Menjingga menguasai abu - abu lalu menghapus semua ketidakjelasan pada bab hitam dan putih

Menjingga menguasai abu - abu lalu menghapus semua ketidakjelasan pada bab hitam dan putih, karena itulah lebih baik aku mati daripada harus mengalah kepada seonggok jamban perjudian bernama demokrasi.

Sungguh energi itu membuncah tak tertahankan. pagi itu sayap revolusioner merangkak menaklukkan trotoar - trotoar yang membisu menyaksikan perjalanan ketidakadilan dari negeri berhala ini. Diskusi Ahad itu begitu menyentuh, pertanyaan ustad muda itu begitu menyentuh alam sadarku, pertanyaan yang pernah di ajukan Panglima Mujahidin Muhammad Al Fatih sebelum menyerang konstantinopel.

Siapa dari kalian yang sejak Aqil Baligh pernah meninggalkan sholat wajib walau hanya sekali silahkan duduk?

tak ada satupun mujahidin yang duduk.

Siapa dari kalian yang sejak Aqil Baligh pernah meninggalkan sholat rawatib walau hanya sekali silahkan duduk ?

setengah dari pasukan Muhammad Al Fatih duduk.

Siapa dari kalian yang sejak Aqil Baligh pernah meninggalkan sholat qiyamulail walau hanya sekali silahkan duduk?
semua pasukan Muhammad Al Fatihpun duduk.

Namun dalam diskusi kecil itu, saya duduk dipertanyaan pertama ketika ustad muda itu menyampaikan pertanyaan kepada ke seluruh peserta, bahkan semua peserta diskusipun ikut terduduk. Saya teringat suatu ketika lelah saya pernah membuat saya tertidur menembus Dzuhur dan terbangun di Azhar. dan saya tetap lalai dalam sholat wajib saya..

Sungguh hati ini begitu malu, dan sejak itu saya berazzam untuk menjaga habis habisan sholat ini, menhidupkan habis - habisan sholat sunnah dan malam malam yang penuh keheningan. karena itulah alasan mendasar Islam tak kunjung bangkit hingga hari ini.

Kita adalah umat terbaik yang menjauh dari kitab suci kita ketika para Yahudi berjuang dengan memegang teguh kitab Talmud mereka. Kita yang selalu beramai - ramai berteriak kebangkitan Islam tapi tak pernah bersatu dalam melawan kaum kafir. Kitalah lapisan juang yang bergerak tidak hanya sendiri, berjamaah dalam konteks jamak namun tak pernah satu dalam hati kita.

Kita lebih lapang dengan ketakaklitan dan jumudnya doktrin abu abu antara rasional dan wahyu. kita yang menggugah klaim menjadi goresan kepastian. kita yang menyakini ketidakpastian menjadi hasrat menembus ketidakmungkinan yang pada hukum kepastian kitanya kita lebih yakin pada kompromi maslahat mayoritas daripada menahan gempa marjinal dari tekanan hipokritas yang terlalu munafik untuk mendengar bahasa nurani yang meledak.

Inilah jamaah yang menghamburkan uang ketika para Yahudi menghabiskan waktu mengelolanya. ini Umat 'terbaik' yang membuang buang uang ketika berlimpah ketika para Yahudi justru mengembangkan potensi modal dan pasar lalu kita hanya menjadi pecandu tembakau konsumerisme dari sayap kapitalis dan jenaka komoditas sosialis dari arsitektur bursa efek hingga konser amal.

Inilah jamaah yang mendefinisikan humanisme dan kemanusiaan dengan kesangaran wajah, bahkan terhadap saudara sendiri. menari dalam retorika rekonsiliasi hingga racun solusi khilafah yang dirakit dalam lapisan peradaban yang tak kunjung bisa jujur pada kepalsuan. suatu ketika Yahudi justru begitu apik mengemas teror dan kedzaliman dengan wajah kemanusiaan dan hak asasi manusia.

dan hari itu, aku pulang membawa semangat dan potensi baru. sekuat tenagaku aku akan menolak untuk patuh pada robot ijtihad kualitas pempers dari energi alkaline dan pembenaran skeptis dan keputusasaan.

membangun hari yang lebih baik, menatap masa depan bersama Allah dan RasulNya. Dengan atau tanpa label Harokah..Revolusi sudah dimulai sejak Rasulullah mengumumkan Eksistensinya di Depan kabah dan mendapatkan anugerah marjinal selama 10 tahun berturut turut.

Maka ini adalah jiwa yang menolak menjadi pragmatis, seperti jati diri yang menolak eksis disetiap harokah yang merubah prinsip menjadi pragmatisme dari fakta pemutusan ukhuwah berlabel hukum asasi.

Insya Allah...tak ada alasan untukku duduk dipertanyaan pertama, kedua dan ketiga dari Muhammad Al Fatih itu kelak. aku bersumpah demi Allah untuk menebarkan pesona Revolusi melalui ide spektakuler Lelaki anak Abdullah itu. Tak perlu lagi gelisah yang menjingga, tak perlu lagi nurani yang abu - abu..kini hanya tinggal hitam dan putih. kini hanya tinggal benar dan salah..ya pilihannya hanya dua Hidup Mulia atau Mati Syahid..menjadi berserah pada Tauhid atau munafik dalam pemurtadan Thaghut!

Ya Allah lihatlah kami telah memilih! dan kami akan terus menyampaikan..maka saksikanlah!
harus ada perbaikan, harus lebih baik! Insya Allah!

STAY MOSLEM AND DON'T VOTE!

*dari Kawan Thufail Al-Ghifari

***Revolusi Hari Ini***

Manifesto Harokah Islamiyah

Harokah Islamiyah atau Islamic Movement adalah wadah tempat kalian beramal jama`i. Harokah adalah tempat dimana pun kalian bisa mendakwahkan ideologi kalian dengan berbagai cara dan sarana. Harokah adalah usaha kalian menerapkan deologi dan mempengaruhi lingkungan dengan warna yang kalian inginkan.

Tidak ada tazkiyah yang mewajibkan kalian terdaftar di departemen dalam negeri pemerintahan manapun!

Tidak ada yang mengharuskan logo atau bendera berbentuk apapun. Sebab harokah adalah bagaimana kalian gerak dan diam kalian dalam sinergi jiwa yang hidup dengan semangat ibadah.

Harokah adalah teguran kalian kepada seseorang yang direncanakan. Harokah adalah spontanitas ideologis untuk tidak begitu saja menerima keadaan. Maka, tidak ada yang dapat menghalangi kalian untuk bergerak. Tidak ada yang berhak mengambil kepentingan ideologi kalian. Apapun mereka dan siapapun orangnya, seorang muharrik tidak menyerahkan ideologinya kepada manusia atau kumpulan manusia bernama Majlis Syura`...

Harokah adalah bacaan al-qur`an kalian kepada seorang kawan yang tertidur disamping kalian. Kemudian ia adalah nasihat taqwa atas dasar cinta kepada Alloh. Oleh karenanya, ia bisa berwujud sikap kasih sayang dan pembangkangan; atau keduanya sekaligus!

Harokah adalah perwujudan cita-cita besar berupa amal, meskipun ia kecil. Harokah tidak berbicara tentang banyak atau tidaknya orang yang bekerjasama. Ia adalah efektifitas kerja dan evaluasi mandiri.

Harokah adalah berkumpulnya kalian di mesjid untuk bermusyawarah, dengan ataupun tanpa kehadiran seorang muhajirin Jama`ah Tablig.
Harokah adalah pergumulan politik kalian dalam sebuah kutlah taghyr, dengan ataupun tanpa seorang Syabab Hizbut Tahrir.
Harokah adalah lingkaran keluarga taqwa, dengan ataupun tanpa kehadiran seorang Ikhwan Partai Keadilan Sejahtera
Harokah adalah majlis musyawarah para mujahid dakwah, meski tanpa kehadiran Mujahidin MMI atau FPI.
Harokah adalah semangat menuntut ilmu syar`i, dengan ataupun tanpa kehadiran seorang Syaikh Salafi.

Tidak ada yang dapat meredusir kalian. Tidak ada yang mampu menista kalian. Karena kalian bersama Islam; Sebuah Transaksi Hidup yang Tinggi, tidak ada yang lebih tinggi darinya!

Maka,
Tidak ada rekruitmen sejati selain Syahadat dan masuknya kalian kepada Dienul Islam. Tidak ada taklimat kecuali Seruan ayat Al-Qur`an dan Hadith.

Kami menolak semua otoritas politik dan jutifikasi publik kecuali atas dasar ilmu dan hikmah dalam kebenaran.
Kami menggugat klaim kalian atas penafian gerakan-gerakan kecil yang kreatif dan independen. Kami mengafirmasi mereka sebagai harokah dan mendudukan mereka dengan kedudukan yang adil dan beradab.

Kami mempertanyakan ajakan dan ketergabungan kalian! Karena sesungguhnya ketergabungan bukan sebuah pengakuan artifisial. Ia adalah keterlibatan jiwa dan raga dalam sebuah amal nyata; bukan sebuah kartu anggota!

Kami, saudara muslim kalian. Membuka mata kalian tentang sebuah stuktur tandzim kecil di sebuah surau atau langgar. Bahwa sesungguhnya DKM dan Remaja Mesjid kalian adalah Harokah Islamiyah! Tidak partai atau ormas yang merasa lebih mulia, apalagi berhak mengatur mereka. Tidak ada yayasan atau lembaga yang berhak mengintervensi mereka!

Kami, saudara muslim kalian. Menguak tabir kebodohan dan fanatisme tentang kebersamaan dalam amal jama`i. Dengan kasyaf yang tidak dimiliki oleh seorang Guru Sufi. Bahwa tidak seorangpun berhak mengatur afiliasi selain kepada kebenaran. Seorang murid bukanlah budak yang tak boleh berpendapat. Maka, betapa tololnya seorang murid yang hanya mengambil ilmu dari seorang guru. Betapa dzalimnya guru yang memonopoli ilmu muridnya. Ketahuilah, tidak setiap guru itu baik sebagaimana tidak setiap guru baik wajib dituruti.

Ingatlah, NAHNU DU`AT `ALA QOBLA SAIY.
Ya, kita da`i sebelum menjadi angota partai
Kita da`i sebelum qosam kepada kelompok politik
Kita da`i sebelum dan sesudah PEMILU 2009!
Dan seorang da`i tidak akan mengeluarkan pertanyaan aneh; "saya harus ikut harokah yang mana?"

Seorang da`i tidak akan sibuk untuk kepentingan selain kepentingan dan proyek da`wahnya. Ia tidak sibuk dengan proyek pemenangan pemilihan oranglain (meskipun orang itu saudara-nya; dan merekapun da`i).

Seorang da`i hanya akan berurusan dengan cara bagaimana ia bisa menyampaikan kebenaran dan ilmu yang dimiikinya, kepada oranglain atau kelompok lain. Ia akan sibuk mencari jalan dan sarana untuk bisa menyampaikan kalimat yang haq kepada penguasa atau pengemis. DAN aktifitas seorang da`i dalam diam dan geraknya, adalah SEBUAH HAROKAH!!!


***Revolusi Hari Ini***

Khutbah Iedul Fitri Ustadz Abu Bakar Baasyir

KHUTBAH

IEDUL FITRI 1429 H


KH. ABU BAKAR BA’ASYIR


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Alhamdulillah, mari kita bersyukur kepada Allah, karena atas rahmat-Nya, kita diberi kemampuan menjalankan shiyam Ramadhan. Semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah Ta’ala.

Sebulan penuh kita menjalankan shiyam ramadhan; sebuah media yang Allah ciptakan untuk mentarbiyah pribadi kita. Harapan kita, tentu agar kita termasuk yang lulus dalam paket pendidikan ini. Selama ini kita terlatih untuk beramal tanpa pamrih. Kita tak tergoda makan atau minum meski sedang sendirian, karena kita sadar bahwa kita berpuasa karena Allah dan bukan karena orang lain. Tentu ini pendidikan yang sangat penting, dan kalau semangat beramal tanpa pamrih ini kita bawa pada amal-amal lain, akan mejadi kunci selamat besok di akhirat.

Dalam sebuah riwayat disebutkan ihwal orang yang pertama kali merasakan jilatan api neraka:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bercerita kepadaku bahwa Allah pada hari kiamat turun kepada hamba-hamba-Nya untuk mengadili mereka, dan semua umat pada waktu itu berlutut. Orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang rajin membaca Alquran, orang yang syahid di jalan Allah, dan orang yang banyak harta. Allah berkata kepada si pembaca Alquran, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu apa yang telah Aku turunkan kepada rasul-Ku?” Ia menjawab, “Ya, sudah”. Allah berkata, “Lalu apa yang kau perbuat dengan yang telah Ku-ajarkan itu?” Ia menjawab, “Aku mengamalkan sepanjang malam dan siang.” Allah berkata kepadanya, “Kamu bohong!” Para malaikat juga menimpali, “Kamu bohong!”, Allah berkata, “Kamu membaca bukan karena Aku, tapi karena ingin dijuluki sebagai qari, dan julukan itu memang telah disebut-sebut orang.”

Si Hartawan dihadapkan. Allah bertanya kepadanya, “Bukankah telah Aku luaskan rezeki untukmu sehigga kami tidak membutuhkan orang lain?” Ia menjawab, “Ya benar, Tuhan.” Allah berkata, “Lalu apa yang kami lakukan dengan rezeki yang sudah Aku berikan kepadamu?” Ia menjawab, “Aku bersilaturrahmi dan bersedekah.” Allah berkata kepadanya, “Kamu bohong!” para malaikat pun menimpali, “Kamu bohong!” Allah lalu berkata, “Kamu melakukan itu bukan karena Aku, tapi karena ingin dijuluki dermawan, dan julukan itu memang telah disebut-sebut orang.”

Kemudian orang yang terbunuh di jalan Allah (syahid) dihadapkan. Allah berkata, “Mengapa kamu terbunuh?” Ia menjawab, “Aku diperintah untuk berjihad di jalan-Mu, lalu aku berperang sehingga aku terbunuh.” Allah berkata kepadanya, “Kamu bohong!” para malaikat pun menimpali, “kamu bohong!” Allah lalu berkata, “Kamu berperang bukan karena Aku, tapi karena ingin dijuluki pemberani, dan julukan itu telah disebut-sebut orang.”

Rasulullah kemudian menepuk kedua bahu saya dan berkata, “Hai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah yang pertama kali dijilat oleh api neraka pada hari kiamat. (Muslim, Nasai, Tirmidzi)

Ibadah ,Tugas Utama Hidup

Kita harus ingat bahwa tugas utama hidup manusia hanyalah “mengabdi” atau beribadah kepada Allah Ta’ala. Ini seperti ditegaskan dalam ayatnya:

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya semata-mata untuk beribadah (mengabdi) kepada-Ku saja. (Adz-Dzariyaat: 56)

Begitulah, diciptakannya jin dan manusia hanyalah “untuk beribadah” kepada Allah. Lantas, apakah ibadah itu? Ibadah banyak dipahami secara sempit sebagai kegiatan ritual belaka antara hamba dan Sang Khaliq. Ini jelas keliru, karena “ibadah” bermakna luas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memaknai ‘ibadah’ dengan: “Segala ucapan dan perbuatan yang disukai dan diridhai Allah Ta’ala baik secara dzahir maupun bathin.”

Dengan demikian, cakupan ibadah sangatlah luas; termasuk dengan melaksanakan syari’at Islam atau hukum-hukum Allah Ta’ala secara kaffah (totalitas); meliputi segala aspek kehidupan, mulai dari urusan pribadi, keluarga, masyarakat hingga urusan negara, bahkan hubungan antar bangsa. Allah Ta’ala berfirman:

“ Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs. Al-Baqarah, 2 : 208).

Pada ayat di atas, Allah menginstruksikan dengan tegas dua hal berupa perintah dan larangan.

Pertama: Allah memerintahkan kepada orang orang beriman untuk memasuki Islam secara kaffah. Tentu kaffah disini adalah dengan melaksanakan seluruh syari’at-Nya. Tidak boleh ada satu syari’at pun yang sengaja ditinggalkan dan diabaikan.

Kedua: Allah melarang orang-orang beriman untuk mengikuti langkah-langkah setan. Langkah-langkah setan tersebut antara lain berupa godaan, bujukan, provokasi, penyesatan, agar manusia sengaja mengamalkan sebagian syari’at dan meninggalkan sebagian yang lain. Semua dibungkus dengan dalih-dalih yang intinya atas dasar hawa nafsu manusia.

Padahal, sikap sengaja mengamalkan syari'at Islam sepotong-sepotong diancam oleh Allah Ta’ala; dengan kehinaan di dunia dan adzab yang pedih di hari Kiamat nanti:

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Qs. Al Baqarah: 85)

Hadirin dan hadirat rahimakumullah.

Kini jelaslah, bahwa kewajiban pokok dan utama di dalam hidup ini adalah dengan menerapkan syari'ah Islam secara kaffah (totalitas). Tidak sepotong-sepotong; tidak dengan melaksanakan sebagian dan membuang sebagian yang lain; dan tidak boleh dengan menawar-nawar. Kita wajib mengatur seluruh aspek hidup baik menyangkut urusan pribadi, keluarga dan negara dengan syari'ah Islam.

Namun, mustahil pengamalan syari'ah Islam secara kaffah tanpa melalui instrumen kekuasaan atau lembaga pemerintahan. Itulah sebabnya, kenapa Rasulullah setelah berhijrah ke Yatsrib kemudian membangun sebuah negara di Madinah. Tentu hal ini dilakukan sebagai konsekwensi logis dari berislam kaffah. Dan yang pasti, fi’liyyah Nabi dalam hal ini bukanlah berkategori jibiliyah atau khususiyah, melainkan bayaanan lid-dien (penjelas bagi agama) yang memiliki konsekwensi syar’i. Artinya, pekerjaan Nabi membangun negara di Madinah, adalah sebuah ajaran yang wajib diikuti, bukan sekadar aktifitas beliau sebagai pribadi. Ini sudah menjadi ijma’ (konsensus) di kalangan Ulama Muktabar.

Itulah sunnah Nabi yang sempurna. Para Sahabat sangat memahami hal ini. Karenanya, begitu Rasulullah wafat, mereka segera bermusyawarah menentukan kepala pemerintahan sebagai pengganti (khalifah). Kekhalifahan itu selanjutnya mengamalkan dua tugas utama yaitu: Hirasatud dien (pengawal dien) dan Siyasatud dunya bid-dien (mengatur dunia dengan nilai dien). Dari situlah terpancar keadilan, ketenteraman, dan kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh ummat manusia selama berabad-abad. Dan itulah makna sesungguhnya dari rahmatan lil-'alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta).

Maka, ketika kekuasaan Islam runtuh, dan dunia dikuasai kaum kafir yang ingkar kepada syari'at Allah, sejak itu hingga hari ini, umat manusia diliputi kezaliman, kekacauan, kerusakan akhlak, dan ditimpa berbagai macam bencana alam serta penyakit yang mengerikan. Ini adalah akibat dari tidak ditunaikannya syari’at ini.

Karenanya, syari’at ini harus kita tunaikan secara kaffah melalui lembaga pemerintahan. Itulah sunnah Nabi dan para Sahabat yang wajib kita ikuti. Kita tidak boleh mengubahnya dengan alasan apapun, kita tidak boleh merasa cukup mengamalkan Islam dengan cara perorangan atau kelompok di bawah kekuasaan Kafir dan atau Sekuler. Mari kita renungkan firman Allah:

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (Qs. An-Nur : 63)

Hadirin dan hadirat hafidzakumullah.

Alhamdulillah, sebagai rakyat Indonesia, yaitu hamba-hamba Allah yang ditempatkan di bumi Allah bernama Indonesia ini, kita telah dikaruniai negara yang sangat hebat. Sebuah negara yang terdiri dari puluhan ribu pulau-pulau dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Jumlah penduduknya tidak kurang dari 200 juta orang. Disatukan di bawah naungan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Yang harus kita ingat, bahwa wujudnya NKRI ini ini tidak bisa dilepaskan dari saham besar umat Islam. Sejarah emas Indonesia mencatat, peran para ulama, santri, politisi muslim, dan pemuda-pemuda Islam dalam mengusir penjajah kafir Belanda.

Sejarah mencatat, bagaimana Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, pendiri organisasi NU dari Ponpes Tebu Ireng Jombang, pernah mengeluarkan fatwa wajib jihad fi sabilillah melawan penjajah kafir Belanda. Demikian juga Jenderal Sudirman, guru agama sekolah Muhammadiyah, yang terjun memimpin pasukan gerilya mengusir penjajah. Di Surabaya, kita kenal Bung Tomo, yang dengan gelora semangat “Allahu Akbar” mampu membakar semangat rakyat melawan penjajah kafir Inggris. Juga tokoh-tokoh politik muslim seperti KH. Wahid Hasyim, Dr. Muchammad Roem, Muhammad Natsir, dan lain-lain; yang menggerakkan umat untuk melawan kaum penjajah kafir agar enyah dari Indonesia. Apa yang menjadi ruh dari sikap patriotisme itu? Tak lain adalah Islam. Tak lain adalah Jihad.

Maka berkat semangat Jihad, akhirnya Allah Ta’ala berkenan memberi karunia kemerdekaan NKRI ini. Adapun niat dan tujuan para pejuang muslim berjihad melawan penjajah kafir itu, tentu bukan sekadar tercapainya kemerdekaan negara belaka, tetapi kemerdekaan untuk mengamalkan seluruh syari'ah Islam. Itulah yang terpenting dalam kehidupan setiap muslim hingga kewajiban beribadah terlaksana secara sempurna. Sebab, pada zaman penjajahan tempo dulu, umat Islam dihalangi untuk mengamalkan syari'at Islam secara kaffah oleh penjajah kafir Belanda, Inggris, dan Jepang.

Tapi sungguh ironis. Ketika para penjajah kafir itu berhasil diusir, mereka ternyata telah menanamkan kader-kader terlaknat mereka justru dari anak bangsa ini sendiri. Pendidikan sekuler yang mereka berikan saat menjajah, membuat kader-kader terlaknat ini menjadi penghalang diberlakukannya syari’at Islam. Dibantu oleh kelompok salibis, oknum-oknum ini bahkan lebih semangat dan licik dari penjajah Eropa sendiri dalam menghalangi syari’at Islam.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah.

Memang, sudah menjadi sunnatullah bahwa pada setiap amal ibadah, pasti ada penghalangnya. Allah Ta’ala telah menggariskan bahwa penghalang utama, adalah musuh dari setan jin dan setan manusia. Allah berfirman:

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu …" ((Q.S. Al An'am: 112)

Dalam memerangi Islam, setan manusia dan setan jin itu tidak mengenal putus asa. Mereka akan menempuh seribu satu cara untuk mencapai tujuannya:

"Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." ((Q.S. Al-A'raf : 16-17)

Demi menyesatkan manusia dari jalan Allah, mereka tidak segan-segan mengorbankan harta dan biaya yang tidak terbatas, berapapun jumlahya, sepanjang diperlukan, meskipun berakhir dengan kekecewaan dan kekalahan:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan." (Qs. Al-Anfal : 36).

Setidaknya ada tiga jurus yang biasa dilakukan setan manusia dalam memerangi Islam:

1. Menghentikan sama sekali perjuangan Islam (يصدون عن سبيل الله) pada saat mereka menguasai ummat Islam.

2. Merusak dan menyimpangkan ajaran-ajaran Islam dari makna yang sebenarnya, disesuaikan selera hawa nafsu mereka (يبغونها عوجا.). Inilah yang dimaksud dengan ghazwul fikri.

"Yaitu orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat." ((Q.S. Al-A'raf: 45)



"(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh." ((Q.S. Ibrahim: 3)

Louis IX berpesan kepada negara Eropa: "Kalian tidak mungkin dapat mengalahkan kaum muslimin di medan perang, kalian harus mengalahkan mereka terlebih dahulu di medan pemikiran. Setelah itu akan mudah bagi kalian untuk menguasai mereka. Dan mereka adalah kaum yang hati-hati terhadap bius-bius budaya kalian".

3. Memerangi secara fisik dengan sejata.

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup…." ((Q.S. Al Baqarah: 217)

Hadirin dan hadirat rahimakumullah.

Makar-makar setan manusia yang menghalangi tegaknya hukum Allah sebagaimana dalam ayat-ayat diatas, juga kita rasakan di awal kemerdekaan negeri kita ini. Seperti tercatat dalam sejarah penyusunan konstitusi negeri ini, Piagam Jakarta yang semula sudah disepakati, dijegal dan ditolak untuk masuk menjadi pembukaan UUD 1945. Umat Islam bahkan selalu dipojokkan dan difitnah oleh pemerintah dan kelompok sekuler, hanya karena mereka ingin menjadi hamba Allah yang sebenarnya dengan berislam secara kaffah.

Selanjutya, kita disuguhi sejenis “pemurtadan” kolektif; dimana pemerintah menolak ditegakkannya syari'at Islam dalam pemerintahan. Padahal, mayoritas penduduk negeri ini adalah umat Islam. Sementara, payung hukum pasal 29 ayat 2 yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut kepercayaan masing-masing, ternyata dikhianati. Sebabnya, antara lain karena UUD 1945 tidak memberi penjelasan ataupun definisi yang jelas tentang makna ibadah di dalam pasal 29 ayat 2 itu. Ibadah lebih diartikan secara sempit pada ibadah ritual belaka antara hamba dengan Sang Khaliq. Atau kalau ada yang bersifat horisontal, dipilih-pilih yang memilili nilai ekonomis seperti haji dan zakat. Sementara hukum-hukum lain, dicampakkan.

Hadirin dan hadirat rahimakumullah.

Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa hidup hanya untuk beribadah, dan bahwa ibadah harus dengan menerapkan syariah Allah secara kaffah dalam lembaga negara; maka apabila kita ingin fid-dunya hasanah dan fil-akhirati hasanah, kita wajib sekuat tenaga untuk merealisasikan hal di atas. Rasulullah sudah memberikan contoh, demikian juga para Khulafaur-Rasyidin. Untuk mencapai tujuan suci ini, kita wajib menyingsingkan lengan, berjuang dengan penuh keikhlasan, kesungguhan, kesabaran dan siap berkorban baik harta maupun nyawa bila diperlukan. Kita harus bertekad bulat menjadikan syari'ah Islam sebagai hukum positif di negara kita ini.

"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." ((Q.S. An-Nisa': 104)

Ÿ

"Janganlah kamu lemah dan minta damai Padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu." ((Q.S. Muhammad: 35)

"Katakanlah: "Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi Kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (mendapatkan kemenangan atau mati syahid). Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. sebab itu tunggulah, Sesungguhnya Kami menunggu-nunggu bersamamu." (Qs. At-Taubah: 52).

Hadirin dan hadirat rahimakumullah.

Perjuangan menegakkan syariah Islam disamping memerlukan keikhlasan, kesungguhan, kesabaran dan pengorbanan, juga memerlukan kebersamaan. Kita harus menyamakan gerak langkah untuk mencapai tujuan-tujuan pokok. Kita boleh berlainan paham dalam masalah-masalah kecil (furu') serta wajib saling menghormati, tetapi kita wajib sepakat dan sepaham dalam masalah-masalah prinsip (ushul).

Kita boleh berlainan paham dalam hukum boleh atau tidaknya membaca doa qunut pada shalat Subuh, tetapi kita wajib sepaham tentang wajibnya memperjuangkan pelaksanaan syari'ah Islam dalam pemerintahan. Kenapa? karena ini masalah prinsip yang jelas dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat. Semua ulama muktabar, terutama imam madzhab yang empat, sepakat bulat tentang hal ini.

Persatuan dan kebersamaan dalam rangka menegakkan dien ini jelas di perintah oleh Allah Ta’ala:

"Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya." (Qs. As-Syura: 3)

Hadirin dan hadirat rahimakumullah.

Kepada bangsa Indonesia yang non muslim tidak perlu khawatir, karena dengan berlakunya syari’at Islam mereka akan mendapatkan perlakuan yang lebih baik dan lebih adil, asalkan mereka tidak mengganggu dan menghalangi tegaknya syari’at Islam. Ini merupakan perintah Allah Ta’ala:

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil." (Al Mumtahanah: 8)

Maka dengan mengharap pertolongan Allah Ta’ala, saya menyerukan kepada seluruh ummat Islam, Mari kita satukan langkah!. Mari kita berjuang menegakkan syariah Islam di negara kita khususnya, dan di negeri-negeri muslim lain umumnya. Mari kita raih kehidupan yang mulia atau kematian sebagai syuhada (Hidup Mulia atau Mati Syahid).

Kepada rakyat Indonesia yang beragama selain Islam, mari kita hidup damai, tolong-menolong dalam urusan dunia dan tidak menghalangi orang lain yang berusaha mengamalkan keyakinan dan syari’ah agamanya.

"Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". ((Q.S. Ali Imran: 64)

Selanjutnya kepada pemerintah saya wasiatkan, Berhentilah mendeskreditkan ummat Islam yang ingin menegakkan syari’at Islam secara kaffah. Hentikan penangkapan terhadap ulama, da'i dan pejuang-pejuang Islam, karena itu semua adalah tindakan yang dimurkai Allah Ta’ala. Jangan korbankan anak bangsa sendiri untuk memenuhi pesanan bangsa Kafir Musuh Allah.

Kepada para pejabat muslim dan elit politik, saya menyerukan, Tunaikan amanah yang dibebankan diatas pundak saudara-saudara dengan mengelola negara karunia Allah ini dengan hukum dan aturan-Nya, jangan mengikuti hawa nafsu kaum yang menentang berlakunya syari’ah Islam secara kaffah meskipun jumlah mereka mayoritas.

"Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." ((Q.S. Al Maidah: 48)

Berpegang teguhlah kepada hukum-hukum Allah yang akan membawa bangsa dan negara ini kepada kemuliaan dan kemakmuran yang penuh barakah:

"Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab." ((Q.S. Al-Zukhruf: 43-44)

"Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." ((Q.S. Al A'raf: 96)

Janganlah Anda mengkhianati Allah dan mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada saudara-saudara. Karena hal itu akan menyebabkan malapetaka dan membawa kehancuran yang mengerikan bagi kehidupan pribadi saudara, bangsa, dan negara kita.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." ((Q.S. Al Anfal: 27-28)


Kepada para Pejabat yang beragama selain islam janganlah Anda menghalangi pelaksanaan islam secara kaffah di Negara ini. Perbuatan Anda pasti sia-sia, karena islam pasti menang dan setiap penentangnya pasti hancur.

Allah berfirman:

Allah Telah menetapkan: "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang". Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Mujadilah 21)

Demikianlah seruan saya semoga dibenarkan dan diridhai Allah swt. Amin.

šcrãä.õtF|¡sù !$tB ãAqè%r& öNà6s9 4 ÞÚÈhqsùé&ur üÌøBr& n<Î) «!$# 4 žcÎ) ©!$# 7ŽÅÁt/ ÏŠ$t6Ïèø9$$Î/ ÇÍÍÈ

"Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya". (Q.S. Al Mukmin: 44).

***


***Revolusi Hari Ini***

Khutbah Iedul Fitri Ustadz Ihsan Tandjung: Ma'rifatuz Zaman

MEMAHAMI KEADAAN ZAMAN

(MA’RIFATUZ ZAMAN)

Muhammad Ihsan Arlansyah Tandjung

01 Syawwal 1429 H / September-Oktober 2008

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا

لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون

لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده

لآإله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

الحمد لله الذي ألف بين قلوبنا فأصبحنا بنعمته إخوانا

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله

ولو كره المشركون

أشهد أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

اللهم صلي على محمد و على آله و أصحابه و أنصاره و جنوده

و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

فقال الله تعالى في كتابه الكريم:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa terima-kasih kepada Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak ni’mat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur. Diantaranya, marilah kita ber-terimakasih kepada-Nya atas ni’mat yang paling istimewa yang telah kita terima selama ini, padahal tidak semua manusia memperolehnya. Dan terkadang kitapun bertanya-tanya mengapa kita termasuk yang memperolehnya? Itulah ni’mat iman dan islam, yang dengannya hidup kita menjadi jelas, terarah dan berma’na.

Sesudah itu, marilah kita ber-terimakasih pula kepada Allahu ta’ala atas limpahan ni’mat sehat-wal’aafiat. Ni’mat yang memudahkan dan melancarkan segenap urusan hidup kita di dunia. Semoga kesehatan kita kian hari kian mendekatkan diri dengan Allahu ta’ala. Dan semoga saudara-saudara kita yang sedang diuji Allah melalui aneka jenis penyakit sanggup bersabar menghadapi penderitaannya…bersama keluarga yang mengurusnya, sehingga kesabaran itu mengubah penyakit mereka menjadi penghapus dosa dan kesalahan. Amien, amien ya rabbal ‘aalamien.

Selanjutnya khotib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt agar Dia melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan, yang biasa kita kenal dengan istilah sholawat dan salam-sejahtera kepada pemimpin kita bersama, teladan kita bersama… imamul muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa dan qaa-idil mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah swt, semoga kita yang hadir di tempat yang baik ini dipandang Allah swt layak dihimpun bersama mereka dalam kafilah panjang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Sepanjang perjalanan zaman Allah SWT senantiasa memperlihatkan sifat-sifat utamanya, yakni Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Tidak pernah sesaatpun Allah Ta’ala biarkan umat manusia hidup di dunia dalam kegelapan dan ketidak-jelasan. Allah Ta’ala selalu memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada hamba-hambaNya. Allah Ta’ala mewujudkan hal ini melalui pengiriman para utusan-Nya di setiap kelompok umat manusia di sepanjang zaman.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat

(untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (semata),

dan jauhilah Thaghut (Syaithan) itu”(QS An-Nahl ayat 36)

Tidak ada seorang Nabi ataupun Rasul yang diutus Allah Ta’ala kepada ummat manusia bersuku-bangsa apapun sepanjang zaman kapanpun di negeri manapun, kecuali beliau pasti menyampaikan seruan abadi yang seragam tsb:

“Sembahlah Allah (semata) dan jauhilah Thaghut (Syaithan) itu.”

Demikianlah seruan yang disampaikan oleh Nabi Adam as kepada ummatnya, Nabi Nuh as kepada umatnya, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as serta Nabi Isa as kepada masing-masing ummat mereka. Bahkan segenap Nabiyullah -yang 25 namanya diperkenalkan Allah Ta’ala kepada kita di dalam Al-Qur’an maupun yang lainnya yang kita tidak tahu nama-nama mereka tetapi dikatakan oleh para ulama jumlah mereka mungkin mencapai 124.000 itu- semuanya juga telah menyampaikan seruan abadi tsb.


Hingga tibalah giliran utusan Allah Ta’ala yang terakhir yakni Nabiyullah Muhammad saw. Beliau merupakan penutup dari rangkaian para Nabi dan Rasul ‘alaihimus-salaam.

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّه

ِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah ayah dari seorang lelaki diantara kalian, tetapi ia adalah Rasul Allah dan Penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Ahzab ayat 40)

Berarti kesimpulannya ialah:

1. Karena Nabi Muhammad saw merupakan Penutup para Nabi, berarti tidak bakal ada lagi Nabi setelahnya yang diutus Allah Ta’ala untuk membawa ajaran baru bagi ummat manusia

2. Barangsiapa yang lahir dan hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad saw (Penutup para Nabi) pantas dijuluki sebagai Ummat Muhammad saw, baik ia muslim maupun kafir

3. Ummat Muhammad saw merupakan Penutup Para Ummat atau Ummat Akhir Zaman yang dipimpin oleh Nabi Akhir Zaman. So, we are living in the end of time. Kita merupakan ummat manusia yang menjalani hidup di ujung parjalanan umur dunia.

4. Kalaupun aqidah iman-islam kita mengajarkan bahwa kelak di akhir zaman akan diturunkan seorang Nabiyullah yang selama ini dipelihara Allah Ta’ala di langit selama ribuan tahun, yakni Nabi Isa Al-Masih putra Maryam as, maka itu bukan berarti ia akan datang membawa ajaran baru. Bahkan kehadirannya kelak adalah sebagai pengikut & pengokoh ajaran Nabi Muhammad saw. Ia akan mengajak ahli-kitab, kaum Yahudi dan Nasrani untuk memeluk ajaran Nabi Muhammad saw, ajaran Islam. Sebab semua Nabi dan Rasul para utusan Allah pada hakikatnya selalu mengajak manusia kepada ajaran Islam Tauhid, yaitu mengesakan Allah Ta’ala semata.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Kesadaran bahwa kita merupakan Ummat Akhir Zaman atau The Last of Mankind Living in the End of Time merupakan perkara penting. Sebab hal ini akan membawa kita pada keyakinan bahwa Hari Akhir telah dekat kedatangannya. Bahkan Allah Ta’ala berfirman sbb:

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّه

ِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيباً

"Manusia bertanya kepadamu tentang hari akhir. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari akhir itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari akhir itu sudah dekat waktunya.”(QS Al-Ahzab 63)

Dan Rasulullah saw sendiri bersabda:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ فِي نَفَسِ السَّاعَةِ فَسَبَقْتُهَا

كَمَا سَبَقَتْ هَذِهِ هَذِهِ لِأُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Aku diutus sebelum kedatangan Hari Akhir sebagaimana jari telunjuk ini mendahului jari tengahku.” (HR Muslim 4141)

Saudaraku, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya? Bila Hari Akhir sudah dekat waktunya -bahkan semenjak diutusnya Nabi Muhammad saw 15 abad yang lalu- pantaslah Allah Ta’ala menyuruh kita mempersiapkan diri menghadapi hari esok yang perintahnya diletakkan di antara dua kali penyebutan perintah bertaqwa kepadaNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS AlHasyr ayat 18)

“Ya Allah, jadikanlah ibadah shiyam dan qiyam Ramadhan kami benar-benar menghasilkan taqwa yang memadai untuk membekali kami menghadapi tanda demi tanda Akhir Zaman yang terus berdatangan. Kami sadar bahwa semakin mendekati Hari Akhir tentunya ujian dan fitnah yang datang akan kian berat. Yaa muuqallibal-quluub tsabbit quluubanaa ‘ala diinika. Ya Allah Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas ajaranMu.”

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Rasulullah saw menjelaskan kepada kita sejak 15 abad yang lalu bahwa Ummat Islam yang hidup di Era Akhir Zaman ini akan mengalami perjalanan sejarah yang mengandung lima babak.

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّاً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“(1) Babak Kenabian akan berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.

(2) Kemudian babak keKhalifahan yang mengikuti pola (manhaj) Kenabian berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.

(3) Kemudian babak Raja-raja yang menggigit berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.

(4) Kemudian babak Raja-raja yang memaksakan kehendak(para diktator) berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.

(5) Kemudian babak keKhalifahan yang mengikuti pola (manhaj) Kenabian kemudian Nabi diam.” (HR Ahmad 17680)

Hadits ini menguraikan Ringkasan Perjalanan Sejarah Ummat Islam yang terdiri dari lima babak sbb:

Babak I => Kenabian

Babak II => Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian

Babak III => Raja-raja yang Menggigit

Babak IV => Raja-raja yang Memaksakan kehendak (diktator)

Babak V => Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Babak pertama atau babak Kenabian النُّبُوَّة adalah masa dimana ummat Islam langsung dipimpin oleh Nabiyullah Muhammad saw secara langsung. Babak ini berlangsung singkat yaitu 23 tahun (13 tahun Sebelum Hijrah hingga 10 Hijriah), tidak sampai seperempat abad lamanya. Tetapi ia merupakan masa yang singkat namun diberkahi Allah Ta’ala. Ketika Nabi saw baru diutus pada usia 40 tahun jazirah Arab sedang tenggelam di dalam nilai-nilai zhulumat al-jaahiliyyah (kegelapan nilai-nilai jahiliah). Sementara tatkala Nabi saw wafat pada usia 63 tahun telah terjadi transformasi sosial secara total sehingga jazirah Arab menjadi bersinar dibawah naungan Nurul Islam (Cahaya Ajaran Allah Ta’ala Al-Islam). SubhaanAllah. Babak pertama sudah berlalu, saudaraku.

Babak kedua atau babak Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ adalah masa dimana setelah wafatnya Nabi Muhammad saw ummat dipimpin oleh para sahabat mulia yang dijuluki Khulafaa Ar-Rasyidin (para khalifah yang jujur, adil dan istiqomah mengikuti Allah dan RasulNya). Masa ini ditandai kepemimpinan sahabat-sahabat utama, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khattab, Ustman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Tholib radhiyAllahu ‘anhum ajmaa’iin (semoga Allah meridhai keempatnya tanpa kecuali). Babak ini juga berlangsung singkat yaitu 30 tahun (tahun 10 H hingga 40 H), seperempat abad lebih sebagaimana prediksi Nabiyullah Muhammad saw:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ

“Era Al-Khilafah di dalam ummatku berlangsung tigapuluh tahun, kemudian sesudah itu muncullah era kerajaan demi kerajaan.”

(HR At-Tirmidzi 2152)

Babak kedua sudah berlalu, saudaraku.

Kemudian muncullah babak ketiga atau babak kepemimpinan Raja-raja yang Menggigit مُلْكًا عَاضًّا . Ia adalah masa dimana ummat Islam dipimpin dengan pola kerajaan selama masa yang cukup lama yaitu sejak tahun 40 H hingga tahun 1342 H atau sekitar 13 abad, tepatnya selama 1302 tahun. Babak ini terutama ditandai dengan berdirinya tiga kerajaan Islam besar yaitu Daulat Bani Umayyah lalu Daulat Bani Abbasiyyah kemudian Kesultanan Utsmani Turki yang di dalam berbagai kitab sejarah dunia (barat) lebih dikenal dengan The Ottoman Empire.

Mengapa pada masa ini para pemimpin ummat dijuluki oleh Nabiyullah Muhammad saw sebagai “para raja yang menggigit”, padahal ummat masih menyebut mereka sebagai khalifah, institusi negara Islam masih bernama khilafah dan Al-Qur’an serta Sunnah Nabi saw masih dijunjung tinggi?

Karena ketika itu suksesi pergantian kepemimpinan seorang khalifah kepada khalifah berikutnya menggunakan pola keturunan alias pola kerajaan. Sementara disebut “menggigit” karena para raja tersebut “menggigit” Al-Qur’an dan Sunnah, kualitasnya menurun dibandingkan babak sebelumnya dimana para Khulafaa Ar-Rasyidin “menggenggam” Al-Qur’an dan Sunnah secara kuat dan mantap.

Oleh karenanya, babak ketiga ini jelas babak yang lebih buruk daripada babak kedua. Namun ia masih jauh lebih baik daripada babak keempat, sebab setidaknya ia masih mampu memelihara ummat Islam berada di dalam satu kesatuan Jama’atul Muslimin yang tunggal dengan wilayah geografis Daulah Islamiyyah yang tunggal serta kepemimpinan yang memiliki otoritas tunggal. Pada masa ini tidak ditemukan kasus perbedaan penetapan tanggal jatuhnya hari Raya Idul Fitri, karena masih ada Final Decision Maker yang menyelesaikan berbagai perbedaan hasil ru’yatul hilal yang muncul di tengah ummat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Babak ketigapun sudah berlalu dan menjadi sejarah, saudaraku.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Setelah perjalanan sejarah Ummat Islam melalui babak pertama, kedua dan ketiga, maka Nabiyullah Muhammad saw selanjutnya memberitakan akan datangnya babak keempat yaitu babak kepemimpinan Raja-raja yang memaksakan kehendak(para diktator) مُلْكًا جَبْرِيَّاً.

Inilah babak yang diawali semenjak runtuhnya kekhalifahan kesultanan Ustmani Turki pada tahun 1924 atau 1342 H. Babak ini ditandai dengan runtuhnya kesatuan Ummat Islam dengan kesatuan wilayah dan kepemimpinannya. Ummat Islam menjalani kehidupan laksana anak-anak ayam kehilangan induk. Laksana anak-anak yatim kehilangan ayah. Atau laksana gelandangan kehilangan rumah tempat bernaung.

Dunia Islam terurai menjadi kepingan-kepingan negeri yang memiliki arah dan sistem beraneka jenis yang pada umumnya jauh dari arah dan sistem Islam. Mulailah dunia memiliki para pemimpin dan penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Nasionalisme dan sekularisme menjadi dominan pada tataran kehidupan sosial-kemasyarakatan, sementara identitas dan ideologi Islam cenderung dilokalisasi pada tataran kehidupan individual semata.

Negara-negara Islam mengumumkan berdirinya nation-state. Masing-masing menentukan ideologi dan falsafahnya sendiri-sendiri yang pada umumnya tidak berlandaskan panduan umat Islam semestinya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Mulailah masing-masing lebih membanggakan identitas material-geografis kebangsaannya daripada identitas spiritual-ideologis keislamannya. Memang, kita tidak semestinya mempertentangkan kebangsaan dengan keislaman. Namun yang pasti, kesadaraan sebagai warga khilafah yang berspirit luas Islam-globalis telah jauh terkubur oleh kesadaraan sebagai warga negara yang berjiwa sempit bangsa-lokalis.

Seorang ulama Pakistan bernama Imran Hosein menyebut dunia kini A Godless Civilization (Peradaban Tak Bertuhan). Ahmad Thompson, seorang penulis Muslim berkebangsaan Inggris, bahkan menyebut dunia kita sejak kurang lebih seratus tahun belakangan merupakan sebuah Sistem Dajjal atausistem kafir”.

Ia berpendapat, kondisi dunia kini sangat bertentangan dengan sistem kenabian. Berbagai lini kehidupan modern didominasi dajjalic values (nilai-nilai dajjal), bukan prophetic values (nilai-nilai kenabian). Kemudian secara panjang lebar ia bedah satu per satu lini kehidupan modern yang sudah sangat jauh dari nilai keimanan dan sarat nilai kekufuran.

Muhammad Quthb, adik kandung asy-Syahid Sayyid Quthb, menyebut dunia modern sebagai Jahiliyah Abad 20 atau Jahiliyah Modern.

Pada babak keempat ini ummat Islam menjalani the darkest ages of the Islamic history (masa paling kelam dalam sejarah Islam). Ini sudah merupakan skenario Ilahi dalam rangka menyadarkan kita akan benarnya firman Allah Ta’ala sbb:

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS Ali Imran ayat 140)

Ada harinya orang-orang beriman mengalami kejayaan dan memiliki peradaban yang kuat, sementara ada harinya ummat Islam merasakan kekalahan, keterpurukan dan ketidak-jelasan peradaban. Ada pula harinya orang-orang kafir berjaya, memiliki peradaban bahkan berlaku semena-mena dan ada harinya mereka keok, kalah serta tidak berdaya menyebarluaskan budaya maksiat dan kekufurannya. Itulah sunnatullah yang mesti berlaku dalam kehidupan di dunia yang fana ini.

Yang penting bagi kita adalah setelah menyadari kita berada pada posisi terpuruk sekarang ini seyogyanya kita bersungguh-sungguh memelihara kesabaran dan konsistensi (istiqomah) dalam menjalankan kehidupan berpandukan ajaran Islam. Kita tidak mungkin banyak berharap dalam situasi dimana para مُلْكًا جَبْرِيَّاً sedang merajalela menguasai dunia dewasa ini. Kondisi ini bahkan telah dinubuwwahkan oleh Rasulullah saw melalui berbagai Tanda-tanda Akhir Zaman (اشراط الساعة) yang begitu banyak bermunculan di era kita sekarang ini.

Bahkan jika kita cermati hadits mengenai perjalanan sejarah Ummat Islam riwayat Imam Ahmad di atas sudah sepatutnya kita mengembangkan optimisme –selain sabar dan istiqomah- karena babak keempat bukanlah babak final perjalanan nasib ummat Islam.

Masih ada satu babak lagi yang perlu dijemput oleh ummat Islam. Itulah babak kelima dimana bakal tegak kembali era kepemimpinan orang-orang sekaliber Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, yaitu Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ . Suatu era yang barangkali tidak terbayangkan bagi siapapun yang telah begitu dahsyat terperangkap dalam kesenangan menipu babak keempat sekarang ini. Era yang sudah pasti dinantikan oleh setiap muslim-mu’min yang merindukan tegakknya keadilan dan kejujuran hakiki.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Marilah kita persiapkan diri seoptimal mungkin untuk menghadapi babak final, babak kelima tersebut. Mari kita kenali, fahami dan persiapkan diri menghadapi Tanda-tanda Akhir Zaman yang bakal memenuhi panggung sandiwara dunia di masa peralihan babak keempat menuju babak kelima Ummat Akhir Zaman ini. Pastikan keberfihakan kita kepada Imam Mahdi dan Nabiyullah Isa Al-Masih as. Pastikan penolakan kita masuk ke dalam pasukan para penguasa diktator babak keempat yang akan berujung pada munculnya puncak fitnah yaitu Dajjal, fitnah terbesar di Akhir Zaman kata Nabi saw.

Ibarat sebuah film, dunia saat ini telah berada pada episode menjelang The End. Bayangkan, sudahlah kita dijuluki Ummat Akhir Zaman, lalu dari lima babak perjalanan Ummat Akhir Zaman yang beriman ini, kita berada di babak keempat pula. Berarti, kita wajib mempersiapkan diri menyongsong babak final Akhir Zaman. Masa transisi dari babak keempat menuju babak kelima kata Nabi saw bakal diwarnai banyak ujian dan fitnah yang kian menghebat sehingga sebagian ulama menyebutnya sebagai era Huru-hara Akhir Zaman.


Tidak ada sutradara manapun yang menulis skenario untuk mengecewakan para penonton. Sutradara selalu memastikan bahwa jagoan atau the Good Guys keluar sebagai pemenang atas para penjahat (the Bad Guys). SubhaanAllah, apalagi Allah Ta’ala, sebaik-baik Penulis Skenario. Pastilah Allah berrencana memenangkan tentaraNya atas tentara Dajjal atau hizbusy-syaithan.

Namun, sebagaimana semua film pada umumnya, mustahil jagoan menang sebelum melalui episode yang paling seru dan dahsyat. Artinya, mustahil babak kelima akan datang bila Ummat Islam berharap mencapainya sekedar dengan berjalan melalui taman-taman bunga. Sudah sewajarnya bilamana peralihan babak keempat menuju babak kelima melewati bukit-bukit berbatu dan jurang-jurang curam diwarnai deraian airmata bahkan sangat mungkin bersimbah darah. Sebab mustahil para penguasa diktator babak keempat akan menyerahkan begitu saja kepemimpinan kepada orang-orang beriman dan beramal sholeh kecuali melalui sebuah perlawanan yang keras. Satu hal yang pasti, masa transisi itu mustahil sekedar melalui meja perundingan, apalagi sekedar melalui permainan pertarungan “kotak suara”.
Wallahu ‘alam bish-shawwaab.-

DOA

رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

"Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". (QS 18:10)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيم ٌ

"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (QS 59:10)

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS 3:8)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 3:147)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 2:286)

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ ءَامِنُوا

بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS 3:192-194)


Muhammad Ihsan Tandjung.-

Cimanggis, Depok

1 Syawwal 1429 / September-Oktober 2008





***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina