan? Berapa kali Anda mati? Sel-sel dari tubuh Anda lebih berhak untuk menjawab tentang hal ini. Bagaimana “pembelahan sel” mampu membuat telunjuk lebih panjang dari kelingking dan jempol lebih besar dari yang lain? Tidak kita berpikir bagaimana retina berbeda dari pupil dan yang lainnya. Terbuat dari apakah dia? Sesungguhnya kejadian ini sudah biasa terulang dan kini sering ‘tak terpikirkan’.

Berapa kali Anda jatuh cinta? Berapa kali Anda patah hati? Hitung lah kejadian ini ketika kita mulai bisa berpikir tenang, bahwa tidak ada jawaban yang lebih buruk dari bunuh diri. Sesungguhnya ini adalah kejadian yang sering berulang, dan kita masih saja sering menangisi ‘dia’ yang pergi.

Berapa kali Anda pernah memikirkan hal serupa? Ulangilah ia selagi engkau mampu untuk mengulanginya. Sebab penyadaran ibarat “bagun”, sedang kita sering tertidur.

-Akhir Robi` Al-Awwal 1428-


***Revolusi Hari Ini***

Do`a untuk Bro-ku

Aku berdo'a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku

Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu

Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau

Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting

Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya

Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas

Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku

Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika aku berbuat salah

Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku

Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi

Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya Tuhanku...

Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu

Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya

Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya

Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya

Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

Tuhanku... Aku juga meminta,

Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga

Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku

Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu

Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya

Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya

Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana, mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan: "Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna."

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat

Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan

Amin.... Amiiin ya Robbal alamin


***Revolusi Hari Ini***

DRAMA PERADABAN GANGSTER

Alkisah, di sebuah sudut jalan kota metropolitan. Bon, Pimpinan Gangster itu menarik seorang Bin, Da`i yg tengah lewat. Orang-orang berkumpul dan melihat. Da`i itu di dorong ke tembok..dia batuk dan mengelus dada. Penontong makin ramai. Bon menampar Bin hingga keluar kecap dari hidupnya. “Gila!” kata seorang penonton. Anak-anak berandalan malah berkata, “rame euy!”. Malah ada yg bilang “Si Bon hebat men, jagoan sejati”.

Orang yang paling tua dikeramaian menegur para pemuda, “Ini kejahatan Nak!.” Penonton bingung. Bandar judi mengambil ini sebagai kesempatan emas. Keadaan semakin mencekam. Sambil tertawa, Bon berkata lantang: “Gue jawara di kota ini! Hahaha..”

Sekawanan da`i datang ke tempat kejadian. Ada yg sibuk mengomentari akhlak para pemuda yg gembira melihat penindasan. Ada yg berteriak-teriak marah: “Hoy, dilarang judi! Haram tau!”. Bandar judi tersinggung. Tapi anak buah Bon yg berkaian necis menanggapi, “Yang haram kan kalau pake duit hasil ngerampok!”. Bon, semakin menjadi-jadi.

Seorang aktifis posyandu maju ke area menahan tangan Bon yg hendak memukul Bin untuk kesekian kalinya. “Pak, gak baik mukulin orang lemah”, katanya. Seorang Da`i teriak, “Ini perang agama! Bon, nyari ribut sama Ustad perumahan kita”. Entah apa motivasi orang ini. Ada orang lain lagi yg maju ke depan. “Bung Jagoan, agama melarang hal seperti ini”. “Emang Gue pikirin”, kata Bon melengos.

Kebetulan lewat tetangga Bin. Ia langsung mengambil kayu dari jalan dan menunjuk Bon. “Woy, lepasin tetangga Gua!”. Bon naik pitam, anak buahnya di kerahkan. Tetangga Bin di ikat dan di ludahi. Sementara itu, ternyata aktifis posyandu yg tadi menahan tangan Bon kini tengah berdebat dengan seorang da`i muda yg berusaha memprovokasi massa. “Ini bukan perang agama..ini kejahatan kemanusiaan!”, katanya.

Massa hampir kisruh, saat ada yg berusaha menyerang Bon. Lantas Bon mengambil sikap tegas: “Siapa yang bersama Bon akan aman!”. Seseorang membantah, “Engkau berdusta!”. Mata Bon tertuju kepada sumber suara tersebut. Mereka beradu pandang. Tatapan yg tajam. Bon berkata lirih: “Ternyata sekrang sudah mulai banyak yg berani melawan Gang kita...”. “Kamu penjahat Bon!”. Anak buah Bon menimpali, “Bon yg ngejaga kota ini, kalau gak da dia kota ini pasti udah di serang perampok”. “Tapi Gang kalian sering bertindak sewenang-wenang!”. “Hey, jangan-jangan kamu ini komplotan perampok yg benci sama Bon!”, kata anak buah Bon yang lain.

Perdebatan yg menyebalkan. Akhirnya Bon mengambil sikap tegas. Dia berkata ke arah massa dengan lantang, tegas dan keras sekali: “KALIAN BERSAMA BON ATAU BERSAMA PERAMPOK!”.

Lantas anak buah Bon, gerombolan Gangster berkeliling dan merazia penonton. Sementara Bin sudah kehabisan darah... Necrosis! Dan...


***Revolusi Hari Ini***

Masalahnya adalah Aqidah terhadap Allah

Sewaktu berbincang-bincang, temannya berkata kepadanya:

“Saudaraku, izinkanlah saya mengatakan kepadamu: Saya tidak mengerti kamu lagi. Kamu ingin berdiri menghadang banjir. Kamu menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan tanpa ada gunanya. Kamu bertindak seakan-akan kamu ingin melepaskan diri dari kehidupan. Jelaskan kepada saya: Untuk kepentingan siapa kamu menjadikan dirimu begini? Kesadaran rakyat belum sampai ke tingkat yang dapat mengikutimu dalam tujuan-tujuanmu, atau mengetahui apa yang kamu kehendaki. Kamu menentang arus yang amat kuat, kamu menghadapi kekuatan-kekuatan yang luar biasa, kekuatan yang dapat membeli negara, bangsa dan ummat. Kekuatan yang mempunyai agen-agennya yang terlatih di setiap tempat. Ia mempunyai alat-alat yang sudah ahli dalam pekerjaannya. Kékuatan ini dapat mengubah kamu menjadi orang yang tertuduh di mata teman-teman setanah airmu. Ia dapat melucuti engkau dan nama baikmu, sehingga kamu tampak sebagai pengkhianat di mata orang lain. Kamu akan mendapati adanya seribu saksi, seribu alat-alat propaganda yang menyorakkannya siang dan malam. Kamu tidak kaya, kamu tidak muda, kami, kamu seorang laki-laki yang telah mendekati umur tua. Tidak ada partai atau yayasan yang akan membantu keuanganmu, jika mata pencarianmu telah terputus. Atau membiayai keluargamu kalau kamu tidak dapat membantu mereka lagi karena sesuatu sebab. Saudaraku! Dalam màsa-masa terakhir ini, saya tidak mengerti kamu lagi”.

Temannya mengucapkan kata-kata itu dan mengemukakan peringatan-peringatan ini dengan penuh semangat, panas, marah dan kasihan. Ia tidak mendapat kesempatan untuk berbicara, sampai temannya itu berhenti, beristirahat dan menunggu jawaban.

Teman kita itu tersenyum dan berkata:

“Saudaraku, saya mengerti semua ketakutan ini. Saya melihat semua bahaya ini. Saya tahu bahawa engkau benar dalam semua yang kamu katakan. Saya menghargai perhatianmu atas diri temanmu, sahabatmu semenjak kecil. Tetapi saudaraku, kamu telah mengemukakan segala sesuatunya, tetapi kamu lupa satu sebab yang mungkin dapat menjelaskan semua yang kamu lihat itu. Kamu menyebut-nyebut rakyat, tanah air, kesihatan, uang, kamu sebut kekuatan yang luar biasa besarnya yang mampu membeli bangsa, negara dan ummat, atau menyesatkannya, sehingga tidak dapat lagi diketahui mana orang yang mulia dan mana yang pengkhianat. Sernuanya ini benar. Tetapi kamu lupa kepada Allah”.

Lalu temannya menjawab: “Tidak, temanku! Saya tidak pernah lupa kepada Allah. Tetapi saya tahu bahwa Muhammad anak Abdullah, ketika menghadapi persoalan seperti yang kamu hadapi sekarang ini, beliau adalah Rasul yang diutus Allah, beliau menerima wahyu, mendapat bantuan dan lima ribu malaikat yang diberi tugas. Kamu apa saja yang kamu miliki?”

Teman kita itu kembali tersenyum dengan perasaaan lega. Ia berkata:

“Sekarang saudaraku, kita hampir sampai kepada suatu titik temu. Saya bukan Nabi dan bukan pula Rasul. Saya tidak menerima wahyu dan tidak pula menerima bantuan malaikat. Tetapi saya percaya kepada Allah. Setiap orang yang percaya kepada Allah di atas bumi ini, di masa manapun dan di tempat manapun, dapat menunggu daripada Allah, selain dari wahyu dan malaikat, segala yang telah diberikan Allah kepada RasulNya dalam hal ini, selama ia mengikuti langkahnya. Orang-orang beriman di manapun mereka

berada, adalah para pemilik warisan yang luar biasa itu, selama mereka selalu mengikuti petunjuknya. Warisan yang luár biasa hebatnya ini, saudaraku, adalah campuran dan sakit dan senang, campuran dan perjuangan dan kemenangan, campuran dan kesengsaraan dan kegembiraan. Tetapi akibat terakhirnya telah jelas:

“Kamu akan diuji dalarn hal harta benda dan diri kamu. Kamu akan mendengar dari orang-orang yang telah mendapat Kitab sebelum kamu dan dari orang orang musyrik banyak kesakitan dan kerugian. Bila kamu sabar dan tabah serta bertaqwa maka hal itu adalah termasuk peristiwa yang besar.

Janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah kamu merasa sedih. Kamulah yang lebih tinggi, jika kamu beriman. Jika kamu menderita luka maka golongan lain juga telah menderita luka seperti itu”

Masa-masa kebesaran itu kami pergilirkan di antara manusia. Agar Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan mengambil saksi-saksi dari kalangan kamu, Allah tidak suka kepada orang-orang yang aniaya. Dan agar Allah membersihkan orang-ordng yang beriman dan menghancurkan orang-orang yang kafir.

Apakah kamu mengira bahwa kamu dapat masuk ke dalam surga sampai Tuhan mengetahui siapa di antara kamu yang benar-benar berjuang dan mengetahui orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kamu telah mendambakan kematian sebelum kamu menjumpainya. Sekarang telah kamu lihat dengan mata kepala kamu sendiri.“

Temannya itu tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk membacakan sebuah ayat Allah yang lain dari Kitab Suci yang abadi itu. Ia mengisyaratkan dengan tangannya untuk diam, lalu ia berkata: “Saya mengerti. Saya mengerti. Jadi kamu mau mati”

Teman kita menjawab:

“Tidak hai temanku! Kamu belum memahami saya. Saya tidak mau mati. Saya dapat memastikan hal itu untukmu. Saya mau hidup. Saya ingin hidup dan berumur panjang. Saya belum merasa puas dengan kehidupan ini. Kewajiban-kewajiban yang harus saya laksanakan baru sedikit yang saya lakukan. Saya ingin untuk menyelesaikan seluruh pertanggungjawaban itu. Dan ada suatu persoalan lain. Untuk beberapa waktu lamanya dalam kehidupan saya, saya telah menjauh dari Allah. Saya berharap untuk hidup sehingga dapat saya gunakan umur saya untuk mendekatkan diri kepadanya, sehingga kedua daun timbangan itu menjadi agak sama berat. Dan akhirnya saya tidak pernah lupa bahwa saya mempunyai beban-beban saya”.

Cepat-cepat temannya sekali lagi memotong pembicaraannya dan menyuruhnya diam:

“Saya tidak peduli dirimu pribadi. Kamu boleh melakukan apa saja. Tetapi saya memang merasa penting beban ini. Kamu adalah seseorang yang tubuhnya tidak sanggup menahan penderitaan ini. Yang paling dekat kepadamu adalah kematian. Apakah harta-benda yang kamu tinggalkan untuk keluargamu. Yang saya tahu apa yang kamu tinggalkan adalah setumpuk nol-nol saja”.

Temannya menjawab dengan tenang sahaja:

“Apa yang akan dilakukan keluargaku, jika saya meninggal di atas kasur begitu sahaja sebagaimana keledai mati? Kehidupan ini seluruhnya jiwa. Nafas masuk dan tidak keluar. Nafas keluar dan tidak masuk lagi. Apakah mereka akan mengambil lubang di tanah atau tangga ke langit?

“Katakan: sekalipun kamu di rumahmu sesungguhnya akan nyata orang-orang yang telah ditetapkan atas mereka bahwa mereka akan terbunuh itu kepada tempat pembaringan mereka”

(Ali-Imran: 154)

Saya ini, hal temanku, sebagaimana telah saya katakan, saya tidak ingin mati. Tetapi hidup dan mati itu adalah rahasia Allah. Kedua hal itu tidak boleh menjadi perhitungan bagi orang yang bermaksud untuk melaksanakan tugas, atau untuk mengubah suatu hal yang tidak benar, atau pergi dan kembali walaupun untuk kepentingan perniagaan dan mencari kehidupan.

“Tidak ada jiwa yang tahu apa yang akan diperolehnya besok, dan tidak ada jiwa yang tahu di bumi mana ia akan meninggal”

Tiba-tiba temannya berkata:

“Dengarlah, saya ceritakan kepadamu sebuah cerita yang benar-benar terjadi, yang dapat membantu apa yang kamu katakan. Tahun 1930 terjadi krisis di kalangan guru-guru, sebuah krisis pantulan. Guru-guru yang telah tamat sekolah guru tidak mempunyai tempat di departmen dan juga tidak di sekolah-sekolah swasta, selain dan sedikit guru. Sekolah-sekolah swasta mempergunakan kesempatan ini untuk mempraktikkan hukum permintaan dan penawaran. Mereka memberikan syarat syarat yang amat tidak adil, di antaranya gaji yang amat kecil, pada bulan musim panas gaji tidak dibayarkan. Kami mempunyai seorang rekan yang mempunyai banyak tanggungan keluarga. Ia sedikitpun tidak dapat menyimpan dan gajinya yang kecil itu. Pada suatu kali ia bercerita tentang sebab-sebab penderitaannya kepada seorang dusun yang sederhana. Tiba-tiba orang dusun Yang sederhana itu bertanya membantah dan dengan cara yang sederhana pula: Saudaraku, bagaimana Tuhan? Apakah Tuhan telah mati?

Setelah itu kedua orang itu terdiam, lama sekali. Diam atau suatu pengertian yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata”.

Saya ikut menyaksikan pembicaraan ini. Saya mendengarkan keseluruhannya, bukan karena ingin memata-matai dan bukan hanya karena ingin tahu saja. Pembicaraan ini terdengar oleh semua orang berada di dekat itu dalam klab yang berisi banyak orang. Saya juga paham akan diam yang meliputi kedua teman itu:

Benar, apakah Tuhan telah mati? Maha Suci Ia dan Maha Tinggi. Maha Hidup dan Maha Kuat yang tidak ada mati-mati.

Setelah itu berbagai pemikiran mulai timbul pada saya: Dari manakah kiranya para pejuang itu memperoleh kekuatan untuk perjuangan? Dan penghargaan tanah air dan penghormatan rakyat? Hal ini tidak pasti. Bangsa kadang-kadang mencapai suatu tingkát kesadaran sehingga ia tidak mungkin memberikan penghargaan. Bahkan kadang-kadang ia menghancurkan orâng-orang yang menginginkan kebaikan baginya, dan memberikãn tepuk tangan kepada yang membangkitkan semangat. Dan kepercayaan kepada diri sendiri? Juga tidak pasti. Diri kadang-kadang tidak dapat bertahan karena godaan dan ancaman. Walaupun orang dapat menentang godaan dan ancaman, mungkin ia tidak dapat bertahan di depan samaran tanah air dan rakyat, dan di depan tuduhan palsu yang mungkin diderita öleh orang yang paling mulia sekalipun.

Harus ada suatu sandaran tetap yang tidak akan goyang. Harus bersandar kepada suatu kekuatan yang lebih besar dan kekuatan dunia, agar para pejuang dapat bertahan di depan ancaman. Pasti ada suatu ganjaran yang lebih besar dan semua yang dapat diberikan oleh dunia, sehingga para pejuang dapat bertahan di depan godaan. Harus ada suatu hubungan yang lebih kuat dan hubungan yang terdapat di seluruh bumi, sehingga para pejuang itu dapat bertahan diri di depan seluruh rakyat dan tanah air.

Para pejuang yang mencari sandaran di bumi ini tidak akan menjumpainya. Para pejuang yang mencari kekuatan di bumi ini, tidak akan menjumpai apa-apa.

Hanya satu sandaran yang tidak akan goyang. Hanya satu sandaran yang tidak akan menjadi lemah.

Iaitu aqidah terhadap aLLoH.



[Sayyid Qutb]



***Revolusi Hari Ini***

Pijakan dan Bimbang mu

-1-

Desir-desir kehidupan

Sekelumit masalah dan kompleksitasnya

Apa yang engkau inginkan sebenarnya?

Sadari diri...

Sadar diri!

Setiap pergumulan melenakan, melupakan pijakan dan menggoyahkan.

Setiap bimbang mengombang-ambing, menggelincirkan.

Apa dan bagaimana yang sebenarnya?

Tak ada yang mengetahui kecuali diri kita

Tak perlu bertanya, sebab seribu fatwa takkan berguna

Tak perlu konsultasi pada harga mati konsekuensi

Engkau pemilik amanah diri mu

Penanggungjawab kehidupan mu

Kau yang akan di tanya

Kau yang akan di mintai pertanggungjawaban

Kau juga yang bahagia atau menderita

Apa urusan ku dan yang lain?!

Siapa dia kawan, yang sungguh perhatian

Pada prinsip-prinsip dan pergaulan yang tercampurbaur

Dia takkan lebur...

Siapa dia yang berhak sakit hati atau kecewa?

Pada asas-asas perjanjian dan kesepakatan yang mengambang

Dia harus pergi meninggal bimbang...

-2-

Jika harus khawatir, aku lah orangnya

Jika harus terus bermain; tidak mengapa

Dusta lah musuh kita!

-3-

Padahal apa yang kau sangka tak pernah terucap (meski itu benar)

Padahal apa yang kau kira tak dapat dipastikan

Lalu bagaimana Engkau berkesimpulan..?

-4-

Pijakan-pijakan mu, itulah milik mu

Cahaya dan tongkat kayu mu

Yang kau miliki lindungilah!

Yang kau inginkan gapailah!

[Ashar, 02/01/1428]



TERTOLAK TERTAWAN

Untuk mereka yang tertolak

Untuk mereka yang tertawan

Ketahuilah, pena telah terangkat

Tinta telah mengering

Apa yang pasti terjadi akan segera datang

Apa yang ditetapkan adalah kebaikan

Bagi mu`min...

Meski berupa penjara atau istana

Untuk mereka yang tertolak

Untuk mereka yang tertawan

Yakinlah, tidak ada perubahan dalam sunah-Nya

Semua berputar dan bergulir mengikuti al-qodar

Semua kebaikan diatas keluasan

Ilmu dan Hikmah-Nya

Bagi mu`min...

Meski berupa tamparan atau rindu yang mendalam

Untuk mereka yang tertolak

Untuk mereka yang tertawan

Terimalah pelajaran ini

Ambillah ia sebagai bekal

Meski berupa tangisan atau candaan

Untuk mereka yang tertolak

Untuk mereka yang tertawan

Segala teriakan

Segala tikaman

Dan dentuman meriam

Adalah ujian

Adalah pembinaan

Bagi iman

Dan ketaqwaan

[Dzulhijjah 1427]




***Revolusi Hari Ini***

Mutiara Jiwamu...

“Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut didalamnya, agar kamu menjadi orang – orang yang bertakwa” Al A'raf : 171

Rumus itu bernama ikhlas, dia tidak terjadi karena dengki apalagi iri hati. Ia adalah uraian energi yang mampu membuat ricuh kehidupan terasa tak berarti. Karena ia hanya tumbuh di hati yang gemetar ketika dibacakan ayat – ayat Allah (Qs8:2) . Yang menjaga setiap langkah dengan kehati - hatian dan menahan gelombang intimidasi dan cobaan dengan doa. Ia tidak bernafas dengan untaian emosi, karena ia tahu istiqomah tidak cukup dengan semangat tapi juga dengan managemen hati yang tulus dan bersih.

Sabar dan Sholat (QS2:45) itulah garis merahnya, maka ia tumbuh dari dasar pengharapan dan keyakinan yang tak pernah mengeluh. Karena ia tahu terik matahari hanyalah segelintir cobaan hidup yang sebenarnya. Masih ada lubang – lubang di depan jalan, dan semak belukar yang mungkin akan lebih banyak membatasi langkah bersama orang - orang yang mengejewantah dengan aneka ragam watak dan prasangka. Bahkan mungkin diperapatan perjalanan kehidupan ini akan ada ular dan binatang yang lebih buas lagi yang siap menerkam. Tapi ikhlas berarti tidak gentar, karena hidup baginya hanya bernilai dengan akhir yang husnul khatimah atau syahid di jalan Pemilik dirinya.

Karena ia mampu lebih banyak bercermin bukan hanya menilai. Karena ikhlas adalah berani berbuat berarti berani bertanggung jawab, karenanya pulalah ia hanya dimiliki oleh orang – orang yang tangguh. Bukan orang yang hanya berbicara dibelakang dan bersembunyi.

Dialah yang menjaga ketegaran Khalid Bin Walid Ra ketika dipecat oleh Umar Ra, maka Khalid berkata ‘Aku berjihad karena Alloh, bukan karena Umar' . Begitulah ia mencerminkan keteguhan hati yang hidup. Air mata yang bukan karena kecengengan tapi karena muhasabah panjang atas sebuah kerinduan terhadap Alloh dan RasulNya. Ia berarti mampu mengoreksi diri sendiri bukan hanya mencibir ruang tak berarti dan mengendus asap lezat dari bangkai saudaranya sendiri (Qs 49:12).

Waktu terus berputar, tak berhenti dan takkan berulang. Noda – noda hidup kian terurai panjang dan semakin limpah. Maksiat demi maksiat, khilaf demi khilaf, fitnah demi fitnah atau mungkin ada lebih banyak aib yang tak pernah kita ungkapkan. Tapi ia akan tetap bertahan dalam kondisi apapun, ialah juga yang memaknai kesejukan air wudhu yang kita tebar dalam keheningan mesjid dan indahnya berjamaah diantara tahapan kesholehan, walau dihadapkan dalam benturan sesulit apapun..ia akan tetap bertahan. Karena baginya semua benturan adalah teguran dan anugerah Alloh agar hati yang rapuh itu tetap selalu beristighfar sebanyak mungkin, lalu bersyukur dan mengempaskan dahaga seluas dan sejauh mungkin dengan senyum yang tak pernah mengharap imbalan sejarah apalagi keserakahan jiwa.

Ia bukanlah ego, bukan juga rendah diri. Tapi ia adalah penaklukan gelombang frekuensi pemberontakan syahwat didalam hati, lalu merubahnya menjadi ketenangan gerakan perjuangan dalam naluri jihad yang dimulai dari heningnya energi Tauhid yang maha dahsyat. Maka ia berserah sepasrah mungkin pada penghambaan yang tak pernah merendahkan umat manusia. Begitu juga dia tak pernah terbuai dengan gemerlap dunia, karena ia selalu sadar dunia ini bukan tempat hidup yang sebenarnya.

Begitulah ia hadir bersama bibir - bibir yang terjaga. Yang lidahnya selalu berdansa dalam alunan dzikir, dan pertempurannya dimulai dari batin yang selalu diperisai dari kebencian. Ia melakukan segala sesuatu karena ibadahnya yang tulus kepada Penciptanya. Merangkai ruang karunia bersama airmata yang selalu menyadari keterbatasan cermin hati yang penuh kekhilafan.

Ia adalah senyuman di wajahmu kawan. Ia adalah energi keteguhan dalam situasi sesulit apapun dan sesunyi apapun. Ia adalah penakluk waktu yang tak kenal lelah. Tapi…ia juga bisa pergi begitu saja, tanpa permisi atau tanpa pamit sama sekali. Bukan! Ini bukan karena ia tidak punya sopan santun, tapi memang ia tak pernah cocok dengan rumah hati yang kotor oleh hasrat duniawi. Ia bukan milik para saudagar yang penuh keluh dan terlalu dungu untuk menjaga hamparan hati yang luas dengan hidangan kesabaran. Karena ia adalah bagian mendasar dari setiap kesabaran dimuka bumi ini.

Saudaraku..percayalah ia ada di dalam dirimu. Di dalam sudut nurani yang paling mendalam. Bahasa fitrah yang harus mampu kita terjemahkan dengan kecerdasan nurani. Nurani yang beriman dan mengerjakan kebajikan (Qs 18:30).

Dia yang membuat kita selalu merindu, merindu untuk bertemu dengan Alloh dan RasulNya. Dialah yang membuat kita tegar, karena dialah yang mengajarkan kita untuk bertahan dan berpikir dengan logika Robbaniyah, lalu menuntun kita untuk selalu terjaga dalam buih Aqidah Islamiyah yang kita kumpulkan dari warisan demi warisan yang garisnya telah dimulai oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau, hingga ke tangan para ulama, para syuhada dan juga ia selalu tahu cara kita menikmati pembelajaran bermakna tentang imunisasi pendewasaan yang kita cermati dari setiap badai kehidupan yang menerpa. Kita bertahan dan kita belajar, menembus ruang ruang waktu yang terus berjalan. Dan ia hanya akan tetap hidup bersama orang – orang yang beriman yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka (Qs9:20).

Dialah landasan menuju kemuliaan itu. Karena dengan dialah kita bisa mengerti mengapa kita harus memberi maaf, agar ruang hati bisa seluas semesta, dan kecut wajahmu bisa berubah menjadi cahaya yang menginspirasi sekitarmu. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri(Qs57:23)

Ia adalah peta menuju ketakwaan. Dan bersama dia Insya Allah kita bisa belajar bagaimana memecahkan misteri ketakwaan yang digariskan oleh Allah SWT. Dan percayalah karena Allah tidak membebani seseorang melainkan karena kesanggupannya (QS2 : 286)

[oleh Muhammad Thufail alGhifari dari microjihad.cjb.net]

***Revolusi Hari Ini***

Keajaiban yang berulang-ulang

Kalian pernah terkejut atau takjub? Pada saat itu mungkin kita lupa sudah berapa kali kita mengalaminya. Seolah-olah ini yang pertama. Seolah-olah kejadian ini baru sekali dan benar-benar di luar perhitungan. Namun, kini kita sadar bahwa ini adalah kejadian yang berulang-ulang.


Berapa kali Anda dilahirkan? Berapa kali Anda mati? Sel-sel dari tubuh Anda lebih berhak untuk menjawab tentang hal ini. Bagaimana “pembelahan sel” mampu membuat telunjuk lebih panjang dari kelingking dan jempol lebih besar dari yang lain? Tidak kita berpikir bagaimana retina berbeda dari pupil dan yang lainnya. Terbuat dari apakah dia? Sesungguhnya kejadian ini sudah biasa terulang dan kini sering ‘tak terpikirkan’.


Berapa kali Anda jatuh cinta? Berapa kali Anda patah hati? Hitung lah kejadian ini ketika kita mulai bisa berpikir tenang, bahwa tidak ada jawaban yang lebih buruk dari bunuh diri. Sesungguhnya ini adalah kejadian yang sering berulang, dan kita masih saja sering menangisi ‘dia’ yang pergi.

Berapa kali Anda pernah memikirkan hal serupa? Ulangilah ia selgi engkau mampu untuk mengulanginya. Sebab penyadaran ibarat “bagun”, sedang kita sering tertidur.

-Akhir Robi` Al-Awwal 1428-


***Revolusi Hari Ini***

Dhaafu ta`shil wa Ta`shilu Dhaaf

Lemah Dalam Berpijak dan Pijakan Yang Lemah

-1-

Suatu ketika saya diajak berdiskusi oleh para orangtua, anggota Musholla. Selepas sholat dzuhur, Imam membuka forum, mengajak seorang jamaah yang keras kepala untuk coba kembali membahas pendapatnya yang syadz (nyeleneh). Seorang jamaah lain, sudah memahami ‘tragedi’ semisal ini. Sementara saya masih membaca arah diskusi kali ini. Dengan menyandarkan pendapatnya (seolah-olah) merupakan penafsiran yang shohih (benar) terhadap matan (redaksi) hadith, beliau yang keras kepala dan sok pintar mengunci mati bantahan semuanya. Saya hanya berani membenarkan, ketika yang ditanyakan kepada saya justru keabsahan hadith. “Ini hadith atau bukan?”. Maka saya jawab, “Iya, riwayat Turmudzi”. Seolah-olah ini justifikasi terhadap pendapatnya, dan seolah-olah saya menyepakatinya. Imam yang coba mendengar semua pendapat lantas angkat bicara. “Tunggu sebentar, ini belum selesai”. Saya kembali dikonfirmasi, “Bagaimana?”. Saya jelaskan bahwa kesimpulan saya berbeda dengan Bapak yang menanyakan hadith tadi. Akan tetapi saya coba menerka maksud Bapak tadi dengan sangka baik. “Semoga kita bisa menjadi da`i dan bukan mubaligh”.

Setelah saling curah pendapat dan sedikit berdebat, saya mulai melihat ada kejanggalan dalam arah pembicaraan. Oh, maaf...maksud saya hasil kesimpulan. Kembali berselisih pandang, “ini ijtihad A.Hasan, bukan hadith”. Semua sepakat dengan Al-Qur`an dan Al-Hadith. Namun dengan pemahaman yang bagaimana? Disinilah letak permasalahannya. Jika seorang berpegang ‘kokoh’ pada satu dalil, sementara yang lain pada dalil yang lain (yang berbeda penunjukannya). Apa yang terjadi? Bahkan pada dalil yang shohih dan mutawatir sekalipun. Sebab, seorang yang lemah dalam berpijak akan mudah tersesat. Kami belum bicara banyak tentang hal lain.


-2-

Tiba-tiba saja saya dikagetkan akan tawaran keluarga saya. “Gimana mau nggak?”. Saya tidak tahu harus menjawab apa saat itu. Tapi yang saya tahu, masalahnya harus jelas dulu. Maka, saya berusaha untuk membuat tawaran itu mengambang begitu saja.

“18 tahun, hafidz Qur`an, sudah pakai niqob”, sambil merayu (meledek mungkin?). “Emang kenapa? Apaan sih?!”, saya berusaha tidak tergiur. “Mau nggak, kalau mau nanti tinggal di tanyain?”. Karunia macam apa ini? Saya tidak tahu hal yang pantas kecuali bahagia dan bersyukur. Tapi lagi-lagi saya tidak boleh tegoda.

Saya akan coba jelaskan posisi yang saya ambil saat itu. Bahwa saya bukan tidak ingin hafalan, tapi lebih menginginkan pemahaman. Saya juga memandang baik kepolosan atau keterjagaan, tapi ada posisi lain yang ingin saya ambil. Tentunya dengan berbagai keutamaan juga. Saya hanya berusaha berpegang pada prinsip-prinsip yang dapat menolak atau menerima sesuai dengan ketepatan kondisi. Jika tidak, sungguh saya telah ada pada kehidupan yang lain. Keluar dari semua cita-cita dan rancangan yang telah saya rencanakan.

Mungkin ada yang akan berpendapat; “yang seperti itu tidak boleh di tolak”. Meskipun saya hanya menangguhkan (dan bukan menolak), saya akan membantah pendapat tersebut. Saya katakan pada orang itu, “lantas dimana posisi saya pada penawaran lain yang sebelum itu?”. Ya, ini tentang usaha yang dilakukan kakek saya untuk menjodohkan saya pada seseorang yang dalam asuhannya. Klasifikasinya, 17 tahun, masih polos, bersedia di tadbir (dibentuk/ dididik), dan sudah disetujui, alias diserahkan segala urusannya kepada saya. Sementara “Si Hafidzoh 18” itu belum didapat keterangannya selain dari kalangan Arab ta`at (keturunan Arab).

Sesungguhnya bagi saya, kejelasan sikap dan ketegasan pilihan lebih menentramkan. Apa yang di iming-imingkan atau di janjikan oleh siapa pun boleh jadi tidak terjadi atau terlaksana. Tapi pilihan dan janji kepada diri sendiri harus lebih di utamakan. Kejadian yang demikian banyak sekali pada diri saya. Segala puji bagi aLLoH!


-3-

Kisah ini adalah tawaran/ajakan yang dilakukan oleh kawan seperjuangan saya untuk bergabung dalam tandzim. Maaf, maksudnya bergabung untuk berjuang menyusun kembali tandzim. Tandzim apa dan kenapa? Tandzim ini adalah tandzim yang shohih dan syumul. Ia adalah kebanggaan sejarah bagi para pejuang syari`ah yang tidak kenal kompromi. Ia adalah benteng Umat Islam Bangsa Indonesia, dari kemusyrikan Pancasila dan kekufuran PKI. Tentu ada sudah bisa menebaknya.

Semua argumen tentang Siroh Nabawi, argumentasi keutamaan menyegerakan amal, dll mengalir dari lisan kawan saya. Tapi dengan Bab yang sama saya membantah dia. Sesekali saya menarik lebar pembahasan, untuk memberi pemahaman yang sempurna. Saya ingin sekali menjelaskan kepada kawan saya itu tentang kedudukan, prinsip, keadaan dan penghukuman. Bahkan sampai penghakiman dan eksekusi, jika perlu. Tapi, cukuplah bagi saya dan dia untuk mengikat pada ukhuwah yang berlandaskan iman. Cukuplah untuk saling menghormati pilihan.

Banyak hal dalam kejadian ini yang tidak bisa saya kisahkan. Singkatnya, saya menilai dia tidak pada posisi yang tepat (bahkan bisa jadi salah) ketika mengajak saya untuk menyusun kembali barisan dan merapatkannya pada konstitusi yang dulu pernah dibangun oleh para ulama dan mujahid Indonesia; Qonun Asasy dan Pedoman Dharma Bakti. Walau bagaimana pun, saya lebih berhak untuk bergerak diluar tawaran kawan saya itu.


-4-

Beberapa hari sebelumnya. “Tugas kamu adalah mengatur redaksi, tetapi masih dibawah Pemred”. Saya tidak memberikan jawaban, sebelum memberi kejelasan. “Apa harus ngantor?”. Ternyata fleksibel, asalkan jam kerja dan job desk terpenuhi. Saya pikir banyak hal lain yang harus saya kerjakan diluar job desk yang ditawarkan. Apalagi banyak yang bisa saya kerjakan dengan tidak mengikatkan diri pada kontrak itu.

Yang barusan itu adalah tawaran untuk berkerja dibawah ‘Biro Propaganda Media’ salahsatu Harokah. Saya boleh berbesar hati, karena kerja intelejen pada posisi itu adalah memetakan dunia Islam dan menyebarkan fikrah Sunny berdasar kajian keadaan internasional. Tidakkah ini bermanfaat? Berapa banyak dalil yang dapat dikeluarkan agar saya menerima tawaran baik ini. Berapa jumlah nash yang dapat memaksa saya untuk “mendengar dan patuh”. Bahkan, pada hal ini ada 2 kebaikan. Tapi perlu sedikit saya tegaskan. 2 kebaikan dan 1 jebakan.

Jebakannya adalah sebuah keadaan yang akan membuat saya pada posisi ‘puas’ atau hanyut. Fitnah musayarotil waqi`! Fitnah mengikuti realitas. Fitnah menghianati idealitas!

Bagaimana mungkin saya mengambil 2 kebaikan untuk menukarnya dengan kebaikan yang lebih dari itu, bahkan boleh jadi lebih utama?! Meski pilihan saya berarti tidak hanya menolak, tapi menelantarkan kerja tersebut. Sebab gugus tugas tersebut tengah berjalan dan masih serta akan terus berjalan. Hingga setiap bilangan bulan akan menjadi saksinya.


***

Begitu banyak riwayat yang berisi amalan sholih yang parsial. Betapa beragamnya penekanan Rosul pada para shahabah. Masing-masing punya titik tekan dan titik mula. Terlebih lagi, ada kondisi dan latar belakang yang tentunya tidak homogen.

Puji syukur kepada aLLoH, kita masih diberi akal yang jernih dan hati yang bersih. alhamduliLLaH kita masih diberi petunjukan dan konsistensi diatas arahan-Nya. Lihatlah betapa banyak orang yang tidak menemukan pijakan. Lihatlah berapa banyak orang yang memilikinya, namun kehilangan pada akhirnya. Lihat juga orang-orang yang secara sadar memilih untuk meninggalkan pijakannya. Penjelasannya cukup sederhana, mereka “lemah dalam berpijak”. Adapun orang-orang yang selain itu, adalah orang-orang yang tidak punya pijakan. Atau dalam bahasa yang lebih halus, mereka memiliki pijakan namun lemah. Baitul ankabut! Rumah siapakah yang paling rentan terhadap kerusakan (daripada rumah laba-laba)? Demikian ibroh dari tamsil yang diberikan al-Qur`an kepada kita.

Ini bukan kisah penolakan. Bukan pula masalah penangguhan atau penerimaan. Ini hikmah dan ibroh!

Inilah, orang yang memiliki “pijakan yang lemah”. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki hujjah yang kuat lagi nyata. Sesungguhnya mereka tiada memiliki hujjah. Mereka yang memiliki pijakan yang lemah adalah mereka yang sering berpendapat salah. Salah ia dalam proses, salah pula dalam hasil. Salah karena memang sudah salah dalam menentukan pijakan.

Kita berlidung dari dua keburukan ini;

Dhaafu Ta`shil wa Ta`shilu Dhaaf. “Pijakan yang lemah” dan “Lemah dalam berpijak.”

#Lembah Kapuk, Malam hari.

@Akhir Muharrom 1428


***Revolusi Hari Ini***

Nasehat untuk ketergesa-gesaan dan keterlambatan

Telah banyak kita ketahui bagaimana cara dan metode yang dilakukan oleh seseorang untuk meraih kegagalannya. Telah banyak kita jumpai para ahli dan pakar kebohongan, mereka berdusta pada diri sendiri. Padahal tidak ada yang bermaksud menuntut mereka di dunia ini.

Orang-orang cerdas dan berakal memanfaatkan waktunya dengan baik. Orang beriman saling menasehati dan mengingatkan untuk sabar. Akan tetapi, masih saja ada diantara manusia yang memilih kejahilan dan kekufuran.

Risalah ini saya tunjukan kepada kawan dan saudara saya yang sedang mengalami kekeringan jiwa, dimanapun mereka berada. Untaian-untaian renungan ini dimaksudkan untuk memberi sesuatu pada jiwa yang kehilangan dan merasa kurang. Nasehat adalah kebutuhan jiwa dan hati. Nasehat adalah bagian dari kebudayaan nabawi.

Memahami kaidah “Siapa yang tergesa-gesa ia dihukumi dengan kegagalan”.

Para ahli ilmu dan kebijaksanaan bertutur tentang pentingnya waktu, lantas manusia bergerak melupakan dirinya. Ia berpacu dengan zaman, larut dalam kehidupan. Bodoh! Manusia yang kurang akal ini mengejar sesuatu yang hampa dan meninggalkan makna. Mereka melakukan produktifitas yang tak kenal batas hatta apa yang ditetapkan oleh Tuhan. Mereka mengatakan, “tak ada waktu untuk Tuhan”. Hal ini ditegaskan dengan kaidah filsafat yang menyatakan, “Tuhan adalah kebenaran absolut. Dia ada dalam ketiadaan, Dia tidak terikat ruang dan waktu.” Sekilas nampak benar. Lalu, seperti apa praksisnya? “Ini kehidupan dunia, semua yang di dalamnya relatif karena terikat ruang dan waktu...” lanjut mereka. Mereka mulai membangun dikotomi pada tataran metafisik, sebelum nantinya di ingkari. “Tidak ada tempat bagi Tuhan di dunia ini!”

Orang-orang jahil dari zaman dahulu hingga hari ini tiada berbeda. Mereka menukar keyakinan dengan keraguan. Memusuhi pertentangan dan berkawan dengan para penentang. Siapa mengikuti mereka, ia celaka! Siapa yang bertaqwa, ia bahagia.

Maksud saya, hidup itu pilihan. Pilihan untuk memilih atau tidak memilih. Jika memilih, ia harus menentukan pilihan mana yang terbaik. Bukan sekedar baik saja. Itu artinya ia harus kembali memilih, diantara pilihan-pilihan yang ada dihadapannya. Siapa yang memilih yang terbaik, itu adalah keutamaan bagi dirinya sendiri. Bagi sesuatu yang dipilihnya, dan bagi yang lainnya.

Pilihan atas segala sesuatu tidak pernah terlepas pada ikatan ruang dan waktu. Waktu bermakna ketepatan kesempatan. Ruang bermakna tempat dan posisi. Siapa yang tergesa-gesa ia akan dihukumi dengan kegagalan. Demikian para orang berilmu telah menyampaikan pelajaran berkaitan dengan hal ini.

Adakalanya, pilihan itu menipu. Sekilas nampak yang terbaik, padahal tidak. Sekilas sesuatu mungkin nampak sebagai yang terbaik, padahal belum tentu. Waktu terkadang adalah jebakan yang akan menipu kita. Waktu terkadang menampakan sesuatu yang semu. Sebab, sesuatu itu akan menjadi sesuatu (dirinya) pada waktunya. Maka rencanakanlah hidup!


Waktu adalah nafas,

Ruang adalah jalan

Pada keduanya kita hidup

Keseimbangan pada keduanya adalah kesempurnaan

Yang Maha Sempurna tak membutuhkan keduanya


#Bumi Tempat Berpijak pada penghujung Muharrom 1428


***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina