Hijrah Untuk Tatanan Sunnah

Siapa yang ingin istrinya menjadi janda
Atau ayah yang ingin anaknya menjadi yatim
Silahkan halangi kami

Siapa yang ingin darahnya tumpah
Atau tulang rusuknya patah
Siapa yang ingin air matanya mengalir
Atau bangkainya berbau anyir
Hentikan kami, jika kalian mampu!


Untuk tatanan dunia yang baru manusia berperang
Kekufuran dan iman saling berhalang
Menghalang lawan; menikam
Kemunafikan bimbang dan lari
Bersembunyi di balik bokong Murtadin
Kefasikan menanti untuk bunuh diri

Dimana keperwiraan dan keprajuritan?
Jika iman keyakinan dan persenjataan
Dimana pena dan pedang berkawan?
Bukankah iman ucapan dan perbuatan

Angkat pedang mu untuk naiknya iman
Ayunkan pena untuk bertahan!

Siapa yang ingin istrinya menjadi janda
Atau ayah yang ingin anaknya menjadi yatim
Silahkan halangi kami

Siapa yang ingin darahnya tumpah
Atau tulang rusuknya patah
Siapa yang ingin air matanya mengalir
Atau bangkainya berbau anyir
Hentikan kami...


Untuk nubuwah Muhammad dan Kekhilafahan
Bendera mu`min berkibar
Semangat terbakar
Al-Wahn lari dari azzam Mujahid
Meleleh dari sublim bagai lilin
Redup baranya tak mampu terangi hati

Dimana Imamah dan Imaroh?
Jika jamaah wajib atas kepemimpinan
Dimana Bumi Ribat dan Amirul Jihad?
Bukankah Iman itu Hijrah dan I`dad

Rangkai ketaatan mu di atas bai`at
Rapatkan barisan dalam manhaj!


***Revolusi Hari Ini***

Ahli Ubudiyyah

Diantara mereka ada yang melewati semua celah, berjalan menuju Alloh dari berbagai lembah, dan sampai kepada-Nya dari berbagai jalan. Orang ini menjadikan tugas ‘ubudiyyahnya sebagai kiblat gerakan hati dan sasaran pandangan matanya.
Ia menjadi makmum dan berjalan di belakang ‘ubudiyyahnya, ke manapun ia pergi. Ia memiliki saham di semua bagian; dimana ada ‘ubudiyyah disana ia ada.
Dalam ilmu, Anda akan mendapatinya bersama ahlinya. Dalam jihad Anda akan menemuinya di shaf para mujahid. Dalam shalat Anda akan menjumpainya bersama orang-orang yang khusu`. Dalam dzikir Anda akan menyaksikannya bersama ahli dzikir. Dalam kebajikan dan manfaat Anda akan melihatnya bersama orang-orang yang penuh dengan kebajikan. Dalam mencintai Alloh, muraqobatulloh dan inabah (kembali), Anda akan menemuinya bersama dengan orang-orang yang mencintai Alloh dan kembali kepada-Nya.
Ia benar-benar memegang erat ‘ubudiyyahnya dimanapun bagian-bagian ‘ubudiyyah itu berada.

[Ibnul Qayyim, Thariqatul Hijratain wa Babus sa`adatain]


***Revolusi Hari Ini***

TAPAK-TAPAK SAKINAH SAKINAH (edisi tambahan)

1. Bolehkan seorang ikhwan/ akhwat membatalkan proses khithbahnya karena merasa tidak cocok dengan calonnya atau mengetahui ada calon yang lebih tepat? Bagaimana, Ummu?

Ya, Jadi memang begitu. (Jika ingin menikah) namanya ada perjanjian. Jadi artinya dia (si wanita) itu sudah punya atau membuat perjanjian dengan laki-laki tiba-tiba yang membatalkan yang perempuan (padahal sudah diterima, red). Ada ketentuan seseorang yang melamar yang sudah dilamar orang lain, itu tidak boleh. (jika akad masih terikat, red.) Sekarang bila bukan kemauan dari orang kedua (yang ingin melamar) itu. (Tetapi yang mengikat akad ingin membatalkan). Jadi sebenarnya, karena itu belum terjadi pernikahan, istilahnya tunangan. Sebenarnya itu ada hikmahnya. Bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menyetujuinya, lamaran itu...mungkin setelah ia mempertimbangkan beberapa hal akhirnya dengan pertimbangan itu dia (katakanlah) membatalkan yang tadinya sudah dilamar oleh laki-laki yang pertama. Dan yang perempuan ini, kalau perempuan ini yang memutuskannya itu tentu saja dia punya hak. Selama yang sesudahnya, yang laki-laki ini dinilai kurang memenuhi syarat bagi dia, sementara misalnya laki2 yang orang kedua itu dianggap lebih pantas atau sebagainya. Jadi saya pikir itu ada haknya, perempuan itu.

> Artinya yang perempuan ini boleh membatalkan, tetapi dengan yang kedua (harus) belum ada ikatan?

Jadi dalam hal ini, menurut saya seandainya ada perempuan yang menolak/ membatalkan. Saya katakan itu lebih baik bagi laki-laki yang telah menyetujui lamaran itu. Karena begini, seandainya dipaksakan sedangkan perempuan itu tidak mau, nah ini akibatnya lebih buruk, buat laki-laki ini. Jadi ini suatu hikmah dimana misalnya perempuan itu memang sudah tidak mau, dari pada nanti setelah perkawinan ini terjadi rumahtangganya tidak akan damai karena ada semacam penyesalan. Jadi disini ada hikmah buat laki-laki yang sudah melamar itu. Jadi lebih baik dia menerima, demi kebaikan diri dia sendiri.

> Menerima untuk dibatalkan?

(Ya) menerima untuk dibatalkan, itu lebih baik bagi dia ketimbang dia memaksakan diri nanti setelah terjadi perkawinan, itu juga tidak membawa kepada atau menjadikan keluarga yang sakinah. Karena perempuan itu juga (tidak akan) menemui keinginannya.

> Kalau motivasinya bukannya (dia) merasa tidak cocok, tapi merasa ada yang lebih baik?
Misalkan, sudah tidak ada masalah dengan calonnya. Kemudian dia tahu atau kenal belakangan, (biasanya ada yang melamar tapi nikahnya tahun depan) namun dalam perjalannya ketemu dengan yang lebih baik, teman lamanya. Dalam artian, motivasi itu datang dari pihak luar, misalkan ikhwan melihat ada teman waktu kecil, yang diketahui latarbelakangnya baik, kemudian ketemu lagi dan merasa kayanya ini lebih baik daripada yang kemarin sudah (diterima). Pun dari akhwat, misalnya kenal dengan ikhwan yang dulu pernah ia kenal lebih baik, dan dia ingin dengan yang baru tersebut. Bagaimana?

Saya pikir itu lebih baik bagi orang pertama yang sudah melamar itu, untuk menerima keputusan itu. Kenapa? Karena itu hikmahnya lebih (besar) buat orang yang sudah melamar itu. Karena kalau dia memaksakan diri, itu tidak akan baik untuk kehidupan dia. Karena, perempuan itu jadi terpaksa. Dan sesuatu yang terpaksa, nanti setelah terjadi perkawinan rumahtangganya tidak akan tenang. Nah jadi, dalam hal ini sebaiknya orang yang tadi sudah disetujui (sudah melamar) duluan itu, baiknya menerima keputusan itu. (Karena) ternyata aLLoH tidak (katakanlah) menyetujui dan untuk mencari orang lain yang lebih tepat menurut aLLoH.

> Berarti kalau ikhwan yang membatalkan, ikhwan bisa langsung membatalkan. Kalau akhwat harus lewat wali-nya? Atau si akhwat sendiri boleh langsung minta batal/ putus. Bagaimana?

Dia melamar sudah melalui wali-nya?

> Iya dan sudah diterima..

Iya seharusnya begitu. (dengan wali-nya). Wali juga ikut, kalau dia yang pertama ikut menyetujui. Kemudian wali-nya akan berbincang kembali dengan orang yang sudah melamarnya; dengan alasan demikian ini itu terpaksa kita batalkan, dengan pertimbangan begini dan begitu. Supaya nanti pihak laki-laki yang sudah melamar itu, tidak kecewa. (Dan) menerima itu sebagai keputusan aLLoH. Yang dibelakangnya ada hikmah. Ya, jadi tidak mesti bahwa sesuatu (yang kita inginkan tercapai, red.) mungkin dia kecewa, tetapi ketahuilah kalau dipaksakan tidak akan baik untuk kehidupan dia. Jadi dia pasrahkan kepada aLLoH. Kita serahkan kepada aLLoH. Minta diberikan kepada aLLoH supaya diberikan jalan yang terbaik.

2. Bolehkan 2 orang saling berjanji untuk menikah tanpa akad resmi? hanya antara pemuda dan pemudi, (mereka hendak menikah). Baru janji antara mereka berdua dan belum dengan keluarga dan baru sekedar perjanjian saja dan belum khithbah.

Sekedar janji boleh saja. Tapi kalau mereka sudah menikah tanpa sepengetahuan wali, dalam rangka sekedar janji, misalnya tahun depan kita menikah. Selama itu baru berupa janji saja, bisa dilaksakan bisa juga tidak. Tetapi kalau istilahnya mereka langsung menikah tanpa persetujuan wali, dalam islam ada 2 pendapat. Menurut 4 mazhab fiqh. 3 mazhab, yakni Syafi`i, Hambali dan Maliki, tidak men-syahkan pernikahan seorang wanita tanpa ijin wali-nya (orangtuanya). Menurut mazhab Imam Hanafi, perempuan boleh menikah tanpa sepengetahuan wali, nikahnya syah, tetapi orang tua/ wali punya hak untuk membatalkan pernikahan tersebut. Pertama dia menikah orang tua tidak mengetahui..menurut Imam Hanafi nikahnya sah, tetapi orang tuanya punya hak menfasah/ membatalkan atau menyetujui pernikahan tersebut. Jika wali menyetujui pernikahan dapat diteruskan, tapi kalau wali tidak setuju wali berhak membatalkan pernikahan tersebut. Dan batal menurut Imam Hanafi. Dia harus mengikuti kemauan, atau keputusan orangtuanya (setelah orangtua mengetahui, red.).

> Berarti janji yang pertama saya tanyakan tadi termasuk jatuh khithbah? Apakah yang seperti itu terlarang?

Belum terjadi akad, karena hanya sekedar baru janji. Tidak terlarang, tapi hanya janji dan proses menuju ke akad. Jadi baru sekedar janji dan belum terjadi apapun. Janji itu (sendiri) bisa dipenuhi, bisa tidak tergantung perkembangan keadaan yang dilihat oleh kedua pasangan ini. Kalau mereka lihat itu baik buat mereka menyetujinya, atau mereka bisa juga janji itu tidak diteruskan karena berbagai pertimbangan, misalnya. [Artinya belum ada ikatan atau konsekuensi] belum ada ikatan (karena) belum ada akad apapun antara mereka berdua.

3. Kekhawatiran atau alasan apa saja yang bisa dijadikan pertimbangan untuk melanjutkan atau membatalkan proses khithbah?
Segala sesuatunya perlu proses, perlu pengenalan yang lebih matang. Jadi seseorang itu sebaiknya mengenal lebih dekat atau mengenal lebih jauh, misalkan. Baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, supaya jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Katakanlah untuk pertama itu kenal dulu, kenal keluarga, kenal baground. Nah setelah kenal dengan baik kemudian mempelajari sifat-sifatnya mungkin orangnya kasar atau orangnya baik, atau banyak pertimbangan kebijaksanaan dan lain-lainnya. Itu sebaiknya dikenal lebih jauh. Supaya nanti setelah berlangsung perjanjian-perjanjian tersebut, tidak goyang oleh perubahan-perubahan. Jadi pertama kalau melihat perempuan ini perempuan baik-baik, keturunan keluarga baik, keluarga yang terhormat, misalkan. Nah itu perlu diketahui. Kemudian background si wanita ini, pendidikannya, sifat-sifatnya. Begitu pula sebaliknya. Dari pihak laki-laki mesti dikenal bagaimana background pendidikannya, bagaimana background keluarganya, kemudian sifatnya karakternya, laki-laki ini. Apakah seorang pemarah, atau seorang yang bijaksana, punya pertimbangan, punya rasa kasihsayang terhadap perempuan. Nah itu sebaiknya diteliti terlebih dahulu. Jadi jangan cepat-cepat mengambil keputusan. Lebih baik mengenalnya, mengenal backgroundnya, dan ambil waktu proses, jadi jangan segera begitu kenal langsung berjanji. Setelah berjanji sekian lama ternyata diketahui background masing-masing itu tidak baik. Nah disitu akan terjadi pemutusan hubungan Setelah beberapa lama dikenal, ternyata background salahsatunya itu tidak baik, misalnya. Jadi sebaiknya kenali dulu sejauh mana pribadi masing-masing. Nah, setelah itu kelihatan nanti, biasanya yang pertama terlihat itu kan indah-indah saja. Nanti setelah bergaul sekian lama ternyata dia punya sifat yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Jadi, untuk menghindari hal itu, sebaiknya kita jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Sebab begini, kalau memang si wanita memang mencintai laki-laki itu, dia dengan cara bagaimana pun, kalau pun dia orang yang kurang baik, dia akan berusaha menjadi orang yang (lebih) baik supaya laki-laki ini jadi dengan dia. Sebaliknya juga begitu, laki-laki seandainya dia memang tertarik dengan perempuan itu, dia akan berusaha menjadi seorang laki-laki yang baik. Jadi, jangan cepat-cepat semuanya. Sebab kalau dalam waktu dekat terlihat yang baik-baik saja, setelah beberapa waktu kelihatan, oh ini punya sifat yang seperti ini. Jadi biarlah prosesnya agak lama sebelum mengambil keputusan. Supaya mengenal lebih dekat pribadi masing-masing.

> Bagaimana jika dibatalkannya, misalkan alasannya itu, bukan masalah pada kedua calon, melainkan pada keluarga atau yang lainnya?

Ya itu dia, jadi sebelum mengambil keputusan sebaiknya kita kenal dulu lebih dekat, keluarganya dia. Dengan kita mengenal lebih dekat, kita disitu baru bisa mengambil keputusan, mau dengan orang ini atau tidak. Kalau misalnya kita sudah mengetahui ini keluarga ini bukan keluarga baik-baik, selalu berbuat begini-begini, misalnya. Nah disitulah kesempatannya kita untuk tidak melanjutkan hubungan ini, laki-laki ataupun perempuan tersebut. Nah jadi jangan terlalu cepat mengembil keputusan. Kalau perlu di uji dulu (sejauh mana kebaikannya). Contohnya; kalau kita begitu cepat bilang “saya cinta”, nah ternyata laki-laki ini sudah pernah nikah, misalkan. Nah disini akan timbul kekecewaan, kalau perempuan sampai tidak tahu. Jadi perlu untuk mengenal lebih dekat dengan calon ini. Sebelum mengambil keputusan untuk berjanji. Ini untuk keselamatan kita juga. Jadi dalam hal ini jangan terburu-buru melihat sesuatu yang baik. Ternyata mungkin dibelakang kita tidak baik. Jadi kekhawatiran-kekhawatiran seperti itu bisa dihindari dengan mengenal lebih dekat calon kita tersebut.

> Demikian saja Ummu, JazakumuLLoHu khoiran.

(Wa iyyaka) Mudah-mudahan bisa dipahami.

[Durasi 17:13] Senin, 13 November 2006

NB: Setelah itu Dr. Eliwarti banyak memberikan saya nasehat yang berharga. Saya baru sadar kalau saat itu pukul 06:45, padahal saya ada jadwal kelas jam 07:30. Saya masih di rumah (Bogor), kampus saya di Depok. Saya pikir, kuliah ini lebih berharga. aLLoH menghibur saya pagi itu... Segala Puji Bagi aLLoH.

Konklusi

Setiap saat orang harus menahan diri, baik setelah taaruf maupun setelah khitbah untuk menghindari fitnah. Orang yang sudah mampu dianjurkan agar segera menikah walaupun tanpa didahului khitbah. [7 Des 2006 | 11:24:17]


Beginilah Islam, yang memberikan kehendak pertama sebelum ketundukan. Kemudian ketaqwaan adalah kehendak yang paling utama. Sebelum jatuh akad, kekuasaan pada wanita atas dirinya. Setelah itu, kekuasaan diberikan pada lelaki untuk dirinya. Betapa adilnya Islam yang memberi hak menolak khitbah kepada muslimah dan memberi hak cerai kepada muslim. Terimakasih kepada Al-Ustadz Abu Abdissalam Sarbini dan Ustazah Eliwarti Maliki...BarokaLLoHulakum! Maha Suci aLLoH Lagi Maha Adil dari segala prasangka kami.



***Revolusi Hari Ini***

Petunjuk Diatas Pembedaan dan Penjelasan (lanjutan 1)

Komitmen Terhadap Jalannya

Sesungguhnya manusia telah berselisih dan berpecah belah. Kebaikan yang pertama adalah klaim-klaim mereka terhadap kebenaran manhaj-nya. Golongannya dan kelompoknya adalah manifestasi dari Firqoh an-najiyah (Golongan Yang Selamat), subhanaLLoH! Pengakuan ini adalah bukti kauny atas fitrah, bahwa manusia mencintai kebenaran. Akan tetapi klaim saja tidak cukup. Kita harus benar-benar komitmen dan menjaga komitmen tersebut sepanjang hidup. Tidak boleh keluar dan menyimpang dalam i`tiqod kita meski sebentar. Dan bukti dari keyakinan adalah ketenangan (itmi`nan) dalam iman dalam kondisi apapun, baik terpaksa maupun dipaksa.

Sesungguhnya i`tiqod kita telah sempurna pada millah al-Kholil Ibrahim a.s.. Baik itu perihal mabda` (sumber; ketuhanan), ma`ad (tujuan; yaumul akhir) dan yang ada diantara itu. Kita mempercayai Rububiyah-Nya sebagai hak atas Uluhiyyah. Kita membatasi diri pada kabar terpercaya (khobar shodiq) perihal af`al dan sifat-Nya. Kita mengakui Mulkiyah aLLoH, karenanya Al-Hakimiyah adalah wajib dan tidak terpisah dari TawhiduLLoH. Inilah Dien yang sempurna lagi lengkap.

Sempurnanya i`tiqod kita menyelisihi orang yang bersekutu dan menyimpang. Mereka kaum musyrik dan mulhid memiliki beragam metode dalam menetapkan sesuatu. Tapi cukuplah bagi kita atas apa yang datang dari aLLoH dalam bentuk khobar shodiq. Pemahaman standar kita adalah ash-shahabah. Karena merekalah murid-murid terbaik dari madrasah kenabian. Merekalah yang nama-namanya disebut secara mu’ayyan atas jaminan jannah. Merekalah yang kesaksiannya diterima meski tidak hadir, mereka membenarkan kebenaran berita terpercaya meski tidak melihatnya. Mereka menyaksikah, karena aLLoH adalah penglihatan mereka, aLLoH pun yang menjadi pendengaran mereka ketika mereka mendengar. Mereka, yang pindah dan menolongnya, yang berperang dan merawatnya. aLLoH ridho kepada mereka, mereka pun ridho kepada aLLoH.

Kami menyelisihai ahl al-bid`ah atas usaha perbaikan mereka. Kami men-tahzir setiap bentuk kecintaan dan peribadahan yang baru dan tidak dikenal pada masa Nabi dan Sahabat. Semua yang muhdats harus diperhatikan, karena semuanya buruk. Setiap keburukan akan menuntun kepada Api yang menyala.

***Revolusi Hari Ini***

MEMPERTANYAKAN KOMITMEN DAN KONSISTENSI

BismiLLaH.
Dengan asma yang Mengasihi dan Merahmati manusia. Bertaqwalah dengan sebenar-benarnya dan tingkatkanlah ketaqwaan mu!

Sesungguhnya, hati itu mudah terbolak-balik. Perasaan itu sering mengkhianati dirinya sendiri. Maka berpegang teguhlah pada hal yang tetap dan tidak berubah lagi kekal dan terjamin. Inilah keyakinan yang kokoh, yang tidak bergeser orang-orang yang menganutnya. Tidak pula mereka berpaling hanya karena ada permasalahan yang melanda terus menerus. Mereka tidak berhenti sebagaimana ujian yang datang tak kunjung henti. Perhentian mereka adalah Taman Firdaus setelah peristirahatan yang penuh kenikmatan.

Ketahuilah, setiap akad harus dipenuhi. Setiap perjanjian adalah utang yang harus dibayar. Maka penuhilah akad-akad itu. Tunaikanlah janji-janji mu. Sementara setiap pelanggaran berarti pembatalan, meski tidak setiap pembatalan berarti pelanggaran. Hal ini telah jelas bagi mereka yang memeperhatikan kehidupan. Bahwa membatalkan sesuatu karena sesuatu yang lain adalah absah dan lazim terjadi. Bahwa yang kekal hanya perjanjian hamba kepada Khaliq yakni perjanjian yang pertama dan utama. Sedangkan yang berikutnya, ia tiada boleh menyelisihinya. Sebagaimana yang tercantum dalam surah Tawbah (baro`ah) tentang pemutusan perjanjian yang memang tidak dikehendaki oleh kedua pihak. Mu`min tidak menghendaki Kafir. Kufar tidak menghendaki Iman.

Kehidupanmu adalah tanggungjawabmu. Pilihan mu adalah wewenang mu. Maka pertanggungannya menjadi sesuatu yang dibebankan kepadamu. Setiap ketetapan pasti terjadi, akan tetapi ini tidak meniadakan penyesalan. Manusia berhak untuk menyesal, karena dia berwenang untuk salah dan lupa. Manusia berhak menganulir, dan memperbaharui pendapatnya (keputusannya). Manusia berhak menjadi baik di kemudian hari. Sebagaimana ia berhak untuk tawbat atas segala dosa. Sampai disini tentunya engkau mengerti bahwa ada sesuatu diatas konsistensi. Ada sesuatu yang melampaui janji. Ada sesuatu yang lebih utama dari itu semua. Yakni rujuk kepada kebenaran. Karena apa yang benar ia lebih berhak untuk di ikuti dan dijalani.

Lalu bagaimana dengan masa lalu dan semua perjanjian itu? Ketahuilah, janji itu wajib di tunaikan, sementara ada kompensasi bernama pembatal. Pembatal ini pun wajib untuk di tunaikan sebagaimana denda atas sesuatu wajib untuk di bayarkan. Mintalah keterangan tentang dendamu... Mintalah kerelaan manusia atas kemanusian kita bersama. Semoga kita termasuk orang-orang yang memenuhi akad di atas segala komitmen dan konsistensi.

-Dzulhijjah 1427-


***Revolusi Hari Ini***

DILEMATIKA KAUM MUDA

-1-
Benteng kekuatan kami pada Aqidah
Pena dan Pedang Ibnu Taimiyah hingga Tahafut al-Falasifah.
Maka kesempurnaan Fiqh bukan seperti apa kata Mansur Faqih
Juga berbeda dari Derrida dan petaka dekonstruksi bahasa
Dengarkanlah...Fatwa Imam Syafi`i, Maliki, Hambali, dan Hanafi
Pada silang pendapat yang tetap bermartabat
Karena mazhab bukan ijtihad Musailamah al-Kazzab

Katakan pada mereka semua yang mencari kebenaran
Mereka yang mencari Tuhan dan kebahagiaan
Islam adalah keindahan peradaban
Hidup yang berpandangan
Dan kebudayaan yang hidup dengan tuntunan

Atau pada mereka pengusung cita-cita khilafah rosyidah
Dan kehidupan pertama di madinah
Maka bukan masalah berapa banyak harokah
Tapi manhaj harus Ahlussunnah wal Jamaah
Pada Aqidah kami yang mengikuti nubuwah
Pada Ibadah yang mengikuti sunnah

Aku tak tahu bagaimana lagi kebangkitan
Kecuali pada taqdir sunnatuLLoH yang tetap
Dan tidak pernah berubah kecuali atas kehendaknya
Binasalah kausalitas mutlaq diatas ketaqwaan Ibrahim dan kedunguan Namruz
Sementara Musa A.S. mengajari sang raja tentang Kerajaan sebenarnya
Maka, samakah kesaksian durjana di laut merah dengan syahadah
Muslim keturunan dan warisan keimanan sampah

-2-
Berbahagialah..wahai Amerika dan pengasong Pluralisme Agama
Karena muslim bagi negara adalah agama
Dan jihad adalah kejahatan subversif berjawab intervensi
Sementara dakwah tak boleh melanggar batas-batas toleransi

Maka tak ada rumusan kebangkitan yang baku
Kecuali pada kelahiran Mus`ab dari lapisan nyawa sang ibu
Pada kemerdekaan Bilal dan ketabahannya itu
Lantas dimana dirimu..?!
Pada rambu-rambu dan omong kosong mu
Pada Khalid kah hingga kau berani menikam wahyu?
Atau pada Abu Sofyan yang senantiasa menunggu...

Kembalilah pada jalan mu...
Kembalilah betapapun engkau telah jauh!

-3-
Langkah-langkah sporadis
Tindakan anarkis!
Hingga mesiu ditangan para aktifis
Sementara mereka meracuni para gadis

Maka jawaban atas penghianatan adalah
Perang pemikiran dengan pedang
Sedang setiap pertanyaan tak perlu kau tanggapi

Hingga din mewujud tamaddun
Hingga Aqidah merangkai Khilafah dengan begitu indah

13:40 | 18 Desember 2006 disempurnakan 0:06 | 17 Januari 2007


***Revolusi Hari Ini***

PERTANYAAN DAN JAWABAN

Pernah suatu ketika seseorang bertanya kepada saya; “Adilkah Tuhan jika memasukan Anda ke dalam neraka? Sementara Anda adalah orang sholeh dan alim…”
Sementara saya katakana padanya, “Tuhan Maha Adil, apapun yang Dia lakukan” . Sesungguhnya saya katakan kepada Anda sekarang, bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban. Sebagian tak perlu dijawab, sebagian salah jika dijawab, sebagian lagi menuntut ”diam” sebagai jawaban.

Mengertikan engkau, kawan? Jika suatu ketika pertanyaan dan jawaban merupakan sumber permasalahan kehidupan. Namun ”diam” juga tidak pernah dapat menyelesaikan. Apa yang akan engkau lakukan?

Ketahuilah, bahwa ada pertanyaaan yang memicu peperangan. Ada sebagian jawabannya yang mewajibkan pembunuhan. Maka, kesesatan adalah buah dari ketidaktepatan. Ketidaktepatan itu mencakup lisan dan perbuatan. Sikap sesat berarti sikap yang tidak tepat. Tidak tepat terjadi karena tidak taat. Lalu, apakah yang disebut ”penyelesaian”?

Ketahuilah! Ada pertanyaan kesesatan. Ada pertanyaan kekufuran. Dan sebaik-baik pertanyaan adalah (yang dilandasi) iman. Maka, ada jawaban berupa tamparan. Dan pengusiran setelah itu adalah peringatan terbaik bagi pemahaman.

Maka, ketahuilah yang sudah maklum. Jangan bertanya tentang bagaimana tentang sesuatu yang wajib di imani. Sebab pertanyaan dalam hal ini menyiratkan keraguan. Sementara iman bukanlah keraguan.

Adapun iman itu bertambah dan berkurang. Tetap pada orang-orang tertentu, dan berpindah-pindah pada yang lain. Mohonkanlah jawaban pada Dzat Yang Maha Tahu. Cukupkanlah diri mu dengan apa yang Dia beri tahu. Yang demikian itu tanda cinta. Namun telitilah, sebab banyak yang dengki pada cinta mu!

Pertanyaan-pertanyaan yang ada dunia ini, semuanya memiliki jawaban. Sementara tidak semua jawaban diketahui oleh yang bertanya maupun yang ditanya. Ada jawaban yang diketahui oleh keduanya. Ada pula hikmah seperti kisah yang pernah kita dengan; ”yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya”

[Kontemplasi Dzulhijjah 1427]


***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina