MESJID MERAH DAN TATHBIQUSH SHARI`AH

Mesjid adalah tempat aktivitas keislaman yang paling utama. Pada zaman Rosulullah SAW, mesjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat sholat atau membaca al-quran. Mesjid juga biasa dijadikan tempat membicarakan masalah ummah, menyelesaikan problem rumah tangga, hingga membahas strategi perang.

Madrasah dan Universtas dalam sejarah Islam lahir dari halaqoh-halaqoh kecil yang bermula di mesjid. Mesjid adalah tempat utama bagi kaum muslimin untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka. Itulah yang terjadi di Mesjid “Merah” Lal, Pakistan.

Para jamaah mesjid dan santri dari Jami`ah Hafsah dilingkungan mesjid berusaha menerapkan syariah islam. Di mulai dari mesjid inilah upaya penyelesaian masalah hidup-matinya ummah coba untuk diselesaikan. Awalnya hanya tausyiah untuk menerapkan syariah dan memerangi thogut, kemudian penggerebekan tempat-tempat maksiat, hingga pada penculikan polisi keamanan oleh para santri.

Mesjid, di negeri yang berbatasan langsung dengan tanah jihad Afghanistan tersebut memang terkenal dengan ketegasannya dalam menyuarakan Islam. Akan tetapi, sebelum konflik antara militer versus santri ini berlangsung, mesiid ini memiliki kedekatan dengan para pejabat pemerintah. Semuanya baik-baik saja, hingga rezim sekuler Pakistan yang dipimpin oleh Musarraf memilih untuk menjadi pendukung Bush dalam perangnya melawan terorisme.

Kekerasan dan Thathbiqush Syari`ah

Usaha penerapan syariah adalah usaha yang mulia. Sebab pada dasarnya usaha penerapan syariah adalah implementasi dari syahadah yang di ikrarkan oleh setiap muslim.

Terorisme memiliki tempat dalam syariah. Al-Anfal:60 menyatakan setiap muslim agar membuat takut dan menggetarkan musuh mereka dan orang-orang munafik. Bahkan agar menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari kekuatan hingga kuda yang ditambat secara khusus. Jadi, terorisme adalah masyru` (disyariatkan) dalam Islam.

Pun, demikian dalam ajaran dan konsep-konsep negara moderen. Dalam negara, militer sengaja dipersiapkan untuk mempertahankan diri dan melindungi serta menjaga dari kekuatan musuh. Maka sudah lazim, bahkan wajib hukumnya dalam sebuah negara memiliki kekuatan militer. Permasalahannya, kita perlu membedakan terorisme yang mana yang baik dan mana yang buruk.

Bagi kaum muslimin, tidak ada keburukan dalam syariah Islam. Semua yang ada dan dinyatakan dalam syariah adalah kebaikan. Meskipun terkadang kebaikan itu tampak relatif. Al-Quran menyatakan: “Bolehjadi sesuatu itu kamu anggap baik, padahal sesungguhnya tidak”. Demikian argumentasi al-quran untuk menjelaskan orang yang menolak perang dan anti-kekerasan.

Selanjutnya yang perlu dibahas adalah bagaimana mungkin seseorang menginginkan penerapan syariah (tathbiqus-syariah) sementara ia menolak syariah? Kita memang tidak boleh “main hakim sendiri”. Kita memang tidak boleh melakukan penindasan, karena kedzliman dilarang oleh syari`ah. Namun, itu bukan berarti kita harus menolak kekerasan atau cara-cara ‘anarkis’ yang dilakukan dalam rangka amal jihad dan nahyi munkar.

Pendeskriditan penggunaan cara kekerasan sebagai “anarkis” pun perlu kita kaji dan pahami kembali. Sebab arti yang umum dalam “anarkisme” adalah “ketiadaan negara” atau “penolakan terhadap otoritas negara”. Sementara itu, saat ini kaum muslimin memang tidak memiliki negara Islam. Wajar jika beberapa amal islami dianggap ‘subversif’.

Aqidah dan Syariah

Islam terdiri dari sisi Aqidah dan Syariah. Keduanya saling terikat dan tidak dapat dipisahkan. Tidak ada muslim yang ikhlas dan ittiba` yang menolak hal ini. Pemisahan antara keyakinan dan amal hanya ada pada paham sekularisme. Karenanya, menjadi wajar jika apa yang diyakini oleh kaum muslimin menjadi wujud dalam amal dan perjuangan.

Dasar dari aqidah Islam adalah tauhid yang terangkum dalam kaimat syahadah. Kalimat Syahadah sendiri telah menyatakan bahwa “tiada ilaah yang hak kecuali aLLoH”. Orang arab seperti Abu Jahal mengerti betul apa makna dan konsekuensi dari kalimat ini, hingga dia menolak untuk mengucapkannya. Dia sadar, bahwa pengakuan terhadap syahadah berarti pertentangan dengan segala hukum, undang-undang dan kekuasaan insani. Syahadah berarti menolak segala bentuk kekuasaan dan menyerahkannya kepada kekuasaan ilahi yang syar`i.

Pelajaran Berharga

Pertentangan kaum muslimin dengan kekuasaan yang dzolim bisa berwujud dalam berbagai bentuk. Penolakan mereka, dapat berupa protes, perang atau futuhat. Hal ini dilakukan kepada siapapun tanpa memandang apakah itu brigade militer, kerajaan, negara kesatuan atau pun imperium adi daya.

Apa yang dilakukan oleh para santri dan jamaah mesjid Lal adalah usaha mereka untuk menolak kedzoliman terbesar (yakni, disingkirkannya hukum Islam). Mereka ingin memerangi sekularisme dan demokrasi agar bisa hidup dalam naungan Islam, sebagai mana penganut sekularisme dan demokrasi berlaku sebaliknya terhadap kaum muslimin.

Hal semisal ini akan terus terjadi dan tidak akan berhenti selama Islam masih ada, dan kaum muslimin masih memiliki kesadaran. Karenanya pengepungan yang dilakukan oleh rezim mussaraf terhadap mesjid dan pengrusakannya terhadap mesjid, hanyalah usaha untuk memperbesar konflik. Perang akan semakin bergejolak dan daerah jihad akan semakin luas, hingga kedzoliman hilang. Karena setiap muslim, siapapun ia akan senantiasa merindukan kehidupan dalam naungan syariah Islam.[]

[17 Juli 2007/ 2 Rajab 1428]



***Revolusi Hari Ini***

PENDIDIKAN YANG SALAH KAPRAH

Apapun yang terjadi, setiap manusia harus tetap mengenyam pendidikan. Karena pendidikan adalah hak setiap manusia. Setiap orang harus belajar meski bangku sekolah banyak yang kosong, disaat para ‘calon konsumen’ kelimpungan mencari jalan agar bisa ‘menduduki’ kursinya.

Berbagai kesulitan dialami masyarakat perihal dunia persekolahan. Tentunya yang merasa kesulitan bukan hanya pihak yang bersangkutan, yang merasa membutuhkan ilmu (pendidikan). Sebab permasalahan sekolah kini bukan hanya sebatas masalah pendidikan, akan tetapi ekonomi dan politik.

Bobroknya keadaan ekonomi dan politik seharusnya tidak mempengaruhi proses menuntut ilmu. Tetapi sekali lagi, sekolah adalah permasalahan ekonomi dan politik. Meski pada dasarnya, aktifitas menuntut ilmu tidak berkaitan secara langsung dengan ekonomi dan politik. Apa yang terjadi pada anggota dewan atau inflasi moneter, tidak sama sekali bersentuhan secara langsung dengan keadaan seorang manusia yang tengah belajar (menuntut ilmu).

Di berbagai daerah, sekolah kekurangan stakeholder. Ratusan Perguruan Tinggi Swasta gulung tikar karena biaya operasional (Republika, 12/07). Apakah gerangan yang menyebabkan keadaan pendidikan kita dan anak-anak kita menjadi runyam?

Fenomena Alternatif?

Mahalnya biaya masuk sekolah dan buruknya kualitas serta minimnya fasilitas sekolah membuat sebagian kalangan berusaha menggagas sekolah alternatif. Sekolah-sekolah alternatif bermunculan. Masing-masing memilik posisi tawar dan kompetensi sendiri-sendiri sebagai daya saing dalam percaturan persekolahan. Ada yang mengusung nama “sekolah terpadu”, “boardingschool”, atau bahkan “homeschool”. Masing-masing memiliki kekuatan promosi yang cukup kuat untuk bisa menarik para calon siswa sekolah reguler.

Akan tetapi apakah keberadaan mereka merupakan solusi praktif bagi masyarakat atau bahkan solusi filosofis terhadap krisis pendidikan yang tengah melanda Indonesia? Jika sebagian orang ‘putus sekolah’ karena ketidaksesuaian tertentu, seperti pandangan hidup, metode pengajaran, dan yang semisalnya, mungkin sekolah alternatif adalah pilihan yang boleh saja dicoba. Namun jika ‘putus sekolah’ disebabkan oleh mahalnya biaya sekolah, seperti yang dialami kebanyakan mayarakat, sekolah alternatif pun tidak berbeda (mahal). Mahalnya biaya pendidikan di sekolah alternatif yang banyak ditawarkan bolehjadi menunjukan bahwa ‘kaum pemilik modal’ tengah melakukan inovasi, beralih bentuk (neo capitalism). Katakanlah, “kapitalis telah memoderenisasikan dirinya dalam bentuk sekolah alternatif”

Banyaknya anak yang ‘putus sekolah’ memang sangat menyedihkan. Akan tetapi banyaknya anggapan yang yang menyatakan bahwa mereka (yang ‘putus sekolah’) adalah putus pendidikan, justru lebih menyedihkan lagi. Pahadal sekolah hanya salahsatu dari sekian banyak institusi pendidikan. Sekolah hanya merupakan bentuk institui dari jenis pendidikan formal, dan kita mengenal pendidikan non-formal dan informal.

Terlebih lagi, sekolah yang ada kurang mencerminkan dirinya sebagai institusi pendidikan, baik dari sisi guru, siswa, maupun kelembagaannya. Tutupnya sejumlah Perguruan Tinggi Swasta pun dapat menjadi pelajaran bagi setiap calon mahasiswa bahwa institusi yang sedang mereka damba sejatinya adalah sebuah “korporasi” yang bisa saja bangkrut.

Paradigma Persekolahan

Hari ini banyak orang mulai sadar, bahwa kenyataan yang ada adalah sebuah keadaan yang jauh dari baik. Munculnya sekolah-sekolah alternative seolah mengisyaratkan kepada kita bahwa belum adanya model yang baik dalam institusi pendidikan kita.

Maraknya sekolah terpadu, sekolahrumah, sekolah alam, dan sekolah-sekolah alternatif lannya, bisa berarti menunjukan bahwa kesadaran akan urgensi pendidikan yang ada dimasyarakat sudah cukup tinggi. Akan tetapi perlu dicermati juga, bahwa anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Mahalnya ‘tarif’ dari sekolah alternative bolehjadi menunjukan bahwa kaum pebisnis-kapitalis sedang melakukan inovasi. Bukankah sekolah juga permasalahan ekonomi?

Jika ribuan guru turun ke jalan (09/07), melakukan demonstrasi di senayan menuntut pemerintah agar lebih memperhatikan pendidikan tentu saja ini wajar. Toh, para yang menuntut dan yang dituntut adalah pekerja dan bos, atau pelayan dan majikan. Maka jika Si Majikan lupa kepada ‘keseharian’ pelayannya, wajar jika di protes. ‘Umar Bakri’ telah terlalu letih bekerja, meski sudah beruntung di angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Sementara yang belum di angkat pun berhak turun ke jalan, untuk meminta pengangkatan status kegegawaiannya. Bukankah sekolah juga masalah politik?

Untungnya wajib belajar hanya 9 tahun, sehingga pemerintah tidak perlu terlalu gusar ketika ratusan Perguruan Tinggi Swasta tinggal nama (Republika, 12/07). Kewajiban pemerintah dan segenap warga masyarakat adalah melaksakan pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Umum (SMU). Oleh karena itu, tugas pemerintah dalam hal ini adalah mempertemukan ribuan bangku kosong dengan para calon pembelinya (masyarakat). Bukankah sebelum menduduki kursi jabatan, para pejabat pun dibantu oleh masyarakat (untuk mendapatkan kursi jabatannya). Bukankah sekolah adalah masalah ekonomi dan politik?

Dunia Sekolah versus Kehidupan

Apapun yang terjadi pada dunia politik dan ekonomi, seorang “manusia pembelajar” akan mengambil pelajaran darinya. Tidak melulu harus sedih dan murung, fenomena keterpurukan bagi “manusia yang belajar” adalah sebuah pelajaran tersendiri. Gonjang-ganjing politik adalah mata kuliah politik yang ril. Krisis moneter adalah mata pelajaran ekonomi yang dapat kita tarik benang merahnya. Bukankan “problem base learning” dan metode studi kasus menjadi andalan institusi sekolah?

Ketidak-berhubungannya dunia sekolah dengan kehidupan ril adalah sebuah kesalahan paradigmatik yang patut diperhatikan. Terpisahnya kaum terpelajar dari masyarakat pada kehidupannya, adalah sebuah pengasingan yang juga patut ditangisi seperti pengungsian yang banyak terjadi di dunia. Dunia sekolah seolah hanya mengenal input-proses-output dengan paradigma bisnis. Mungkin inilah yang dimaksud oleh sebagian orang bahwa pendidikan adalah investasi. Semuanya demi pembangunan manusia seutuhnya dan demi mengejar ketertinggalan.

Kaum cendikia, yang konon adalah pemilik strata sosial tertinggi pada masyarakat moderen, kini ibarat skrup-skrup dari mesin besar yang bernama globalisasi. Itulah, mengapa para sarjana, dengan toga dikepalanya, mulai berbaris rapi untuk meninggalkan masyarakat.[]


***Revolusi Hari Ini***

SKETSA

Jangan tanyakan tentang kesungguhan

Sebab matahari tak pernah ditanya tentang sinarnya

Jangan tanyakan tentang cinta dan kasih sayang

Sebab langit tak pernah ditanya tentang naungannya

Wahai yang menarik dan telah menawan hati

Seperti mimpi-mimpi yang pernah digambarkan senja

Merah tak berarti marah

Hitam tak selalu kelam

Wahai pemilik dua bibir yang merekah

Seperti yang pernah diucapkan halilintar

Teriakan bukan makian

Gemuruh tak selalu bencana

Pelangi di sore hari

Lazuardi menghias diri

Maka perhatikanlah setiap yang sampai kepada mu

Dengarkanlah wahai yang memiliki hati penuh cinta

Dangarkanlah wahai manusia...

Jangan tanyakan tentang kesungguhan

Sebab matahari tak pernah ditanya tentang sinarnya

Jangan tanyakan tentang cinta dan kasih sayang

Sebab langit tak pernah ditanya tentang naungannya

Ketahuilah,

hitam tinta adalah cinta

merah darah adalah muru`ah

pada keduanya mushaf kita menaruh asa

pada keduanya sketsa jiwa kita

Maka simaklah apa yang datang kepada mu

Tela`ah dan renungilah!

[Pagi, 15 Jumada Al-Thani 1428]

Terimakasih wahai kekasih



***Revolusi Hari Ini***

Menuju Masyarakat Islam

Mereka adalah Jamaah Takfir wal Hijrah... Mereka adalah Jamaah Jihad... Mereka adalah Jamaah Fanniyah 'Asykariyah...

Bagaimana membangun suatu masyarakat Islam? Masyarakat Islam sekali-kali tidak bisa dibangun kecuali dengan cara sebagaimana masyarakat tersebut pernah berdiri untuk pertama kalinya. Sebagaimana Rosululloh pernah membangunnya. Masyarakat tersebut tegak dimulai dengan berkumpulnya sejumlah orang yang menyeru kepada Laa Ilaaha Illallah, kepada tauhid. Kemudian kelompok manusia itu akan mendapatkan tantangan dan permusuhan dari masyarakat kafir. Tak ada thagut manapun di bumi ini yang mau menerima kehadiran mereka. Maka sudah pasti akan terjadi bentrokan dan peperangan. Dakwah kepada tauhid sudah pasti akan menyebabkan terjadinya permusuhan. Dakwah kepada Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah, bahwa kekuasaan itu hanyalah milik Allah, bahwa hukum itu hanyalah milik Allah, bahwa membuat aturan itu adalah hak Allah, bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini kepunyaan Allah, dan semuanya harus tunduk kepada-Nya. Dan kami serta kalian wahai penguasa, harus berhukum kepada Syariat Allah.

Dakwah ini akan ditentang oleh para penguasa thaghut, karena khawatir kekuasaan mereka akan lenyap. Sehingga terjadilah benturan antar mereka dengan para juru dakwah yang menyeru kepada tauhid; antara gerakan baru dengan kelompok jahiliyah yang bergerak untuk melindungi kekuasaannya. Tiga golongan manusia akan selalu menentang dakwah tauhid: pemilik kekuasaan, orang-orang kaya, dan pengikut hawa nafsu. Tiga golongan inilah yang dimaksud oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya,
"Dan tidaklah Kami mengutus seorang pemberi peringatan ke suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup di negeri itu berkata, "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya." (QS. Saba': 34)

Perang antara kedua golongan yang saling bertentangan ini akan dimulai saat fikrah tauhid telah mengkristal dalam benak para pemuda yang siap berkorban untuk membelanya. Perang akan muncul dimanapun tempat yang tidak memakai hukum dengan syariat Allah. Sudah pasti perang itu bakal terjadi, dengan maklumat umum bagi para penguasa thaghut, sehingga mereka melakukan upaya untuk mempertahankan kekuasaannya. Seperti yang dilakukan Fir'aun dalam mensikapi dakwah tauhid yang dibawa Nabi Musa 'alaihis-salam,

"Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian, atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." (QS. Al-Mukminun: 26)

"Mereka adalah Jamaah Takfir wal Hijrah... Mereka adalah Jamaah Jihad... Mereka adalah Jamaah Fanniyah 'Asykariyah (Jamaah Islam yang bergerak dalam bidang militer)... Mereka adalah jamaah ini atau itu... kami membuktikan tindak kejahatan mereka." Itulah sikap mereka menghadapi ahli tauhid.

Kejahatan apa yang mereka lakukan? Kejahatan melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Kejahatan menuntut pemberlakuan Syariat Allah. Kejahatan menuntut berhukum kepada Dienullah. Kejahatan menuntut pembelaan terhadap wilayah mereka yang direbut oleh musuh-musuh Allah.

(disarikan dari Tarbiyah Jihadiyah 8, As-Syahid Abdullah Azzam)


***Revolusi Hari Ini***

Keajaiban yang berulang...

Kalian pernah terkejut atau takjub? Pada saat itu mungkin kita lupa sudah berapa kali kita mengalaminya. Seolah-olah ini yang pertama. Seolah-olah kejadian ini baru sekali dan benar-benar di luar perhitungan. Namun, kini kita sadar bahwa ini adalah kejadian yang berulang-ulang.

Berapa kali Anda dilahirkan? Berapa kali Anda mati? Sel-sel dari tubuh Anda lebih berhak untuk menjawab tentang hal ini. Bagaimana “pembelahan sel” mampu membuat telunjuk lebih panjang dari kelingking dan jempol lebih besar dari yang lain? Tidak kita berpikir bagaimana retina berbeda dari pupil dan yang lainnya. Terbuat dari apakah dia? Sesungguhnya kejadian ini sudah biasa terulang dan kini sering ‘tak terpikirkan’.

Berapa kali Anda jatuh cinta? Berapa kali Anda patah hati? Hitung lah kejadian ini ketika kita mulai bisa berpikir tenang, bahwa tidak ada jawaban yang lebih buruk dari bunuh diri. Sesungguhnya ini adalah kejadian yang sering berulang, dan kita masih saja sering menangisi ‘dia’ yang pergi.

Berapa kali Anda pernah memikirkan hal serupa? Ulangilah ia selagi engkau mampu untuk mengulanginya. Sebab penyadaran ibarat “bagun”, sedang kita sering tertidur.

-Akhir Robi` Al-Awwal 1428-


***Revolusi Hari Ini***

Do`a untuk Bro-ku

Aku berdo'a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku

Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu

Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau

Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting

Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya

Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas

Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku

Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika aku berbuat salah

Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku

Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi

Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya Tuhanku...

Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu

Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya

Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya

Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya

Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

Tuhanku... Aku juga meminta,

Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga

Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku

Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMu

Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya

Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya

Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana, mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan: "Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna."

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat

Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan

Amin.... Amiiin ya Robbal alamin


***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina