Hiwar Haroky 'an SMS-an

AR RADD WAL BAYAN IHWAL JAMAAH wa HAROKAH

`ALA FAHMI UKHTY ARY AL-BAYANI

TRANSKRIP SMS

Saya keluar dari HT karena 9:20nya ga jalan. Malah punya basecamp di inggris..musuhnya ga jelas. 58:22nya bias..emangny antum yakini biaah itu gimana..qisam gimana.. [19-Jun-2007 18:30:55]

Do, tolong bilang ke f@|%#, namain anak jangan aneh2. Ente ahlsunnahwaljamaah, jamaahnya dimana? Progressnya apa? Ittiba` ga? Standarnya apa? Bener metodenya 41:26, jeruk makan jeruk dunk.. atau apa? [20-Jun-2007 13:55:57]

Assalamu`alaykum. Ridho mending niat antum kenal saya dulu baru kenal albayan dibatalin aja. Udah punya no Hpnya Zein, Toni kan..sori saya ga kasih alamat email..mending email ikhwan aja ya.. [20-Jun-2007 14:42:22]

Salam. Hehe ummy infak pulsa...***sensor editing***ghibahin-orang*** Alasan km menyelishi HT ga kuat. Mang 9:20 apa maknanya? Kalau Wala-Baro mang musti jelas. Pertanyaan “nt jamaahnya dimana” adalah pertanyaan syadz alias rancu. Kalau urusan progress, itu privasi :D Mang brminat gerak bareng saya? Standar qt mesti Salafussholih. Saya punya alasan kuat ntuk kenal kamu! Beda urusan dgn Albayan.

*RIDHO*

Alasannya. Karena kamu seniornya Eva, kamu teman dekat Fajar, kamu kenal HTI, Km pmbaca Openmind, kamu pndukung jihad, kamu prtemukan saya dgn albayan; smentara ikhwan albayan taunya saya temen kamu, kamu masih kul (d UNJ). Ridho perlu dgn kamu. [21-Jun-2007 08:01:52]

Ya gitu deh..saya hari ini full UAS di kampus...urusan saya ya urusan albayan, adapun masalalu saya bisa jadi referensi antum, sekarang saya ya albayan, jadi..ya gitu deh [21-Jun-2007 08:12:19]

J krenz! Apa ga bsa punya urusan dengan individu yang berjamaah? Hmm..,smoga aLLoH memberkahi langkah km. Moga sukses! [21-Jun-2007 08:17:17]

Mang jamaah jamu apa si? Koq mendeskreditkan IM,dll except alqaeda. Itu kan metodenya kaum kufar..ga jauh beda sama salafi [21-Jun-2007 08:22:15]

Tenang&konsen aja dulu dengan ujian. Nanti qt lanjutkan bincang2nya. IM..? Saya dah bahas ini dgn Pa Zul. Saya ga asal deskreditkan sesuatu.. [21-Jun-2007 08:40:47]

Yang Rido tau IM apa kesalahannya? Dulu salafi juga terbagi2. Satu taat raja satu jihad qital.. yang jihad qital mendeskreditkan yang lain& mendukung alqaeda..yang ada, setelah alqaeda menganggap salafi jihad, ulama2 alqaeda diberantas setelah tau basecampnya..itu namanya strategi kaum kufar, jeruk makan jeruk..jahanam.. 9:20 itu sunatullah dari jaman nabi Nuh.. masa ada jamaah quransunah hidup damai berdampingan sama musuh aLLoH..pertolongan aLLoH ga akan datang..sia-sia amal karena ingkar ayat aLLoH 18:102-105.. [21-Jun-2007 14:50:17]

Kondisinya saat ini banyak jamaah dimana orang2 lapis menengah ke bawah masih militan, tapi aLLoH Maha Tau..banyak yang terjebak program yahudi.. Kalau AlMuhajirun dibentuk untuk membongkar basecamp alqaeda.. wajar keberadaannya di London ga buat Yahudi gerah&naik pitam.. ga beda sama salafi to.. apalagi antum talimnya online.. [21-Jun-2007 17:10:36]

Yang perlu kamu tau, Taqiyudn pendiri HT itu didikannya yahudi. Untuk berkhianat meninggalkan IM. Kenapa yahudi ga risih walau kini HT santer akan perjuangan kekhilafahan? Fikirkan..apa yang salah dalam HT.. Apa ayat aLLoH 8:30 itu basi!.. Ada satu hal yang ditabani HT yang bisa membuat kemarahan yahudi mereda..naudzubillah.. [21-Jun-2007 17:52:55]

Salam. J Selesai ujiannya? Besok ada ujian lagi? Kynykamu masih pusing, ngomongnya ngawur gtu.. Saya yakin kamu ga bisa pertanggungjawabkan penyataan2 km. Uda, jgn pikirin dulu. Nanti ngeganggu ujian lagi.. Klo nilai jeblok kan yahudi yg senang. BarokaLLoH!

*RIDHO*

[21-Jun-2007 20:09:07]

Ga bisa pertanggungjawabkan pernyataan..duh..jangan bikin BeTe de..ya begitu adanya pemahaman saya..masa saya asal bicara aja.. [21-Jun-2007 20:12:43]

Kamu kan mau tau kenapa saya keluar dari HT,..lagian diskusi sama saya..ni no Hpnya Pa Zul: +628sensorsip..[21-Jun-2007 20:16:00]

Maap.. Saya Cuma nerka. Karena kamu lagi ujian, jadi kurang terkontrol. Tuh kan km lagi BT.. Syukron no Hpny. Lain kesempatan saya akan silaturrahim ke Pa Zul. Saya baru pulang, mau mandi dulu y.. Besok da ujian? Kalau ga qt lanjutin. Kalau da, saya ga kan ganggu pikiran kamu. [21-Jun-2007 20:24:10]

Saya BeTe bukan karena ujian..tp kamu sms terus yang aneh2..Cuma ngetes ilmu saya ya..ga ada niat cari ilmu al-islam.. [21-Jun-2007 20:26:37]

ALLoHummagfirly.. Smoga aLLoH mencintai km&saya. Menjadikan qt mencintai ilmu&kebenaran. Setelah mandi saya akan kritik sms km yg banyak td sore.. [21-Jun-2007 20:29:10]

Maaf. HP saya matiin. Saya ga mau jawaban cepat dari Rido..baca berkali kali..fahami..smoga aLLoH menyertai kontemplasi kamu..smoga km bs berkeputusan dgn bijak..wassalam.. [21-Jun-2007 20:38:33]

PEMBAHASAN/KRITIK

Sebelum mengkritisi pernyataan-pernyataan kamu, yang saya bilang tidak dapat kamu pertenggungjawabkan, saya akan melakukan klarifikasi terhadap hal-ihwal yan berkaitan dengan saya.

  1. Bagi saya, kamu adalah kamu. Saat kita kenal, saya anggap kamu sebagai teman dan saudara muslim. Maka, saya lebih senang dan ingin kenal dengan kamu terlebih dahulu sebelum mengenal jamaah (Albayan). Alasannya sudah saya sampaikan di atas. Kemudian sebagai tambahan kamu adalah saudara saya muslim, sebelum dan sesudah kamu ‘jerumuskan’ saya untuk diskusi dengan ikhwah Albayan.
  2. Saya sudah kenal dan tambah saudara karena kamu, saya ucapkan terimakash; jazakiLLaH khoyron. Kebiasaan saya adalah melanjutkan silaturrahim dengan sharing...jadi tidak perlu repot menyuruh saya untuk diskusi dengan ikhwan Albayan.
  3. Saya mau tanya, waktu saya tanya tentang kamu, kamu bilang kenal saya dari Fajar. Saya kurang paham, saya pikir kamu tau saya dari Eva...dan ini yang memicu/mendorong kamu untuk sms saya. Tapi sepertinya tidak. Kamu sudah tau/dengar saya sebelumnya; dari Fajar? Jika berkenan saya ingin dapat penjelasan. Fajar bilang apa aja?
  4. Pernyataan kamu bahwa saya “mendeskreditkan IM,dll kecuali alqaeda” perlu klarifikasi. Ini diagnosa atau tuduhan? Saya memang mengkritik IM ketika diskusi dengan Pa Zul, tapi Pa Zul menyalahkan saya...kemudian saya beri penjelasan. Saya ingin tau apa wawasan saya tentang IM kalah oleh Pa Zul, sehingga beliau menyalahkan kritik saya. Tapi sepertinya tidak! Saya tanya ke beliau siapa mursyid IM sekarang, dan bagaimana? Beliau jawab tidak tau (dengan polosnya). Pahadal saya sedikit banyak mengikuti perkembangan IM kontemporer. Pernyataan resmi IM yg menyelisihi jihad alqaeda, fatwa satu pekan terakhir Yusuf Qordhowi, dll. Banyak ‘keanehan’ IM yg udah saya dengar dan saya ikuti perkembangannya meski sedikit. Tapi Pa Zul ‘menuding’ saya mengambil sumber dari Salafi dan menganggap saya termakan propaganda Salafiyun. Haihata...haihata! Jauh panggang dari api. Saya ambil justru dari sumber IM.
  5. OK, ternyata yg dimaksud IM oleh Pa Zul adalah Hasan Albana, Sayyid Qutb dan Said Hawa. Dua yang pertama termasuk favorit saya! Saya ga tau apa Pa Zul pernah baca Memoar Dakwah Hasan Albana. (Kamu pernah baca juga?). Disanalah saya mengkritik, bahwa Albana (semoga aLLoH membalas amalnya dan mengampuni ketidaktahuannya) masih memiliki cacat dalam manhaj dan fikrah. Albana (jika tidak khilaf, hingga saat meninggalnya) masih memegang baiah ke-sufi-an dan mencampur adukan ajaran Ahlussunnah dgn Sufi. Saya katakan: “Jangan menisbatkan diri pada IM, karena akan membingungkan.” Penjelasannya setelah ini.
  6. Saya tidak ta`lim online! Dalam artian pengajian atau halaqoh, saya tetap duduk di majlis ilmu, di masjid, di kos, di kelas, dll. ‘Kajian Online’ bagi tidak atau kurang nyunah. Tidak menyertai adab majlis dan kurang mengisi ruh. Adapun benar bahwa saya banyak membaca artikel dari internet. Banyak download e-book, diskusi di milis,dll.
  7. Saya mohon maaf sebelum dan sesudahnya, jika sms saya agak aneh dan membingungkan. Itu faktor waktu, tempat dan pulsa. Jadi gak optimal dan ga jelas karena buru2, minta pulsa ibu, sblm pergi dan ketika baru sampai di rumah.

Secara umum, saya gak paham apa yang kamu maksud IM dan Salafi. Saya juga ga tau apa yang kamu maksud dengan Yahudi. Siapa mereka IM, Salafi dan Yahudi? Apa yang kamu maksud mendeskreditkan? Bukannya justru kamu yg banyak mendeskreditkan dan menuduh gerakan dan ulama? Berikut ini perspektif saya:

Tentang Hizbut Tahrir

HT memiliki daerah konsentrasi dakwah (untuk penegakan khilafah) yang disebut Majal. Bagi HT majal (sudah ditetapkan sejak awal) hanya di wilayah arab atau negeri muslim. Sehingga, tidak menjadi fokus dari HT untuk berdakwah di Inggris, dan negeri yg semisalnya karena dianggap tidak potensial (tidak ada dasar) untuk mendirikan apa yang mereka sebut Khilafah Islamiyah; yang sering diterjemahkan dalam slogan “mengembalikan kehidupan islam”.

Adapun mengenai basecamp HT di Inggris, hal ini tidak lepas dari sosok Syekh Omar Bakri Muhammad (OBM) hafidzohuLLoH. Mudah-mudahan kamu sudah tau jalan ceritanya. Singkatnya, OBM besebrangan dgn pendapat (resmi)qiyadah HT. Bagi OBM, setiap tempat memiliki hak yang sama untuk Khilafah Islam. Saya kurang paham, apa yang kamu permasalahkan. Saya sendiri lebih cenderung membenarkan OBM. Tapi jika alasannya hanya karena memiliki ‘dewan cabang’ di Inggris, kamu menyalahkan itu...berarti kamu hampir sama pendapatnya dengan qiyadah HT. Hanya saja HT tidak melarang adanya aktifitas dakwah (untuk penegakan khilafah) di Inggris, atau negeri manapun. Bagaimana dengan kamu?

Cermati kembali kalimat2 kamu:

Saya keluar dari HT karena 9:20nya ga jalan. Malah punya basecamp di inggris..musuhnya ga jelas. 58:22nya bias..emangny antum yakini biaah itu gimana..qisam gimana.. [19-Jun-2007 18:30:55]

...masa ada jamaah quransunah hidup damai berdampingan sama musuh aLLoH...

Apakah dalam pandangan kamu, merupakan kesalahan, jika ada jama`ah di Inggris? Apa bedanya dengan Indonesia? Apa yang kamu maksud “hidup damai berdampingan”? Bagaimana sekarang keadaan kaum muslimin di Indonesia, apakah berbeda dengan di Inggris? Kemudian, yang paling penting bagaimana RosuluLLoH hidup, tidak berdampingan kah? Saya tunggu jawaban kamu!

Kemudian kalimat kamu:

Yang perlu kamu tau, Taqiyudn pendiri HT itu didikannya yahudi. Untuk berkhianat meninggalkan IM. Kenapa yahudi ga risih walau kini HT santer akan perjuangan kekhilafahan? Fikirkan..apa yang salah dalam HT.. Apa ayat aLLoH 8:30 itu basi!.. Ada satu hal yang ditabani HT yang bisa membuat kemarahan yahudi mereda..naudzubillah.. [21-Jun-2007 17:52:55]

Ini tuduhan terhadap HT yg pernah saya dengar dulu, tp ini saya anggap propaganda sesat. Black campaign, ini justru yang saya anggap program musuh aLLoH (maap saya tidak pakai istilah yahudi). Karena tidak pernah ada buktinya. Atau kamu bisa buktikan keterlibatan yahudi di HT? Atau An-Nabhani berguru pada seorang yahudi? Apa yang dimaksud “untuk berkhianat meninggalkan IM”?

Oiya, saya tidak perlu mengajukan kritik terhadap HT kan? Saya sendiri tidak pernah terjerumus kedalam HT, alhamduliLLaH J Kalau dengan HT saya banyak bersebrang pandangan. Mulai dari konsep Iman hingga konsep Khilafah. Mafahim yang saya tabani berbeda dengan mafahim HT, sejak awal saya kenal HT hingga hari ini dan esok (insyaLLoH).

Tentang Al-Ikhwan Al-Muslimun

Jamaah ini, biasa disebut IM didirikan oleh Hasan Albana. Katakanlah Ideolog berikutnya adalah Sayyid Qutb (tapi non-struktural). Orang biasanya memahami seperti ini. Kemudian sebagai orang menyebut nama Sayyid Hawa. Ya, hampir seluruhnya atau sebagian besar muharrik (aktifis harokah) mengenal mereka. Khususnya di tahun pasca “digantungnya Sayyid Qutb”. Sebagian besar orang melalui jasa mereka menjadi mengenal sistematika harokah yang rapi, berbentuk tandzim yang solid dan kokoh. Katakanlah dimulai dari risalah “Nidzomul Usar”, hingga tersebarnya ibarat jamur usroh-usroh yang berisi muharrik dan mujahid didalamnya. Tapi itu bukan berarti seluruh dunia terinspirasi dari mereka, bukan juga berarti mereka yang utama dan pertama!

Ikhwanul Muslimin, Jema`at el-Islami (al-Maududi), HAMAS, dll. Mereka kini menyebar bahkan dengan berbagai nama di berbagai negara. Mereka satu tetapi banyak. Lantas bagaimana menyebut mereka? Maka perhatikanlah apa dan kepada siapa suatu sebutan ditujukan. Berkaitan dengan ini, yang masyhur dikenal adalah istilah IM, Al-Ikhwan, Ikhwany, Ikhwaniyuun. HAMAS akan selalu di asosiasikan dengan Ikhwany walaubagaimana pun (ini faktor kesejarahan).

Yang perlu diperhatikan adalah IM adalah jamaah yang dibangun dan dipimpin oleh Hasan Albana. Kemudian jamaah ini sempurna menjadi sebuah tandzim, lengkap dengan AD/ART danlainsebagainnya. “Harokah menicayakan tandzim”, begitulah kira2. Hasan Albana (juga Sayyid Quthb) sudah wafat, akan tetapi tandzim IM masih ada dan eksis hingga kini. IM yang masih tetap di Mesir kini dipimpin oleh mursyid `amm Mahdi Akif. Pernyataan-pernyataan tandzim IM kini sering terdengar bersebrangan dengan kelompok/ jamaah jihad (khususon alqaeda). Padahal sejarahnya, jamaah jihad adalah murid2 ideologis dari Sayyid Quthb (juga Hasan Albana).

Ulama semisal Hasan Turabi konon sudah dikafirkan oleh banyak ulama karena menghalalkan kawin antar-agama; beberapa fatwa beliau dianggap teralu nyeleneh dan liberal. Beliau termasuk ‘pimpinan cabang’ Ikhwan di negaranya. Di kantor pusat IM sendiri (termasuk Al-Azhar pun) sekarang banyak yg sudah liberal. Dosen saya (perempuan dan liberal) dengan bangga bercerita pernah mengunjungi kantor pusat IM dan bersalam-salaman dengan para Syeikh (na`udzubillah). “Aktifis di Indonesia berpikiran sempit”, kata Dosen saya. [WARNING: Saya tidak mengambil sumber dari apa yg kamu sebut Salafi. Saya dapat info semisal ini juga dari INSISTS (Adian Husaini, Adnin Armas,dkk)]

Adalah Yusuf Qorhdowy, yang pada bulan ini menyerukan fatwa “Jihad Madani” (membangun rumahsakit dan sekolah), pun banyak mengeluarkan fatwa dan ijtihad yang cenderung liberal. Apa yg kamu sebut 58:22, simaklah! Beliau ulama yang sungguh moderat dan sangat demokratis!. (Demikian sebagian besar Ulama IM sekarang). Memang, seperti kata Pak Zul di Kitab-Kitab standar seperti Halal-Haram, Fiqhul Waqi, dll beliau mungkin lurus dan bagus[1]. Kitab beliau yang lain pun banyak yang bagus; saya punya yang berjudul SUNNAH RASUL: Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban. Isinya bagus, dan kesalahan yang saya sebut bukan pada kitab-kitab tersebut. Sebentar lagi kamu akan tau letak kesalahan beliau. [Catatan: kalau sudah tau kesalahan beliau jangan dicaci maki ya...jangan dituduh didikan yahudi]

IM dulu dan sekarang pun berbeda. Silahkan baca buku2 IM kontemporer. Adapun apa yang disebut para pengkaji dan ulama dengan sebutan “Ikhwany” atau Ikhwaniyuun, yakni orang-orang yang mengambil sumber rujukan secara eksklusif dari IM saja. Orang-orang ini mengambil sumber dari IM, ada yang faktor “kagum”, ada juga yang karena memang dibesarkan dan didik oleh IM sejak ia mengenal Islam. Jadilah mereka penganut paham IM alias para Ikhwany/ Ikhwaniyuun. Ada juga Quthbyuun alias pengikut Sayyid Quthb. Ini sebutan untuk firqoh dan seharusnya dihindari, baik namanya maupun metodenya. Kita tidak boleh menyempitkan sumber hanya pada IM; ini cenderung menyesatkan dan kesalahan besar!.

Jadi, jika ingin menyebut Hasan Albana, sebutlah Hasan Albana jangan sebut IM. Jika ingin memuji dan merujuk Sayyid Qutb, sebutlah nama beliau jangan sebut IM. Sebab IM adalah tandzim, dan tandzim tergantung dari nidzom yang ditetapkan serta amir yang memimpinnya.

Bahkan ketelitian dan penjelasan detail penting dan perlu ketika hendak melakukan penisbatan (penyandaran atau perujukan). Kepada salahsatu tokoh kah? Atau kepada organisasinya? Atau kepada fase awal, perkembangan atau fase terbaru. Biasanya masing-masing memiliki nama yang berbeda. Cukuplah bagi kita nama “Islam” dan “Ahlussunnah”. Jika para tokoh tersebut termasuk Ahlussunnah, maka sebutlah ia Ahlussunnah, meski ia ada di tandzim IM atau JI atau apapun. Jika ingin mengikuti organisasinya (dan ini menyesatkan!), maka seseorang boleh menyebut dirinya mengikut tandzim tersebut, atau berpaham tersebut; semisal, Ikhwany (Pengikut IM), Tabligy (Pengikut Jamaah Tablig), Tahriry (pengikut ajaran Tahrir; secara khusus HT punya sebutan untuk pengikutnya “Syabab”), Surury (Pengikut Ibn Surur; beliau eks IM). Maka sebutan untuk pengikut Islam adalah Islamy atau Muslim. Sebutan pengikut Sunnah adalah Sunny.

Kamu menyukai sesuatu tetapi tidak mengenal sesuatu tersebut!

Tentang Salafi

Terlalu panjang dan banyak jika saya paparkan. Karena saya mengkaji ini lebh dari 2tahun, sampai hampir stess saya. Pokoknya tolong jelasin aja kalau kamu mau menyebut apa, siapa dan bagaimana.

Kajian saya tidak sebatas apriori, saya baca banyak artikel mereka dari Majalah dan Website mereka, bukan kata orang atau dari perspektif kelompok lain.

Secara singkat, Salafi diambil dari kata salaf, nisbatnya kepada Salafussholih. Biasanya generasi sahabat atau 3 generasi utama. Banyak orang yg pake nama ini; siapa yg kamu sebut Salafy? Kelompok Salaf? Yang suka ngerujuk Salaf? Yang mengambil sumber dari Salaf? Atau orang-orang yang suka ngomongin Salaf? Atau yang ngaku-ngaku Salafy? Atau Jama`ah yang menamakan punya nama As-Salafy?

Adapun untuk sebutan yang masyhur ada fase-fase penyebutannya. Ada daerah/ wilayahnya. Ada ciri khas-nya. Kamu harus paham konsep dan makna dibalik istilah yang kamu gunakan. Salafy apa dan yang mana? Kemudian, apakah mereka salah atau benar? Bodoh atau tidak? Pejuang atau pencundang? [Seperti yg kamu sebut; ada yg qital ada yang taat, trus kalimat “ga jauh beda sama Salafy” maksudnya yg mana?]

Tentang Al-Muhajirun

Perkataan kamu: ..Kalau AlMuhajirun dibentuk untuk membongkar basecamp alqaeda.. wajar keberadaannya di London ga buat Yahudi gerah&naik pitam.. ga beda sama salafi to..

Bukan hanya sekedar mendeskreditkan.. Semoga saya&ikhwan Albayan dijauhkan dari sikap seperti ini! Bahkan kamu gak tau kan apa yg terjadi di London, apa yg terjadi pada murid2 Syeikh OBM.

Tanyakanlah kepada Tony Blair dan kuffar Inggris ttg Al-Muhajirun! Tanyakanlah kepada para peneliti dan pengkaji politik Internasional! Siapa yang berbuat seperti apa? Saudariku, Ajem Chudory bolak-balik di interogasi dan dipenjara. Murid-murid Syekh OBM yg eks Al-Muhajirun dalam pengawasan ketat dan pengejaran. Mereka terancam (dan sebalknya menancam) pemerintahan Inggris. Siapa yg kamu sebut Yahudi? Nama yg fiktif dan kosong. Jika apa yg terjadi pada ikhwan Al-Muhajirun, Al-Ghurabaa, dll tidak membuat pemerintah Inggris (saya ga pake istilah Yahudi!) khawatir, mungkin kamu punya alasan untuk menyebut mereka “...wajar keberadaannya di London ga buat Yahudi gerah&naik pitam.. ga beda sama salafi to” meski itu pun tidak mutlak benar. Tetapi kamu salah besar! Dari mana kesimpulan ini kamu dapatkan? Kaum muslimin dan kaum kuffar akan menyalahkan kamu (bahkan bisa menertawakan). Seluruh manusia yang mencintai (seperti Mujahidin di Eropa) dan membenci (seperti kebanyakan murid Syekih Ibn Baz, Syeikh Muqbil, dll) Al-Muhajirun insyaLLoH sepakat bahwa Syeikh OBM dan murid-murinya telah melakukan teror dan membuat ketakutan pada masyarakat Eropa dan pemerintahannya.

Kemudian perkataan kamu: Kalau AlMuhajirun dibentuk untuk membongkar basecamp alqaeda..” sungguh menunjukan kelemahan kamu dalam pembacaan terhadap realitas. Saya tidak mengerti bagaimana seharusnya muharrik berbuat dalam pandangan kamu. Jika dia tidak membuat gerah yahudi dia salah, jika dia membuat gerah kamu akan bilang “mereka terperangkap”. Kepala kamu penuh dengan teori konspirasi dan kamu terpengaruh dengan teori2 yang mereka buat, hingga kamu tidak bisa menilai muharrik sebagai manusia. Setiap langkah kamu anggap ‘settingan yahudi’. Padahal apa yg dikenal dengan Yahudi pun berpecah belah...mereka pun sibuk berbantah-bantahan sesama mereka, “apakah negara zionis itu perlu atau tidak?”. Lantas bagaimana mereka membuat program untuk menjebak muharrik islam?

Bagaimana kalau semua perkataan kamu diarahkan atau kembali kepada kamu dan jamaah kamu? Dibentuk untuk membongkar lah, ikut program lah, didikan yahudi lah.. Kamu bahkan lebih politis dari aktifis partai politik tau!!

Tentang Yahudi dan Konspirasi

Saya pikir, apa yang kamu sebut yahudi adalah sebagian kalangan kuffar yang tergabung dalam Freemasonry. Atau lebih khusus lagi para “Sesepuh Zionist” yang berada pada level atas Freemason. Termasuk kekuatan intelegen yang dikuasai oleh mereka. Ukhty.. berhati-hatilah dalam menetapkan sesuatu. Saya pikir kamu harus banyak belajar lagi tentang sejarah dan politik Yahudi, tentang teori-teori konspirasi. Kamu membenci sesuatu tetapi tidak mengenal sesuatu tersebut!

Saya punya kenalan mantan Diplomat yang mendalami masalah ini selama 22 tahun. Beliau melakukan korespondensi langsung dgn calon ‘kaisar freemasonry’ (yahudi tulen neh! 7 turunan), dan banyak mendapatkan data-data tentang organisasi terselubung. Mulai dari infiltrasi hingga proyek senjata nuklir. Salahsatu hasil penelitian beliau menyatakan bahwa Al-Qaeda dan IM adalah program ‘yahudi’ untuk membunuh banyak manusia, agar ‘kekaisaran Solomon tegak d bumi. Ini pendapat beliau, bukan pendapat saya. Saya menyelishi beliau dalam hal ini. Tapi kalau kamu tertarik dgn dunia kaya gini, saya insyaLLoH saya bisa hantarkan kamu kesana J

Segala puji bagi aLLoH yang menajadikan seorang pejuang tetap kokoh dijalan kebenaran.

Tentang Para Ulama

Saya nge-fanz ke Hasan Albana, tapi lebih fanz lagi ke Sayyid Qutbh dan Abdullah Azzam. Semoga aLLoH menganggkat derajat mereka di akhirat... Demi aLLoH Taqiyuddin Annabhani punya timbangan amal disisi aLLoH! Semoga aLLoH mengampuni ketergelinciran para Ulama...

[to be continue...]

Sekian untuk surat yang pertama

Salam Ukhuwah,

Bogor, 21 Juni 2007

[Saudara yang ingin bersahabat]



[1] Kitab Halal-Haram Al-Qordhowy memang masyhur dan sering dijadikan rujukan oleh banyak aktifis. Akan tetapi Ktab ini sudah menuai beberapa kritik. Diataranya adalah kritik dari Syeikh Al-Utsaimin rh. tentang “Berkasih-sayang dgn Kufar”, dll.


***Revolusi Hari Ini***

Menggugat Logika Thogutis

Bismillahirrahmanirrahim,

PENDAHULUAN

Negeri berpopulasi sekitar ratusan juta jiwa yang terletak di kawasan “Zamrud Khatulistiwa”, dengan luas bentangan buana kira-kira setara dengan jarak dari London hingga Teheran dan kekayaan alam amat berlimpah, dewasa ini tengah dirundung malang oleh ‘balur-balur biru pilu kelabu’ yang membebani bagian terbesar anak bangsanya. Krisis moneter pada pertengahan 1997, yang merupakan impact tidak teratasinya hutang luar negeri swasta pada saat pay due (September-Oktober 1997) serta rendahnya daya saing dan kualitas profesional para konglomeratnya, berimplikasi pada keroposnya fundamental ekonomi, akhirnya meluas dan berkepanjangan menjadi multikrisis nasional. Sejumlah langkah yang ditempuh dan segenap upaya yang dikerahkan untuk mengakhiri krisis ternyata ‘gagal-total’.

Persoalan yang berkembang tak kunjung terselesaikan, kendati pergantian presiden dan jajaran kementerian berulangkali dilakukan. Bahkan dari hari kehari tingkat indeks kesejahteraan rakyat menurun drastis. Pengangguran terus membumbung, lapangan pekerjaan kian jarang. Kemiskinan, kelaparan dan kekurangan gizi merajalela dimana-mana. Betapa banyak petani tak mampu lagi mengelola lahannya, karena tak pernah mendapat laba. Betapa banyak pedagang menipis penghasilannya, seiring menurun drastis daya beli konsumennya. Betapa banyak pengrajin terancam kelangsungan usahanya, akibat kekurangan modal dan akses pasar. Betapa banyak buruh yang merana, akibat di-PHK majikannya. Dan banyak pula pengusaha kelas rumahan yang dipaksa gulung tikar akibat kalah bersaing dengan pengusaha raksasa yang padat modal. Lebih dari itu, mereka yang terusir oleh pertikaian antar-etnik serta antar kampung terus menggejala memberi pertanda adanya segregasi dan disintegrasi sosial.

Sejalan dengan fenomena tersebut, budaya barbarian ikut serta mengepung seluruh pelosok negeri. Ditandai kuantitas dan kualitas tindak kriminal yang terus memuncak, ditingkah oleh minimnya jaminan keamanan, maka akibatnya rasa aman pun merambat lenyap. Dan rasa frustasi dan teralienasi massal terpupuk, menampakan bentuknya dalam perilaku konsumsi narkoba dan tindak kekerasan massa yang semakin mengangkasa.

Serangkaian kenyataan terurai, mengingatkan kita pada realitas kejahiliyahan yang dialami masyarakat Makkah pra-kenabian. Hal mana rentetan permasalahan datang dari segala jurusan menimpa masyarakat Makkah. Realitas tiranik berepidemik mencabik-cabik rasa kemanusiaan. Penindasan terjadi dimana-mana hingga dianggap hal yang biasa. Kebodohan dan pembodohan, kemiskinan dan pemiskinan, permusuhan dan perseteruan, persangkaan dan kebohongan, pembantaian dan pemenjaraan, perbudakan, koersi dan intimidasi, serta pemerasan dan penghisapan mengemuka secara sistemik dengan melibatkan banyak pihak secara trans-sektoral dan trans-kelas sosial. Struktur politik masyarakat Mekkah yang ‘feodalistik-kapitalistik’ secara efektif berfungsi menopang ‘beranak-pinaknya’ gejala-gejala tiranik dimaksud. Rezim triumvirat Abu Sofyan, Abu Jahal dan Abu Lahab --yang adalah musuh utama Nabi-- dengan kuasanya melanggengkan “orde kegelapan”. Bahkan kehadiran Nabi Muhammad yang membawa Islamic Salvation Mission (misi pembebasan) berupaya dimusnahkan baik wacana, raga, maupun basis pengikutnya. Rezim memandang, kritik dan koreksi teologis-politis Nabi beserta pengikutnya terhadap ‘paganisme’ merupakan ancaman potensial terhadap legitimasi tradisional ‘kuasa politik-nya’, sekaligus ancaman terhadap formasi sosial yang dilanggengkannya.

Tata bangun peristiwa tersebut ternyata kembali menjelma di Nusantara kita sebagai sunnah sejarah, kendati dalam bentuk dan varian serta area dan skala, aktor dan kolaborator yang berbeda. Jika pada era Nabi Muhammad, sumber legitimasi rezim tiran adalah ‘paganisme-feodalisme’ maka hari ini, di Nusantara ini didasarkan pada ‘kapitalisme-sekulerisme’. Atas dasar pendewaan kepentingan modal dan marginalisasi preposisi-preposisi Agama, maka dogma-dogma, klaim-klaim, perundang-undangan, serta kebijakan dan tindakan rezim tiran dikembangkan. Kesemuanya bermuara pada upaya pelestarian struktur politik dan formasi sosial yang jelas-jelas hanya menguntungkan segelintir orang dan justeru merugikan banyak orang. Hatta privatisasi preposisi-preposisi Agama pun—(sama bahayanya dengan privatisasi BUMN)—tak lepas dari sepenggal upaya guna mereduksi dan mengisolasi potensi revolusioner preposisi Agama agar tidak tampil membongkar hegemoni dan dominasi yang mereka bangun. Itulah relevansi mengapa ISLAM, dijinakan agar menjadi obat penawar ‘penyakit jiwa’ dan etika individual, bukan sebagai ‘liberating force’ bagi semua kalangan dan lapisan masyarakat yang tengah terperangkap dalam ‘sistem tiranik-jahily’ yang mereka ciptakan. Sementara Islam yang dibangun atas dasar spirit dinamika sejarah dan berupaya menjelma sebagai kekuatan organik dan ‘liberating force’ terus menerus mengalami pembusukan intelektual.

(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Q.S. Ibrahim: 52)

Adalah suatu adegan yang menjadi rutinitas sejarah; pemujaan manusia terhadap berhala. Konfrontasi selalu eksis pada masyarakat, di saat berhala-berhala menjelma pada setiap pribadi menjadi: nafsu-syahwat, bintang jasa, jabatan, gelar sarjana, harta kekayaan, ambisi buta, mental opurtunis, dan watak hedonistis. Manakala kekuatan berhala lebih besar menguasai seorang manusia, lebih dicintainya, dipujanya, maka ia akan bersujud, takluk dalam penghambaannya terhadap berhala, benar-salah bukan menjadi standar nilai atau norma, sehingga naluri-naluri hewani dalam dirinya beraksi—otomatis segala jalan dilaluinya dan penentangan terhadap dirinya adalah lawan yang patut disingkirkan.

Sedang “Laa Ilaaha Ilaallaah” merupakan kontrak sosial manusia dengan Dzat Yang Maha Esa adalah Tawhid, yakni manifestasi yang tidak mengakui adanya tuhan selain Alloh Azza wa Jalla. Adapun “Laa” dan “Ilaa” atau antara pengingkaran dan penegasan terletaklah inti dasar Aqidah Islam. “Laa” adalah pengingkaran terhadap ketuhanan apapun. Baik yang kita cintai-sayangi seperti; harta benda, kedudukan, pangkat, kekuasaan, kemewahan maupun wanita yang cantik-molek dan sanak-keluarga. Pada semua itu kita harus katakan TIDAK! TIDAK akan kita jadikan Tuhan! TIDAK akan kita dahulukan di depan Tuhan! Pada umumnya manusia menyembah dirinya sendiri, menyembah hawa nafsu dan ketenarannya, menyembah akal dan fikirannya. Ia menganggap dirinya berkuasa atas sesama manusia. Kepada nafsu yang demikian ini, kita harus menyatakan TIDAK! Kepada rezim penguasa dan kepada siapa pun, yang mengabdi pada Illah selain Sang Maha Pencipta, kita harus nyatakan TIDAK! Kita takkan menyembahmu! Adapun “Ilaaha” berarti Tuhan adalah Subyek. Selain Dia, hanyalah sarana-sarana belaka; baik presiden, menteri, jenderal, pejabat parlemen, pemilik pabrik atau siapa saja, maupun harta benda, kedudukan, kekuasaan, nafsu, akal dengan segala bakat dan kecerdasannya yang luar biasa sekalipun. Kepada semua itu, kita nyatakan TIDAK ! Kita takkan menyembah mereka. Mereka bukan Tuhan. Kecuali (ilaa) satu. Satu itulah yang bagi-Nya kita kukuhkan kesubyekan itu. Yaitu Alloh Azza wa Jalla. Penguasa Tunggal. Pemilik alam raya dan jagad mayapada.

Perseteruan hujjah hingga berkobarnya perang antara: Tawhid melawan Syirik; Tawhid melawan penguasa tiran; terapresiasi melalui tampilnya Nabi Ibrahim as yang menentang penguasa paganis Namrud, Musa as yang menetang tirani-fascism Fir’aun, Isa as yang menentang imperialis Romawi dan Muhammad Saw yang menentang dominasi berjouis-kapitalis Musyrikin Makkah. Kesemua mereka adalah para penolak penghambaan atau pemujaan terhadap berhala-berhala, dan mereka berjuang untuk merombak tatanan masyarakatnya yang menyimpang dari kehendak Sang Pencipta yang menghendaki terbentuknya masyarakat ideal yang berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, masyarakat yang menjadikan Sang Pencipta sebagai sumber segala kehidupan, menyemai persamaan dan persaudaraan dan menegakkan keadilan, kedamaian serta kemakmuran. Penentangan dan perjuangan mereka telah menyulut peperangan demi perlawanan yang menjadi konsekuensi logis sebuah penolakkan mutlak terhadap berhala-berhala.

Keharmonisan berinteraksi dengan Tawhid sebagai ruh kehidupan bermasyarakat, menjadi satu kebutuhan pokok yang tak terpisahkan. Daya nalar, pola pemikiran, daya inovasi, daya kreasi dan berbagai idea serta konsep hanya akan mewujudkan kearogansian dan angkaramurka, jika tidak menjadikan Tawhid sebagai mizannya.

MAZHAB GENERASI PERTAMA: REVOLUSI !

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berpaling ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Alloh sedikitpun; dan Alloh akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. Ali ‘Imran: 144)

Misi ini menolak Plato dan para filusuf spritual lainnya yang mencabut hak sosial para pekerja hanya karena pekerjaannya yang hina dengan membagi masyarakat kedalam kelas-kelas sosial. Misi ini pun menentang Marxisme-Komunisme[1] yang dengan gegap gempitanya mengelukan ‘pembebasan’, tetapi seiring dengan itu telah mencampakkan kemanusiaan dengan menisbatkan manusia sebagai ‘benda’ atau seonggok daging yang kehilangan hak asali, dikarenakan ‘logika Marx’ telah menjustifikasi manusia menjadi ‘alat-alat produksi’ dari sebuah ‘dialektika-materealisme’, dimana hak-hak substansial manusia direnggut bagi kepentingan mesin raksasa, diktator-proletariat. Adalah bohong belaka dan telah gagal dalam sejarah! Keadilan pada masyarakat Marxisme, pembebasan hak-hak manusia pada ajaran Komunisme, dan serangan gencarnya kepada agama hakikatnya merupakan propaganda dan intrik-politik dari seorang Marx terhadap kaum geraja, rahib-rahib dan borjuasi-kapitalisme ketika itu. Adapun dalam praxisnya, ajaran Marxis-Komunisme begitu jauh kepada apa yang telah digembar-gemborkannya. Cuba, Uni Sovyet, RRC atau di Indonesia sekalipun merupakan kenihilan atau kebohongan! Provokasi dialektika-nya Hegel yang menjelmakan ‘Tuhan sebagai produk sejarah’ menjadi senjata ampuh Marx guna merajam kaum borjuasi-gereja dikalangan kaum proletar dengan jargonnya “agama adalah candu masyarakat”. Berbanding terbalik dengan propaganda muluk yang jauh dari realita. Komunisme adalah satu bentuk penindasan baru. Penindasan dimana rakyat, masyarakat atau komunitas manusia terkurung-sesak didalam mesin-mesin industri yang dikuasai atas nama ‘kepentingan kolektif’. Kepentingan di mana manusia menjadi ‘animale economicus’.

Sejarah mencatat dengan tinta emas dan mengingatnya dalam kitab samawi yang mutlak suci (Al Qur’an), manakala Nabi, Rasul, dan para pengikutnya menderita siksaan demi menegakkan misi estafeta kenabian. Misi yang menyeru masyarakat manusia untuk ber-Tawhid, yakni satu gugus tugas mengenyahkan pemujaan terhadap berhala-berhala; satu perlawanan terhadap seseorang, atau sekelompok orang yang berkuasa demi perbudakan; satu pemberontakan terhadap sistem yang di dalamnya sesak oleh keopurtunisan, korupsi, kolusi, konglomerat hitam, hukum yang dapat dibeli, kebohongan publik, kapitalistik, diskriminasi gender, kemiskinan moral, kebobrokan mental, privatisasi aset bangsa dan negara, penghisapan pemerintahan pusat terhadap daerah, penjahat kemanusiaan berbintang jasa; satu gerakan penyadaran, keadilan dan pembebasan dari anasir-anasir konservatif yang menindas.

Mereka para Nabi, para Rasul dan pengikutnya tahu benar bahwa keteguhan hati dan kemauan mereka menjadikan dirinya tetap sebagai pelita yang menerangi jalan kehidupan dan sebagai pelaku perubahan. Dikarenakan mereka tidak meragukan lagi eksistensi Alloh Azza wa Jalla sebagai PEMILIK TUNGGAL jagad raya ini. Sebelum Isa diangkat sebagai Rasul, Alloh telah menunjuk Musa sebagai pembawa berita kebenaran. Musa tunduk atas segala perintah Alloh, sehingga ia pada zaman-nya melakukan perlawanan terhadap; QARUN, sang kapitalis; BAL’AAM, ulama tersohor yang menyokong status quo; dan FIR’AUN, diktator—penguasa-- yang otoriter. Al Qur’an yang mutlak benar mengisahkan dalam surat Thaha 43-44:

“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".

Musa pun menyampaikan ayat-ayat Alloh dengan perkataan lemah lembut, tetapi Fir’aun menolak ajakan itu malahan berusaha menentang dan membunuh Musa. Bahkan Fir’aun berusaha mengumpulkan massa dan ia berorasi: ”…akulah tuhanmu...akulah penguasamu...“ Inilah satu bentuk status quo; satu bentuk pemerintahan dibangun melalui sistem perekonomian yang kapitalistik, yakni sistem penghisapan --sistem ekonomi yang berdiri dengan riba, penguasaan pribadi atas alat-alat produksi; satu kebohongan publik dimana atas nama agama--atas seruan yang keluar dari mulut ulama rakyat dipaksa menerima situasi penindasan, situasi dan kondisi kedaulatan rakyat, kebenaran, keadilan, tergenggam ditangan rezim, terkuasai oleh kedigdayaan tiran, dan ulama dengan legitimasi ‘ulama’-nya dibentuk sebagai cooler --alat pendingin--, sebagai alat untuk menyimpangkan kebenaran Firman Alloh Azza wa Jalla, dan sebagai alat guna meredam perlawanan terhadap penindasan tirani.

Jauh sebelum Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib diangkat menjadi Nabi, ketika ia masih seorang penggembala domba, seorang yatim-piatu miskin yang hidup sehari-harinya terjerembab oleh ekses dominasi kekuasaan terpusat, satu kondisi kemiskinan struktural yang diproduksi oleh elit penguasa, satu kondisi kebodohan yang diciptakan oleh para tiran, satu kenyataan dimana intelektual telah merekayasa diri menjadi mesin-mesin penggilas kemanusiaan. Yang nampak di Jazirah Arab hanyalah kepincangan ekonomi, sosial, politik, budaya. Perbudakan manusia atas manusia; pembunuhan terhadap perempuan dengan dikubur hidup-hidup; sistem kelas berdasarkan strata sosial, darah biru, intelektual akademisi, diskriminasi sosial terhadap rakyat mustadh’afin, pemerkosaan hak asasi manusia dengan pembunuhan massal mengatasnamakan suku-bangsa dan eksploitasi kehormatan wanita, penjualan budak belian; kebangkrutan moralitas dan mentalitas dengan dihiasi gaya hidup mewah, kumpul kebo (freesex), pelacuran; perampokan secara konvensional dan modern sudah mewabah ditengah masyarakat. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah mendarah daging dalam budaya masyarakat. Bahkan kebusukan perilaku penguasa dibungkus dengan bintang jasa. Padahal, anugerah dibalik bintang jasa itu luber dengan air mata rakyat jelata, ada darahnya ummat proletar dan penuh dengan nyawa anak negeri tak berdosa.

IQRA’ ! BACALAH ! Apa yang harus dibaca? Dengan apa manusia membaca? Apa tujuan membaca? Bagaimana pula cara membacanya? Kapan dan dimana ruang dan waktu membaca? Pertanyaan demi pertanyaan melingkari dan mengurung manusia dengan berbagai untaian pertanyaan. Jikalau bukanlah karunia Alloh Azza wa Jalla niscaya manusia itu mati dalam lilitan kebingungan.

Iqra’ adalah bentuk perintah. Hukumnya perintah; WAJIB. Jadi setiap manusia wajib Iqra’. Obyek Iqra’ pada penggal ayat pertama surat Al Alaq, surat pertama yang diturunkan Alloh Azza wa Jalla tidaklah jelas, sehingga yang di Iqra’ adalah yang tersurat dan tersirat. Kemudian Alloh Azza wa Jalla memberikan celah pemahaman bahwa membaca segala sesuatu itu harus diawali Bismi Rabbik, yaitu dengan nama Tuhanmu atau dengan ajaran Rabb-mu, dalam artian apabila manusia membaca sesuatu tanpa menggunakan nama Alloh Azza wa Jalla atau tidak dengan ajaran Alloh Azza wa Jalla, maka hasilnya hanyalah ketimpangan dan kehancuran. Mengapa Alloh Azza wa Jalla memerintahkan membaca dengan atas nama-Nya. Tidak dengan nama lain. Dan mengapa Alloh Azza wa Jalla menggunakan ‘Rabb’. Mengapa Dia tidak eksplisit menyebut nama Alloh dengan menyebut Bismillaah. Alloh Azza Wa Jalla mengenalkan diri-Nya Rabb yang mengandung makna fungsi eksistensi. Skala obyek Iqra’ sangatlah luas yaitu membaca ciptaan Alloh Azza wa Jalla berupa segala yang ada di bumi dan di langit. Hal ini diinformasikan Alloh melalui firman-Nya:

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 20-21).

Relevan dengan alur pemikiran yang terkandung dalam wahyu pertama, bahwa obyek Iqra’ lebih difokuskan kepada manusia. Kemudian pada surah Adz-Dzaariyat ayat 21 bahwa dalam diri manusia itu penuh ‘misteri’ yang harus dieksplorasi.

Rabb yang mencipta segala sesuatu itu adalah bahasa tentang ke-Tuhan-an yang sifatnya umum. Arab jahiliyah menyembah berhala la’ata-uzza-mana’at akan tetapi mereka juga menyebutnya tuhan. Karena masyarakat jahiliyah menganggap bahwa menyembah berhala itu untuk mendapatkan perlindungan, ketenangan, rizki dan lain-lain. Oleh karena itu Alloh Azza wa Jalla secara diplomatis menggunakan kata Rabb yang diakhiri dengan ‘I Ladzi Khalaq, yang bermakna yang menciptakan, YANG MAHA PENCIPTA. Mengandung artian bahwa berhala yang dipertuhankan masyarakat jahiliyah itu tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti yang termaktub dalam Q.S. An-Nahl: 20:

Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Alloh, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) di buat orang.

Ayat pertama Surah Al-‘Alaq yang difirmankan Alloh Azza wa Jalla kepada Muhammad melalui perantara Jibril, memberikan pencerahan alam pemikiran manusia akan betapa hinanya manusia sebagai budak nafsu dan bukan sebagai hamba Alloh yang taat. Kata Rabb yang berarti; pencipta (alam), pengatur (hukum), perumus (kebijakan), memelihara, atau mendidik, akan melekat dalam lubuk hati manusia dikala manusia itu mencari dan menapaki risalah dengan satu renungan; Alloh Azza wa Jalla sebagai tujuan hakiki mencari hidup dalam keridhaan-Nya.

Iqra’, berarti bacalah. Konotasi dan interpretasinya; analisislah, lakukanlah riset, selidikilaah, pikirkanlah, pelajarilah dan proklamasikanlah. “Apa yang harus diselidiki? Apa yang harus dipikirkan? Dan apa yang harus diproklamasikan?”

Sasaran Iqra’ adalah IPOLEKSOSBUDHANKAM yang merupakan penyusun sistem kepengurusan masyarakat. Suatu masyarakat akan makmur gemah ripah loh jinawi, apabila landasan idiil kepengurusannya mengacu kepada preposisi-preposisi yang aksiomatik. Kepengurusan masyarakat Arab Jahiliyyah sebelum turunnya Al Alaq’, kondisi sistem ekonomi, sosial, budaya dan politiknya sangat berantakan, sehingga keutuhan masyarakat Hijaz terancam disintegrasi. Apalagi ketakutan atas adanya dua adikuasa, Roma dan Persia, cukup mengompori semangat disintegrasi itu. Disintegrasi yang terjadi karena keadilan tidak berkeadilan.

Merupakan adegan iman yang indah sekali. Ketika Bilal bin Rabah disiksa majikannya, dia tidak mengaduh kesakitan, tapi apa yang terucap ?…”AHAD !” suatu jawaban mantap yang menggetarkan para penyiksa dan majikannya. Ini menunjukkan bahwa pelindung dirinya hanyalah Alloh Yang Ahad. Dialah yang memiliki asma ‘ul husna, Dialah yang menguasai alam semesta termasuk diri majikannya, Dialah yang mendengar rintihan ummat proletar dalam ketertindasan. Bilal tak gentar menghadapi ancaman maut dari boss yang berlaku kasar dan sadis. Inilah buah Iqra’ yang menghasilkan ma‘rifat kepada Alloh Azza wa Jalla. Dibalik adegan penyiksaan yang tidak memudarkan iman Bilal bin Rabbah itu, hati kecil bossnya terusik. “Gerangan doktrin apakah yang menjadikan Bilal setegar itu? Muatan apa yang disampaikan Muhammad sehingga para pengikutnya memiliki militansi tinggi”. Akan tetapi karena gengsinya para penggede kaum kuffar tidak ingin menyatakan salut dan ikut serta beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya. Jelas dan terbukti, al-‘Alaq ayat pertama menyajikan konsep perubahan sistematis; satu penyembahan mutlak terhadap Alloh Azza wa Jalla, satu penolakan mutlak terhadap berhala-berhala, satu paradigma progresif menentang bentuk-bentuk berhalaisme, dan merupakan satu gerakan revolusioner, yakni gerakan REVOLUSI CARA BERLOGIKA. Gerakan yang terlebih dahulu mengenalkan posisi Alloh sebagai Tuhan secara Implisit, namun mengakar dalam hati sanubari manusia. Alloh mengajarkan teori revolusi logika melalui pendekatan sosio kultural untuk membongkar akar masalahnya, yakni CARA BERLOGIKA THAGHUT.[2]

CARA BERLOGIKA THAGHUT ADALAH MALAPETAKA HARI INI!

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (Q.S. An Nisaa’ : 60)

Jika gerakan reformasi yang diharapkan dan didukung seluruh komponen bangsa tidak mampu lagi menyelesaikan krisis multidimensional bangsa Indonesia, apakah bangsa ini akan dibiarkan terkatung-katung dalam ketidakpastian tanpa tindakan-tindakan strategis yang akan menyelamatkannya. Apakah gerakan reformasi yang mulai diragukan keampuhannya akan dibiarkan bergerak tidak menentu sehingga bangsa ini menemui kehancurannya. Bahkan jika para pakar, politisi, cendekiawan dan masyarakat luas sudah menganggap reformasi mati muda, apakah bangsa Indonesia akan membiarkan rezim penguasa berbuat semaunya tanpa tindakan dan gerakan alternatif yang merubah keadaan. Membiarkan rakyat menderita, membiarkan para penjahat dan koruptor berleluasa. Membiarkan kehancuran bangsa dan jenis-jenis keacuhan lainnya adalah tindakan pengkhianatan terhadap para pahlawan yang telah mengorbankan nyawa mereka untuk tegaknya sebuah tatanan sosial. Bahkan lebih jauhnya lagi adalah tindakan yang telah melanggar amanah Sang Pencipta yang menghendaki tegaknya keadilan, kemakmuran dan keamanan di muka bumi. Kehancuran bangsa ini tidak boleh dibiarkan karena menyelamatkannya adalah tuntutan kemanusiaan sekaligus perintah Alloh Azza wa Jalla.

Apa yang terjadi pada negeri Indonesia berupa kerusakan yang menyeruak ke semua lini dan melingkupi seluruh aspek kehidupan masyarakat dengan menyajikan berbagai bentuk perpecahan dan konflik sepertinya telah menyelimuti jiwa-jiwa rakyatnya dan elite penguasa. Sistem kenegaraan telah dirusak oleh berbagai ambisi pribadi, kepentingan golongan, dekadensi moral, pola penerapan keputusan yang membingungkan dan kerakusan masing-masing pihak untuk menguasai negeri ini. Undang-undang dan hukumnya telah pudar dari jiwa masyarakat Indonesia sebagai akibat dari banyaknya penyiasatan, pengecualian dan keingkaran terhadap Alloh Azza wa Jalla sebagai PEMILIK dan PENETAP HUKUM alam semesta ini.

Pendidikan mahal, BBM naik, harga kebutuhan pokok semakin melonjak, pengangguran bertambah karena sedikitnya lapangan pekerjaan dan tingkat upah buruh yang rendah. Sementara itu moral dan akhlak generasi mudanya terbelenggu oleh buaian narkoba, freesex dan watak hedonistis. Maka merebaklah kriminalitas, ambisi berkuasa dan kedzoliman. Tercermin dalam setiap pribadi mereka dan sangat jelas dari prilaku sosial yang mengedepankan syahwat-ambisius. Terlihat jelas pada aspek interaksi sosial dengan adanya kebrutalan didalam tatanan masyarakat yang selalu bergejolak memperebutkan kekuasaan. Pada aspek hukum dengan indikator yang begitu nyata menyudutkan kebenaran pada posisi lemah-tertindas, terlihat lengkap di balik permasalahan ketidakadilan dan ketidak-berdayaan-nya lembaga peradilan. Begitu pula ambruknya akhlak ummat ketika mengembangkan sains dan teknologi sebagai ambisi ekspansif bangsa dan negara karena dikemas untuk memenuhi kepentingan materialis dan individualis.

Keadaan ini akan terus turun-temurun melahirkan gejala keraguan kepada ketentuan-ketentuan Alloh Azza wa Jalla di alam semesta. Gejala keraguan pada masyarakat dapat teridentitaskan melalui untaian ritus penyembahan berhala. PENYEMBAHAN BARU! BERHALA-BERHALA BARU! Penyembahan dimana emosi, jalan pemikiran, cara hidup, patriotisme, nasionalisme, dinilai hanya dengan uang, kedudukan dan bintang jasa; penyembahan dimana kesenangan inderawi dipuaskan oleh sex bebas, narkotik-miras, atau tarian erotis pengugah birahi; penyembahan dimana nilai dan norma luhur bangsa dibarter dengan budaya impor imperialis; penyembahan dimana kedaulatan bangsa terjual demi keserakahan penguasa; penyembahan dimana bangsa Indonesia yang ‘katanya’ merdeka ternyata terjajah kembali oleh Amerika bin zionis Yahudi laknatullah; penyembahan dimana pembusukan dan pembunuhan karakter terhadap Islam terjadi.

Jika kita kaji lebih mendasar kesatu titik bagaimana Islam memandang suatu perkara memang sangat tragis…?! Karena kita akan menemukan akar permasalahan yang terjadi pada ummat ini adalah akibat cara berlogika ummat, bangsa dan negara. Cara berlogika ummat Indonesia yang menjadi mainstream merupakan logika yang berlepas diri dari premis-premis Al Qur’an. Cara berlogika yang timbul dari aktivitas hawa nafsu manusia. Pro kontra, konflik horizontal, fitnah dan berbagai macam kekusutan tatanan pada kondisi ummat yang berlogika thaghut tak dapat dibendung bahkan tidak akan mungkin selesai. Jauh sebelumnya Alloh Azza wa Jalla juga telah memberikan rambu peringatan pedas kepada kita semua dalam firman-Nya:

Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. (Q.S. Asy Syuura: 30).

KESIMPULANNYA

Maka sesungguhnya menjadi tidak relevan lagi Ummat Islam di Indonesia terus berkubang di ranah perdebatan mengenai penegakan Syari’at Islam. Bukan zamannya lagi kaum liberal berjibaku pemikiran dengan kaum fundamentalis atau kaum revivalis. Kalau terus saja Ummat Islam di Indonesia stagnan dalam perdebatan Islam formalis atau kulturalis, lalu kapan Ummat Islam di Indonesia bisa menjadi rahmat bagi Bangsa Indonesia?

Sebagai seorang muslim, kita mesti memahami bahwa Al Qur’an dan As Sunnah bagi kita adalah serangkaian Preposisi yang WAJIB menjadi premis-premis dalam setiap proses pengambilan kesimpulan. Karena dalam iman Islam, Al Qur’an adalah serangkaian Preposisi yang tak diragukan lagi kebenarannya (Q.S. Al Baqarah: 2). Serta sampai sekarang As Sunnah yang sampai pada kita melalui sistem periwayatan Hadits, masih tegak di bawah gempuran keraguan ilmiah para orientalis.

Wa ‘l-Lahu A’lamu bi’sh-shawwabi

Billahi Hayaatuna wallohu Fii Hayati ‘l-Mus’tadz’afin

REFERENSI

Ø Al Qur’an

Ø Al Attas, Syed Naquib. Prolegomena to the Metaphysic of Islam.

Ø __________________. Risalah untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur: ISTAC, 2001

Ø Garaudy, Roger. Mencari Agama pada Abad XX. Jakarta: Bulan Bintang, 1986.

Ø Ghadban, Munir. Manhaj Haraki. Jakarta: Pustaka Robbani,

Ø Haikal, Husein. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Litera Antarnusa, 19

Ø Kamal, Drs. Zainun. M.A.. Ibnu Taimiyah versus Para Filosof: Polemik Logika. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006.

Ø Khadduri, Majid. Teologi Keadilan: Perspektif Islam. Surabaya: Risalah Gusti, 1999.

Ø Syari’ati, Dr. Ali. Kritik Islam atas Marxisme. Bandung: Mizan, 1983.

Ø Quthb, Sayid. Petunjuk Jalan.



[1] Marxisme-Komunisme adalah produk pemikiran Karl Marx yang lahir tanggal 5 Mei 1818 di Trier Jerman. Marx merupakan keturunan dan seorang Yahudi. Marx muda, ketika ia masih menjadi seorang Hegelian yang membenci agama Kristen, ia bersama Freud-Ludwig Feuerbach—seorang atheis, menyatakan bahwasanya agama adalah candu masyarakat—candu yang membuat seseorang rela diperas dan ditindas. Serangan dan perlawanan kaum Marxis-Komunis tidak saja tertuju kepada mereka kaum gereja-rahib-bourjuis-kapitalis, tetapi Islam pun dihantamnya secara brutal dan irasional. Sikap formal Marxisme dan Komunisme terhadap Islam antara lain didalam Bolshaya Sovyetskaya Encyclopedia, jilid XVIII, 1953, hal. 616-619: [1] Agama Islam, sebagaimana agama-agama lainnya selalu memainkan peranan yang reaksioner, yang dilakukan oleh kelas-kelas pemeras, sebagai satu senjata untuk menindas secara rohani kaum-kaum yang membanting tulang dan dilakukan oleh penjajah asing untuk memperbudak bangsa-bangsa timur [2] Agama Islam membenarkan ketidakadilan sosial, ekonomi dan sistem pemerasan yang sedang ditegakkan [3] Al Qur’an yang dengan teguh dan tetap mempertahankan perbudakan. Untuk Marxisme-Komunisme, sangat dianjurkan membaca; Muhammad Iqbal, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1966, hal. 2-3; Dr. Ali Syari’ati, Kritik Islam atas Marxisme, Mizan, Bandung, 1983; Roger Garaudy, Mencari Agama pada Abad XX, Bulan Bintang, Jakarta, 1986.

[2] Thaghut berasal dari pangkal kata thagha-yathghu-thagwan yang berarti mengingkari atau melampaui batas. Thaghut dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang telah melampaui batas ketentuan Alloh Azza wa Jalla, dalam artian mengingkari dan menandingi apa yang telah diturunkan Alloh S.W.T. dan diajarkan Rasulullah Saw.. Thaghut dapat berarti meng-ilaah-kan sesuatu selain Alloh S.W.T. atau berhalaisme. Penjelmaan Thaghut dapat berupa; manusia munafiq-musyrik-kafir, nafsu syahwat, sistem, undang-undang, atau ideologi—pandangan hidup yang bertolak belakan kepada kehendak dan ketentuan Alloh S.W.T.


Oleh: Abdi Halim Munggaran

***Revolusi Hari Ini***

MESIA...KAPAN ENGKAU DATANG?

Manusia berduka dalam dusta, kini...

Pencoleng bertopeng kerahiban, ilahi...

Para `Alim hanya menangis, sepi...

Tidakkah dunia tahu ada seseorang disana?

Tidakkah mereka punya asa?

Para pemilik kebaikan akan kembali bergembira

Para pendusta akan berduka

Karena engkau akan lahir ke dunia...

Mesia Kasimilia!

17/12/1428 (25-Des-2007)

Untuk calon jundi-ku... Lahir dan matilah dalam Islam, Nak!



***Revolusi Hari Ini***

PENYAIR YANG MATI...

Dulu dia lantang berbisik...mengusik!

Mengalirkan rasa dan jiwa kepada semesta

Dulu dia bagai angin topan yang betiup sepoi-sepoi

Menghancurkan yang rapuh dan mengasas yang teguh

Dia yang dulu pernah kau nanti

Dia yang dulu senang berbagi

Dia..oh, dimanakah ia berada?

Disanakah di istananya?

Ditempat pertapaannya?

Atau di neraka lumbung dosa..?

Sebab engkau tak tau apa dan bagaimana dia

Sebab engkau tak pernah bertemu muka

Engkau tak mengenalnya kecuali pada maya

Untaian kebaikan, kumpulan asa

Tahukah engkau..?

Dia tak pernah berhenti menulis syair

Dia tak pernah meniti karir

Dia hanya gemar merangkai sesuatu

Yang kini tanpa kertas dan batu...

Apakah dia telah mati, wahai kawan..?

Ya, mati dalam kehidupan baca dan tulis

Karena dia kini, kesatria sastra dikehidupan yang sebenarnya!

17/12/1428



***Revolusi Hari Ini***

WARTAISLAM.CO.CC

Info Distro

Berita Palestina