Dhaafu ta`shil wa Ta`shilu Dhaaf

Lemah Dalam Berpijak dan Pijakan Yang Lemah

-1-

Suatu ketika saya diajak berdiskusi oleh para orangtua, anggota Musholla. Selepas sholat dzuhur, Imam membuka forum, mengajak seorang jamaah yang keras kepala untuk coba kembali membahas pendapatnya yang syadz (nyeleneh). Seorang jamaah lain, sudah memahami ‘tragedi’ semisal ini. Sementara saya masih membaca arah diskusi kali ini. Dengan menyandarkan pendapatnya (seolah-olah) merupakan penafsiran yang shohih (benar) terhadap matan (redaksi) hadith, beliau yang keras kepala dan sok pintar mengunci mati bantahan semuanya. Saya hanya berani membenarkan, ketika yang ditanyakan kepada saya justru keabsahan hadith. “Ini hadith atau bukan?”. Maka saya jawab, “Iya, riwayat Turmudzi”. Seolah-olah ini justifikasi terhadap pendapatnya, dan seolah-olah saya menyepakatinya. Imam yang coba mendengar semua pendapat lantas angkat bicara. “Tunggu sebentar, ini belum selesai”. Saya kembali dikonfirmasi, “Bagaimana?”. Saya jelaskan bahwa kesimpulan saya berbeda dengan Bapak yang menanyakan hadith tadi. Akan tetapi saya coba menerka maksud Bapak tadi dengan sangka baik. “Semoga kita bisa menjadi da`i dan bukan mubaligh”.

Setelah saling curah pendapat dan sedikit berdebat, saya mulai melihat ada kejanggalan dalam arah pembicaraan. Oh, maaf...maksud saya hasil kesimpulan. Kembali berselisih pandang, “ini ijtihad A.Hasan, bukan hadith”. Semua sepakat dengan Al-Qur`an dan Al-Hadith. Namun dengan pemahaman yang bagaimana? Disinilah letak permasalahannya. Jika seorang berpegang ‘kokoh’ pada satu dalil, sementara yang lain pada dalil yang lain (yang berbeda penunjukannya). Apa yang terjadi? Bahkan pada dalil yang shohih dan mutawatir sekalipun. Sebab, seorang yang lemah dalam berpijak akan mudah tersesat. Kami belum bicara banyak tentang hal lain.


-2-

Tiba-tiba saja saya dikagetkan akan tawaran keluarga saya. “Gimana mau nggak?”. Saya tidak tahu harus menjawab apa saat itu. Tapi yang saya tahu, masalahnya harus jelas dulu. Maka, saya berusaha untuk membuat tawaran itu mengambang begitu saja.

“18 tahun, hafidz Qur`an, sudah pakai niqob”, sambil merayu (meledek mungkin?). “Emang kenapa? Apaan sih?!”, saya berusaha tidak tergiur. “Mau nggak, kalau mau nanti tinggal di tanyain?”. Karunia macam apa ini? Saya tidak tahu hal yang pantas kecuali bahagia dan bersyukur. Tapi lagi-lagi saya tidak boleh tegoda.

Saya akan coba jelaskan posisi yang saya ambil saat itu. Bahwa saya bukan tidak ingin hafalan, tapi lebih menginginkan pemahaman. Saya juga memandang baik kepolosan atau keterjagaan, tapi ada posisi lain yang ingin saya ambil. Tentunya dengan berbagai keutamaan juga. Saya hanya berusaha berpegang pada prinsip-prinsip yang dapat menolak atau menerima sesuai dengan ketepatan kondisi. Jika tidak, sungguh saya telah ada pada kehidupan yang lain. Keluar dari semua cita-cita dan rancangan yang telah saya rencanakan.

Mungkin ada yang akan berpendapat; “yang seperti itu tidak boleh di tolak”. Meskipun saya hanya menangguhkan (dan bukan menolak), saya akan membantah pendapat tersebut. Saya katakan pada orang itu, “lantas dimana posisi saya pada penawaran lain yang sebelum itu?”. Ya, ini tentang usaha yang dilakukan kakek saya untuk menjodohkan saya pada seseorang yang dalam asuhannya. Klasifikasinya, 17 tahun, masih polos, bersedia di tadbir (dibentuk/ dididik), dan sudah disetujui, alias diserahkan segala urusannya kepada saya. Sementara “Si Hafidzoh 18” itu belum didapat keterangannya selain dari kalangan Arab ta`at (keturunan Arab).

Sesungguhnya bagi saya, kejelasan sikap dan ketegasan pilihan lebih menentramkan. Apa yang di iming-imingkan atau di janjikan oleh siapa pun boleh jadi tidak terjadi atau terlaksana. Tapi pilihan dan janji kepada diri sendiri harus lebih di utamakan. Kejadian yang demikian banyak sekali pada diri saya. Segala puji bagi aLLoH!


-3-

Kisah ini adalah tawaran/ajakan yang dilakukan oleh kawan seperjuangan saya untuk bergabung dalam tandzim. Maaf, maksudnya bergabung untuk berjuang menyusun kembali tandzim. Tandzim apa dan kenapa? Tandzim ini adalah tandzim yang shohih dan syumul. Ia adalah kebanggaan sejarah bagi para pejuang syari`ah yang tidak kenal kompromi. Ia adalah benteng Umat Islam Bangsa Indonesia, dari kemusyrikan Pancasila dan kekufuran PKI. Tentu ada sudah bisa menebaknya.

Semua argumen tentang Siroh Nabawi, argumentasi keutamaan menyegerakan amal, dll mengalir dari lisan kawan saya. Tapi dengan Bab yang sama saya membantah dia. Sesekali saya menarik lebar pembahasan, untuk memberi pemahaman yang sempurna. Saya ingin sekali menjelaskan kepada kawan saya itu tentang kedudukan, prinsip, keadaan dan penghukuman. Bahkan sampai penghakiman dan eksekusi, jika perlu. Tapi, cukuplah bagi saya dan dia untuk mengikat pada ukhuwah yang berlandaskan iman. Cukuplah untuk saling menghormati pilihan.

Banyak hal dalam kejadian ini yang tidak bisa saya kisahkan. Singkatnya, saya menilai dia tidak pada posisi yang tepat (bahkan bisa jadi salah) ketika mengajak saya untuk menyusun kembali barisan dan merapatkannya pada konstitusi yang dulu pernah dibangun oleh para ulama dan mujahid Indonesia; Qonun Asasy dan Pedoman Dharma Bakti. Walau bagaimana pun, saya lebih berhak untuk bergerak diluar tawaran kawan saya itu.


-4-

Beberapa hari sebelumnya. “Tugas kamu adalah mengatur redaksi, tetapi masih dibawah Pemred”. Saya tidak memberikan jawaban, sebelum memberi kejelasan. “Apa harus ngantor?”. Ternyata fleksibel, asalkan jam kerja dan job desk terpenuhi. Saya pikir banyak hal lain yang harus saya kerjakan diluar job desk yang ditawarkan. Apalagi banyak yang bisa saya kerjakan dengan tidak mengikatkan diri pada kontrak itu.

Yang barusan itu adalah tawaran untuk berkerja dibawah ‘Biro Propaganda Media’ salahsatu Harokah. Saya boleh berbesar hati, karena kerja intelejen pada posisi itu adalah memetakan dunia Islam dan menyebarkan fikrah Sunny berdasar kajian keadaan internasional. Tidakkah ini bermanfaat? Berapa banyak dalil yang dapat dikeluarkan agar saya menerima tawaran baik ini. Berapa jumlah nash yang dapat memaksa saya untuk “mendengar dan patuh”. Bahkan, pada hal ini ada 2 kebaikan. Tapi perlu sedikit saya tegaskan. 2 kebaikan dan 1 jebakan.

Jebakannya adalah sebuah keadaan yang akan membuat saya pada posisi ‘puas’ atau hanyut. Fitnah musayarotil waqi`! Fitnah mengikuti realitas. Fitnah menghianati idealitas!

Bagaimana mungkin saya mengambil 2 kebaikan untuk menukarnya dengan kebaikan yang lebih dari itu, bahkan boleh jadi lebih utama?! Meski pilihan saya berarti tidak hanya menolak, tapi menelantarkan kerja tersebut. Sebab gugus tugas tersebut tengah berjalan dan masih serta akan terus berjalan. Hingga setiap bilangan bulan akan menjadi saksinya.


***

Begitu banyak riwayat yang berisi amalan sholih yang parsial. Betapa beragamnya penekanan Rosul pada para shahabah. Masing-masing punya titik tekan dan titik mula. Terlebih lagi, ada kondisi dan latar belakang yang tentunya tidak homogen.

Puji syukur kepada aLLoH, kita masih diberi akal yang jernih dan hati yang bersih. alhamduliLLaH kita masih diberi petunjukan dan konsistensi diatas arahan-Nya. Lihatlah betapa banyak orang yang tidak menemukan pijakan. Lihatlah berapa banyak orang yang memilikinya, namun kehilangan pada akhirnya. Lihat juga orang-orang yang secara sadar memilih untuk meninggalkan pijakannya. Penjelasannya cukup sederhana, mereka “lemah dalam berpijak”. Adapun orang-orang yang selain itu, adalah orang-orang yang tidak punya pijakan. Atau dalam bahasa yang lebih halus, mereka memiliki pijakan namun lemah. Baitul ankabut! Rumah siapakah yang paling rentan terhadap kerusakan (daripada rumah laba-laba)? Demikian ibroh dari tamsil yang diberikan al-Qur`an kepada kita.

Ini bukan kisah penolakan. Bukan pula masalah penangguhan atau penerimaan. Ini hikmah dan ibroh!

Inilah, orang yang memiliki “pijakan yang lemah”. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki hujjah yang kuat lagi nyata. Sesungguhnya mereka tiada memiliki hujjah. Mereka yang memiliki pijakan yang lemah adalah mereka yang sering berpendapat salah. Salah ia dalam proses, salah pula dalam hasil. Salah karena memang sudah salah dalam menentukan pijakan.

Kita berlidung dari dua keburukan ini;

Dhaafu Ta`shil wa Ta`shilu Dhaaf. “Pijakan yang lemah” dan “Lemah dalam berpijak.”

#Lembah Kapuk, Malam hari.

@Akhir Muharrom 1428


***Revolusi Hari Ini***

Nasehat untuk ketergesa-gesaan dan keterlambatan

Telah banyak kita ketahui bagaimana cara dan metode yang dilakukan oleh seseorang untuk meraih kegagalannya. Telah banyak kita jumpai para ahli dan pakar kebohongan, mereka berdusta pada diri sendiri. Padahal tidak ada yang bermaksud menuntut mereka di dunia ini.

Orang-orang cerdas dan berakal memanfaatkan waktunya dengan baik. Orang beriman saling menasehati dan mengingatkan untuk sabar. Akan tetapi, masih saja ada diantara manusia yang memilih kejahilan dan kekufuran.

Risalah ini saya tunjukan kepada kawan dan saudara saya yang sedang mengalami kekeringan jiwa, dimanapun mereka berada. Untaian-untaian renungan ini dimaksudkan untuk memberi sesuatu pada jiwa yang kehilangan dan merasa kurang. Nasehat adalah kebutuhan jiwa dan hati. Nasehat adalah bagian dari kebudayaan nabawi.

Memahami kaidah “Siapa yang tergesa-gesa ia dihukumi dengan kegagalan”.

Para ahli ilmu dan kebijaksanaan bertutur tentang pentingnya waktu, lantas manusia bergerak melupakan dirinya. Ia berpacu dengan zaman, larut dalam kehidupan. Bodoh! Manusia yang kurang akal ini mengejar sesuatu yang hampa dan meninggalkan makna. Mereka melakukan produktifitas yang tak kenal batas hatta apa yang ditetapkan oleh Tuhan. Mereka mengatakan, “tak ada waktu untuk Tuhan”. Hal ini ditegaskan dengan kaidah filsafat yang menyatakan, “Tuhan adalah kebenaran absolut. Dia ada dalam ketiadaan, Dia tidak terikat ruang dan waktu.” Sekilas nampak benar. Lalu, seperti apa praksisnya? “Ini kehidupan dunia, semua yang di dalamnya relatif karena terikat ruang dan waktu...” lanjut mereka. Mereka mulai membangun dikotomi pada tataran metafisik, sebelum nantinya di ingkari. “Tidak ada tempat bagi Tuhan di dunia ini!”

Orang-orang jahil dari zaman dahulu hingga hari ini tiada berbeda. Mereka menukar keyakinan dengan keraguan. Memusuhi pertentangan dan berkawan dengan para penentang. Siapa mengikuti mereka, ia celaka! Siapa yang bertaqwa, ia bahagia.

Maksud saya, hidup itu pilihan. Pilihan untuk memilih atau tidak memilih. Jika memilih, ia harus menentukan pilihan mana yang terbaik. Bukan sekedar baik saja. Itu artinya ia harus kembali memilih, diantara pilihan-pilihan yang ada dihadapannya. Siapa yang memilih yang terbaik, itu adalah keutamaan bagi dirinya sendiri. Bagi sesuatu yang dipilihnya, dan bagi yang lainnya.

Pilihan atas segala sesuatu tidak pernah terlepas pada ikatan ruang dan waktu. Waktu bermakna ketepatan kesempatan. Ruang bermakna tempat dan posisi. Siapa yang tergesa-gesa ia akan dihukumi dengan kegagalan. Demikian para orang berilmu telah menyampaikan pelajaran berkaitan dengan hal ini.

Adakalanya, pilihan itu menipu. Sekilas nampak yang terbaik, padahal tidak. Sekilas sesuatu mungkin nampak sebagai yang terbaik, padahal belum tentu. Waktu terkadang adalah jebakan yang akan menipu kita. Waktu terkadang menampakan sesuatu yang semu. Sebab, sesuatu itu akan menjadi sesuatu (dirinya) pada waktunya. Maka rencanakanlah hidup!


Waktu adalah nafas,

Ruang adalah jalan

Pada keduanya kita hidup

Keseimbangan pada keduanya adalah kesempurnaan

Yang Maha Sempurna tak membutuhkan keduanya


#Bumi Tempat Berpijak pada penghujung Muharrom 1428


***Revolusi Hari Ini***

Rangkaian Asa

DUA DIMENSI

Seperti keindahan malam, duhai kawan

Esok pagi pastilah cerah

Saat mentari meninggi lagi

Saat ayam berkokok dini hari

Lika-liku hidup pada semangat yang tak kenal redup

Hati-hati pada penyusup

Gejolak terkadang menguasai syahwat

Otak menyajikan syubhat

Tidak kah kita lihat orang-orang terdahulu

Yang agung karena rasa malu

Lantas dimana iman ketika kau ragu?!

Dilema sejarah pada mahligai walimah

Setiap transaksi syari`ah adalah berkah

Engkau yang berbahagia

Dan aku yang masih tertawa

Pada irama apa kita bisa berdansa

Sedang pesta ku tak mengijinkan musik-musik dosa

Kabar gembira!

Hiburan hati gulana

Pemberi peringatan...

Tawaran yang begitu menyeramkan.

Padahal tidak sempurna tawa tanpa tangis,

Tidak lengkap gula tanpa manis

YAUMUL BAROKAH

Pada mahligaimu ku simpan do`a

Pada bahagia ku tatap mega

Berucap ku padanya: BarokaLLoHulaka

Wa Baroka`alayka

Wa Jama`aka baina kuma fie khoir

NB: ntuk T`Sal, T`Jo, dan siapapun yang telah mengambil keputusan besar itu!

HAWA HANIFAH

Tak ingin sekalipun ku tulis gundah

Tak ingin ku ungkap gelisah

Engkau dan diri mu

Aku pada bayang-bayang semu

Siapakah raja, siapa ratu?

Tak ingin sekalipun ku tulis gundah

Tak ingin ku ungkap gelisah

Pada hatimu dulu ku lihat madu

Hari ini purnama setengah berlalu

Bilamanakah bulan baru, bilakah engkau mau?

Hawa Hanifah...

Cinta ini pada kelurusan

Sebab ia kecenderungan, bukan paksaan

Hawa Hanifah...

Akad itu pada kebenaran

Sebab ia kesepakatan, bukan kebetulan

Hawa Hanifah...

Tak ingin sekalipun ku tulis gundah

Tak ingin ku ungkap gelisah

#Muharrom 1428



***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina